<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599</id><updated>2012-02-16T16:18:28.035+07:00</updated><category term='Kurikulum'/><category term='Literatur'/><category term='Strategi Belajar-Mengajar'/><category term='Manajemen sekolah'/><category term='Administrasi pendidikan'/><category term='Pendidikan kejuruan'/><category term='Teknologi pendidikan'/><category term='Bimbingan Konseling'/><category term='Inspirasi Tokoh'/><category term='Kisah Pendidik'/><category term='Kisah Motivasi'/><category term='Dunia kampus'/><category term='Homeschooling'/><category term='Promosi pendidikan'/><category term='Sejarah Pendidikan'/><category term='Direktori'/><category term='E-Learning'/><category term='Dunia Dosen'/><category term='Pendidikan Usia Dini'/><category term='Beasiswa'/><category term='Prestasi'/><category term='Tip Pendidikan'/><category term='Filsafat Pendidikan'/><category term='Evaluasi Pendidikan'/><category term='Sertifikasi Guru-Dosen'/><category term='Profesionalisme'/><category term='Pendidikan politik'/><category term='Fenomena pendidikan'/><category term='Metodologi Riset'/><category term='Sisdiknas'/><category term='Hakikat Pendidikan'/><category term='Analiisa Pendidikan'/><category term='Psikologi Pendidikan'/><category term='Tarbiyah'/><category term='Kasus Pendidikan'/><category term='Pendidikan Tinggi'/><category term='Info Pendidikan Nasional'/><category term='Berita'/><title type='text'>MANAJEMEN PENDIDIKAN</title><subtitle type='html'>"Blog dokumentasi dunia pendidikan dari para ahli, situs, web, institusi, karya ilmiah dan berbagai kajian ilmu pendidikan yang ditujukan bagi mahasiswa, stakehoulder dan para pemerhati pendidikan"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>201</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4505530959682131531</id><published>2011-12-06T17:06:00.001+07:00</published><updated>2011-12-06T17:06:49.744+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Dosen'/><title type='text'>MANUSIA BERJUDUL DOSEN</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td border="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div align="justify" class="textartikel" title="Artikel UBB Terbaru : MANUSIA BERJUDUL DOSEN"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berkatalah seorang bijak pada suatu &lt;b&gt;RUANG dan WAKTU&lt;/b&gt; yang lalu :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;u&gt; "Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="textartikel" title="Artikel UBB Terbaru : MANUSIA BERJUDUL DOSEN"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan  Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan  segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya,  inilah yang dinamakan &lt;b&gt;REFLEKTOR MORALITAS&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang filsuf Inggris &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;JOHN LOCKE&lt;/b&gt; menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan &lt;u&gt;"TABULA RASA"&lt;/u&gt;  mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan  diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat  jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci  bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat  ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum  mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada  dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng  kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana  pencucian mata hati jiwa, &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang akan anda pilih,sebuah buket kembang atau sebungkus benih?  Mungkin kebanyakan diantara kita memilih buketnya. Tetapi jika anda  seorang pendidik, anda menyadari keterbatasan keterbatasan dari  bunga-bunga potongan, betapapun indahnya mereka, dan kemungkinan besar  anda akan memilih meluangkan waktu untuk mengumpulkan, memilih dan  menanam benih tersebut. Bisa saja seorang &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Abraham Lincoln&lt;/b&gt;  disambut dengan guyuran bunga andaikata ia menyerah pada tuntutan para  colonial, tetapi ia memilih menanam biji kemerdekaan bagi tiap orang dan  dengan demikian ia menjadi pemimpin terbesar sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan berdiskusi dan saling bertukar pengalaman, dan rangkuman  pengalaman mengajar , dan kiat-kiat mengajar. Diperoleh hasil rumusan  mengenai kriteria mental sosok seorang pengajar yang ideal diluar  persyaratan gelar yang juga merupakan suatu keharusan , tetapi rumusan  ini lebih condong pada kebutuhan pertimbangan etik .&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;DOSEN YANG PANDAI MENGAJAR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;adalah ; manusia yang mempunyai keyakinan mengajar dan percaya penuh  kepada kemampuannya untuk mendidik, (bukan ditentukan pintar atau  tidaknya otak pikiran seseorang, karena pintar adalah kalimat penyataan  relatif didunia ini), sedangkan Dosen yang tidak baik akan terlalu  banyak membuat larangan untuk anak - didiknya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;DOSEN YANG BIJAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;adalah ; manusia dosen yang harus dapat menemukan perbedaan setiap insan  mahasiswanya, karena setiap orang berbeda, sehingga perlu bagi dosen  untuk peka dan menemukan perbedaan-perbedaan dan keunikan setiap  pribadi, lalu memimpin mereka untuk menggali keistimewaan dan keunggulan  masing-masing keunikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kenapa...?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Karena dosen yang bijak bukan hendak membangun perumahan perumahan  BTN yang seragam, dosen adalah ARSITEK setiap individu yang membangun  dengan cara dan disain yang berbeda-beda.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;DOSEN YANG AGUNG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;adalah; manusia yang tidak bisa mengubah pembawaan dan kecenderungan  temperamen seorang mahasiswa, namun dosen harus peka untuk melihat arah,  dengan demikian dosen akan berjalan didepan mahasiswanya sebagai  penuntun jalan. Pepatah mengatakan &lt;b&gt;"Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;DOSEN YANG MULIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;adalah; Manusia yang yang dapat menciptakan 'kehausan' pada diri  mahasiswanya, karena sifat dasar manusia adalah keingintahuan yang  besar. Dan kala &lt;b&gt;'Kehausan'&lt;/b&gt; ini ada didalam jiwa mahasiswanya maka timbul ambisi untuk belajar dan inilah &lt;b&gt;KEKUATAN PENDIDIKAN.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;DOSEN YANG TERPERCAYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;adalah; Manusia yang melakukan kontak pribadi dengan pribadi, janganlah  dosen hanya mengontak mahasiswa/i dengan hanya berpegang pada peraturan  kampus atau dengan pengajaran dan kurikulum kampus, hendaklah  dilakukan kontak jiwa kejiwa, hati kehati, pikiran ke pikiran dan emosi  ke emosi, maka dosen akan tampil dengan pribadi yang dihormati dan  dikagumi oleh mahasiswanya. Otomatis aktivitas pendidikan akan menjadi hidup dan tidak merupakan aktivitas statis.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;b&gt;Seorang sahabat pernah berkata;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;u&gt;"Keanekaragaman manusia dengan berbagai jenis disiplin ilmu  membuat sudut pandang lebih objektif, dan sketsa 'kehidupan' ilmu  pendidikan semakin bisa dicerna oleh setiap insan manusia.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://smartlandscape.blogspot.com/2007/09/manusia-berjudul-dosen.html" target="_blank"&gt;Manusia Berjudul Dosen&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-4505530959682131531?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/4505530959682131531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=4505530959682131531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4505530959682131531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4505530959682131531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/12/manusia-berjudul-dosen.html' title='MANUSIA BERJUDUL DOSEN'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-588486127198259529</id><published>2011-12-06T17:02:00.000+07:00</published><updated>2011-12-06T17:02:23.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Dosen'/><title type='text'>Tips Menjadi Mahasiswa Sukses</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td border="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div align="justify" class="textartikel" title="Artikel UBB Terbaru : Tips Menjadi Mahasiswa Sukses"&gt;Anda  mahasiswa yang luntang-luntung kurang kerjaan? Sudah mulai mual  ndengerin kuliah pak dosen? Mulai bete dengan suasana kos-kosan? Apalagi  teman dekat sudah mulai pindah kos karena nggak tahan anda utangin  terus hehehe. Pingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut ditimpukin  tetangga? Atau dulu punya mimpi pingin ikut mbangun republik tercinta,  tapi jangankan itu, mbangun diri sendiri saja susah bo :)  Apa salah  jurusan yah? Padahal dulu dah baca-baca tulisan tips dan trik memilih  jurusan. Bingung karena nggak dapat apa-apa di universitas. Jadi makin  terseok-seok dan tanpa ruh kalau baca tulisan tentang jenis mahasiswa.  Hmmm â€¦ coba deh ikuti tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan  bisa bikin semangat bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bangun tidur, berdiri di depan kaca, ucapkan bahwa andalah yang  terbaik di kos-kosan ini (Ya soalnya anda sendirian sekarang :D ) Kalau  anda merasa itu kurang, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kelas anda  atau terganteng di kampus anda. &lt;img src="http://romisatriawahono.net/wp-content/uploads/2008/01/mahasiswasukses.gif" style="float: left; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px; margin-right: 10px; margin-top: 10px;" /&gt;Yakinilah  bahwa anda adalah manusia pilihan, paling tidak terpilih sebagai wakil  desa anda yang bisa kuliah di universitas ini. Atau kalau lebih pede  lagi, bilang bahwa andalah makhluk terbaik di muka bumi, ya memang  benar, paling tidak dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mandi yang bersih, sisir dan rapikan rambut anda. Ambil handphone,  bikin senyuman paling manis, foto wajah anda. Ulangi lagi kalau masih  kurang enak dilihat. Kalau sampai 10 kali jepretan masih juga kurang  enak di lihat, ambil secara acak saja. Mungkin wajah anda memang tidak  terlalu enak dilihat :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nyalakan komputer, akses internet, nggak usah ke mana-mana, langsung  saja buka http://wordpress.com. Buat account blog di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Renungi hidup anda, ingat-ingat lagi perjalanan hidup dari kecil  sampai sekarang dan apa yang telah anda lakukan. Masuk ke menu  administrasi http://wordpress.com, klik Write-&amp;gt;Page. Buat tulisan  dengan judul About Me, tuliskan resume, kisah hidup dan Curriculum Vitae  (CV) anda. Tuliskan â€œapa sajaâ€ seluruh kegiatan anda di sana. Dari  lahir, SD, SMP, SMA dan kuliah. Pernah jadi ketua OSIS, sekretaris,  bendahara atau pesuruh OSIS? Atau pernah ikutan nyembelih kambing  kurban, pernah jadi penjaga masjid, pernah bikin workshop komputer,  pernah menang lomba balap karung, cerdas cermat atau lomba gambar di  kampung. Tulis semuanya. Kerahkan seluruh ingatan anda, anggap saja  nostalgia. Sekali lagi, tulis semua, apapun yang anda lalui di  â€œPageâ€ berjudul About Me tadi. Sudah puas? Klik â€œPublishâ€œ. Kalau  ada yang kurang tambahi lagi, kalau merasa halaman itu nggak cukup dan  harus tulis dalam OO Writer atau MS Word, copy and paste saja draft  tadi. Jangan lupa convert ke PDF dan upload di halaman About Me.  Perbaiki terus CV anda setiap ada kegiatan yang anda lakukan, sekecil  apapun. Beri juga skrinsyuut kalau diperlukan. Oh ya, foto manis anda  tadi jangan lupa dipasang di halaman About Me, kalau pingin contoh,  termasuk gimana nempatan CV versi PDF cek di sini deh :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sekarang ayok berdiri, jalan ke meja belajar anda. Kenangi kehidupan  kampus anda, senangnya ketika diterima di universitas ini, semangatnya  ikutan ospek (atau apa ya namanya sekarang?), dosen-dosen anda yang baik  dan menyenangkan, nilai mata kuliah anda yang naik turun (yang pasti  lebih banyak turunnya ;) ), dan mungkin juga teman-teman mahasiswi anda  yang sudah menolak cinta anda :) Kenang semua. Olala, ada kenangan manis  disaat anda berjaya dengan satu mata kuliah yang anda senangi, dosennya  juga maknyus kalau ngajar, dan anda akhirnya anda mendapatkan berkah  nilai A diantara tumpukan nilai C, D dan E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Mata kuliah apa itu ya, yang dulu anda senangi? Cari buku catatan  anda, obrak abrik meja belajar untuk nyari buku textbook mata kuliah  itu. Ketemu? Oalah anda ternyata jagoan Rekayasa Perangkat Lunak. Ok  sekarang lihat lagi tulisan di buku catatan anda yang sudah lusuh.  Cocokan dengan buku textbook. Sekarang tulis kenangan anda tentang mata  kuliah Rekayasa Perangkat Lunak itu. Jangan tulis yang lain, konsentrasi  saja ke satu mata kuliah itu. Tulisan apapun asal berhubungan dengan  Rekayasa Perangkat Lunak. Satu topik tulisan cukup 4-6 paragraf saja,  jangan kepanjangan. Kalau belum puas, buat lagi topik lain, batasi juga  4-6 paragraf. Nulisnya di Write-&amp;gt;Post lho ya, jangan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Kurang bahan? Dulu kayaknya pernah pinjem buku bagus tentang  Rekayasa Perangkat Lunak di perpustakaan? Ok, kebetulan dah masuk waktu  dhuhur dan makan siang. Jangan lupa mampir dulu untuk sholat dhuhur di  masjid samping kos-kosan, dan makan siang di warteg andalan. Ok, genjot  sepeda ke kampus, langsung ke perpus. Cari buku kenangan anda tadi. Juga  cari banyak berita dan tulisan populer tentang software dan metode  pengembangan. Kalau perpus ada internet, balik lagi ke  http://wordpress.com anda. Lanjutkan tulisan-tulisan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ops nggak terasa sampai maghrib di perpus. Sholat, makan malam dan  pulang. Ingat-ingat deh dulu kayaknya pernah ngerjain Tugas Mandiri  berhubungan dengan software? Ok kumpulin file-filenya yuk. Dari mata  kuliah apa saja lah, bisa Rekayasa Perangkat Lunak, Dasar Pemrograman,  Pemrograman berorientasi Obyek, atau apapun. Kalau ada program yang dulu  dibuat juga kumpulin. Dibahas saja program yang pernah dibuat,  sekaligus dibagi gratis tuh codenya. Walah bisa jadi satu kategori baru  tuh di blog :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sebelum tidur, baca bismillah, dan ucapkan syukur hari ini anda sudah  melakukan kegiatan yang sangat baik dan  produktif, kegiatan yang bisa  membanggakan orang tua, teman, tetangga, dan dosen anda. Dan Insya Allah  bisa menjadi bekal kontribusi anda ke republik tercinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Bangun pagi, nggak usah kebanyakan tidur, anda bukan bayi lagi :) Sholat shubuh dan lanjutkan petualangan hidup anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sebelum masuk kuliah baca-baca buku dulu deh, hari ini pak dosen mau  ngajari apa, siapa tahu bisa jadi bahan tulisan. Kalau ada waktu pagi  bikin resume atau rangkuman bab yang pak dosen akan ajar. Insya Allah  saya jamin anda akan masuk ke kelas dengan suasana yang berbeda. Anda  tidak lagi tidur. Horeeee! Lho kok bisa, ya soalnya anda jadi pingin  konfirmasi ke pak dosen, yang anda pahami dari rangkuman tadi bener  nggak. Dan anda akan  nyimak karena anda berharap bisa jadi bahan  tulisan. Ada kemungkinan anda akan lebih pinter dari pak dosen, karena  kadang saking sibuknya ngerjain proyek, pak dosen kadang lupa belajar  â€¦ hihihi. Kalau ada pertanyaan yang nggak bisa dijawab pak dosen, anda  angkat tangan saja, bilang bahwa pernah mengupas tuntas masalah itu,  sebutkan URL blog anda. Bantu dosen anda jawablah, siapa tahu malah  nanti diminta bantu dosen ngerjain proyek atau malah jadi asisten dosen.  Cuman jangan galak-galak sama adik kelas yah, jaman dosen bangga karena  nggak ngelulusin mahasiswa sudah kuno. Yang trend sekarang dosen gaul,  kayak si broer sang dosen flamboyan (ngajar di semua kampus di jakarta  bo) dan mbah IMW dari gundar :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Lanjutkan perdjoeangan. Mudah-mudahan semester ini tumpukan nilai A  anda semakin banyak. Dan Insya Allah saya jamin, anda tidak akan  kesulitan ngerjain skripsi atau TA di semester akhir. Kok bisa? Ya, anda  sudah terbiasa banyak baca dan nulis, ini modal penting bikin skripsi.  Logikanya kalau anda banyak nulis, pasti banyak baca tho :) Jangan lupa  untuk submit artikel-artikel anda di IlmuKomputer.Com, prosedurnya ada  di sini nih. Ini penting karena kabarnya numpang nampang di  IlmuKomputer.Com bisa bawa hoki, bisa dapat jodoh, pekerjaan, project  atau ketularan gemuk dari foundernya. Yang pasti bisa bantu ningkatin  traffic blog anda :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Kalau kebiasaan 1-12 anda lakukan sampai anda lulus, Insya Allah  anda tidak akan kesulitan mencari pekerjaan. Justru pekerjaan yang akan  mencari anda. Tulisan-tulisan anda di blog sudah di-indeks oleh banyak  mesin mencari. Bahkan mungkin kalau orang googling dengan keyword  â€œRekayasa Perangkat Lunak Indonesiaâ€œ, yang muncul nomor satu adalah  blog anda. Anda nggak perlu bawa CV ke mana-mana karena anda sudah tulis  di blog anda. Tentu anda akan semakin surprise kalau ada penerbit yang  nawarin membukukan tulisan-tulisan Rekayasa Perangkat Lunak yang anda  telateni selama ini. Kesempatan jadi dosen bukan mimpi lagi, lha wong  yang nulis bukunya anda je. Wajar tho sekalian ngajar ;)  Malah anda  mungkin sudah ditokohkan oleh masyarakat Indonesia di bidang Rekayasa  Perangkat Lunak? Amiiin. Cuman jangan sombong, sombong itu temannya  setan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Akhirnya, alhamdulillah anda telah sukses melewati kehidupan  mahasiswa anda dengan baik. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena  perdjoeangan anda sendiri, karena tangan anda sendiri, dan tentu saja  pertolongan dari yang DIATAS. Jangan lupa, tetap lanjutkan perdjoeangan  di kehidupan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://romisatriawahono.net/2008/01/29/tips-menjadi-mahasiswa-sukses/" target="_blank"&gt;http://romisatriawahono.net/2008/01/29/tips-menjadi-mahasiswa-sukses/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-588486127198259529?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/588486127198259529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=588486127198259529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/588486127198259529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/588486127198259529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/12/tips-menjadi-mahasiswa-sukses.html' title='Tips Menjadi Mahasiswa Sukses'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5706467320732404241</id><published>2011-12-06T16:59:00.000+07:00</published><updated>2011-12-06T16:59:45.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena pendidikan'/><title type='text'>Mengajar dan Belajar dengan Hati</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td border="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div align="justify" class="textartikel" title="Artikel UBB Terbaru : Mengajar dan Belajar dengan Hati"&gt;Judul  diatas mungkin bagi sebagian kalangan tampak berlebihan, atau mungkin  juga dinilai sepele. Namun, paling tidak...lima kata itulah berhasil  mengubah kehidupan keseharian saya sebagai dosen – yang semula merupakan  hari-hari yang menegangkan, menjadi hari-hari yang menyenangkan  sekaligus mengharukan. Mungkin catatan kecil ini dapat menjadi inspirasi  bagi sebagian rekan yang mengalami hal serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat-saat awal belajar menjadi pengajar, saya berusaha menerapkan  prinsip-prinsip dan etika akademik yang pernah saya pelajari. Disiplin  pribadi, ketepatan dan semangat dalam pengerjaan setiap tugas, berani  menghadapi tantangan (seberat apapun), kesatria (tidak mundur sebelum  perang ditempuh), jujur, terbuka terhadap kritik, dan sikap-sikap lain  yang mendukung keberhasilan siswa dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sewindu pertama, strategi tersebut relatif masih ampuh; meskipun  saya dinilai sebagai dosen yang galak. Siswa yang terlambat hadir atau  terlambat mengumpulkan tugas, sudah pasti akan mendapatkan sanksi. Siswa  yang ikut asistensi tanpa memperlihatkan kemajuan sesuai dengan yang  diminta, tidak lepas dari teguran (tentu saja ditujukan untuk  menyemangati yang bersangkutan). Paling tidak, hingga saat itu  prinsip-prinsip tersebut menurut saya berhasil mendorong sebagian besar  mahasiswa lulus dengan hasil yang baik (bahkan sangat baik). Tentu saja,  sebagian besar mahasiswa baru menyadari mereka lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sekitar tahun 2000an, saya merasakan perubahan karakter mahasiswa  secara mendasar. Dalam rapat-rapat staf di prodi pun, muncul berbagai  keluhan dari hampir seluruh dosen. Sebagian besar menggarisbawahi  kondisi mahasiswa yang kurang disiplin, daya juang yang lemah, tidak  tekun, tidak dapat mengelola diri dan waktu, serta sikap lain yang  diperlukan bagi siswa yang mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar prinsip yang saya yakini sejak kecil dan telah diterapkan  selama sekitar 10 tahun, mulai saat itu tampak tidak berlaku. Berbagai  peristiwa datang silih berganti yang justru menjadi bumerang. Saya  terlihat menjadi berlebihan, dinilai bersikap terlalu keras, cerewet,  dan mencapaipuncaknya ketika saya merasa tidak match lagi dengan situasi  ini. 4 (empat) kali saya berpikir untuk mengundurkan diri dari ITB...&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kegalauan hati selama lebih dari sewindu, pada suatu ketika berubah HANYA dengan mengubah sebuah premis&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya selalu berpikir; mahasiswa SEHARUSNYA sudah memiliki sikap  ini dan itu, saat ini saya melihat fakta APA ADANYA dan berusaha membawa  mereka pada sikap-sikap yang tetap saya yakini sebagai sebuah sikap  yang perlu ditanamkan (seperti telah dijelaskan dimuka). Saya menyadari,  bahwa situasi global dunia yang sudah berubah, sangat berpengaruh  terhadap alam bawah sadar mereka (juga kita). Dunia yang serba instan,  serba cepat, serba di permukaan, serta virtual, dan bahkan mungkin suatu  ketika akan melewati batas-batas ambangnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, hati sya yang semula MEMPERTANYAKAN, baru sadar... dan berubah  menjadi perasaan iba dengan situasi yang dialami mahasiswa saat ini.  Situasi dan keseharian yang mereka jalani jauh lebih kompleks. Kehidupan  keseharian yang mereka hadapi juga pasti sudah membuat mereka bingung  jika tanpa bimbingan. Kita harus berempati terlebih dahulu terhadap  kondisi mereka (yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya) dan berusaha  menjadi pendengar yang baik sert memberikan ruang lebih banyak untuk  kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita menduga, satu kritik pedas bisa membuat mahasiswa pindah  prodi bahkan mengundurkan diri dari ITB? Pernahkah terbyangkan, perasaan  stress karena ketika SMU selalu menjadi juara kelas dan setelah di ITB  menjadi orang yang “biasa” - membuat seorang siswa menggunduli  rambutnya? Yang lebih spektakuler adalah mahasiswa yang nekat hendak  memotong nadinya karena tidak athu lagi untuk tujuan apa dia berada di  dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, kita mungkin tidak juga menyangka bahwa suatu  pertemuan singkat yang bermakna mampu membuat mahasiswa “lolos” dari  jeratan putus sekolah. Kita bahkan mungkin tidak menyadari bahwa sebuah  sapaan lembut membuat ketakutan mahasiswa lenyap saat sidang akhir yang  menegangkan. Sebuah pujian bagi mahasiswa yang sedang berada di titik  nadir, mungkin akan dikenang selama hidupnya. Sungguh indah dan betapa  berartinya tindak tanduk dan ucapan..........sekecil apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ini diterapkan, hari-hari yang semula menegangkan, kini menjadi  jauh lebih dapat dinikmati. Saya justru banyak belajar dari mereka;  bukan tentang substansi ilmu Arsitektur-nya, melainkan ilmu tentang  kehidupan masa kini yang sudah jauh lebih kompleks...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pikiran dan hati kita MAU BERUBAH, informasi datang silih  berganti; termasuk hadirnya pengetahuan-pengetahuan tentang LCE,  brain-based-learning, juga film Laskar Pelangi yang menekankan  pentingnya mengajar (dan belajar) dengan hati. Karena (mungkin) memang  inilah jalan kita untuk berhikmat kepada semesta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;To Teach is To Hope&lt;br /&gt;Mary Shaughnessy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To teach is to hope...&lt;br /&gt;That one day a child will know&lt;br /&gt;The meaning of confindence&lt;br /&gt;And be able to touch other lives...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To teach is to pray...&lt;br /&gt;That these newly brave souls will use their talents&lt;br /&gt;To better the world,&lt;br /&gt;instead of just themselves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To teach is to feel...&lt;br /&gt;That not all the hurts of those in our care&lt;br /&gt;can be healed&lt;br /&gt;But they can be soothed&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;by, Dhian D. (ITB lectures, awal februari 2010, tulisan  ini mengingatkan diriku ketika menjadi seorang guru, bahwa mengajar dgn  hati dan semata2 krn-Nya, subhanallah hasilnya begitu menakjubkan, trims  buat ibu Dhian atas pencerahannya smg bermanfaat utk para pengajar)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="http://rustinah.multiply.com/" target="_blank"&gt;http://rustinah.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5706467320732404241?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5706467320732404241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5706467320732404241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5706467320732404241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5706467320732404241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/12/mengajar-dan-belajar-dengan-hati.html' title='Mengajar dan Belajar dengan Hati'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-380984903386303304</id><published>2011-11-11T18:16:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T18:16:25.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena pendidikan'/><title type='text'>Di Korea, Rajin Belajar Justru Dirazia Polisi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GH9OlzRCuPA/Tr0DdNTZMuI/AAAAAAAABAU/5gP61J7Q5kY/s1600/13173637081057905150.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="http://4.bp.blogspot.com/-GH9OlzRCuPA/Tr0DdNTZMuI/AAAAAAAABAU/5gP61J7Q5kY/s320/13173637081057905150.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;strong&gt;Jika di Indonesia polisi disibukkan dengan razia tempat-tempat  maksiat, di Korea polisi justru disibukkan dengan merazia anak-anak yang  ketagihan belajar.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Jika Anda termasuk orangtua yang getol memaksa anak untuk membaca buku  pelajarannya, hati-hatilah. Jangan sampai anak Anda justru ketagihan  belajar sehingga tidak bisa menimati hidup. Kalau sudah begini,  dibutuhkan kekuatan polisi untuk menyetop nafsu belajar anak Anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Inilah yang terjadi di Korea Selatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan di Korea Selatan memang kompetitif. Semua orang ingin anaknya  menjadi yang terbaik dari segi akademik. Kawan saya di sana berkisah  anaknya yang baru menginjak umur 3 tahun sudah harus masuk sekolah  berasrama (&lt;em&gt;boarding school&lt;/em&gt;) dari Senin hingga Jumat. Otomatis hanya 2 hari bertemu dengan ayah-bundanya tersayang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sori yah, kata saya. Saya nggak tegaan sama anak sampai segitunya. Kalau  anak saya menginjak umur 3 tahun nanti palingan masih santai-santai di  rumah main sama neneknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya (dulu) pernah meyakini kompetisi akan mengekstrak kualitas terbaik  dari seorang manusia. Ibarat evolusi, kompetisi akan mempertahankan  hanya yang terbaik dan yang lemah akan pupus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tetapi efek negatifnya tentu ada. Kehidupan kompetitif akan memicu  stres. Kita semua tahu apa akibat dari kehidupan yang penuh dengan  tekanan; kesehatan kita tergerogoti sehingga mati pelan-pelan, atau mati  cara ekspres dengan bunuh diri. Tak heran Korea Selatan mencatat angka  bunuh diri &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide_in_South_Korea"&gt;TERTINGGI&lt;/a&gt; di antara 30 negara maju, melebihi angka bunuh diri negara Jepang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itukah yang kita inginkan dalam kehidupan ini? Sukses di usia muda tapi mati pun di usia muda?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Menyadari hal ini, Pemerintah Korea Selatan mengambil tindakan drastik  dengan menghentikan kegiatan belajar anak-anak yang dirasa berlebihan.  Seperti diberitakan &lt;a href="http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,2094427,00.html"&gt;&lt;em&gt;Time Magazine&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;  baru-baru ini, pemerintah negeri ginseng itu menurunkan tim kecil  berkekuatan 5-6 orang untuk merazia anak-anak yang masih belajar setelah  jam 10 malam. Yang menjadi sasaran utama adalah tempat-tempat  les/bimbingan belajar yang dikenal dengan nama &lt;em&gt;hagwon&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;Saking gilanya nafsu belajar anak-anak Korea ini, jumlah pengajar &lt;em&gt;hagwon&lt;/em&gt; jauh lebih besar dibanding jumlah guru sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah anak-anak Korea memang rajin sehingga keranjingan belajar? Tidak juga. Jurnalis &lt;em&gt;Time &lt;/em&gt;mendapati mereka bekerja keras (&lt;em&gt;work hard&lt;/em&gt;), tetapi tidak bekerja secara cerdik (&lt;em&gt;work smart&lt;/em&gt;).  Contohnya, anak-anak ini tidur dalam kelas, tetapi malamnya belajar  sampai dinihari. Mereka hanya tidur 5-6 jam sehari dari yang seharusnya 9  jam. Seandainya mereka memusatkan perhatian di dalam kelas, niscaya  mereka tidak perlu mengikuti les ini-itu di malam hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai perbandingan adalah negara Finlandia sebagai satu-satunya negara  maju yang mencatat hasil ujian akademik anak usia 15 tahun sebanding  dengan Korea, hanya 13% anak sekolah yang mengambil les tambahan di  malam hari. Jadi sebenarnya les-les semacam itu tidak perlu jika si anak  benar-benar memusatkan perhatian di sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegilaan belajar anak Korea juga diakibatkan oleh kompetitifnya proses  masuk ke perguruan tinggi. Hanya ada tiga perguruan tinggi top di Korea  Selatan yang diperebutkan oleh 580 ribu lulusan sekolah menengah.  Tingkat penerimaan hanya 14%. Yang gagal biasanya mengambil les &lt;em&gt;hagwon&lt;/em&gt;,  dan setelah bekerja keras bagai kesetanan selama 2 minggu untuk ujian  ulang, 70% di antara mereka bisa masuk ke perguruan tinggi top tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kadang-kadang kasihan melihat anak-anak Asia. Bukan cuma anak-anak  Korea, tetapi Singapura, China, dan juga mulai menjangkiti Indonesia.  Siapa sih yang menghendaki anak-anak ini belajar keras? Si anak sendiri  atau orangtua? Di Korea, terbukti orangtua menjadi faktor penekan yang  menyebabkan anak gila belajar. Orangtua ingin anaknya berhasil secara  akademis, dan anaknya menjadi sasaran tekanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya masih ingat dulu sekali, kalau rapor saya dan teman-teman ada angka  merahnya, orangtua memarahi kita. Kini lain cerita. Kalau ada angka  merah, orangtua memarahi sang guru. Ini adalah salah satu bukti bahwa  ambisi terbesar untuk melihat kesuksesan si anak justru ada pada  orangtua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Juga anak-anak sekarang, usia balita sudah diikutkan les macam-macam.  Les balet, les musik, les bahasa, les bela diri. Ini semuanya bukan  permintaan si anak, tapi ambisi orangtua untuk melihat anaknya sukses di  usia muda. Si anak sendiri tak peduli apakah dia bisa balet atau  berkarate.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Singapura biasanya antar orangtua saling membanding-bandingkan. Kalau  tetangga sebelah mengirim anak balitanya les balet, dia akan menanyai  kita dengan nada sinis, “Anakku sudah bisa berbalet, anakmu bisa apa?”  Sebagai orangtua tentu akan merasa panas hati dan terpaksa mengirim si  anak berbalet ria walaupun si anak sendiri amsih mau bermain saja di  rumah. Budaya ini (saling membandingkan) diistilahkan sebagai “kiasu” di  Singapura.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya dulu umur 5 tahun masih main gundu dan layangan. Malah masih pakai  empeng. Berhitung pun baru lancar pada saat kelas 2 SD. Toh bisa meraih  gelar doktor di usia sebelum 30 tahun. Saya justru belum melihat bukti  anak-anak jaman sekarang yang dicekoki oleh orangtuanya ini mampu meraih  kesuksesan. Jangan-jangan malah bunuh diri karena stres!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;: &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/30/di-korea-rajin-belajar-justru-dirazia-polisi/"&gt;http://edukasi.kompasiana.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-380984903386303304?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/380984903386303304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=380984903386303304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/380984903386303304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/380984903386303304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/di-korea-rajin-belajar-justru-dirazia.html' title='Di Korea, Rajin Belajar Justru Dirazia Polisi'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GH9OlzRCuPA/Tr0DdNTZMuI/AAAAAAAABAU/5gP61J7Q5kY/s72-c/13173637081057905150.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-1023658832233979472</id><published>2011-11-11T17:55:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T17:55:08.039+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Dosen'/><title type='text'>Para guru butuh "mimpi"</title><content type='html'>“&lt;em&gt;Besar  sukses Anda ditentukan oleh seberapa kuat keinginan Anda; ditentukan  oleh seberapa besar mimpi Anda; dan ditentukan oleh kecakapan Anda dalam  mengatasi kekecewaan yang Anda alami&lt;/em&gt;” &lt;span&gt; &lt;/span&gt; &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;(Robert T. Kiyosaki)&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;“&lt;em&gt;Jika Anda memiliki cita-cita lebih besar daripada keadaan Anda saat ini, Anda akan heran dengan kekuatan Anda yang sebenarnya&lt;/em&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;(Barack Obama)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;TENTU saja mimpi yang dimaksud di sini bukan sebagai “&lt;em&gt;bunga tidur&lt;/em&gt;”, melainkan mimpi yang kita miliki ketika kita terbangun, alias cita-cita. &lt;strong&gt;&lt;span&gt;Ir Soekarno&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, presiden pertama republik ini pernah berkata, &lt;em&gt;&lt;span&gt;“gantungkan cita-citamu setinggi langit“&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.  Ya…, Presiden Soekarno, menyeru pada bangsanya untuk memiliki cita-cita  yang tinggi serta semangat heroik perjuangan yang tinggi untuk  merengkuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Semua  orang sukses pasti pada awalnya adalah mereka yang memiliki mimpi.  Kekuatan mimpi inilah yang akhirnya menuntun para tokoh besar untuk  meraih sukses, demikian pula saya kira amat menentukan kesuksesan  seorang guru.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Mimpi yang punya kekuatan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Mimpi bagaimana yang memiliki kekuatan dahsyat, yang sudah seyogyanya dimiliki oleh para guru?&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span&gt;Pertama, &lt;em&gt;Berorientasi Perubahan&lt;/em&gt;.  Salah satu kriteria mimpi yang memiliki kekuatan dahsyat adalah mimpi  yang berorientasi pada perubahan, tentu saja perubahan positif.  Misalnya: ibu Teresa, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan juga tokoh  nasional kita Ibu Kartini. Tokoh-tokoh hebat ini ternyata memiliki mimpi  yang sangat berorientasi pada perubahan, tidak hanya bagi diri sendiri,  tetapi terutama bagi banyak orang. Mimpi seperti ini mendorong banyak  orang juga untuk membantu para tokoh tersebut mewujudkan perubahan yang  ingin mereka ciptakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span&gt;Kedua, &lt;em&gt;Fokus ke masa depan&lt;/em&gt;.  Mimpi tentang masa lalu tidak termasuk dalam mimpi yang memiliki  kekuatan untuk meraih sukses. Sebaliknya, mimpi yang berorientasi ke  masa depanlah yang memiliki kekuatan menuntun seorang guru meraih  sukses. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span&gt;Ketiga, &lt;em&gt;Jelas&lt;/em&gt;.  Satu lagi kriteria utama yang harus dimiliki sebuah mimpi agar mampu  mempunyai kekuatan dahsyat adalah kejelasan. Artinya, semakin jelas dan  terperinci mimpi yang dimiliki, semakin mudah bagi seorang guru untuk  mengatur rencana dan strategi untuk mewujudkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Fungsi Mimpi Bagi Seorang Guru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span&gt;Setelah  kita mengetahui kriteria dari mimpi yang memiliki kekuatan dahsyat di  atas, selanjutnya tentu kita ingin mengetahui apa saja kekuatan mimpi  yang bisa para guru manfaatkan untuk meraih sukses sebagai seorang guru?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span&gt;Pertama, &lt;em&gt;Kekuatan Motivasi&lt;/em&gt;.  Mimpi seorang guru idealnya mampu memberikannya motivasi untuk  berencana, bertindak, dan mengatur strategi dalam kegiatan belajar  mengajar. Dengan memiliki mimpi juga seorang guru terpacu berusaha  memulai langkah pertama menuju sukses yang ia impikan sebagai seorang  guru. Tentu saja, guru yang punya semangat (karena mimpi-mimpi yang ia  punya), punya peran positif dalam tumbuh kembang anak-anak didiknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span&gt;Kedua, &lt;em&gt;Kekuatan Arah&lt;/em&gt;.  Selain mampu memberikan motivasi yang kuat untuk bertindak, mimpi yang  terperinci juga mampu memberikan arah yang jelas bagi seorang guru ke  mana ia harus melangkah, mengambil solusi yang tepat sehubungan dengan  persoalan-persoalan pendidikan di sekolah.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Ketiga, &lt;em&gt;Kekuatan Menggulirkan Perubahan&lt;/em&gt;.  Kekuatan yang juga sangat penting adalah kekuatan menggulirkan  perubahan. Tanpa mimpi tak akan ada perubahan. Mimpilah yang membuka  jendela ke perubahan positif di masa depan. Melalui mimpi kita bisa  melihat masa depan yang bagaimana yang ingin kita ukir. Gambaran  perubahan positif di masa depan inilah yang akhirnya mendorong kita  mewujudkan perubahan tersebut.&amp;nbsp;Hal ini juga yang dialami misalnya, Ibu  Kartini, yang ingin mengubah derajat para wanita, dan mengangkatnya ke  tingkat yang lebih tinggi melalui pendidikan. Ia pun lalu terdorong  mendirikan sekolah bagi para remaja putri dan wanita.&amp;nbsp;Ia yakin bahwa  pendidikan dapat mendongkrak derajat para wanita ke tingkat yang lebih  tinggi. Selain itu, ia juga “mempromosikan” mimpinya tersebut kepada  orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya mampu membantunya mewujudkan  mimpi tersebut. Hal ini dilakukannya dengan menuliskannya pada  surat-surat yang dikirimkannya pada teman dan sahabat. Kejelasan mimpi  ini telah memberi kekuatan yang dahsyat kepada Ibu Kartini dan juga  tokoh lain untuk mewujudkan mimpi mereka.&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Seorang  guru tidak akan pernah mencapai sukses sebagai seorang guru, jika dia  tidak bermimpi kemudian bekerja keras siang malam untuk mewujudkan  impiannya tersebut, menemukan terobosan-terobosan bagus untuk masa depan  anak didiknya. Kerja keras seorang guru memang perlu. Namun hanya kerja  keras tidaklah cukup untuk membangun sukses yang besar. Masih  dibutuhkan mimpi dan cita-cita seorang guru, kerja cerdas, serta  kreativitas seorang guru untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan ide-ide  besarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Maka  para guru, gantunglah cita-citamu setinggi-tingginya jika ia berupa  langit. Maka, selamlah cita-citamu sedalamnya lautan jika ia berupa  samudera. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah takut pada rintangan.  Jangan pernah takut pada ketinggian. Dan jangan pernah menyurut nyali  pada kedalaman. Jadi, para guru marilah bermimpi untuk kesuksesan  pendidikan kita, pendidikan bangsa ini ke depan!.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;: &lt;a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/11/para-guru-butuh-mimpi/"&gt;http://edukasi.kompasiana.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-1023658832233979472?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/1023658832233979472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=1023658832233979472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/1023658832233979472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/1023658832233979472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/para-guru-butuh-mimpi.html' title='Para guru butuh &quot;mimpi&quot;'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-6763768861982966799</id><published>2011-11-11T17:43:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T17:43:33.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen sekolah'/><title type='text'>Pengembangan Ilmu Manajemen Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;Oleh : Djadja Sardjana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Terdapat minat besar dalam manajemen pendidikan di bagian awal&lt;span&gt; &lt;/span&gt;abad 21. Hal ini karena kualitas kepemimpinan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dipercaya  secara luas membuat perbedaan yang signifikan kepada sekolah dan siswa.  Di banyak bagian dunia, ada pengakuan bahwa sekolah membutuhkan  pemimpin dan manajer yang efektif jika mereka ingin memberikan  pendidikan yang terbaik kepada pelajar mereka. Ketika ekonomi global  mengalami resesi, pemerintah lebih menyadari bahwa aset utama mereka  adalah orang-orang yang kompetitif dan semakin tergantung pada sebuah  sistem pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja terampil. Hal ini  memerlukan guru-guru yang terlatih dan berkomitmen, dan pada gilirannya,  memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang sangat efektif dan dukungan  lain manajer senior dan menengah (Bush, in press).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bidang  manajemen pendidikan adalah pluralis, dengan banyaknya kekurangan  perspektif dan kesepakatan yang tak terelakkan mengenai definisinya.  Salah satu kunci perdebatan apakah manajemen pendidikan telah menjadi  bidang yang berbeda atau hanya sebuah cabang studi yang lebih luas dari  manajemen. Sementara pendidikan dapat belajar dari manajemen lain,  manajemen pendidikan harus terpusat tujuan pendidikan. Tujuan atau  tujuan ini memberikan arti penting arah untuk mendukung manajemen  sekolah. Kecuali keterkaitan antara tujuan dan manajemen pendidikan yang  jelas dan dekat, ada bahaya ‘Managerialism’, “Penekanan pada prosedur  dengan mengorbankan tujuan pendidikan serta nilai-nilai “&lt;span&gt; &lt;/span&gt;(Bush, 1999:240).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;1. Konsep Manajemen&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata &lt;em&gt;manage (to manage) &lt;/em&gt;yang berarti “&lt;em&gt;to conduct or to carry on, to direct&lt;/em&gt;”  (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris  Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan,  mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) ,  Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;‘to &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manage&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;sebagai &lt;em&gt;“to succed in doing something especially something difficult….. Man&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ag&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;emen&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; the act of running and controlling business or similar organization” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;‘&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;’&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;  diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk  mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi  Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen,  dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan  beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih  jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Tabel &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;1.1 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pendapat Pakar tentang Manajemen&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 100.04%;"&gt;&lt;thead&gt;&lt;tr style="height: 27.5pt;"&gt; &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; height: 27.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 27.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pengertian manajemen&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 27.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pendapat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/thead&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;The  most comporehensive definition views manajemen as   an integrating  process by which authorized individual create, maintain, and   operate  an organization in the selection an accomplishment of it’s aims &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;(Lester Robert Bittel (Ed), 1978 : 640)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen  itu adalah pengendalian dan pemanfaatan   daripada semua faktor dan  sumberdaya, yang menurut suatu perencanaan   (planning), diperlukan  untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta atau   tujuan kerja yang  tertentu &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;(Prajudi Atmosudirdjo,1982 : 124)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;3. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen is the use of people and other resources to   accomplish objective &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;( Boone&amp;amp; Kurtz. 1984 : 4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;.. manajemen-the function of getting things done   through people &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;(Harold Koontz, Cyril O’Donnel:3)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;5. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen  merupakan sebuah proses yang khas, yang   terdiri dari  tindsakan-tindakan : Perencanaan, pengorganisasian, menggerakan,   dan  poengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai    sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya  manusia   serta sumber-sumber lain &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;(George R. Terry, 1986:4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;6. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen  dapat didefinisikan sebagai ‘kemampuan atau   ketrampilan untuk  memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan   melalui  kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat pula dikatakan    bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;(Sondang P. Siagian. 1997 : 5)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.3%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;7. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 68.4%;" valign="top" width="68%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen is the process of efficiently achieving the   objectives of the organization with and through people&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 25.3%;" valign="top" width="25%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;De Cenzo&amp;amp;Robbin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;1999:5&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dengan  memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa perbedaan  formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip  dasarnya sama, yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam  rangka mencapai suatu tujuan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya  yang ada, sementara itu definisi nomor empat yang dikemukakan oleh G.R  Terry menambahkan dengan proses kegiatannya, sedangkan definisi nomor  lima dari Sondang P Siagian menambah penegasan tentang posisi manajemen  hubungannya dengan administrasi. Terlepas dari perbedaan tersebut,  terdapat beberapa prinsip yang nampaknya menjadi benang merah tentang  pengertian manajemen yakni :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;1. Manajemen merupakan suatu kegiatan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Setelah  melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap organisasi  termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat memerlukan  manajemen untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat  berjalan dengan baik dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya  mesti berjalan secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali  oleh suatu rencana sampai tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu  keterpaduan dalam prosesnya, dengan mengingat hal itu, maka makna  pentingnya manajemen semakin jelas bagi kehidupan manusia termasuk  bidang pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;2. Konsep Manajemen Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Setelah  memperoleh gambaran tentang manajemen secara umum maka pemahaman  tentang manajemen pendidikan akan lebih mudah, karena dari segi prinsip  serta fungsi-fungsinya nampaknya tidak banyak berbeda, perbedaan akan  terlihat dalam substansi yang dijadikan objek kajiannya yakni segala  sesuatu yang berkaitan dengan masalah pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Oteng Sutisna&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;  (1989:382) menyatakan bahwa Administrasi pendidikan hadir dalam tiga  bidang perhatian dan kepentingan yaitu : (1) setting Administrasi  pendidikan (geografi, demograpi, ekonomi, ideologi, kebudayaan, dan  pembangunan); (2) pendidikan (bidang garapan Administrasi); dan (3)  substansi administrasi pendidikan (tugas-tugasnya, prosesnya,  asas-asasnya, dan prilaku administrasi), hal ini makin memperkuat bahwa  manajemen pendidikan mempunyai bidang dengan cakupan luas yang saling  berkaitan, sehingga pemahaman tentangnya memerlukan wawasan yang luas  serta antisipatif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat  disamping pendalaman dari segi perkembangan teori dalam hal manajemen. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam  kaitannya dengan makna manajemen Pendidikan berikut ini akan  dikemukakan beberapa pengertian manajemen pendidikan yang dikemukakan  para ahli. Dalam hubungan ini penulis mengambil pendapat yang  mempersamakan antara Manajemen dan Administrasi terlepas dari  kontroversi tentangnya, sehingga dalam tulisan ini kedua istilah itu  dapat dipertukarkan dengan makna yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Tabel &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;2.1 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pendapat Pakar tentang manajemen Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;thead&gt;&lt;tr style="height: 27.5pt;"&gt; &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; height: 27.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 27.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pengertian manajemen Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 27.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pendapat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/thead&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" valign="top" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Administrasi  pendidikan dapat diartikan sebagai   keseluruhan proses kerjasama  dengan memanfaatkan semua sumber personil dan   materil yang tersedia  dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah   ditetapkan  secara efektif dan efisien…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" valign="top" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Djam’an Satori, (1980: 4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" valign="top" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam  pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai   aktivitas memadukan  sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha   mencapai tujuan  pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" valign="top" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Made Pidarta, (1988:4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;3. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" valign="top" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen  pendidikan ialah proses   perencanaan, peng-organisasian, memimpin,  mengendalikan tenaga pendidikan,   sumber daya pendidikan untuk mencapai  tujuan pendidikan, mencerdaskan   kehidupan bangsa, mengembangkan  manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman,   bertakwa kepada Tuhan  Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki   pengetahuan,  keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang   mantap,  mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" valign="top" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" valign="top" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;educational administration is a social process that   take place within the context of social system&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" valign="top" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Castetter. (1996:198)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;5. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" valign="top" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen  pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses   perencanaan,  pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan,   sumber  daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" valign="top" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Soebagio Atmodiwirio. (2000:23)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 6.54%;" valign="top" width="6%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;6. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 65.82%;" valign="top" width="65%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen  pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari   bagaimana menata sumber  daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan   secara produktif dan  bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia   yang turut serta  di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 27.64%;" valign="top" width="27%"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Engkoswara (2001:2)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;dengan  memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa manajemen pendidikan pada  prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen atau administrasi  dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang terdapat  dalam dunia pendidikan, &lt;span&gt;fungsi administrasi pendidikan merupakan  alat untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya  tujuan pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, &lt;/span&gt;ini berarti bahwa bidang-bidang yang dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Menurut Engkoswara (2001:2) wilayah kerja manajemen pendidikan dapat digambarkan secara skematik sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm;"&gt; &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Perorangan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 41.3pt;"&gt; &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; height: 41.3pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" valign="top" width="120"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Garapan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Fungsi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 41.3pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;SDM&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 41.3pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;SB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 41.3pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;SFD&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 28.5pt;"&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Perencanaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt; &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="padding: 0cm;"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;TPP&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 28.5pt;"&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr style="height: 28.5pt;"&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Pengawasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="height: 28.5pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 57pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td colspan="4" style="border: medium none; padding: 0cm;"&gt; &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kelembagaan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tabel&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; 2.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;2&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;gambar  di atas menunjukan suatu kombinasi antara fungsi manajemen dengan  bidang garapan yakni sumber Daya manusia (SDM), Sumber Belajar (SB), dan  Sumber Fasilitas dan Dana (SFD), sehingga tergambar apa yang sedang  dikerjakan dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk mencapai  Tujuan Pendidikan secara Produktif (TPP) baik untuk perorangan maupun  kelembagaan Lembaga pendidikan seperti organisasi sekolah merupakan  kerangka kelembagaan dimana administrasi pendidikan dapat berperan dalam  mengelola organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu organisasi dalam hal ini sekolah,  administrasi pendidikan dapat dilihat dalam tiga tingkatan yaitu  tingkatan institusi &lt;em&gt;(Institutional level)&lt;/em&gt;, tingkatan manajerial &lt;em&gt;(managerial level)&lt;/em&gt;, dan tingkatan teknis &lt;em&gt;(technical level)&lt;/em&gt;  (Murphy dan Louis, 1999). Tingkatan institusi berkaitan dengan hubungan  antara lembaga pendidikan (sekolah) dengan lingkungan eksternal,  tingkatan manajerial berkaitan dengan kepemimpinan, dan organisasi  lembaga (sekolah), dan tingkatan teknis berkaitan dengan proses  pembelajaran. Dengan demikian manajemen pendidikan dalam konteks  kelembagaan pendidikan mempunyai cakupan yang luas, disamping itu  bidang-bidang yang harus ditanganinya juga cukup banyak dan kompleks  dari mulai sumberdaya fisik, keuangan, dan manusia yang terlibat dalam  kegiatan proses pendidikan di sekolah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Menurut &lt;em&gt;Consortium on Renewing Education&lt;/em&gt;  (Murphy dan Louis, ed. 1999:515) Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai  lima bentuk modal yang perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan  yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;1. Integrative capital&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; (modal integrative)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;2. Human capital&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; (modal manusia)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;3. Financial capital&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; (modal keuangan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;4. Social capital&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; (modal social)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;5. Political capital&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; (modal politik)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;odal integratif&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;  adalah modal yang berkaitan dengan pengintegrasian empat modal lainnya  untuk dapat dimanfaatkan bagi pencapaian program/tujuan pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;odal manusia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; adalah sumberdaya manusia yang kemampuan untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan proses pendidikan/pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;odal keuangan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan dan memperbaiki proses pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;odal sosial&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; adalah ikatan kepercayaan dan kebiasaan yang menggambarkan sekolah sebagai komunitas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;odal politik&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; adalah dasar otoritas legal yang dimiliki untuk melakukan proses pendidikan/pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Dengan  pemahaman sebagaimana dikemukakan di atas, nampak bahwa salah satu  fungsi penting dari manajemen pendidikan adalah berkaitan dengan proses  pembelajaran, hal ini mencakup dari mulai aspek persiapan sampai dengan  evaluasi untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam  hubungan ini Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang melakukan  kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu mengelola kegiatan tersebut  dengan baik karena proses belajar mengajar ini merupakan kegiatan utama  dari suatu sekolah (Hoy dan Miskel 2001). Dengan demikian nampak bahwa  Guru sebagai tenaga pendidik merupakan faktor penting dalam manajemen  pendidikan, sebab inti dari proses pendidikan di sekolah pada dasarnya  adalah guru, karena keterlibatannya yang langsung pada kegiatan  pembelajaran di kelas. Oleh karena itu Manajemen Sumber Daya Manusia  Pendidik dalam suatu lembaga pendidikan akan menentukan bagaimana  kontribusinya bagi pencapaian tujuan, dan kinerja guru merupakan sesuatu  yang harus mendapat perhatian dari fihak manajemen pendidikan di  sekolah agar dapat terus berkembang dan meningkat kompetensinya dan  dengan peningkatan tersebut kinerja merekapun akan meningkat, sehingga  akan memberikan berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan sejalan  dengan tuntutan perkembangan global dewasa ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Perkembangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; Manajemen Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;(1)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Teori Manajemen Kuno;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sampai  dengan tingkat tertentu, manajemen telah dipraktekkan oleh masyarakat  kuno. Sebagai contoh, bangsa Mesir bisa membuat piramida. Bangunan yang  cukup kompleks yang hanya bisa diselesaikan dengan koordinasi yang baik.  Kekaisaran Romawi mengembangkan struktur organisasi yang jelas, dan  sangat membantu komunikasi dan pengendalian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Meskipun  manajemen telah dipraktekkan dan dibicarakan di jaman kuno, tetapi  kejadian semacam itu relatif sporadis, dan tidak ada upaya yang  sistematis untuk mempelajari manajemen. Karena itu manajemen selama  beberapa abad kemudian “terlupakan”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pada  akhir abad 19-an, perkembangan baru membutuhkan studi manajemen yang  lebih serius. Pada waktu industrialisasi berkembang pesat, dan  perusahaan-perusahaan berkembang menjadi perusahaan raksasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;(2)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Teori Manajemen Klasik;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;a)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Teori Manajemen Klasik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Robert Owen (1771-1858)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Owen  berkesimpulan bahwa manajer harus menjadi pembaharu (reformer). Beliau  melihat peranan pekerja sebagai yang cukup penting sebagai aset  perusahaan. Pekerja bukan saja merupakan input, tetapi merupakan sumber  daya perusahaan yang signifikan. Ia juga memperbaiki kondisi pekerjanya,  dengan mendirikan perumahan (tempat tinggal) yang lebih baik. Beliau  juga mendirikan toko, yang mana pekerjanya tidak kesusahan dan dapat  membeli kebutuhan dengan harga murah. Ia juga mengurangi jam kerja dari  15 jam menjadi 10,5 jam, dan menolah pekerja dibawah umur 10 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Owen  berpendapat dengan memperbaiki kondisi kerja atau invertasi pada sumber  daya manusia, perusahaan dapat meningkatkan output dan juga keuntungan.  Disamping itu Owen juga memperkenalkan sistem penilaian terbuka dan  dilakukan setiap hari. Dengan cara seperti itu manajer diharapkan bisa  melokalisir masalah yang ada dengan cepat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Charles Babbage (1792-1871)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Babbage merupakan profesor matematika di Inggris. Dengan metode kuantitatifnya beliau percaya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bahwa prinsip-prinsip ilmiah dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, produksi naik biaya operasi turun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pembagian  Kerja (division of labor); dengan ini kerja/operasi pabriknya bisa  dianalisis secara terpisah. Dengan cara semacam ini pula training bisa  dilakukan dengan lebih mudah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dengan melakukan pekerjaan yang sama secara berulang-ulang, maka pekerja akan semakin terampil dan berarti semakin efisien.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;b)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Teori Manajemen Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Federick Winslow Taylor (1856-1915)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Federick  Taylor disebut sebagai bapak manajemen ilmiah. Taylor memfokuskan  perhatiannya pada studi waktu untuk setiap pekerjaan (time and motion  study); dari sini ia mengembangkan analisis kerja. Taylor kemudian  memperkenalkan sistem pembayaran differential (differential rate).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Manajemen Taylor didasarkan pada langkah atau prinsip sebagai berikut :&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mengambangkan Ilmu untuk setiap elemen pekerjaan, untuk menggantikan pikiran yang didasari tanpa ilmu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Memilih karyawan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;secara ilmiah, dan melatih mereka untuk melakukan pekerjaan seperti yang ditentukan pada langkah-1.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mengawasi karyawan secara ilmiah, untuk memastikan mereka mengikuti metode yang telah ditentukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kerjasama antara manajemen dengan pekerja ditingkatkan. Persahabatan antara keduanya juga ditingkatkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Frank B. Gilberth (1868-1924) dan Lillian Gilberth (1887-1972)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Keduanya  adalah suami istri yang mempunyai minat yangsama terhadap manajemen.  Menurut Frank pergerakan yang dapat dihilangkan akan mengurangi  kelelahan. Semangat kerja akan naik karena bermanfaat secara fisik pada  karyawan. Sedang Lilian memberikan kontribusi pada lapangan psikologi  industri dan manajemen personalia. Beliau percaya bahwa tujuan akhir  manajemen ilmiah adalah membantu pekerja mencapai potensi penuhnya  sebagai seorang manusia. Keduanya mengembangkan rencana promosi tiga  tahap, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Menyiapkan Promosi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Melatih Calon Pengganti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Melakukan Pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Menurut  metode tersebut, seorang pekerja akan bekerja seperti biasa, sambil  menyiapkan promosi karir, dan melatih calon penggantinya. Dengan  demikian pekerja akan menjadi pelaksana, pelajar yaitu menyiapkan karir  yang lebih tinggi, dan pengajar dalam arti mengajari dalon pengganti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Henry L. Gantt (1861-1919)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Gantt  melakukan perbaikan metode sistem penggajian Taylor (differential  system) karena menurutnya metode tersebut kurang memotivasi kerja.  Sistem Pengawasan (supervisor) diterapkannya sebagai upaya untuk memacu  semangat kerja karyawan. Disamping itu Gantt juga memperkenalkan sistem  penilaian terbuka yang awalnya merupakan ide Owen. Gantt chart (bagan  Gantt) kemudian populer dan gigunakan untuk perencanaan, yaitu mencatat  scedul (jadwal) pekerja tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;c)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Teori Manajemen Organisasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Henry Fayol (1841-1925)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Henry  Fayol merupakan industrialis Prancis, ia sering disebut sebagai bapak  aliran manajemen klasik karena upaya “mensistematisir” studi manajerial.  Menurut Fayol, praktek manajemen dapat dikelompokkan ke dalam beberapa  pola yang dapat diidentifikasi dan dianalisis. Dan selanjutnya analisis  tersebut dapat dipelajari oleh manajer lain atau calon manajer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Fayol  adalah orang yang pertama mengelompokkan kegiatan menajerial dalam 4  fungsi manajemen, yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pengorganisasian, (3)  Pengarahan, dan (4) Pengendalian. Fayol percaya bahwa manajer bukan  dilahirkan tetapi diajarkan. Manajemen bisa dipelajari dan dipraktekkan  secara efektif apabila prinsip-prinsip dasarnya dipahami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Max Weber (1864-1920)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Max  Weber adalah seorang ahli sosiologi Jerman yang mengembangkan teori  birokrasi. Menurutnya, suatu organisasi yang terdiri dari ribuan anggota  membutuhkan aturan jelas untuk anggota organisasi tersebut. Organisasi  yang ideal adalah birokrasi dimana aktivitas dan tujuan diturunkan  secara rasional dan pembagian kerja disebut dengan jelas. Birokrasi  didasarkan pada aturan yang rasional yang dapat dipakai untuk mendesain  struktur organisasi yang jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Konsep  birokrasi Weber berlainan dengan pengertian birokrasi populer, dimana  orang cnderung mengartikan kata birokrasi dengan konotasi negatif, yaitu  organisasi yang lamban, tidak reponsif terhadap perubahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mary Parker Follet (1868-1933)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mary  Parker Follet agak berbeda sedikit dengan pendahulunya karena  memasukkan elemen manusia dan struktur organisasi kedalam analisisnya.  Elemen tersebut kemudian muncul dalam teori perilaku dan hubungan  manusia. Follet percaya bahwa seseorang akan menjadi manusia sepenuhnya  apabila manusia menjadi anggota suatu kelompok. Konsekuensinya, Follet  percaya bahwa manajemen dan pekerja mempunyai kepentingan yang sama,  karena menjadi anggota organisasi yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Selanjutnya Follet mengembangkan model perilaku pengendalian organisasi dimana seseorang dikendalikan oleh tiga hal, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pengendalian diri (dari orang tersebut);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pengendalian kelompok (dari kelompok);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pengendalian bersama (dari orang tersebut dan dari kelompok).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Chester I Barnard (1886-1961)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bernard  mengambangkan teori organisasi, menurutnya orang yang datang  keorganisasi formal (seperti perusahaan) karena ingin mencapai tujuan  yang tidak dapat dicapai sendiri. Pada waktu mereka berusaha mencapai  tujuan organisasi, mereka juga akan berusaha mencapai tujuannya sendiri.  Organisasi bisa berjalan dengan efektif apabila keseimbangan tujuan  organisasi dengan tujuan anggotanya dapat terjaga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bernard  percaya bahwa keseimbangan antara tujuan organisasi dengan individu  dapat dijaga apabila manajer mengerti konsep wilayah penerimaan (zone of  acceptance), dimana pekerja akan menerima instruksi atasannya tanpa  mempertanyakan otoritas manajemen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;(3)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Teori Manajemen Kontemporer.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Beberapa  pendekatan sudah dibicarakan dimuka, dimana pendekatan-pendekatan  tersebut mengalami perkembangan. Ada beberapa perkembangan yang  cenderung mengintegrasikan pendekatan-pendekatan sebelumnya, menjadikan  batas-batas pendekatan yang telah dibicarakan menjadi tidak jelas. Namun  demikian ada pendekatan yang tetap berakar pada pendekatan-pendekatan  tertentu. Bagian berikut ini akan membicarakan pendekatan baru dalam  manajemen :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;1)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pendekatan Sistem&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sistem  dapat diartikan sebagai gabungan sub-sub sistem yang saling berkaitan.  Organisasi sebagai suatu sistem akan dipandang secara keseluruhan,  terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan (sub-sistem), dan  sistem/organisasi tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Model pendekatan sistem dapat digambarkan sebagai berikut[10] :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="" height="309" src="http://edukasi.kompasiana.com/DOCUME%7E1/Bapak/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" width="644" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pada  proses selanjutnya pendekatan inilah yang selama ini digunakan dalam  sistem manajemen pendidikan di indonesia. Sebelum munculnya sistem  pendekatan-pendekatan yang baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;2)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pendekatan Situasional (Contingency)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pendekatan  ini menganggap bahwa efektivitas manajemen tergantung pada situasi yang  melatarbelakanginya. Prinsip manajemen yang sukses pada situasi  tertentu, belum tentu efektif apabila digunakan di situasi lainnya.  Tugas manajer adalah mencari teknik yang paling baik untuk mencapai  tujuan organisasi, dengan melihat situasi, kondisi, dan waktu yang  tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pendekatan  situasional memberikan “resep praktis” terhadap persoalan manajemen.  Tidak mengherankan jika pendekatan ini dikembangkan manajer, konsultan,  atau peneliti yang banyak berkecimpung dengan dunia nyata. Pendekatan  ini menyadarkan manajer bahwa kompleksitas situasi manajerial, membuat  manajer fleksibel atau sensitif dalam memilih teknik-teknik manajemen  yang terbaik berdasarkan situasi yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Namun  pendekatan ini dalam perkembangannya dikritik karena tidak menawarkan  sesuatu yang baru. Pendekatan ini juga belum dapat dikatakan sebagai  aliran atau disiplin manajemen baru, yang mempunyai batas-batas yang  jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;3)&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pendekatan Hubungan Manusia Baru (Neo-Human Relation)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pendekatan  ini berusaha mengintegrasikan sis positif manusia dan manajemen ilmiah.  Pendekatan ini melihat bahwa manusia merupakan makhluk yang emosional,  intuitif, dan kreatif. Dengan memahami kedudukan manusia tersebut,  prinsip manajemen dapat dikembangkan lebih lanjut. Tokoh yang dapat  disebut mewakili aliran ini adalah W. Edwadr Deming, yang mengembangkan  prinsip-prinsip manajemen seperti Fayol yang berfokus pada kualitas  kerja dan hubungan antar karyawan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam  perjalanannya pendekatan ini masih membutuhkan waktu untuk sampai  dikatakan sebagai aliran manajemen baru. Meskipun demikian pendekatan  tersebut cukup populer baik dilingkungan akademis maupun praktis.  Ide-ide pendekatan tersebut banyak mempengaruhi praktek manajemen saat  ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;4.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;STUDI KASUS DI INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Penerapan Manajemen Pendidikan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ada  dua hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan dunia pendidikan,  yakni (1) evaluasi pendidikan, dan (2) pemikiran untuk memfungsikan  pendidikan di Indonesia. Dari dua hal ini ketika kita tarik kedalam  menejemen pendidikan yang berjalan di Indonesia, ada beberapa fenomena  menarik yang sangat menonjol dewasa ini, diantaranya ialah : a)  pendidikan kita tidak mendewasakan anak didik, b) pendidikan kita telah  kehilangan objektivitasnya, c) pendidikan kita tidak menumbuhkan pola  berfikir, d) pendidikan kita tidak menghasilkan manusia terdidik, e)  pendidikan kita dirasa membelenggu, f) pendidikan kita belum mampu  membangun individu belajar, g) pendidikan kita dirasa  linier-indroktinatif, h) pendidikan kita belum mampu menghasilkan  kemandirian, dan i) pendidikan kita belum mampu memberdayakan dan  membudayakan peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Fenomena  tersebut di atas, itu semua adalah tentang evaluasi dari pendidikan  kita yang ada sekarang ini. Sedangkan pemikiran untuk memfungsikan  pendidikan di Indonesia dirasa selain merupakan tuntutan kebutuhan di  atas, juga dibutuhkan adanya (1) “peace education” pendidikan yang damai  / menyejukkan; (2) pendidikan yang mampu membangun kehidupan  demokratik; (3) pendidikan yang mampu menumbuhkan semangat menjunjung  tinggi HAM, dan (4) pendidikan yang mampu membangun keutuhan pribadi  manusia berbudaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dari  persoalan tersebut diatas, jelas bahwa dunia pendidikan kita masih jauh  dari nilai-nilai yang ingin dicapai. Apa yang salah dari ini semua?  Sebuah pertanyaan yang mungkin akan kita jawab bersama sebagai manusia  yang peduli terhadap dunia pendidikan. Kalau kita cermati lebih jauh,  apa yang telah diperbuat oleh lembaga pendidikan dewasa ini - yang telah  dengan susah payah menerapkan berbagai teori manajemen pendidikan yang  cocok untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan – masih jauh dari  harapan yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kebijakan  mulai dari CBSA (cara belajar siswa aktif) sampai sekarang yang  didengung-dengungkan dengan KBK (kurikulum berbasis kompetensi) adalah  berbagai upaya dunia pendidikan kita untuk mencerdaskan anak didiknya  sesuai dengan perkembangan zaman. Muncul lagi MBS (manajemen berbasis  sekolah) adalah sebuah alternatif pemecahan yang menginginkan  pengelolaan pendidikan yang dibebankan kepada sekolah, sehingga apa yang  diinginkan suatu daerah (lembaga pendidikan) terhadap potensi anak  didiknya bisa tersalurkan dengan baik. Ini adalah sedikit tentang  bagaimana sebenarnya penerapan pendidikan di Indonesia, dn masih banyak  lagi model-model yang diterapkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kalau  kita lihat bagaimana sebuah lembaga pendidikan menerapkan apa yang  telah ada dalam teori manajemen pendidikan, maka mungkin apa yang  terjadi di atas minimal dapat terhindarkan. Lagi-lagi itu semua karena  kebijakan pendidikan kita selama ini masih sangat semrawut. Sehingga  hasil yang diharapkan dari komponen-komponen penyelenggara pendidikan  antara satu komponen dengan komponen yang lain masih sangat jauh berbeda  bahkan ada yang bertentangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Beberapa Masalah Manajemen di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sejak  zaman orde lama, orde baru sampai sekarang zaman reformasi, sistem  pendidikan Nasional kita masih belum mempunyai perubahan yang  signifikan. Persoalan pendidikan di Indonesia dewasa ini sangat  kompleks. Permasalahan yang besar antara lain menyangkut persoalan mutu  pendidikan, pemerataan pendidikan, dan manajemen pendidikan. Mengenai  mutu pendidikan menurut Paul Suparno adalah masalah mengenai kurikulum,  proses pembelajaran, evaluasi, buku ajar, mutu guru, sarana dan  prasarana. Termasuk pemerataan pendidikan adalah masih banyaknya anak  umur sekolah yang tidak dapat menikmati pendidikan formal di sekolah.  Sedang persoalan manajemen pendidikan adalah menyangkut segala macam  pengaturan pendidikan seperti otonomi pendidikan, birokrasi, dan  transparansi agar kualitas dam pemerataan pendidikan dapat  terselesaikan.[11]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Inilah  persoalan yang besar sebenarnya, karena bagaimanapun juga ketika sebuah  intitusi pendidikan tidak mempunyai sistim manajemen pendidikan yang  baik, maka dapat dipastikan mutu pendidikannya pun bisa jadi tidak baik  pula. Sebagaimana yang dirasakan dalam sistem manajemen pendidikan kita  dewasa ini, dengan munculnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)  dimungkinkan akan sedikit menjawab persoalan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Di  atas juga sudah diterangkan tentang manajemen secara umum yang itu  diterapkan dalan manajemen pendidikan kita. Seperti halnya sistem  manajemen yang ditemukan oleh tokoh-tokoh manajemen, yaitu (POAC)  Planning, Organizing, Actuating, dan Controling. Adalah sistem manajemen  yang sangat luar biasa ketika itu dilakasanakan dengan sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sistem  Manajemen Pendidikan yang terjadi di Indonesia sejak zaman orde baru  (yang masih menggunakan manajemen pendidikan sentralistik) sampai  kemudian muncul Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang sudah cenderung  kepada otomisasi lembaga-lembaga pendidikan (desentralisasi pendidikan),  mempunyai arti yang sangat luas. Disamping mempunyai kekurangan dan  kelebihan masing-masing. Persoalan inilah yang akan kita bahas  selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;amp;quot&amp;amp;quot&amp;amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Analisis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sejak  zaman Orde Baru telah banyak yang di capai dalam pembangunan nasional  termasuk bidang pendidikan. Kemajuan ini juga mendapat pengakuan dari  seluruh dunia dengan diberikannya penghargaan Avisiena kepada Presiden  Republik Indonesia karena keberhasilan melaksanakan wajib belajar  sekolah dasar. Namun ditengah-tengah kesuksesan yang telah dicapai  tersebut masih banyak permasalahan yang perlu diselesaikan, seperti  halnya pengangguran tenaga-tenaga terdidik hasil dari sistem pendidikan  kita. Disatu pihak pendidikan kita telah melahirkan lulusan pendidikan  tinggi dan menengah tetapi dilain pihak menambah pengangguran.[12] &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sebagaimana  dijelaskan oleh H.A.R Tilaar, bahwa di dalam sistem pendidikan  sekurang-kurangnya berisi faktor-faktor biaya, pengelola, institusi, dan  sistem manajemennya.[13] Sistem manajemen pendidikan kita (era orde  lama dan orde baru) masih terlalu sentralistik (pemerintah pusat),  sebagaimana kita tahu bahwa suatu sistem yang sentralistik dan  birokratik, maka ruang-gerak untuk inovasi sangat terbatas. Demikian  pula kreativitas dari para pendidiknya boleh dikatakan menjadi hilang  karena segala sesuatu telah ditentukan menurut garis-garis yang  ditentukan. Sehingga apa yang diinginkan daerah (lembaga pendidikan)  tidak tercapai karena sifat yang sentralistik tersebut. Hasilnya adalah  jumlah out-put banyak namun itu menambah pengangguran yang banyak pula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pada  era reformasi mulai muncul Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) seiring  dengan bergulirnya otonomi daerah (pelimpahan wewenang pemerintah pusat  pada pemerintah daerah). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam  bahasa Inggris disebut ”School Based Management” merupakan strategi yang  jitu untuk mencapai manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Konsep  ini pertama kali muncul di Amerika Serikat, latar belakangnya adalah  ketika itu masyarakat mempertanyakan apa yang dapat diberikan sekolah  kepada masyarakat dan juga apa relevansi dan korelasi pendidikan dengan  tuntutan maupun kebutuhan masyarakat.[14]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Model  MBS ini adalah suatu ide dimana kekuasaan pengambilan keputusan yang  berkaitan dengan pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat  dengan proses belajar mengajar, yakni sekolah. Konsep ini didasarkan  pada “Self Determination Theory” yang menyatakan bahwa apabila seseorang  atau kelompok memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan sendiri,  maka orang atau kelompok tersebut akan memiliki tanggung jawab yang  besar untuk melaksanakan apa yang telah diputuskan tersebut.[15] Dalam  pelaksanaan MBS tersirat adanya tugas sekolah untuk meningkatkan mutu  pendidikan menggunakan strategi yang lebih memberdayakan semua potensi  sekolah secara optimal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sisi  kelebihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dibandingkan dengan model  sentralistik adalah sekolah memiliki kekuasaan, antara lain : (1)  mengambil keputusan berkaitan dengan pengelolaan kurikulum; (2)  keputusan berkaitan dengan rekruitmen dan pengelolaan guru dan pegawai  administrasi; (3) keputusan berkaitan dengan pengelolaan sekolah. Dengan  demikian dapat dilihat sekaligus ditegaskan bahwa model MBS ini pada  hakekatnya adalah memberikan otonomi yang lebih luas kepada sekolah,  dengan tujuan akhir meningkatkan mutu hasil penyelenggaraan pendidikan  melalui peningkatan kinerja dan partisipasi semua stakeholdernya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Demikian  pula yang disampaikan Mulyasa bahwa kewenangan yang bertumpu pada  sekolah merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat  efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut : (1)  Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada  peserta didik, orang tua, dan guru; (2) Bertujuan bagaimana memanfaatkan  sumber daya lokal; dan (3) Efektif dalam melakukan pembinaan peserta  didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat  putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.[16]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Disamping  itu dalam sebuah sekolah, tanggung jawab pokok untuk pembentukan moral  dan intelektual akhirnya tidak terletak pada salah satu prosedur atau  kegiatan baik intra-kurikuler maupun ekstra-kurikuler; akan tetapi  terletak pada pengajarnya. Sekolah merupakan kebersamaan bersemuka,  tempat hubungan personel otentik antara pengajar dan pelajar dapat  berkembang. Tanpa persahabatan ragam itu banyak kekuatan dari pendidikan  dan pengajaran akan menghilang. Hubungan saling percaya dan  persahabatan otentik antara pengajar dan pelajar merupakan syarat mutlak  pertumbuhan sejati dari komitmen kepada nilai-nilai. Proses itu semua  akan terwujud ketika berada dalam ruang lingkup manajemen yang baik, dan  ini menurut J. Drost, SJ akan terwujud dalam Manajemen Berbasis Sekolah  (MBS)[17].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;E.  Mulyasa, Dr. M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan  Implementasi), Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, cet. 3 &amp;amp; 4, 2003.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;H. Syaiful Sagala, Dr. M.Pd., Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung. 2000.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;H.A.R.  Tilaar, Prof. Dr. M.Sc.Ed., Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan  Nasional (dalam perspektif abad 21), Magelang, Tera Indonesia. 1998.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;J.  Drost, SJ., Dari KBK (Kurikulum Bertujuan Kompetensi) Sampai MBS  (Manajemen Berbasis Sekolah), Jakarta, PT. Kompas Media Nusantara, 2005.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;Luwis R. Benston, Supervision and Management, New York, McGraw Hill Book Company, 1972.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;Made Pidarta, Prof. Dr., Manajemen Pendidikan Indonesia, Crt. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2004.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;Mamduh M. Hanafi, Drs. MBA, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Jakarta, Gunung Agung, 1985.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;Undang-undang  No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan  Penjelasannya, Yogyakarta, Media Wacana Press,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;2003.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;Wajong J, Fungsi Administrasi Negara, Jakarta, Djambatan, 1983. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;________________________________________&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[1]  Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  (Sisdiknas) dan Penjelasannya, Yogyakarta, Media Wacana Press,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;2003. hlm. 9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[2]  Drs. Mamduh M. Hanafi, MBA, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan  Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997. hlm. 30&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[3] Prof. Dr. Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Crt. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2004, hlm. 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[4] Wajong J, Fungsi Administrasi Negara, Jakarta, Djambatan, 1983. hlm. 01 &amp;amp; 27.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[5] Luwis R. Benston, Supervision and Management, New York, McGraw Hill Book Company, 1972, hlm. 278-279.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[6] Drs. Mamduh M. Hanafi, MBA, Op_Cit., hlm. 6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[7] Dr. H. Syaiul Sagala, M.Pd, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung, Alfabeta, 2000, hlm. 22&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[8] Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Jakarta, Gunung Agung, 1985.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[9] Prof. Dr. Made Pidarta, Op_Cit., hlm. 04&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[10] Drs. Mamduh M. Hanafi, MBA, Op_Cit., hlm. 46&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[11]  J. Drost, SJ., Dari KBK (Kurikulum Bertujuan Kompetensi) Sampai MBS  (Manajemen Berbasis Sekolah), Jakarta, PT. Kompas Media Nusantara. 2005.  hlm. ix.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[12]  Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed., Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan  Nasional (dalam perspektif abad 21), Magelang, Tera Indonesia. 1998.  hlm. 75&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[13] Ibid. hlm. 79.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[14] Dr. H. Syaiful Sagala, M.Pd., Op_Cit., hlm. 78.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[15] Ibid., hlm. 79.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[16]  Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan  Implementasi), Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, cet. 3 &amp;amp; 4, 2003.  hlm. 24.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;[17] J. Drost, SJ., Op_Cit., hlm. 120-125.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;: &lt;a href="http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/19/pengembangan-ilmu-manajemen-pendidikan/"&gt;http://edukasi.kompasiana.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-6763768861982966799?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/6763768861982966799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=6763768861982966799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/6763768861982966799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/6763768861982966799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/pengembangan-ilmu-manajemen-pendidikan.html' title='Pengembangan Ilmu Manajemen Pendidikan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5468439158635177733</id><published>2011-11-11T17:33:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T17:33:02.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Strategi Belajar-Mengajar'/><title type='text'>TEORI BELAJAR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Arti dan Pengertian Belajar Menurut Para Pakar Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Learning is the process by which an  activity originates or is charged through training procedures (whether  in the laboratory or in the natural environments) as distinguished from  changes by factor not attributable to training.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Petikan di atas adalah apa yang disampaikan oleh tokoh pendidikan bernama &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ernest_Hilgard" title="Tokoh Pendidikan Dunia Ernest Hilgard"&gt;Ernest ER Hilgard&lt;/a&gt;,  artinya: seseorang dapat dikatakan belajar jika dapat melakukan sesuatu  dengan cara latihan-latihan sehingga yang bersangkutan menjadi berubah  (Dakir, 1993)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lee_Cronbach" title="Psikolog Pendidikan mendefinisikan arti belajar"&gt;Lee Cronbach&lt;/a&gt;  menyebutkan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai hasil  dari pengalaman. Sebaik-baik belajar menurut Cronbach adalah dengan  mengalami sesuatu. Mengalami sesuatu&amp;nbsp; yaitu dengan mempergunakan panca  inderanya, mata untuk mengamati, telinga untuk mendengar, hidung untuk  mencium, lidah untuk merasa, kulit juga untuk merasakan sesuatu,  sehingga diharapkan seorang pembelajar mampu membaca, mengamati, meniru  kemudian mengolahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah &lt;a href="http://wikipedia.org/" target="_blank" title="situs ensiklopedia terbesar di dunia"&gt;situs ensiklopedia ternama&lt;/a&gt; disebutkan bahwa &lt;a href="http://manajemenpendidikan.com/apa-itu-belajar/" title="Pengertian belajar, arti belajar"&gt;belajar adalah &lt;/a&gt;mencari  pengetahuan baru atau memodifikasi pengetahuan yang sudah ada,  perilaku, keterampilan, nilai atau preferensi, dan mungkin melibatkan  sintesis berbagai jenis informasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, Degeng menyatakan bahwa &lt;strong&gt;belajar adalah&lt;/strong&gt;  pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang suka dimiliki  pelajar, ini berarti dalam proses belajar, pelajar akan mengaitkan  pengetahuan atau ilmu yang telah diserap dalam memorinya, kemudian  menghubungkan dengan pengetahuan yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walker menyebutkan &lt;strong&gt;definisi belajar&lt;/strong&gt;  yaitu suatu perubahan dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai  hasil dari pengalaman dan tidak memiliki keterkaitan dengan kedewasaan  rohaniah, kelelahan, motivasi, perubahan dalam situasi stimulus maupun  faktor-faktor yang bersifat samar lainnya yang tidak berhubungan  langsung dengan kegiatan belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Teori belajar sibernetik&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori ini merupakan teori belajar yang  dianggap paling baru, berkembang sejalur dengan kemajuan ilmu  informasi. Menurut teori belajar sibernetik ini, belajar adalah sebuah  pengelolaan informasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika melihat secara kasat mata, teori  ini mempunyai kesamaan dengan teori belajar kognitif yang mementingkan  pada proses, tetapi esensi yang paling penting adalah sistem informasi  yang diproses itu, kemudian informasi inilah yang akan menentukan suatu  proses.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat lain yang sepaham dengan &lt;strong&gt;teori sibernetik&lt;/strong&gt;  adalah tidak adanya suatu proses belajar yang ideal untuk segala  situasi yang cocok untuk semua siswa. Maka, sebuah informasi mungkin  akan dipelajarai seorang siswa dengan satu macam proses belajar, dan  informasi yang sama tersebut mungkin saja akan dipelajari siswa lain  melalui proses belajar yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Teori humanisme&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori humanisme  disebut sebagai teori yang paling abstrak. yaitu teori yang paling  mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan dan merupakan proses  belajar yang paling ideal dengan ketertarikan pada ide belajar (dalam  bentuknya yang paling ideal daripada belajar dengan apa adanya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bloom dan Rathwohl merupakan penganut &lt;strong&gt;teori belajar aliran humanistik&lt;/strong&gt; ini. Mereka menunjukkan apa yang mungkin saja dikuasai oleh siswa yang terbagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Wilayah Kognitif&lt;/strong&gt;, terdiri dari 6 (enam) tingkatan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;pengetahuan menghafal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pemahaman atau menginterprestasikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;aplikasi, dengan menggunakan konsep untuk mengatasi suatu masalah (problem solving)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;tingkatan analisis, yaitu menjabarkan suatu konsep&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sintesis, yaitu menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh&lt;/li&gt;&lt;li&gt;evaluasi, dengan membandingkan nilai-nilai, ide, metode, cara, konsep, dan lain sebagainya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Kawasan Psikomotorik&lt;/strong&gt;, yang terdiri dari 5 (lima) tingkatan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;peniruan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;penggunaan konsep untuk melakukan gerak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;keakuratan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;perangkaian, melakukan beberapa gerakan sekaligus ddengan benar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;naturalisasi yaitu melakukan gerakan secara wajar&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Wilayah Afektif&lt;/strong&gt;, terdiri dari lima (5) tingkatan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;pengenalan, dengan ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;merespon aktif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;penghargaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pengorganisasian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pengalaman&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model Belajar Bloom inilah yang paling populer digunakan sebagai rujukan para pengajar atau pendidik di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pakar pendidikan yang menganut &lt;strong&gt;faham belajar humanistik&lt;/strong&gt; lain adalah Kolb, yang membagi tahapan belajar menjadi empat, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pengalaman nyata.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengamatan aktif dan reflektif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konseptualisasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Percobaan secara aktif.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahap paling awal dalam proses  belajar, seorang siswa mungkin hanya mampu ikut mengalami suatu  kejadian, namun belum mempunyai kesadaran tentang hakekat kejadian  tersebut. Siswa juga belum memahami mengapa dan bagaimana suatu kejadian  terjadi seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahap kedua proses belajar menurut penganut &lt;strong&gt;Teori belajar Aliran Humanisme&lt;/strong&gt;  ini adalah, siswa tersebut lama-kelamaan akan mampu melakukan  pengamatan aktif terhadap kejadian tersebut. kemudian mulai berusaha  memikirkan dan memahaminya. Kemudian pada tahap belajar berikutnya,  siswa mulai belajar untuk membangun abstraksi atau teori tentang suatu  hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu  membuat aturan-aturan umum dari beberapa contoh kejadian yang walaupun  nampak berbeda-beda, namun mempunyai acuan aturan yang sama. Kemudian,  terjadilah tahap eksperimen aktif pada tahap akhir, yaitu siswa sudah  mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke kondisi yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kolb juga menyebutkan bahwa, siklus  belajar seperti tersebut di atas terjadi secara berkesinambungan dan  berlangsung di luar kesadaran siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tipe-tipe siswa yang terlibat dalam  tahapan tersebut juga bermacam-macam. Ada siswa yang bertipe reflektor,  ia akan sangat berhati-hati dalam melangkah. Ia akan bersifat  konservatif atau lebih menimbang-nimbang antara baik dan buruknya secara  cermat sebelum mengambil sebuah keputusan. Hal ini tidak terjadi pada  siswa yang bersifat teoris, ia akan sangat kritis dan menjadi analisator  yang baik, serta tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya  subyektif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut siswa yang bertipe teoris,  berpikir rasional merupakan hal yang sangat penting (ia tidak menyukai  hal-hal yang spekulatif)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, siswa yang bertipe pragmatis  lebih mnaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari semua hal.  Menurutnya, teori memang penting, namun untuk apa jika teori tersebut  tidak dipraktekkan. Bagi mereka, semua yang diteorikan harus bisa  dipraktikkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Teori Belajar Paham Kognitif&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepentingan proses belajar merupakan pengaruh utama dari teori belajar paham kognitif  ini. Perlu diketahui bahwa belajar tidak hanya berhubungan antara  respon dan stimulus, namun juga melibatkan proses berpikir yang  kompleks.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori kognitif  menyebutkan bahwa, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang  melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Piaget" target="_blank" title="Penemu teori belajar kognitif, pakar pendidikan, pakar psikologi"&gt;Jean Piaget&lt;/a&gt; menyebutkan bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Proses Asimilasi, yaitu proses penyatuan atau integrasi informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Proses akomodasi, yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Proses Ekuilibrasi. Proses equilibrasi disebut juga proses  penyeimbangan, adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan  akomodasi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk pelajar yang telah memahami  prinsip penjumlahan dan prinsip pembagian, maka proses pengintegrasian  antara prinsip penjumlahan (yang sudah dimengerti) dan prinsip pembagian  (sebagai informasi baru), maka ini disebut sebagai proses asimilasi  belajar. Jika pelajar diberi soal tentang pembagian, maka situasi ini  disebut sebagai akomodasi, yang dalam konteks ini berarti penggunaan  prinsp pembagian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdapat pula &lt;strong&gt;aliran kognitif model Gestalt&lt;/strong&gt;.  ia adalah pakar psikologi. Dalam Bahasa Jerman, “gestalt” berarti  “whole configuration”, dapat diartikan sebagai: pola, kesatuan, atau  bentuk yang utuh. Dalam belajar, siswa atau pelajar harus mampu  menangkap makna dari hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain  (relasi). Penggunaan makna dari “hubungan” inilah yang disebut memahami,  atau insight. Menurut paham Gestalt,  semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman mendadak  terhadap hubungan-hubungan, utamanya hubungan antara bagian dan  keseluruhan. Pengamatan dan pemahaman mendadak utamanya&amp;nbsp; terhadap  hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Ini merupakan konsep  yang terpenting dalam teori Gestalt. Teori ini juga menyebutkan bahwa,  seorang pengajar dalam proses pembelajaran dengan pelajar tidak  memberikan&amp;nbsp; potongan-potongan atau bagian-bagian, namun selalu suatu  kesatuan yang utuh, mendorong siswa untuk menemukan hubungan antar  bagian dalam suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung  permasalahan-permasalahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Teori Gestalt&lt;/strong&gt; juga  menyebutkan bahwa pengamatan manusia awalnya bersifat global terhadap  obyek-obyek yang dilihat, sehingga belajar harus dimulai dari  keseluruhan, setelah itu berproses pada bagian-bagiannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori lainnya yang berkaitan dengan paham belajar aliran kognitif adalah &lt;strong&gt;Teori Kohler&lt;/strong&gt;,  ia juga penganut paham Gestalt, menyatakan bahwa belajar adalah proses  yang didasarkan pada “insight”. Ia membuktikan teorinya dengan  penelitiannya terhadap seekor kera di Pulau Canary.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam penelitiannya, Kohler menempatkan  seekor kera dalam sebuah kandang yang besar dengan setandan pisang yang  digantung di dinding. Kera tidak dapat meraih pisang, namun jika kera  tersebut mengumpulkan dan menumpukkan dua kotak kayu bersama-sama, ia  dapat mendaki dan meraihnya. Kohler mengamati bagaimana kera belajar  untuk menyusun beberapa kotak tersebut untuk mengambil pisang dan  mengamati sedikit bukti dari proses, percobaan, dan kesalahan-kesalahan.  Kemudian dari hasil pengamatannya tersebut, Kohler menemukian bukti  bahwa kera merasakan situasi permasalahan dan percobaan untuk menemukan  solusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori pendukung aliran kognitif lainnya adalah &lt;strong&gt;Teori “Cognitive-Field”&lt;/strong&gt; yang dikembangkan oleh &lt;strong&gt;Kurt Lewin&lt;/strong&gt; dengan meletakkan perhatian kepada kepribadian (personality) dan psikologi sosial. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kurt_Lewin" target="_blank" title="kurt lewnin, penggagas teori Lewin yang mendukung teori belajar faham kognitif"&gt;Lewin&lt;/a&gt;  melihat bahwa masing-masing individu berada dalam suatu medan kekuatan  yang bersifat psikologis. Medan kekuatan tersebut disebut sebagai “life  space” yang mencakup perwujudan lingkungan tempat individu beraksi. Ia  juga menyebutkan bahwa belajar belajar berlangsung sebagai akibat dari  perubahan dalam struktur kognitif, yaitu hasil dari dua macam kekuatan  (satu dari struktur medan itu sendiri dan kekuatan yang lain adalah dari  kebutuhan dan motivasi internal individu). Kemudian Lewin memberikan  peranan yang lebih pada motivasi ketimbang penghargaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori pendukung aliran kognitif lainnya adalah &lt;strong&gt;Teori Discovery Learning&lt;/strong&gt;,  yang ditemukan oleh J. Bruner dengan mendasarkan pada pendapat Piaget  yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di  kelas, maka dari itu Burner menggunakan cara yang disebut seperti di  atas, yaitu &lt;em&gt;Discovery Learning&lt;/em&gt;, murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat-pendapat lainnya yang mendukung &lt;em&gt;Discovery Learning &lt;/em&gt;adalah pendapat dari &lt;strong&gt;J. Dewey&lt;/strong&gt; dengan &lt;em&gt;Complete Art Reflective Activity&lt;/em&gt; atau sering dikenal sebagai &lt;em&gt;Problem Solving.&lt;/em&gt; Ide Bruner ini ditulis dalam bukunya berjudul &lt;strong&gt;Process of Education&lt;/strong&gt;  yang di dalamnya melaporkan hasil dari suatu konferensi di antara para  ahli ilmu pengetahuan, pengajar, dan pendidik tentang pengajaran ilmu  pengetahuan. Pendapatnya adalah, mata pelajaran dapat diajarkan secara  efektif dalam membentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat  perkembangan anak, dengan cara-cara yang bermakna pada level permulaan  pengajaran, kemudian meningkat ke arah yang abstrak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bruner juga menyatakan bahwa, untuk  dapat mengembangkan program pengajaran yang efektif bagi anak muda  adalah dengan mengkoordinasi metode penyajian bahan sesuai dengan  tingkat kemajuan anak dalam mempelajari bahan pelajaran tersebut.  Kemudian, dalam proses penyusunan kurikulum yang mencakup mata pelajaran  harus ditentukan oleh pengerian yang sangat mendasar bahwa hal tersebut  dapat diraih berdasarkan prinsi-prinsip yang memberikan struktur bagi  mata pelajaran itu. Dalam proses belajar-mengajarpun guru harus mampu  memberikan struktur dari mata pelajaran tersebut , kemudian siswa  tersebut harus mampu mempelajari prinsip-prinsip mata pelajaran tersebut  sehingga terbentuklah suatu disiplin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bruner juga menyarankan bahwa seorang  pengajar atau guru haruslah memberikan kepada muridnya untuk menjadi  pemecah masalah dengan membiarkan siswa menemukan arti diri mereka  sendiri dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam  hal yang bisa dimengerti sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bruner menyebutkan bahwa di dalam belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memperoleh informasi baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transformasi informasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Evaluasi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;David Ausubel&lt;/strong&gt;  menyampaikan genre dari teori kognitif lainnya dengan membatasi teorinya  untuk memahami dengan penuh arti materi verbal, jenis dari subyek  permasalahan,yang berada di dalam kelas. Dalam teori Ausubel, yang  membedakan dengan teori Bruner adalah, teori Ausubel ini terkait dengan  pemahaman dasar dan arti, namun sebaliknya, Bruner tidak menyimpulkan  bahwa hal ini harus dilakukan dalam sebuah indikasi penemuan pemahaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ausubel memandang bagian dari kegagalan  pemahaman teori-teori untuk memberikan keberhasilan pemecahan  permasalahan pendidikan dalam kecenderungan fokus hanya pada satu jenis  pemahaman terhadap materi yang diingat. Menurutnya lagi, belajar  menerima dan menemukan masing-masing bisa dalam bentuk hapalan atau  bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Ia menyebutkan  bahwa belajar dengan hafalan akan berbeda dengan belajar bermakna.  Menghafal pada dasarnya mendapatkan informasi yang diperoleh ke dalam  struktur kognitif belajar. Hafalan itu sendiri adalah dengan mengingat  satu-persatu kata, sedangkan “belajar bermakna” merupakan rangkaian  proses belajar yang memberikan hasil yang bermakna.&amp;nbsp; Belajar akan  dikatakan bermakna jika informasi yang dipelajari dirangkai sesuai  dengan struktur kognitif pelajar, sehingga pelajar mampu mengaitkan  pengetahuan baru tersebut dengan struktur kognitifnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ausubel meyakini bahwa pengatur kemajuan belajar mampu memberikan 3 manfaat, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pengatur kemajuan belajar (advance organizers) dapat menyediakan  suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh  siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengatur kemajuan belajar dapat berfungsi sebagai jembatan yang  menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari pelajar saat ini dengan  apa yang akan dipelajari pelajar pada masa mendatang, sehingga:&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akan mampu membantu pelajar tersebut untuk memahami beban belajar secara lebih mudah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Berikut adalah sepuluh (10) &lt;strong&gt;kesamaan teori Bruner dan Ausubel&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Teori Kognitif Bruner dan Ausubel&lt;/strong&gt; menekankan arti  pemahaman. Walaupun Bruner meyakini bahwa arti pemahaman harus ditemukan  secara induktif dan Ausubel meyakini bahwa hal ini dapat diasimilasi  secara deduktif, kedua-duanya saling memberikan tujuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dua teori tersebut menekankan pada hubungan. Bruner menekankan  bagaimana segala sesuatu dipelajari harus dihubungkan dengan hal-hal  lain dan bagaimana seseorang menemukan arti dalam hubungan ini,  sementara Ausubel menjelaskan bagaimana materi baru sipelajari,  dihubungkan, atau ditempatkan untuk pengadaan ide-ide dalam susunan  kognitif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kedua teori tersebut menekankan pemahaman isi pokok dari materi daripada mengingat secara harfiah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori Bruner dan Ausubel sama-sama membahas tentang organisasi atau  susunan dari disiplin dan Ausubel menjelaskan bagaimana materi dapat  diatur dalam susunan kognitif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua teori tersebut menyetujui bahwa pemahaan sekolah harus  diselidiki pada tingkat kerumitan setiap harinya dan tidak mengurangi  pada situasi laboratorium yang telah disederhanakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua teori kognitif tersebut menekankan kepentingan bahasa sebagai  dasar dalam pemikiran manusia dan komunikasi, serta lata utama dalam  pemahaman sekolah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keduanya adalah sama-sama &lt;strong&gt;teori kognitif&lt;/strong&gt;, yaitu mencoba untuk memahami proses dalam pikiran daripada hanya sekedar mempelajari dunia fisik eksternal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua teori tersebut menyetujui kebutuhan pokok untuk perbaikan  perintah, yaitu untuk membuat pemahaman ruang kelas yang berguna bagi  siswa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Aliran behavioristik &lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aliran behavioristik dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai &lt;strong&gt;aliran tingkah laku&lt;/strong&gt;, yaitu perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon, sebagaimana yang disebutkan oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Simulation_hypothesis" title="Aliran paham belajar behavioristik"&gt;Gredler&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Margaret_Bell" title="tokoh penemu aliran belajar behavioristik"&gt;Margaret Bell&lt;/a&gt; pada tahun 1986.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;R.G Bouring juga berpendapat bahwa,  reaksi yang begitu kompleks akan menimbulkan tingkah laku.  Prinsip-prinsip behaviorisme (Riyanto, 2008) adalah:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Obyek psikologi adalah tingkah laku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada refleks.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mementingkan terbentuknya kebiasaan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam teori &lt;em&gt;connectionisme&lt;/em&gt;,  Edward L. Thorndike menyatakan bahwa dasar dari belajar adalah asosiasi  antara kesan pancaindera dan impuls untuk bertindak atau dengan kata  lain adanya hubungan antara stimulus dan respon atau disebut BOND. Hal  ini melahirkan teori &lt;strong&gt;S-R BOND&lt;/strong&gt;. Terdapat dua hukum dalam belajar, yaitu hukum primer dan hukum sekunder.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum Primer terdiri atas:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Law of Effect&lt;/em&gt; adalah perbuatan yang diikuti dengan pengaruh  yang memuaskan cenderung ingin diulangi, namun sebaliknya, jika tidak  mendatangkan kepuasan, maka akan ditinggalkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Law of Exercise and Repetation&lt;/em&gt;, berlatih dengan berulang untuk mendapatkan suatu kekuatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Law of Readliness&lt;/em&gt; adalah kesiapan untuk bertindak itu terjadi karena adanya penyesuaian diri dengan sekitarnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum Sekunder terdiri atas:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Law of Assimilation&lt;/em&gt;, yaitu kemampuan penyesuaian diri seseorang terhadap situasi yang baru dan situasi tersebut mempunyai kesamaan unsur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Law of Partial Activity&lt;/em&gt;, seseorang dapat beraksi secara selektif terhadap kemungkinan yang ada di dalam situasi tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Law of Multiple Response&lt;/em&gt;, yaitu sesuatu yang dilaksanakan  dengan berbagai variasi uji coba atau yang biasa disebut dengan trial  and error untuk mengatasi masalah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thorndike menyebutkan bahwa &lt;strong&gt;belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon&lt;/strong&gt;.  Stimulus dapat berupa sesuatu yang merangsang terjadinya kegiatan  belajar seperti perasaan maupun pikiran, dan hal-hal lain yang dapat  ditangkap melalui panca indera. Respon adalah aksi yang ditimbulkan dari  pelajar ketika dalam proses belajar, yang bisa juga berupa perasan,  pikiran, atau gerakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Watson mengemukakan bahwa stimulus dan  respon harus secara behavioral atau berupa tingkah laku yang dapat  diamati, dia mengesampingkan berbagai perubahan mental yang barangkali  terjadi dalam belajar dan mengenggapnya sebagai faktor yang tidak perlu  diketahui, namun tidak berarti semua perubahan mental yang terjadi pada  pelajar adalah tidak penting. Beberapa faktor tersebut tidak mampi  menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum. Semua  hal-hal yang tidak diukur lebih suka dianut oleh yang memahami aliran  behavioristik ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Clarh Hull mengemukakan bahwa  behavioristik seseorang berfungsi dalam menjaga kelangsungan hidup,  karena dalam teorinya, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan  menempata posisi utama yang dikonsepkan sebagai dorongan. Clarh Hull ini  juga menganut teori evolusi Darwin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Erwin Gutrie menganut&lt;strong&gt; hukum kontiguiti&lt;/strong&gt;  dalam azas belajar, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai  gerakan, yang kemudian akan diikuti gerakan yang sama ketika waktu  timbul kembali, hal itu cenderung akan terjadi. Diperlukan pemberian  stimulus sesering mungkin supaya hubungan antara stimulus dan respon  berjalan lebih langgeng. Sementara itu, suatu respon akan lebih kuat dan  bisa jadi menjadi sebuah kebiasaan bila respon tersebut berhubungan  dengan bermacam-macam stimulus, contohnya: seseorang yang terbiasa  meminum-minuman keras atau jenis narkoba lainnya akan cenderung berbuat  tindak kejahatan dan merasa dunia ini miliknya saja, gagah, dan arogan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang pengajar harus dapat  mengasosiasi stimulus respon secara tepat, pelajar harus dibimbing  melakukan apa yang harus dipelajari, dalam mengatur kelas, pengajar  tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh seorang anak  (Bell, Greder, 1991).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; &lt;a href="http://manajemenpendidikan.com/"&gt;http://manajemenpendidikan.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5468439158635177733?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5468439158635177733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5468439158635177733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5468439158635177733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5468439158635177733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/teori-belajar.html' title='TEORI BELAJAR'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5138586860164471701</id><published>2011-11-11T17:18:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T17:18:42.631+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Strategi Belajar-Mengajar'/><title type='text'>MODEL PEMBELAJARAN ELABORASI</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Definisi dan Pengertian Desain Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dari desain pembelajaran  adalah: suatu prosedur yang terorganisasi, yang terdapat di dalamnya  langkah-langkah dalam menganalisis, mendesain, mengembangkan,  mengimplementasikan, dan menyelenggarakan evaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Twerlker, Urbach, dan Buck menyebutkan  definisi desain pembelajaran sebagai cara yang sistematis untuk  mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan  strategi &lt;a href="http://manajemenpendidikan.com/apa-itu-belajar/" target="_blank" title="Definisi dan Pengertian belajar, belajar adalah"&gt;belajar&lt;/a&gt; dengan maksud mencapai suatu tujuan tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;AT&amp;amp;T juga menyatakan bahwa desain  pembelajaran sebagai suatu resep dalam menyusun peristiwa dan kegiatan  yang diperlukan untuk memberikan petunjuk ke arah pencapaian tujuan  belajar tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reigeluth menyatakan bahwa desain  pembelajaran (atau sering juga disebut desain instruksional) lebih  memperhatikan pada pemahaman, perubahan, dan penerapan metode-metode  pembelajaran. Guru atau pengajar mempunyai tugas untuk memilih dan  menentukan jenis metode yang dapat digunakan untuk mempermudah  penyampaian bahan ajar supaya siswa dapat menerimanya dengan mudah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Desain pembeajaran elaborasi &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Degeng menyebutkan bahwa desain  elaborasi adalah suatu cara untuk mengorganisasikan pembelajaran, mulai  dari memberikan kerangka isi dari bidang studi yang diajarkan. Setelah  diberikan gambaran secara utuh, maka hal berikutnya adalah memilah-milah  pokok bahasan tersebut menjadi bagian-bagian yang rinci. Bagian-bagian  yang telah dipilah ini kemudian dijadikan sub bagian, kemudian  dikerucutkan lagi menjadi sub bab atau bahasan yang lebih kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, Reigeluth menyebutkan  bahwa, teori elaborasi merupakan proses instruksional yang dimulai  dengan mengadakan ikhtisar yang mengajarkan pandangan-pandangan secara  umum, simpel, dan mendasar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;PRINSIP-PRINSIP ELABORASI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disebutkan dalam Merril dan Twitchell  juga Degeng, terdapat delapan prinsip dalam pembelajaran yang  menggunakan teori elaborasi, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Initial Synthesis Principle&lt;/strong&gt;, yaitu penyajian  kerangka isi (epitome) pada awal proses pembelajaran (dengan tujuan  efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran). Fase pertama dalam proses  belajar-mengajar adalah dengan menunjukkan bagian-bagian utama pada  mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Gradual Elaboration Principle&lt;/strong&gt;, yaitu pengaturan  secara bertahap dari urutan yang dibentuk. Elaborasi tahap kedua ini  akan mengelaborasikan bagian-bagian yang termaktub dalam elaborasi tahap  pertama, sehingga urutan pembelajaran bergerak dari umum ke khusus dan  dari sederhana ke kompleks.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Introductory Familiarization Principle&lt;/strong&gt;, yaitu  dengan menyesuaikan pengaturan dengan hal-hal yang telah diketahui oleh  siswa. Pada tahap ini, pengajar akan mencoba untuk menemukan bahan-bahan  ajar atau contoh kasus yang telah diketahui oleh siswa. Ini dilakukan  untuk mempermudah siswa dalam memahami konsep yang akan diberikan pada  pertemuan-pertemuan berikutnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Most Important First Principle&lt;/strong&gt;, yaitu berkenaan  dengan pengaturan terhadap hal-hal yang dianggap penting, yang  ditempatkan pada awal-awal pertemuan, dengan pertimbangan bahwa bahan  ajar tersebut dapat memberikan kontribusi pada peserta didik dalam  memahami secara keseluruhan. Hal ini dilakukan dengan tujuan  meningkatkan motivasi, transfer, dan retensi yang berkelanjutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Optimal Size Principle&lt;/strong&gt;, memuat berbagai fakta,  konsep, dan prosedur yang didesain supaya dapat dikenal atau diketahui  dengan mudah oleh siswa dan berhubungan dengan memori jangka pendek  siswa. Dalam proses pembelajaran, fakta-fakta tersebut dapat ditampilkan  dengan memberikan contoh tentang perilaku yang terjadi di dalam kelas  atau dengan cara menyajikan kliping atau sejenisnya yang diharapkan  dapat mengungkapkan apa saja yang telah dipahaminya mealui proses  diskusi di dalam kelas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Periodic Synthesis Principle&lt;/strong&gt;, yaitu bahan ajar  disintesis dan ditunjukkan pada setiap akhir pembelajaran dengan  menunjukkan relasi yang lebih dalam dari suatu kerangka isi. Pengajar  akan memberikan penjelasan tentang hubungan antara bahan ajar dengan  bahan ajar berikutnya, dengan tujuan agar siswa dapat mempunyai gambaran  awal terhadap bahan ajar yang disajikan tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Periodic Summary Principle&lt;/strong&gt;, dengan menunjukkan rangkuman di akhir setiap bahan ajar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Type of Synthesis Principle&lt;/strong&gt;, yaitu sintesis bahan  ajar yang disesuaikan dengan kondisi yang ada, seperti struktur  konseptual, struktur teoritis untuk isi teoritis dan struktur prosedural  untuk isi prosedural.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih pada sumber yang sama, terdapat tujuh komponen strategi dalam teori elaborasi, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1. A SPECIAL TYPE OF SIMPLE TO COMPLEX SEQUENCE&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal tersebut dapat dikatakan sebagai  urutan elaboratif yaitu urusan dari sederhana ke kompleks atau dari umum  ke khusus. Pada tahap ini, didorong agar siswa mampu memahami hal-hal  yang bersifat umum terlebih dahulu ayng akan saling mengaitkan dengan  bagian-bagian berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. LEARNING PREREQUISITE SEQUENCES&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dapat dimaknai sebagai urutan prasyarat  belajar atau hierarki belajar. Dari pengertian tersebut, maka penyajian  isi bidang studi tidak akan dilakukan sebelum isi bidang studi yang  menjadi prasyarat disajikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. SUMMARIZES&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yaitu rangkuman yang berfungsi untuk  memberikan pernyataan singkat mengenai isi bidang studi yang telah  dipelajari dan contoh-contoh pedoman yang mudah diingat untuk setiap  prosedur, konsep, atau prinsip yang diajarkan. Tujuan ringkasan menurut  degeng selain sebagai upaya untuk menyatakan kembali apa yang telah  dipelajari oleh siswa, tujuan ringkasan ini adalah agar si belajar  mengalami retensi yang kuat terhadap apa-apa yang telah disampaikan  selama proses pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. SYNTHESIZERS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merupakan komponen strategi teori  elaborasi yang berfungsi untuk menunjukkan hubungan-hubungan di antara  konsep-konsep, prosedur-prosedur, dan prinsip-prinsip yang diajarkan.  Tujuan dari pengaitan hubungan-hubungan tersebut adalah membantu siswa  agar lebih mudah dalam konsep, prosedur, dan prinsip tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. ANALOGIES&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Analogies digunakan untuk mempermudah  pemahaman pelajar terhadap bahan ajar yang telah diberikan dengan cara  membandingkan dengan pengetahuan yang telah dikenal oleh pelajar  tersebut. Makin dekat persamaan antara pengetahuan baru dengan  pengetahuan yang dijadikan analogi, maka semakin efektif penggunaan  analogi tersebut. Analogi akan lebih baik jika diberikan sebelum  pengetahuan baru diberikan kepada siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. COGNITIVE STRATEGY ACTIVATOR&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Rigney, terdapat dua cara untuk mengaktifkan strategi kognitif yaitu dengan &lt;strong&gt;embedded strategy &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;detached strategy&lt;/strong&gt;.  Embedded strategy dilakukan dengan merancang pengajaran sedemikian rupa  sehingga pelajar pun “dipakasa” untuk menggunakannya, bisa dilakukan  dengan menggunakan gambar, analogi parafrase, dan mnemonic, bisa juga  dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan penuntut atau disebut juga  dengan &lt;strong&gt;detached strategy&lt;/strong&gt;, yaitu usaha untuk meminta pelajar untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. A LEARNER CONTROL FORMAT&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Merril, kontrol belajar merujuk  pada kebebasan pelajar dalam melakukan pilihan dan pengurutan terhadap  isi yang dipelajari, kecepatan belajar, komponen strategi pembelajaran,  dan strategi kognitif yang digunakan. Dalam kasus ini, siswa dapat  menentukan sendiri epitominya, menentukan waktu belajarnya, dan  bagaimana dia belajar dan merangkum bahan belajarnya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Teori elaborasi dalam desian materi pembelajaran. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di bawah ini disebutkan langkah-langkah  desain materi pembelajaran dalam teori elaborasi yang dirangkum dari  tulisan Degeng, Merril and Twitchell:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Penyajian kerangka isi&lt;/strong&gt;.  Proses awal belajar-mengajar disajikan dengan kerangka isi, yaitu  struktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari bidang  studi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Elaborasi tahap pertama&lt;/strong&gt;.  Dalam teori elaborasi, elaborasi tahap pertama dimulai dengan  mengurutkan tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi, dari  bagian-bagian terpenting. Di akhir tiap elaborasi diakhiri dengan  rangkuman dan pensintesis yang hanya mencakup konstruk-konstruk yang  baru saja diajarkan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pemberian rangkuman dan sintesis internal&lt;/strong&gt;.  Tahap ini adalah tahap pemberian rangkuman, berisi  pengertian-pengertian singkat mengenai konstruk yang diajarkan dalam  elaborasi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Elaborasi tahap kedua&lt;/strong&gt;.  Pada elaborasi tahap kedua, siswa dibawa pada tingkat kedalaman seperti  yang dituntut dalam tujuan pembelajaran. Elaborasi tahapkedua ini  dilakukan seperti pada elaborasi tahap pertama (diakhiri dengan  rangkuman dan pensintesis internal) yang disebut juga sebagai &lt;em&gt;expended epitome&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pemberian rangkuman dan sintesis eksternal&lt;/strong&gt;. Sintesis eksternal dilakukan seperti tahap pertama.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Dilakukan tahap-tahap seperti tahap  pertama dan kedua, hingga pada kedalaman tertentu seperti yang telah  ditetapkan pada tujuan pembelajaran.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Kerangka isi disajikan kembali untuk mensintesiskan keseluruhan isi mata pelajaran atau &lt;em&gt;terminal epitome&lt;/em&gt; yang telah diajarkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Langkah pengembangan desian pembelajaran dalam teori elaborasi&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mempelajari tentang teori dasar elaborasi belajar dan langkah-langkah desain pembelajaran dalam teori elaborasi, tiba saatnya untuk mendesain proses belajar-mengajar dalam teori elaborasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam teori elaborasi, terdapat  langkah-langkah pengembangan teori pembelajaran. Disebutkan dalam  Riyanto (2005:20) dalam Degeng (1997:13) bahwa langkah-langkah  pengembangan yang didasarkan pada teori elaborasi adalah sebagai  berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi&lt;/strong&gt;. Pada tahap ini, seorang perancang pembelajaran akan menetapkan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pada hakekatnya, &lt;strong&gt;tujuan pembelajaran&lt;/strong&gt;  adalah menginformasikan apa yang harus dicapai oleh siswa pada akhir  pembelajaran (Hartley dan Davis dalam Degeng, 1997:75). Penyampaian  tujuan belajar pada awal pertemuan menjadi sangat penting karena tujuan  belajar ini akan menjadi perhatian utama siswa, dan dengan diberikannya  tujuan belajar ini, siswa diharapkan akan dapat mengaitkan prestasi atau  perilaku yang diharapkan. Penelitian Degeng menyatakan bahwa, siswa  yang diberitahu tujuan belejarnya sebelum belajar dimulai,  memperlihatkan hasil belajar yang lebih tinggi dari siswa yang tidak  diberitahu tujuan belajarnya.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Analisis sumber belajar&lt;/strong&gt;.  Pada tahap ini, seorang perancang akan mencoba untuk menentukan  sumber-sumber belajar yang dapat dipergunakan serta menentukan  kendala-kendala yang mungkin akan muncul. Dalam hal ini, perancang  mengadakan estimasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sumber  belajar. Dari proses ini maka seorang perancang akan dapat membuat suatu  daftar yang memuat sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa  dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Analisis karakteristik si belajar&lt;/strong&gt;  (siswa, pen). Pada tahap ini, seorang perancang pembelajaran akan  mencoba untuk mempelajari dan memahami siswa yang akan diberikan bahan  ajar. Pada tahap ini perlu bagi perancang untuk mengadakan pengamatan  terhadap karakteristik siswa. Dengan memahami karakteristik  masing-masing siswa, maka perancang akan dapat membantu dalam menentukan  strategi belajar apa yang dapat diberikan untuk masing-masing sisw.  Dengan demikian, seorang perancang akan memperhatikan adanya perbedaan  masing-masing siswa (individual differences). Pada tahap ini, perancang  akan dapat membuat daftar karakteristik si belajar.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran&lt;/strong&gt;.  Tahap ini sebenarnya dapat segera diselesaikan pada saat perancang  menetapkan tujuan belajar dan menentukan karakteristik bidang studi  (mata pelajaran, pen). Pada tahan ini, perancang akan membuat tujuan  belajar seperti yang kita kenal selama ini yaitu tujuan pembelajaran  khusus (TPK) atau sering juga disebut dengan tujuan instruksional khusus  (TIK). Dengan demikian, pada tahap ini, perancang mulai menentukan  spesifikasi atau hasil apa yang akan diperoleh oleh siswa pada akhir  tiap-tiap bab pada proses pembelajaran.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran&lt;/strong&gt;.  Pada tahap ini, perancang pembelajaran akan menentukan bagaimana isi  pembelajaran ini akan diorganisasikan. Pengorganisasian ini sangat  dipengaruhi oleh karakteristik bahan ajar serta tujuan pembelajaran  tersebut. Dengan demikian, untuk karakteristik bidang studi yang satu  akan berbeda dengan karakteristik bidang studi yang lain dalam upaya  menentukan pengorganisasian isi pembelajaran.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran&lt;/strong&gt;.  Penetapan strategi penyampaian sisa pembelajaran akan sangat bergantung  pada usaha perancang dalam menentukan sumber belajar yang akan  dipergunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sebab, penyampaian  strategi pembelajaran tertentu akan mempergunakan sumber belajar yang  ada, sehingga dapat dihindari penggunaan strategi penyampaian isi  belajar yang tidak mempunyai sumber belajar.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran&lt;/strong&gt;.  Tahap pengelolaan pembelajaran ini sangat bergantung pada upaya  perancang pembelajaran dalam menetukan karakteristik siswa. Sebab dalam  tahap ini, diperlukan masukan tentang karakteristik siswa dalam upaya  untuk menentukan penjadwalan penggunaan komponen strategi  pengorganisasian dan penyampaian pembelajaran, pengelolaan motivasional,  pembuatan catatan kemajuan belajar siswa dan kontrol belajar (Degeng,  1997:16).&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran&lt;/strong&gt;.  Pada tahap akhir ini, perancang pembelajaran akan melakukan pengukuran  terhadap hasil pembelajaran yang mencakup tingkat keefektifan, efisiensi  dan daya tarik pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan dengan mengadakan  penghematan terhadap proses pembelajaran dan tes hasil belajar (Degeng,  1997:16).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Keuntungan teori elaborasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa keuntungan aplikasi teori elaborasi menurut Merril dan Twitchell (1994:80) dalam Riyanto (2005:22) antara lain:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Siswa akan mempunyai retensi yang lama  terhadap bahan ajar. Retensi atau ketahanan terhadap bahan ajar ini  dapat berlangsung lama disebabkan karena materi atau bahan ajar yang  diberikan kepada siswa diusahakan bermakna dan siswa mengalami sendiri  apa-apa yang disajikan. Selain itu, bahan yang disajikan saling terkait  antara satu dengan yang lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Siswa akan memperoleh pengetahuan  secara utuh. Cara penyajian bahan ajar dilakukan secara berurutan yang  pada akhirnya akan membuat siswa memahami materi yang diberikan&amp;nbsp; secara  utuh. Hal ini memungkinkan karena dalam proses pembelajaran tidak  terjadi pengulangan-pengulangan bahan ajar yang dirasa tidak perlu.  bahan ajar disajikan dalam urutan yang jelas dan diberikan sedetail  mungkin. Jika perlu, siswa dapat menggalinya sendiri di luar  sumber-sumber belajar yang telah disediakan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Siswa akan lebih menikmati belajar.  Penyajian bahan ajar di kelas pada prinsipnya tetap memperhatikan  kebutuhan siswa dalam belajar. Didasarkan pada prinsip &lt;em&gt;individual differences&lt;/em&gt;,  maka penyajian bahan ajar ini tetap mengacu pada tingkat kemampuan  masing-masing siswa yang berbeda. hal ini dilakukan dengan melakukan  pengamatan terhadap kemampuan siswa pada awal pertemuan. Dengan data  pengamatan ini, selanjutnya dapat didesain metode pembelajaran yang  sesuai dengan ciri masing-masing siswa. Harapannya, siswa dapat lebih  menikmati belajar.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Siswa akan mempunyai motivasi yang  tinggi untuk mempelajari bahan ajar. Penyampaian bahan ajar yang  disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa pada  akhirnya diharapkan dapat memacu motivasi siswa untuk lebih mendalami  bahan ajar yang disajikan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Sumber :&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;a href="http://manajemenpendidikan.com/"&gt;http://manajemenpendidikan.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5138586860164471701?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5138586860164471701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5138586860164471701' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5138586860164471701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5138586860164471701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-elaborasi.html' title='MODEL PEMBELAJARAN ELABORASI'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-970533758306203667</id><published>2011-11-11T16:56:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:56:34.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hakikat Pendidikan'/><title type='text'>Dasar dan Tujuan Pendidikan</title><content type='html'>&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelum  penulis membicarakan lebih lanjut tentang dasar dan tujuan pendidikan,  maka penulis perlu terlebih dahulu membahas dasar pendidikan.   &lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 56.1pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-list: l3 level4 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Dasar Pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Yang  dimaksud dengan dasar di sini adalah sesuatu yang menjadi kekuatan bagi  tetap tegaknya suatu bangunan atau lainnya, seperti pada rumah atau  gedung, maka pondasilah yang menjadi dasarnya. Begitu pula halnya dengan  pendidikan, dasar yang dimaksud adalah dasar pelaksanaannya, yang  mempunyai peranan penting untuk dijadikan pegangan dalam melaksanakan  pendidikan di sekolah-sekolah atau di lembaga-lembaga pendidikan  lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Adapun dasar pendidikan di negara Indonesia secara yuridis formal telah dirumuskan antara lain sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-list: l2 level4 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Undang-Undang  tentang Pendidikan dan Pengajaran No. 4 tahun 1950, Jo Nomor 2 tahun  1945, Bab III Pasal 4 Yang Berbunyi: Pendidikan dan pengajaran  berdasarkan atas asas-asas yang termaktub dalam Pancasila, Undang-Undang  Dasar RI dan kebudayaan bangsa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-list: l2 level4 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Ketetapan MPRS No. XXVII/ MPRS/ 1966 Bab II Pasal 2 yang berbunyi: Dasar pendidikan adalah falsafah negara Pancasila.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-list: l2 level4 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Dalam  GBHN tahun 1973, GBHN 1978, GBHN 1983 dan GBHN 1988 Bab IV bagian  pendidikan berbunyi: Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila…..……&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-list: l2 level4 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Tap  MPR Nomor II/MPR/1993 tentang GBHN dalam Bab IV bagian Pendidikan yang  berbunyi: Pendidikan Nasional (yang berakar pada kebudayaan bangsa  Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 ….….&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-list: l2 level4 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Undang-undang RI No 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-list: l2 level4 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt;Dengan  demikian jelaslah bahwa dasar pendidikan di Indonesia adalah Pancasila  dan Undang-Undang Dasar 1945 sesuai dengan UUSPN No. 2 tahun 1989 dan UU  Sisdiknas No. 20 tahun 2003. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-indent: 36.0pt;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 56.1pt; mso-list: l3 level4 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Tujuan Pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Tujuan  pendidikan adalah suatu factor yang amat sangat penting di dalam  pendidikan, karena tujuan merupakan arah yang hendak dicapai atau yang  hendak di tuju oleh pendidikan. Begitu juga dengan penyelenggaraan  pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah tujuan yang hendak  dicapainya. Hal ini dibuktikan dengan penyelenggaraan pendidikan yang di  alami bangsa Indonesia. Tujuan pendidikan yang berlaku pada waktu Orde  Lama berbeda dengan Orde Baru. Demikian pula sejak Orde Baru hingga  sekarang, rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami perubahan dari  pelita ke pelita sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan  kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Rumusan tujuan pendidikan yang dikemukakan di dalam Ketetapan MPRS dan MPR serta UUSPN No. 2 Tahun 1989 adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-list: l0 level2 lfo3; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Tap MPRS No. XXVII/ MPRS/ 1996 Bab II Pasal 3 dicantumkan: &lt;i&gt;“  Tujuan pendidikan membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan  ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki Pembukaan dan Isi  Undang-Undang Dasar 1945”&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-list: l0 level2 lfo3; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Tap MPR No. IV/ MPR / 1978 menyebutkan &lt;i&gt;“  Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan bertujuan meningkatkan  ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan,  mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal  semangat kebangsaan, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan  yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung  jawab atas pembangunan bangsa”&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-list: l0 level2 lfo3; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Di dalam Tap MPR No. II / MPR/ 1988 dikatakan: &lt;i&gt;“Pendidikan  Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu  manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi  pekerti luhur, berkeperibadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh,  bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan  rohani”&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-list: l0 level2 lfo3; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;Di dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 4 dikemukakan: &lt;i&gt;Pendidikan  Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan  manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa  terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki  penetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian  yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan  kebangsaan&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Hierarki Tujuan Pendidikan di Negara Indonesia adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Tujuan Pendidikan Nasional&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Tujuan  pendidikan ini merupakan tingkatan yang tertinggi. Pada tujuan ini  digambarkan harapan masyarakat atau negara tentang ciri-ciri seorang  manusia yang dihasilkan proses pendidikan atau manusia yang terdidik.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Adapun  yang dimaksud dengan tujuan pendidikan nasional adalah tujuan umum yang  hendak dicapai oleh seluruh bangsa Indonesia dan merupakan rumusan  kualifikasi terbentuknya setiap warga negara yang dicita-citakan  bersama. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tujuan  pendidikan nasional secara formal di Indonesia telah beberapa kali  mengalami perumusan atau perubahan, dan rumusan tujuan pendidikan  nasional yang terakhir seperti disebutkan dalam Undang-Undang RI No 20  Tahun 2003 tentang SISDIKNAS Bab II Pasal 3 yang berbunyi: &lt;i&gt;Tujuan  pendidikan nasional ialah berkembangnya potensi peserta didik agar  menjadi manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha  Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan  menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Perumusan  tujuan pendidikan nasional tersebut dapat memberikan arah yang jelas  bagi setiap usaha pendidikan di Indonesia. Untuk dapat mencapai tujuan  pendidikan nasional tersebut, dibutuhkan adanya lembaga-lembaga  pendidikan yang masing-masing mempunyai tujuan tersendiri, yang selaras  dengan tujuan nasional. Oleh karena itu, setiap usaha pendidikan di  Indonesia tidak boleh bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional,  bahkan harus menopang atau menunjang tercapainya tujuan tersebut. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Tujuan Institusional&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tujuan  institusional adalah perumusan secara umum pola perilaku dan pola  kemampuannya yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan yang  berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan tugas yang harus dipikul oleh  setiap lembaga dalam rangka menghasilkan lulusan dengan kemampuan dan  keterampilan tertentu.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Sebagai  subsistem pendidikan nasional, tujuan institusional untuk setiap  lembaga pendidikan tidak dapat terlepas dari tujuan pendidikan nasional.  Hal ini disebabkan setiap lembaga pendidikan ingin menghasilkan lulusan  yang akan menunjang tinggi martabat bangsa dan negaranya, yang bertekad  untuk mempertahankan falsafah Pancasila sebagai dasar Negara, di  samping kemampuan dan keterampilan tertentu sesuai dengan kekhususan  setiap lembaga.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Dengan  demikian, perumusan tujuan institusional dipengaruhi oleh tiga hal: (a)  Tujuan Pendidikan Nasional (b) Kekhususan setiap lembaga; dan (c)&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Tingkat usia peserta didik&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tujuan institusional itu dicapai melalui pemberian berbagai pengalaman belajar kepada peserta didiknya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;3. Tujuan Kurikuler&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Tujuan  Kurikuler adalah tujuan yang dirumuskan secara formal pada kegiatan  kurikuler yang ada pada lembaga-lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler  sifatnya lebih khusus jika dibandingkan dengan tujuan institusional,  tetapi tidak boleh menyimpang dari tujuan institusional. Seperti  misalnya, tujuan kurikulum di sekolah-sekolah ada mata pelajaran  kewarganegaraan yang berbeda dibandingkan dengan SMP. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Tujuan  mata pelajaran untuk Kewarganegaraan di sekolah-sekolah tersebut  disebut tujuan kurikuler sesuai dengan kurikulum pada masing-masing  sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tujuan kurikuler merupakan penjabaran dari tujuan institusional, yang berarti lebih khusus dari pada tujuan Institusional.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;4. Tujuan Instruksional&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tujuan  Instruksional merupakan tujuan yang hendak dicapai setelah selesai  proses belajar mengajar/program pengajaran. Tujuan tersebut merupakan  penjabaran dari tujuan kurikuler, yang merupakan perubahan sikap atau  tingkah laku secara jelas. Tujuan Instruksional dapat dibagi menjadi  dua, yaitu Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional  Khusus (TIK).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Dalam  merumuskan tujuan tujuan instruksional ini, terlebih-lebih tujuan  instruksional khusus harus berorientasi kepada peserta didik, atau  kepada &lt;i&gt;output-oriented&lt;/i&gt;. Tujuan Instruksional akan mempengaruhi  pemilihan materi, metode, strategi, dan lainnya demi mencapai tujuan  instruksional yang telah dirumuskan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: normal;"&gt;Sesuai  dengan visi dan misi pendidikan Nasional, maka tujuan pendidikan harus  mencerminkan kemampuan system pendidikan Nasional untuk mengakomodasikan  berbagai tuntutan peran yang multi dimensional. Secara umum, pendidikan  harus mampu menghasilkan manusia sebagai individu dan anggota  masyarakat yang sehat dan cerdas dengan: (1). Kepribadian kuat, religius  dan menjunjung tinggi budaya luhur (2). Kesadaran demokrasi dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (3). Kesadaran moral  hokum yang tinggi dan (4). Kehidupan yang makmur dan sejahtera.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;UNESCO  pada tahun 1996 mencanangkan pilar-pilar penting dalam pendidikan,  yakni bahwa pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan belajar untuk  mengetahui (&lt;i&gt;learning to know&lt;/i&gt;), belajar untuk melakukan sesuatu (&lt;i&gt;learning to do&lt;/i&gt;), belajar menjadi seseorang (&lt;i&gt;learning to be&lt;/i&gt;), dan belajar menjalani kehidupan bersama (&lt;i&gt;learning to live together&lt;/i&gt;).  Dalam konteks Indonesia, penerapan konsep pilar-pilar pendidikan ini  adalah bahwa system pendidikan Nasional berkewajiban untuk mempersiapkan  seluruh warganya agar mampu berperan aktif dalam semua sector kehidupan  guna mewujudkan khidupan yang cerdas, aktif, kreatif, dan mengutamakan  persatuan dan kesatuan.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ketetapan MPRS XXVII, 1966, IKIP Malang, 1968 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Citra Umbara, Bandung, 2003: 7&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ngalim Purwanto, &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis&lt;/i&gt;, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003: 36&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Peraturan Pemerintah Tahun Publik Indonesia. No. 27-28-29-30 tahun 1990 Tentang &lt;i&gt;Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya&lt;/i&gt;: 163-164&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 &lt;i&gt;Op. cit&lt;/i&gt;: 7&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Zuhairini, Abdul Ghofir, &lt;i&gt;Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam&lt;/i&gt;, Universitas Negeri Malang (UM PRESS), Malang, 2004: 22 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Zahara Idris. Lisma Jamal, &lt;i&gt;Pengantar Pendidikan&lt;/i&gt;, PT Grasindo, Jakarta, 1992: 31&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid: 31&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1876075888381476830#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Fasli Jalil, Dedi Supriadi, &lt;i&gt;Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah&lt;/i&gt;, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 2000: 67&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;: &lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/10/makalah-pendidikan-dasar-dan-tujuan.html"&gt;http://kabar-pendidikan.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-970533758306203667?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/970533758306203667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=970533758306203667' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/970533758306203667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/970533758306203667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/dasar-dan-tujuan-pendidikan.html' title='Dasar dan Tujuan Pendidikan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5237690986375613089</id><published>2011-11-11T16:52:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:52:47.338+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Evaluasi Pendidikan'/><title type='text'>Pengertian dan Teknik Evaluasi Belajar</title><content type='html'>1. Pengertian Evaluasi Belajar&lt;br /&gt;Menurut Sudjana (1990:31) evaluasi adalah “proses pemberian atau  menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria  tertentu”. Sedangkan menurut Rusli (1990:22) bahwa yang dimaksud  evaluasi adalah “suatu proses sistematik untuk menentukan sampai berapa  jauh tujuan intruksional dapat dicapai oleh siswa”.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas maka evaluasi mengandung dua aspek yang penting yaitu:&lt;br /&gt;a. Dalam evaluasi terdapat suatu proses sistematik untuk mengukur apakah  siswa dapat mendiagnosa, menyeleksi dan menyelesaikan suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;b. Evaluasi digunakan untuk mengukur, menilai pencapaian tujuan dan keberhasilan dari kerja atau usaha guru.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian di atas maka pengertian evaluasi dan penilaian  adalah istilah-istilah yang lebih luas artinya dari pada pengukuran.  Evaluasi mencakup deskripsi kelakuan (behavior) siswa secara kualitatif  maupun kuantitatif dan terhadap penilaian kelakuan tersebut. Sedangkan  ukuran hanya terbatas pada aspek penilaian yang bersifat tetap dan  kuantitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Teknik Evaluasi Belajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teknik evaluasi adalah cara yang dilakukan dalam mengevaluasi hasil  belajar. Sedangkan yang dimaksud evaluasi hasil belajar ekonomi adalah  cara yang digunakan oleh guru dalam mengevaluasi proses hasil belajar  mengajar studi ekonomi.&lt;br /&gt;Menurut Bukhori dalam (Arikunto, 2002:32) “tes adalah suatu percobaan  yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hasil pelajaran tertentu  pada seorang murid atau kelompok murid”.&lt;br /&gt;Menurut Arikunto (2002:31) terdapat dua lat evaluasi yakni teknik tes  dan non tes. Teknik tes menurut Indrakusuma dalam (Arikunto, 2002:32)  adalah “suatu alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk  memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang di inginkan  seseorang dengan cara yang boleh dikatakan cepat dan tepat”.&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas  tiga macam tes, yakni tes formatif, dan tes sumatif (Arikunto, 2002:33).  Tes yang baik harus memiliki veliditas, reabilitas, objektivitas,  praktibilitas, dan ekonomis.&lt;br /&gt;Sedangkan teknik evaluasi selanjutnya adalah teknik non tes, menurut  Arikunto (2002:26) “teknik non tes meliputi skala bertingkat, kuisioner,  daftar cocok, wawancara, pengamatan, dan riwayat hidup”.&lt;br /&gt;Dari pengertian di atas yang dimaksud tes adalah cara penilaian yang  komprehensif seseorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program  atau tes merupakan suatu alat pengumpul informasi tetapi jika  dibandingkan dengan alat-alat lain tes ini bersifat lebih resmi karena  penuh dengan batasan-batasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;Daftar Rujukan:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Arikunto, Suharsini. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada&lt;br /&gt;Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta&lt;br /&gt;Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud&lt;br /&gt;Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning  di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indo&lt;br /&gt;Noornia, A. 1997. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada  Pengajaran Persen di Kelas IV SD Islam Ma’arif 02 Singosari. Tesis Tidak  Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana&lt;br /&gt;Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5237690986375613089?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5237690986375613089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5237690986375613089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5237690986375613089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5237690986375613089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/pengertian-dan-teknik-evaluasi-belajar.html' title='Pengertian dan Teknik Evaluasi Belajar'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-6311240999729855129</id><published>2011-11-11T16:48:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:48:31.832+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Evaluasi Pendidikan'/><title type='text'>Pengertian,  Prinsip Evaluasi dan model Evaluasi pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="float: left; margin: -30px -20px -10px -10px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Tayibnapis (2000) mengemukakan bahwa definisi tentang evaluasi yang  ditulis oleh para ahli bervariasi berdasarkan sudut pandang  masing-masing. Antara lain Tyler mendefinisikan evaluasi sebagai proses  menentukan sejauhmana tujuan pendidikan dicapai.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;Cronbach, stufflebeam  dan Alkin memberi definisi evaluasi sebagai penyediaan informasi untuk  pembuatan keputusan. Maclom dan Provus mendefinisikan evaluasi sebagai  perbedaan apa yang ada dengan sesuatu standar untuk mengetahui apakah  ada selisih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stufflebeam (1985) merumuskan “evaluation is the  systematic assesment of the worth or merit of some object”. Definisi  evaluasi ini lebih menekankan pada pemahaman evaluasi sebagai penilaian  atas manfaat atau guna. Worthen dan Sanders (1973) mengemukakan bahwa:  “Evaluation is the determination of the worth of a thing. It includes  obtaining information for use in judging the wort of a program, product,  procedure, or objective, or the potential utility of alternative  approaches designed to attain specified objectives”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyler  (Fernandes, 1984:1) mengemukakan bahwa, evaluasi adalah suatu proses  untuk menentukan seberapa jauh tujuan pendidikan dapat dicapai.  Sementara itu, Kaufman &amp;amp; Thomas (1980) “evaluation is a process of  helping to make things better than they are, of improving the  situation”, evaluasi adalah suatu proses untuk membantu dan memperbaiki  sesuatu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anas  Sudijono (2005) secara umum evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses  setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu: (1) mengukur  kemajuan, (2) menunjang penyusunan, dan (3) memperbaiki atau melakukan  penyempurnaan kembali. Terkait dengan evaluasi, Suharsimi Arikunto &amp;amp;  Cepi Safruddin (2004:1-2) menyatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan  untuk mempengaruhi informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang  selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif  yang tepat dalam mengambil suatu keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Djuju Sudjana  (2006) mengemukakan bahwa evaluasi program dapat didefinisikan sebagai  kegiatan sistematis untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan  menyajikan data sebagai masukan untuk pengambilan keputusan. Evaluasi  dalam pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting. Penyelenggaraan  pendidikan bukanlah yang sangat sederhana. Dampak pendidikan akan  meliputi banyak orang dan menyangkut banyak aspek. Oleh karena itu,  kegiatan pendidikan harus dievaluasi agar dapat dikaji apa  kekurangannya, dan kekurangan tersebut dapat dipertimbangkan untuk  melaksanakan pendidikan pada waktu yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa  evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan  penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada  setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk  pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa  pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi  dalam konteks pendidikan adalah serangkaian upaya atau langkah-langkah  strategis untuk pengambilan keputusan dinamis dan dipusatkan pada  pembakuan-pembakuan dalam penyelenggaraan pendidikan. Evaluasi merupakan  pembuatan pertimbangan menurut suatu kriteria yang disepakati dan dapat  dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan dan kriteria evaluasi pendidikan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi pendidikan adalah suatu proses pembuatan pertimbangan tentang  jasa, nilai, atau manfaat program, hasil dan proses. Evaluasi biasanya  dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan, misalnya tentang akan  digunakan atau tidaknya sesuatu sistem, strategi atau metode.  Penelitian evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data secara  sistematis guna membantu para pengambil keputusan. Para peneliti  evaluasi yakin bahwa hasil kerjanya akan bermanfaat bagi para pengambil  keputusan dalam mengambil keputusan yang lebih baik jika dibandingkan  dengan apabila tidak ada penelitian yang dilakukan. &lt;br /&gt;Nana Syaodih  Sukamadinata (2005) mengemukakan bahwa tujuan evaluasi adalah untuk  menyempurnakan program, kelayakan program, program dilanjutkan atau  dihentikan, diubah atau diganti. Sedangkan Suharsimi Arikunto &amp;amp; Cepi  Safruddin (2004) menyatakan bahwa ada dua macam tujuan evaluasi yaitu  tujuan khusus dan tujuan umum. Tujuan umum diarahkan pada program secara  keseluruhan, sedangkan tujuan khusus diarahkan pada masing-masing  komponen.&lt;br /&gt;Agar dapat melakukan tugasnya maka seorang evaluator  dituntut untuk mampu mengenali komponen-komponen program. Program kerja  yang dianggap sebagai perwujudan kinerja dan pengembangan sumber daya  pengurus dalam menjalankan perannya. Dengan mengelolanya secara wajar  dan berhasil guna akan dapat membantu meningkatkan partisipasi  masyarakat di daerah. Karena itu, ketika program tersebut tidak  memperlihatkan hasil yang maksimal diperlukan evaluasi terhadapnya.  Pendapat-pendapat tersebut dapat saja digolongkan ke dalam dua tujuan  pokok, yakni sebagai penyempurnaan program yang biasanya disebut  formatif dan untuk memutuskan apakah program diteruskan atau dihentikan,  yang sering disebut sumatif. &lt;br /&gt;Kegiatan evaluasi program tidak hanya  ingin melanjutkan program, tetapi juga menghentikan program, di samping  meningkatkan prosedur-prosedur pelaksanaannya, mengalokasikan  sumber-sumber kelemahan, tetapi juga menentukan strategi serta  teknik-teknik tertentu untuk memperbaiki program di masa yang akan  datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Evaluasi &lt;br /&gt;Kriteria yang digunakan dalam  penelitian ini adalah kriteria empirik. Kriteria empirik adalah kriteria  yang disusun atau yang dikembangkan berdasarkan kondisi lapangan dengan  mengacu pada komponen-komponen yang terlibat program sekolah. &lt;br /&gt;Kriteria  evaluasi selalu berhubungan dengan kriteria yang telah ditentukan  sebelumnya. Dasar pertimbangannya adalah memudahkan evaluator dalam  mempertimbangkan nilai atau harga terhadap komponen-komponen program  yang dinilainya, apakah telah berhasil sesuai dengan yang ditentukan  atau tidak, seperti yang dinyatakan oleh Sudarsono (1994) bahwa kriteria  yang dimaksud adalah kriteria keberhasilan program dan hal yang dinilai  dapat berupa dampak atau hasil yang dicapai atau prosesnya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model evaluasi pendidikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak model evaluasi yang dikemukakan oleh para ahli. Tayibnapis (2000)  mengelompokkan model-model evaluasi program menjadi tiga kelompok yaitu  model evaluasi kuantitaif, model evaluasi kualitatif, dan model  gabungan. Model evaluasi kuantitatif terdiri dari model Tyler, model  Horfil Tyler dan Maquire, model pendekatan sistem Alkin, model evaluasi  Scriven’s Formative-Sumative Model; CIPP Model (Sufflebeam); CSE-UCLA  Model; Stake’s Countenance Stake Model; Sciven’s Goal Free Model;  Stake’s Responsive Model”. &lt;br /&gt;Kaufman &amp;amp; Thomas (Suharsimi Arikunto  &amp;amp; Cepi Safruddin, 2004) membedakan model evaluasi menjadi 7 yaitu:  (1) model goal oriented evaluation (Tyler); (2) model goal free  evaluation (Scriven); (3) model formative-summative evaluation  (Scriven); (4) model countenance evaluation model (Stake); (5) CSE-UCLA  evaluation model; (6) CIPP evaluation model (Stufflebeam); dan (7)  discrepancy model (Provus). &lt;br /&gt;Nana Syaodih Sukmadinata (2005)  mengatakan bahwa, pemilihan model evaluasi yang akan digunakan  tergantung pada: (1) tujuan dan pertanyaan penelitian; (2) metode  pengumpulan data; dan (3) hubungan antara evaluator dengan  administrator, melihat evaluasi, individu-individu dalam program dan  organisasi yang akan dievaluasi. &lt;br /&gt;Sesuai dengan tujuan evaluasi dalam  mengevaluasi peran Kepala Sekolah dalam peningkatan kinerja guru SD  Kabupaten Keerom Provinsi Papua adalah model pendekatan evaluasi yang  berfokus kepada keputusan (the decision focused approach). &lt;br /&gt;Pendekatan  evaluasi yang berfokus kepada keputusan, menekankan pada peranan  informasi yang sistemik untuk pengelolaan program dalam menjalankan  tugasnya. Oleh sebab itu, kegiatan evaluasi harus direncanakan sesuai  dengan kebutuhan untuk keputusan program. Pendekatan data dan laporan  dibuat untuk menambah efektivitas pengelola program. Selanjutnya karena  program sering berubah selama beroperasi dari awal sampai akhir,  kebutuhan pemegang keputusan juga berubah dan evaluasi harus disesuaikan  dengan keadaan tersebut. &lt;br /&gt;Pada tingkat perencanaan, pembuat program  memerlukan informasi tentang masalah dan kapasitas organisasi. Selama  dalam tingkat implementasi administrator memerlukan informasi tentang  proses yang sedang berjalan. Bila program sudah selesai,  keputusan-keputusan penting akan dibuat berdasarkan hasil yang dicapai.  Sebagai akibatnya, evaluator harus mengetahui dan mengerti perkembangan  program dan harus siap menyediakan bermacam-macam waktu. Idealnya  program dan sistem evaluasi dikembangkan bersama, tapi hal ini tidak  selalu dapat terjadi. Malahan sering evaluator diminta mengevaluasi  setelah program belajar. &lt;br /&gt;Biasanya evaluator bekerja mundur, dari  berbagai butir keputusan untuk mendesain kegiatan pengumpulan data yang  memberikan data yang relevan untuk mengurangi keragu-raguan. Evaluator  memerlukan 2 macam informasi dari klien. Pertama, ia harus mengetahui  butir-butir keputusan penting pada setiap periode selama program  berjalan; kedua, ia perlu mengetahui macam informasi yang mungkin akan  sangat berpengaruh untuk setiap keputusan. Tentu juga ada keputusan yang  dibuat berdasarkan politik dan pertimbangan lain yang tidak berhubungan  dengan informasi yang relevan. &lt;br /&gt;Keunggulan pendekatan ini ialah  perhatiannya terhadap kebutuhan pembuat keputusan yang khusus dan  pengaruh, yang makin besar pada keputusan program yang relevan.  Keterbatasan pendekatan ini yaitu banyak keputusan ptb dibuat tiap pada  waktu yang tepat, tapi dibuat pada waktu yang kurang tepat. Seringkali  banyak keputusan tidak dibuat berdasarkan data, tapi tergantung pada  impresi perorangan politik, perasaan, kebutuhan pribadi, dan lain-lain.  Dalam hal ini evaluator mungkin dapat memberi pengaruh positif yang  lebih objektif dan rasional. Pengaruh pendekatan ini terhadap pemfokusan  evaluasi, seperti yang diperkirakan bahwa proses pemfokusan evaluasi  berasal dari pembuat keputusan sendiri. Evaluator perlu mengetahui dan  menentukan siapa di antara orang-orang tersebut yang memegang kunci  keputusan dan berkonsultasi dengannya.&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/"&gt;http://kabar-pendidikan.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-6311240999729855129?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/6311240999729855129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=6311240999729855129' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/6311240999729855129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/6311240999729855129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/pengertian-prinsip-evaluasi-dan-model.html' title='Pengertian,  Prinsip Evaluasi dan model Evaluasi pendidikan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5137873692147960160</id><published>2011-11-11T16:41:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:41:24.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Sarana dalam Bimbingan dan Penyuluhan</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="float: left; margin: -30px -20px -10px -10px;"&gt;  -&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;a. Penyelenggaraan kartu pribadi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bimo Walgito mengemukakan tentang kartu pribadi yaitu :&lt;br /&gt;Kartu pribadi atau disebut juga daftar pribadi merupakan suatu daftar  yang memuat semua aspek diri anak. Daftar pribadi ini memuat  perseorangan sehingga masing-masing anak mempunyai daftar  sendiri-sendiri. (Walgito, 1989:79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu pribadi ini berfungsi sebagai langkah awal bila suatu saat akan  membimbing, karena sesudah diketahui sebelumnya pangkal tolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Penyelenggaraan papan bimbingan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan papan bimbingan adalah merupakan suatu aspek untuk  merealisasikan bimbingan penyuluhan di sekolah. Karena pada papan  bimbingan anak-anak akan dapat melihat yang perlu diketahui oleh  dirinya.&lt;br /&gt;Pada papan bimbingan ini bisa ditulis peraturan sekolah dan cara belajar yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Penyelenggaraan kotak masalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kotak masalah ini Bimo Walgito mengemukakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Kotak masalah sering pula disebut kotak tanya. Dasar pemikiran  penyelenggaraan kotak masalah ini adalah untuk menampung masalah atau  pertanyaan yang dihadapi oleh anak-anak yang lain dalam sekolah.  (Walgito, 1989:79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan kotak masalah ini disamping bersifat kuratif juga  bersifat prefentif serta bersifat korektif. Sehingga permasalahan yang  timbul segera akan dapat dicarikan penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d. Penyelenggaraan Kelompok Belajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kelompok belajar adalah bahwa kegiatan-kegiatan digolongkan kedalam tiga  golongan utama secara hakiki. Ialah kegiatan-kegiatan yang bersifat  individual. Kegiatan yang bersifat sosial dan kegiatan yang bersifat  Ketuhanan. (Walgito, 1989:143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa seseorang harus memiliki  sosial yang baik, bekerja sama dengan lingkungannya serta mengutamakan  kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spiikis dapat dikemukakan bahwa peranan dari bimbingan dan  penyuluhan dalam lembaga pendidikan disekolah adalah memberika bantuan  kepada siswa yang mempunyai permasalahan untuk dibimbing agar siswa yang  bersangkutan mampu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi baik pada saat  sekarang maupun pada masa yang akan datang. Tugas tersebut tidaklah  ringan dan segampang yang dibayangkan, apalagi jika dikaitkan dengan  adanya gejala menurunnya aktivitas belajar siswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5137873692147960160?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5137873692147960160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5137873692147960160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5137873692147960160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5137873692147960160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/sarana-dalam-bimbingan-dan-penyuluhan.html' title='Sarana dalam Bimbingan dan Penyuluhan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-2897150385416702163</id><published>2011-11-11T16:38:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:38:57.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Sifat Bimbingan dan Penyuluhan</title><content type='html'>Masalah bimbingan dan penyuluhan mengacu pada situasi masa pemberian  bantuan yang dilihat dari segi proses penampakan hal atau kesulitan yang  dihadapi murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain pemberian bantuan dapat dilakukan  sebelum ada kesulitan, selama ada kesulitan, dan setelah ada kesulitan  yang dihadapi murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat bimbingan menurut Andi Mapiere dibagi menjadi empat yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Sifat pencegahan (prefentif) yaitu pemberian bantuan (terutama)  kepada murid, sebelum murid menghadapi kesulitan atau persoalan yang  serius.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sifat pengembangan (development) yaitu usaha bantuan yang diberikan  pada murid dengan mengiringi ‘perkembangan mentalnya ; yang dimaksudkan  terutama untuk menetapkan jalan berfikir dan bertindaknya murid sehingga  dapat berkembang secara optimal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sifat penyembuhan (curatif) yaitu usaha bantuan yang diberikan pada  murid selama atau setelah murid mengalami persoalan serius, dengan  maksud agar murid agar terbebas dari kesulitan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sifat pemeliharaan (Treatment) yaitu usaha bantuan yang dimaksudka  terutama unuk memupuk dan mempertahankan kesehatan mental murid yang  bersangkutan bertahan dalam kesembuhan, setelah menjalani proses  penyembuhan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dari keempat sifat bimbingan tersebut di atas, satu dengan yang lainnya  sangat berbeda, dalam penggunaannya yang luas. Hafi Anshari membagi  bimbingan menjadi dua bentuk bimbingan yaitu :&lt;br /&gt;a. Bimbingan yang bersifat prefentif&lt;br /&gt;1. Tata Tetib&lt;br /&gt;2. Menanamkan kedisiplinan&lt;br /&gt;3. Memberikan motivasi&lt;br /&gt;4. Memberikan nasehat&lt;br /&gt;b. Bimbingan yang bersifat kuratif&lt;br /&gt;1. Pemberitahuan&lt;br /&gt;2. Peringatan&lt;br /&gt;3. Hukuman&lt;br /&gt;4. Ganjaran (Mapiere, 1989:211)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber : &lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/10/sifat-bimbingan-dan-penyuluhan.html"&gt;http://kabar-pendidikan.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-2897150385416702163?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/2897150385416702163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=2897150385416702163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/2897150385416702163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/2897150385416702163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/sifat-bimbingan-dan-penyuluhan.html' title='Sifat Bimbingan dan Penyuluhan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4019160847816942449</id><published>2011-11-11T16:33:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:33:53.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Cara dan Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan</title><content type='html'>Pelaksanaan Bimbingan di sekolah terwujud dalam program bimbingan, yang  mencakup keseluruhan pelayanan bimbingan. Para petugas bimbingan selain  harus sehat fisik maupun psikisnya juga mendapatkan pendidikan khusus  dan bimbingan dan konseling;secara ideal berijasah sarjana FIP IKIP,  jurusan BK, atau program yang sederajat. Di samping itu seorang  pembimbing harus mempunyai pengalaman maupun pengetahuan yang cukup,  baik yang bersifat praktis maupun teoritis, sesuai dengan pendapat Bimo  Walgito :&lt;br /&gt;Agar supaya seorang pembimbing dapat menjalankan fungsi atau  pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, seorang pembimbing harus mempunyai  pengetahuan yang cukup luas baik segi yang bersifat teoritis maupun yang  bersifat praktis. (Walgito, 1989:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwasanya pengetahuan tentang  bimbingan dan penyuluhan merupakan syarat yang paling penting bagi  seorang pembimbing, baik dari segi teoritis maupun praktisnya.&lt;br /&gt;Dasar dari pada pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah  tidak lepas dari dasar pendidikan pada umumnya, dan pendidikan pada  khususnya. (Walgito, 1989:17)&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan perlu diperhatikan  batas-batas sampai dimana kemungkinan kegiatan bimbingan dan penyuluhan  itu boleh dilaksanakan. Bimbingan dan penyuluhan disekolah dilakukakan  untuk siswa-siswi, untuk membantu siswa-siswi dalam membuat rencana  belajar dan mengambil keputusan sendiri. Bimbingan dilakukan dengan  melibatkan personal lain dalam memberikan bantuan pada siswa. Bimbingan  dilakukakn dala batas-batas kemampuan yang dimiliki oleh staf pembimbing  (tenaga ahli bimbingan, guru konselor atau guru pembimbing dan guru  biasa guru vak) dan program bimbingan sekolah berpusat pada pencegahan  kesulitan belajar dikelas yang dilakukan atas dasar kesepakatan bersama  anatara penyuluhan dan siswa.&lt;br /&gt;Menurut Totok Santoso dalam bukunya “Layanan dalam Memberikan Bimbingan Belajar, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a. Bimbingan secara kelompok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan bimbingan kelompok merupakan cara-cara tertentu untuk  mengelompokkan murid. Sedangkan aktivitas-aktivitas bimbingan kelompok  merupakan jenis kegiatan yang dilakukakan, karena pembimbing mrangkap  sebagai pengajar, makabimbingan kelompok yang paling dominan. Sebab  disamping memberikan pelajaran juga diiringi memberikan bimbingan secara  pencegahan (preventif). Adapun bentuk bimbingan kelompok adalah  pelajaran bimbingan (group guindance class), sekelompok diskusi,  kelompok kerja dan home room.&lt;br /&gt;1) Pelajara Bimbingan&lt;br /&gt;Pelajaran bimbingan ini yang diutamakan adalah kebutuhan-kebutuhan murid  yang berkenan dengan perkembangan pribadinya dan pergaulan sosialnya :  dengan kata lain ahli bimbingan lebih berfungsi sebagai pendidik dari  pada sebagai pengajar. Pada pelajaran bimbingan yang biasanya berupa  pembahasan tentang suatu masalah yang tidak termasuk materi pelajaran  yang lain. misalnya cara-cara belajar yang baik. Cara memilih jurusan /  fakultas. Cara-cara bergaul, pendewasaan diri, hubungan dengan orang  tua.&lt;br /&gt;2) Diskusi Kelompok&lt;br /&gt;Diskusi kelompok ini dibentuk kelompok kecil yang terdiri dari empat  sampai enam murid yang mana murid-murid itu mendiskusikan sesuatu  bersama, misalnya kesukaran dalam belajar, pergaulan dengan orang tua  atau pergaulan dengan lain jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Bimbingan secara individu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan secara individu ini dilaksanakan ada permasalahan dari siswa yang bersangkutan langsung dipanggil ke ruang bimbingan. &lt;br /&gt;Adapun bentuk dari bimbingan individu dapat berupa : pemberian informasi, pemberian nasehat, dan konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Konseling individual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Konseling individual paling tidak ada empat segi yang perlu diperhatikan  dalam konseling, yaitu saat diam, kebingungan, mndengarkan dan  melarikan diri dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;: &lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/10/cara-dan-pelaksanaan-bimbingan-dan.html"&gt;http://kabar-pendidikan.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-4019160847816942449?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/4019160847816942449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=4019160847816942449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4019160847816942449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4019160847816942449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/cara-dan-pelaksanaan-bimbingan-dan.html' title='Cara dan Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-7921859166592818485</id><published>2011-11-11T16:30:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:30:33.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Peran Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Kesulitan Belajar</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Tujuan pendidikan nasional berlaku bagi semua jenis sekolah dan  dilaksanakan dengan ciri-ciri khas dari setiap jenjang pendidikan  sekolah. Dengan kata lain, tujuan institusional harus diselaraskan  dengan tujuan pendidikan nasional dan merupakan suatu konsentrasi yang  harus membawa tercapainya tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan pendidikan siswa perlu dapat bimbingan agar mereka  dapat membina sebanyak mungkin dari pengalaman disekolah. Akan tetapi  kemampuan guru dalam membimbing anak didiknya terbatas, sedangkan  masalah yang dihadapi anak didik semakin hari semakin kompleks. Dari  semacam kondisi inilah peranan bimbingan dan penyuluhan diperlukan,  dalam rangka memanimalisasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan akhir pelayanan bimbingan ini sama dengan tujuan pendidikan di  sekolah, tetapi cara untuk sampai pada tujuan itu lain yang digunakan  dalam bidang-bidang pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh W.S.  Winkel :&lt;br /&gt;Bimbingan disekolah menengah merupakan bidang khusus dalam keseluruhan  pendidikan sekolah yaitu memberikan pelayanan yang ditangani oleh  ahli-ahli yang telah disiapkan untuk itu. Ciri khas dari pelayanan ini  terletak dalam hal memberikan bantuan mental atau psikologis kepada  murid dalam membulatkan perkembangannya. Tujuan dari pemberian bimbingan  ialah supaya setiap murid berkembang sejauh mungkin untuk mengambil  manfaat sebanyak mungkin dari pengalamannya disekolah, mengingat  ciri-ciri pribadinya dan tuntunan kehidupan dalam masyarakat sekarang.  (Winkel, 1991:28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya peranan dan bimbingan terserbut diharapkan semua persoalan  yang dihadapi anak didik dapat diantisipasi sedini mungkin. Menurut  Bimo Walgito bimbingan dan penyuluhan di sekolah dapat dilaksanakan  dengan bermacam sifat :&lt;br /&gt;1. Preventif, yaitu bimbingan yang diberikan dengan tujuan untuk  mencegah jangan sampai timbul kesulitan yang menimpa diri anak atau  individu.&lt;br /&gt;2. Korektif, yaitu memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh individu.&lt;br /&gt;3. Preservatif, yaitu memelihara atau mempertahankan yang telah baik,  jangan sampai menjadi keadaan yang tidak baik (Walgito, 1984:26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa peranan dari pada  bimbingan dan penyuluhan sangat diperlukan oleh siswa dalam rangka untuk  mencapai tujuan dari pada pendidik dan pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Rujukan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Ahmad, Abu 1978. Psikologi Pendidikan. Semarang: Rineka Cipta&lt;br /&gt;2. Ahmadi, Abu dan Achmad Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: Rineka Ilmu&lt;br /&gt;3. AM, Sadirman . 1987. Interakasi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: CV. Rajawali&lt;br /&gt;4. Anshari, Hafi. 1983. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional &lt;br /&gt;5. Arifin, M. 1994. Teori Konseling Umum dan Agama, Jakarta: Golden Terayon Press.&lt;br /&gt;6. Hamalik, Oemar, 1990, Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito&lt;br /&gt;7. Hamalik, Oemar. 1992, Psikologi Belajar Mengajar, Sinar Baru Algesindo&lt;br /&gt;8. Moleong, Lexy J. 1998. Meteodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya&lt;br /&gt;9. Mapiare, Andi. 1989. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional&lt;br /&gt;10. Poerwadarminta, W.J.S. 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;11. Partowisastro, Koestoer. 1984. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar, Jakarta: Erlangga.&lt;br /&gt;12. Surahmat, Winarno. 1989. Pengantar Penelitian, Dasar-dasar dan Teknik, Bandung: Tartito.&lt;br /&gt;13. Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.&lt;br /&gt;14. Suryabrata, Sumadi. 1992. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: CV. Rajawali&lt;br /&gt;15. Walgito, Bimo. 1995. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Yogkayarta: Andi Offset.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-7921859166592818485?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/7921859166592818485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=7921859166592818485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/7921859166592818485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/7921859166592818485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/peran-bimbingan-dan-konseling-dalam.html' title='Peran Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Kesulitan Belajar'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4794855121043091173</id><published>2011-11-11T16:27:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:27:06.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Pengertian Bimbingan dan penyuluhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah bimbingan dan penyuluhan dipandang dari segi terminologi berasal  dari bahasa asing yaitu bimbingan dari Guidance dan penyuluhan dari  Counseling.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a. Bimbingan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pengertian bimbingan ini Bimo walgito mengemukakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bimbingan adalah merupakan bantuan atau pertolongan yang diberikan  kepada individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan dalam  hidupnya mencapai kesejahteraan. (Walgito, 1989:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan pengertian di atas H. Koestuer Partowisastro mengemukakan pendapat :&lt;br /&gt;Bimbingan adalah bantuan yang diberikkan kepada seseorang agar  memperkembangkan potensi-potensi yang dimiliki, mengenal dirinya  sendiri, mengatasi persoalan-persoalannya sehingga dapat menentukan  sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab tanpa tergantung orang  lain. (Partowisastro, 1984:12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan  bimbingan adalah suatu usaha bantuan yang dilakukan oleh seseorang yang  mempunyai keahlian dan pengalaman dalam memberikan bantuan atau  pertolongan kepada individu tersebut dapat mengembangkan potensi yang  dimiliki, mengenal dirinya dan dapat bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Penyuluhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyuluhan menurut Bimo Walgito adalah :&lt;br /&gt;Penyuluhan adalah bantuan yang diberikan individu dalam memecahkan  masalah kehidupannya dengan langsung berhadapan muka, dengan cara-cara  yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai  kesejahteraan hidupnya. (Walgito, 1989:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat tersebut di atas dapat dipahami bahwasanya bimbingan dan  penyuluhan, ada persamaannya dan ada perbedaannya. Persamaan adalah  keduanya merupakan suatu bantua bagi individu-individu dalam menghadapi  problem kedupannnya. Sedangkan perbedaan, bimbingan lebih luas dari pada  penyuluhan, bimbingan lebih menitik beratkan pada segi-segi preventif,  sedangkan penyuluhan lebih menitik beratkan pada segi kuratif, tetapi  walaupun demikian pengguanan bimbingan selalu diikuti dengan kata  penyuluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan bimbingan dan penyuluhan di sekolah harus mendapatkan  perhatian istimewa terhadap generasi muda. Karena manfaatnya adalah  sangat besar bagi pemantapan hidup bagi generasi muda kita dalam  berbagai bidang yang menyangkut ilmu pengetahuan. Ketrampilan dan sikap  mental generasi muda. Apalagi mengingat bahwa generasi mda perlu dibina  secara intensif sesuai dengan cita-cita yang terkandung dalam  Garis-Garis Besar Haluan Negara yang menyatakan bahwa generasi muda  harus dibina agar menjadi generasi pengganti dimasa mendatang yang harus  lebih baik, lebih bertanggung jawab dan lebih mampu mengisi serta  membina kemerdekaan Bangsa.&lt;br /&gt;Dengan adanya bimbingan dan penyuluhan di sekolah diharapkan generasi  muda menjadi generasi yang mampu bermanfaat baik bagi dirinya sendiri  maupun bagi masyarakat serta bagi bangsa dan negara. Manusia diciptaka  oleh Allah SWT untuk menjadi manusia yang bermanfaat baik bagi dirinya  maupun umatnya. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110  yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :  Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,  menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman  kepada Allah … (QS. Ali Imron, 110) (Depag RI., 1989:94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi generasi yang mampu bermanfaat baik dirinya sendiri maupun  bagi masyarakat serta bagi bangsa dan negara, maka perlu kiranya  diperkenalkan kepada anak didik seperangkat ajaran yang mewajibkan kita  untuk senatiasa belajar, khususnya dalam bidang agama, sebagaimana  Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 102 :&lt;br /&gt;Artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi  semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan  di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka  tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka  telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri. (QS.  At-Taubah, 122) (Depag. RI. 1989:302)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut memberikan gambaran tentang pentingnya pembahasan terhadap  agama yang kita peroleh dalam prosesbelajar mengajar, baik lewat  pendidikan luar sekolah (Sekolah dan Masyarakat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekspisit ayat tersebut juga mengisyaratkan perintah langsung  kepada petugas bimbingan dan penyuluhan untuk memberikan penyuluhan yang  baik kepada para siswanya. Sebab seperti yang pernah kita jelaskan di  atas, baik keberadaan bimbingan kepada para siswa untuk pemantapan hidup  dalam berbagai bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas bimbingan dan penyuluhan yang keberadaannya disamping sebagai  badan yang bertugas memberikan bimbingan kepada para siswa juga sebagai  guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik kepada siswa.  Sehingga tanggung jawab petugas bimbingan dan penyuluhan menjadi ganda  dan variatif atau sebagai pengajar mata pelajaran dan sebagai pendidik  agama dan akhlaq yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;: &lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/10/artikel-psikologi-pengertian-bimbingan.html"&gt;http://kabar-pendidikan.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-4794855121043091173?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/4794855121043091173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=4794855121043091173' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4794855121043091173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4794855121043091173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/pengertian-bimbingan-dan-penyuluhan.html' title='Pengertian Bimbingan dan penyuluhan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-3808517428604912211</id><published>2011-11-11T16:24:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:24:06.576+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Peranan Guru Bimbingan Konseling</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tugas guru pembimbing di sekolah, di antaranya :&lt;br /&gt;1.    Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa.&lt;br /&gt;2.     Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar  bimbingan dan konseling, maka guru yang telah mengikuti penataran  bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas  sebagai guru pembimbing. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru  yang ditugasi itu mecapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling  sekurang-kurangnya setara D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru  pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan  konseling.&lt;br /&gt;3.    Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling dapat  diselenggarakan di dalam atau di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan  bimbingan dan konseling di luar sekolah sebanyak-banyaknya 50% dari  keseluruhan kegiatan bimbingan untuk seluruh siswa di sekolah itu, atas  persetujuan kepala sekolah (Prayitno, 2001: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tugas pokok guru, di antaranya:&lt;br /&gt;1.     Menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, evaluasi  belajar, analisis hasil evaluasi hasil belajar, serta menyusun program  perbaikandan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung  jawabnya, atau&lt;br /&gt;2.    Menyusun program bimbingan, melaksanakan program  bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan  bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta  didik yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;(Prayitno, 2001: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Rujukan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.    Hallen , A, 2002. Bimbingan dan Konseling dalam Islam, Jakarta; Ciputat Pers.&lt;br /&gt;2.    Mudjiono, 1992. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;3.    Notoatmodjo, Soekidjo, 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.&lt;br /&gt;4.    Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.&lt;br /&gt;5.    Prayitno &amp;amp; Erman Amti, 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;6.    Prayitno. 2001. Buku Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Padang: P4T IKIP Padang.&lt;br /&gt;7.    Slameto, 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;8.    Sudjana, Nana, 2003. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung: Sinar Baru Algesindo.&lt;br /&gt;9.    Sukardi, Dewa Ketut. 2003. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;10.    Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Citra Umbara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;               &lt;span style="font-family: trebuchet ms; font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;:    &lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/" style="color: black;"&gt;www.kabar-pendidikan.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-3808517428604912211?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/3808517428604912211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=3808517428604912211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/3808517428604912211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/3808517428604912211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/peranan-guru-bimbingan-konseling.html' title='Peranan Guru Bimbingan Konseling'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-8595641980460723817</id><published>2011-11-11T16:19:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T16:19:51.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pendidikan'/><title type='text'>Dasar-dasar Filsafat Ilmu Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-lSaVcEXGjWQ/Trzobsk6OSI/AAAAAAAABAM/1q2dv-3RT1A/s1600/ftp_office1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-lSaVcEXGjWQ/Trzobsk6OSI/AAAAAAAABAM/1q2dv-3RT1A/s320/ftp_office1.gif" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baiklah sekarang kita lihat dasar-dasaar filsafah keilmuan terkait  dalam arti dasar ontologis, dasar epistemologis, dan aksiologis, dan  dasar antropolgis ilmu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.                   Dasar ontologis ilmu pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama  pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu pendidikan.  Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui  pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris.  Objek materil ilmu pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia yang  lengkap aspek-aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia  dalam situasi pendidikan atau diharapokan melampaui manusia sebagai  makhluk sosial mengingat sebagai warga masyarakat ia mempunyai ciri  warga yang baik (good citizenship atau kewarganegaraan yang  sebaik-baiknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pendidikan dalam praktek terbebas dari  keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia  seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situiasi  sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk  berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku  kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada  ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya  konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan  tetapipada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter  dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non)  bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang  berskala mikro. Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik yang  berkepribadiaan sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya  secara terhormat sebagai pribai pula, terlpas dari factor umum, jenis  kelamin ataupun pembawaanya. Jika pendidik tidak bersikap afektif utuh  demikian makaa menurut Gordon (1975: Ch. I) akan terjadi mata rantai  yang hilang (the missing link) atas factor hubungan serta didik-pendidik  atau antara siswa-guru. Dengan egitu pendidikan hanya akan terjadi  secar kuantitatif sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB  summatif, NEM atau pemerataan pendidikan yang kurang mengajarkan  demokrasi jadi kurang berdemokrasi. Sedangkan kualitas manusianya belum  tentu utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.                    Dasar epistemologis ilmu pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dasar  epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan  demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab.  Sekalaipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh  tenaga pemula namuntelaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan  pendekatan fenomenologis yang akan  menjalin stui empirik dengan studi  kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat  kualitaatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai  instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu penelaaah  dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar  yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Karena penelitian tertuju tidak  hnya pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan &amp;amp; Biklen, 1982)  melainkan unuk mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom) tentang  fenomen pendidikan maka vaaliditas internal harus dijaga betul dalm  berbagai bentuk penlitian dan penyelidikan seperti penelitian koasi  eksperimental, penelitian tindakan, penelitian etnografis dan penelitian  ex post facto. Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat  ditentukan bahaawa dalam menjelaskaan objek formaalnya, telaah ilmu  pendidikan tidaak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju  kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebgaai ilmu otonom yang  mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak  dapat hnya menggunkaan pendekatan kuantitatif atau pun eksperimental  (Campbell &amp;amp; Stanley, 1963). Dengan demikian uji kebenaran  pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan  sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &amp;amp;Buchler,1942).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;3.                   Dasar aksiologis ilmu pendidikan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemanfaatan  teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga  diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan  sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai  ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti  seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah  dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek mmelalui kontrol  terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif  dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai  mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu  pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal ini relevan  sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai  seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan  memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari iptek.  Namun harus diakui bahwa ilmu pendidikan belum jauh pertumbuhannya  dibandingkan dengan kebanyakan ilmu sosial dan ilmu prilaku. Lebih-lebih  di Indonesia.&lt;br /&gt;Implikasinya ialah bahwa ilmupendidikan lebih dekat  kepada ilmu prilaku kepada ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian  lain bahwa di dalam kesatuan ilmu-ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa  metode ilmiah (Kalr Perason,1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.                   Dasar antropologis ilmu pendidikan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan  yang intinya mendidik dan mengajar ialah pertemuan antara pendidik  sebagai subjek dan peserta didik sebagai subjek pula dimana terjadi  pemberian bantuan kepada pihak yang belakangan dalaam upaayanya belajr  mencapai kemandirian dalam batas-batas yang diberikan oleh dunia  disekitarnya. Atas dasar pandangan filsafah yang bersifat dialogis ini  maka 3 dasar antropologis berlaku universal tidak hanya (1) sosialitas  dan (2) individualitas, melainkan juga (3) moralitas. Kiranya khusus  untuk Indonesia apabila dunia pendidikan nasional didasarkan atas  kebudayaan nasional yang menjadi konteks dari sistem pengajaran nasional  disekolah, tentu akan diperlukan juga dasar antropologis pelengkap  yaitu (4) religiusitas, yaaitu pendidik dalam situasi pendidikan  sekurangkurangnya secara mikro berhamba kepada kepentingan terdidik  sebagai bagian dari pengabdian lebih besar kepada Tuhan Yang Maha Esa.&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://kabar-pendidikan.blogspot.com/" style="color: black;"&gt; : www.kabar-pendidikan.blogspot.com&lt;/a&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/www.kmp-malang.com" style="color: black;"&gt;www.kmp-malang.com &lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://arminaperdana.blogspot.com/" style="color: black;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://grosirlaptop.blogspot.com/" style="color: #cccccc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-8595641980460723817?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/8595641980460723817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=8595641980460723817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/8595641980460723817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/8595641980460723817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/11/dasar-dasar-filsafat-ilmu-pendidikan.html' title='Dasar-dasar Filsafat Ilmu Pendidikan'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-lSaVcEXGjWQ/Trzobsk6OSI/AAAAAAAABAM/1q2dv-3RT1A/s72-c/ftp_office1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-9064421456591283817</id><published>2011-10-15T15:54:00.000+07:00</published><updated>2011-10-15T15:54:13.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Dosen'/><title type='text'>CERITA DI BALIK STUDI LANJUT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Oleh : Ibrahim*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pasca Sarjana (bukan paska) berarti setelah sarjana. Dalam dunia  akademik, pasca merujuk pada dua level: S2 (Magister) dan S3 (Doktor).  Seperti piramida, kondisi pendidikan kita di negeri ini memang masih  menempatkan sarjana di lapis bawah, magister di lapis kedua, dan doktor  di lapis yang mengerucut paling atas dengan jumlah yang terbatas.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Namun perlahan-lahan, tampaknya piramida itu akan mulai tidak membentuk  siku-siku karena saat ini trend untuk mengambil S2 dan S3 sedang mendera  negeri ini. Apalagi Undang-Undang Sisdiknas mengatur bahwa seorang  dosen minimal bergelar S2. Ternyata bukan hanya kalangan dosen saja yang  mulai mengikuti kecenderungan itu, gelar magister dan doktor nyatanya  kini menjadi semacam gengsi, banyak politisi dan pejabat yang sekarang  memburunya, walau dengan berbagai rupa cara yang acapkali tak  "prosedural".&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Jika mengikuti prosedur yang baku, meraih gelar magister dan doktor  tentulah tidak mudah. Bukan saja berhadapan dengan substansi keilmuan  yang ingin diraih, tetapi juga berkaitan dengan teknis dan pembiayaan  yang kadang tidak bisa diajak kompromi. Setiap orang pun punya cerita  dan masalah sendiri-sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;  Senior saya, Dr. Edy Nurtjahya mengatakan tidak ada masalah ketika  mengambil S2 di Inggris karena mendapatkan beasiswa, namun ketika S3 di  IPB, ia menemui masalah. Masalahnya adalah beasiswa BPPS hanya tiga  tahun, padahal ia belum selesai ketika beasiswa sudah berakhir. Cerita  Pak Dedih Sapjah, S.T., M.Sc lain lagi. Selama studi di Belanda ia harus  berpisah dengan sang istri dan anak-anaknya. Alhasil, ketika  mendapatkan tawaran mengambil S3 di Inggris beberapa waktu lalu, sang  istri tak membolehkan lagi. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Rektor saya di UBB punya kisah yang lebih unik. Selama 11 bulan menuntut  ilmu di Filipina, ia meninggalkan istri yang sedang merawat anak yang  masih kecil. Dalam sebuah kesempatan, istri pak rektor bertutur: "Wah  dulu bapak itu waktu studi di Filipina sering sekali berkirim surat.  Sebentar-sebentar kirim surat untuk memastikan kondisi anak-anak. Kadang  surat satu belum sampai, terus bapak udah ngirim surat lagi. Bapak kan  sayang banget sama anak-anaknya". &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kisah Pak Made, Dosen Polman juga unik, ketika studi di Belanda  mengambil gelar master, dia meninggalkan juga anak istrinya. Ketika ada  teman saya yang iseng bertanya bagaimana dengan urusan biologis, sambil  tersenyum kecut Pak Made menjawab: "Yah, bisa-bisa kita  mengendalikannya".&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kisah teman saya Zainudin lain lagi. Setelah tertatih-tatih  menyelesaikan pendidikan sarjananya di Filsafat UGM, dia bingung harus  bagaimana, namun tekadnya untuk melanjutkan ke pendidikan magister  sangat menggebu. Setelah lulus, diapun bergegas pulang ke kampung  halamannya di Bima. Setengah memaksa ia meminta orangtuanya menjual  sebidang tanah yang mereka miliki. Hasilnya ia gunakan untuk mendaftar  di S2 Politik UGM, sisanya ia membuka usaha rental komputer. Dari situ  ia kemudian membiayai pendidikannya dan juga mampu membiayai kedua  adiknya. Setelah lulus magister, ia melamar ke banyak tempat, dan  lamarannya nyantol di Depdagri. Kini ia menjadi orang kepercayaan deputi  di departemennya. Ini berkat kegigihannya untuk meraih tekad, meski  dengan keras dan jalan terjal.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Teman saya, Norman Ary di Bioteknologi UGM kini mandek dalam studinya.  Harusnya tahun ini ia sudah bisa merampungkan disertasinya dan akan  menjadi lulusan ke-8 jurusan bioteknologi UGM, namun ketiadaan dana  untuk membantunya membeli alat ukur eksperimen ikannya senilai 25 juta  sebanyak 4 buah menyebabkan ia tak bisa mengalami kemajuan studi. Setiap  bertemu saya, dari kejauhan ia sudah memukul keningnya dengan telapak  tangan pertanda bahwa ia belum menemukan solusi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Cerita Pak Tarmizi, guru saya, yang mengambil magister di UNY ketika  saya akan menyelesaikan S1 lebih dramatis. Setelah nekat melepaskan  jabatannya di sebuah sekolah bergengsi demi studi lanjut, ia masih harus  berjuang dengan pembiayaan. Ia tidak mendapatkan sponsor darimanapun,  dari institusinya pun tidak. Dengan gajinya yang terbatas, ia harus  mampu membagi antara dirinya, anaknya, dan istrinya yang terpaksa  ditinggalkan demi studi. Secara rutin kami bertemu, karena kos beliau  yang ukuran 2,5 x 3 meter berada tepat di depan kos kami. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Masih tentang guru saya, Pak Paizal, ia mengambil program magister atas  sponsor dari LPPM. Ketika ia bermaksud menghadap bupati menjelang  penelitian untuk tesisnya, ia berhadapan dengan kalimat yang kurang  menyenangkan: "Pada prinsipnya saya akan mengirimkan orang untuk studi  berdasarkan kebutuhan, jadi saya tidak bisa bantu banyak". Bukannya  berterima kasih karena salah satu stafnya dibantu oleh institusi lain,  malah justru sang bupati terkesan kurang simpatik. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Saya sendiri, sejak awal sudah berprinsip bahwa saya tidak akan mungkin  mampu mengambil doktor tanpa dukungan dari sponsor. Saya mengirimkan  aplikasi beasiswa ke banyak negara tujuan. Respon yang bagus datang dari  beberapa negara, seperti Prof. Knut di Norwegia, Prof Hans di Jerman,  Profesor John Keane di Inggris, Prof. Gerald di Amerika Serikat, dan  beberapa negara lainnya. Sambil itu, saya pun mengikuti seleksi di The  Habibie Center yang setiap periode seleksinya memilih 5 orang seluruh  Indonesia. Hasilnya, saya dinyatakan diterima di The Habibie Center dan  memulai studi pada pertengahan tahun 2009 di UGM. Tentu saya harus cuti  dari mengajar dan dikembalikan ke gaji pokok. Dengan mengandalkan  tunjangan beasiswa dan gaji pokok, saya harus pintar-pintar memenej  alokasi untuk studi, kebutuhan anak istri, dan kebutuhan tak terduga  lainnya. Ini adalah konsekuensi dari pilihan yang harus dijalani dengan  konsisten.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kisah-kisah di atas adalah kisah orang-orang yang menghadapi masalah  karena pilihan yang diputuskannya sendiri. Selain berhadapan dengan  sulitnya mencari pendanaan, meninggalkan anak dan istri, mereka juga  umumnya berjibaku dengan mekanisme pendidikan yang full dan tak kenal  kompromi. Oleh tempat belajar, mereka ditempa secara maksimal untuk  menguasai substansi keilmuan. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tetapi di balik kisah-kisah itu, ada banyak kisah-kisah orang yang  mendapatkan kemudahan ketika studi lanjut. Hanya dengan kuliah di  hotel-hotel mewah tanpa meninggalkan jabatan dan anak istri. Atau dengan  kuliah hanya akhir pekan saja. Atau kuliah sambil tetap mengajar dan  menjabat. Atau dengan beramai-ramai naik pesawat ke kota tertentu untuk  pertemuan secara berkala saja. Yah, begitulah dua sisi dunia. Yin dan  Yang istilahnya jika dalam filosofi Cina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;"&gt;*Dosen FISIP UBB Sedang Studi Doktoral di Ilmu Politik  UGM&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-9064421456591283817?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/9064421456591283817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=9064421456591283817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/9064421456591283817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/9064421456591283817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/10/cerita-di-balik-studi-lanjut.html' title='CERITA DI BALIK STUDI LANJUT'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4775641998147117193</id><published>2011-10-15T14:54:00.000+07:00</published><updated>2011-10-15T14:54:23.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi Tokoh'/><title type='text'>Jobs, Mahasiswa Drop Out yang Merevolusi Jagat Teknologi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-kDtpILiLLsw/Tpk50qDa86I/AAAAAAAAA_M/z-X5RUMtFpg/s1600/STEVEJOB.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-kDtpILiLLsw/Tpk50qDa86I/AAAAAAAAA_M/z-X5RUMtFpg/s1600/STEVEJOB.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Steve Jobs adalah mahasiswa gagal. Dia tidak pernah menyelesaikan  kuliahnya. Namun meski mengalami masa-masa susah kala memutuskan &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;drop  out&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;, Jobs menyatakan keluar dari kuliah adalah salah satu  keputusan terbaiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tahun 1972, Jobs masuk kuliah di Reed  College di Portland, Oregon. Dia memutuskan &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;drop out &lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;setelah  baru 6 bulan kuliah. Jobs merasa tidak cocok dan tidak mau menghamburkan  uang orang tua untuk ongkos kuliah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Aku secara naif memilih  universitas yang ongkosnya hampir semahal Stanford dan semua tabungan  orang tua dihabiskan untuk biayanya. Setelah 6 bulan, aku tak bisa  melihat manfaatnya. Aku tak punya ide apa yang ingin kulakukan dengan  hidupku dan bagaimana universitas akan membantu menemukannya. Aku  menghabiskan semua uang yang ditabung orang tua selama hidup mereka,"  kata Jobs dalam pidato upacara wisuda di Stanford University tahun 2005.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Jadi  aku putuskan &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;drop out &lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;dan percaya semuanya akan baik-baik  saja. Cukup menakutkan waktu itu, namun ketika melihat ke belakang itu  adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat," ucapnya seperti  &lt;/span&gt;&lt;b style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;detikINET &lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;kutip dari Washington Post, Kamis  (6/10/2011).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Masa-masa Susah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jobs  mengenang bahwa sesudah &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;drop out&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; adalah masa-masa susah. Jobs  terpaksa menggelandang karena tak punya kamar. Ia tidur di lantai kos  temannya. Dia menjual botol minuman untuk mendapat uang agar bisa makan.  Namun Jobs mengaku menikmatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dia juga mengambil kelas seni  kaligrafi untuk mengasah intuisinya dalam masa-masa awal &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;drop out&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;.  Jobs mengaku pelajaran itu membantunya mendesain susunan tipografi di  komputer Mac.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sesudah DO, perjalanan hidup Jobs berliku-liku. Dia  pernah ditendang dari Apple pada tahun 1984. Padahal, Apple adalah  perusahaan yang didirikannya bersama Steve Wozniak. Namun ia kembali  sukses dengan menjadikan studio film Pixar bertaji di industri film  animasi. Dia kembali pada Apple tahun 1997, lalu menjadikannya begitu  jaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ya, meski berstatus mahasiswa DO dan berulangkali ditimpa  kesulitan, Jobs akhirnya sukses besar. Ia merevolusi dunia teknologi  dengan kehadiran iPod, iPhone dan tentunya iPad. Produk-produk tersebut  laku keras dan memaksa kompetitor bekerja keras melawan sepak terjang  Apple.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Inilah nasehatnya untuk para lulusan Stanford pada akhir  pidatonya tersebut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Waktu Anda terbatas, jangan sia-siakan untuk  menjalani kehidupan seperti orang lain. Jangan terjebak pada dogma,  yang adalah hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan opini orang lain  menenggelamkan suara di dalam Anda. Yang paling penting, beranilah  mengikuti hati dan intuisimu yang entah bagaimana sudah tahu  sesungguhnya Anda ingin menjadi apa,"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;:&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.detikinet.com/read/2011/10/06/144642/1738330/398/jobs-mahasiswa-drop-out-yang-merevolusi-jagat-teknologi"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;"&gt; http://www.detikinet.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-4775641998147117193?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/4775641998147117193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=4775641998147117193' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4775641998147117193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4775641998147117193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/10/jobs-mahasiswa-drop-out-yang-merevolusi.html' title='Jobs, Mahasiswa Drop Out yang Merevolusi Jagat Teknologi'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-kDtpILiLLsw/Tpk50qDa86I/AAAAAAAAA_M/z-X5RUMtFpg/s72-c/STEVEJOB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-2161387267985907923</id><published>2011-09-27T16:54:00.000+07:00</published><updated>2011-09-27T16:54:28.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Literatur'/><title type='text'>Ketika Budaya Baca Terlindas Internet</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td border="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div align="justify" class="textartikel" title="Artikel UBB Terbaru : Ketika Budaya Baca Terlindas Internet"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sejak pertama kali ditemukan pada  tahun 101 Masehi oleh Tsai Lun seorang warga berkebangsaan Cina, peran  kertas terus mengalami perkembangan. Sebagai sebuah media ringan dan  mudah dipindah serta didistribusikan, kertas telah banyak dipakai  terutama dalam dunia percetakan, pendidikan dan perkantoran. Dalam dunia  percetakan, kertas dapat diubah menjadi sebuah buku, surat kabar,  majalah, brosur serta kedalam  berbagai bentuk lain yang mengandung  sebuah nilai informasi. Jadi, kalau kita berbicara tentang kertas, maka  sudah pasti tidak akan jauh dari kegiatan membaca dan menulis. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Membaca merupakan sebuah sikap positif yang bisa dilakukan oleh siapa  saja, dimanapun dan kapanpun.  Secara  tidak langsung, membaca dapat  mengajarkan kita bagaimana berkomunikasi  dengan sang penulis, walaupun  dengan konsep dan tempat yang berbeda. Membaca juga dapat  memberikan  rasa tenang dan mampu menciptakan fikiran yang positif pada diri orang  yang suka membaca. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Membaca sendiri merupakan kegiatan yang bisa dibina dan dikembangkan,  hingga seseorang akan merasa terikat dan termotivasi untuk membaca,  serta membuat orang yang rajin membaca menjadi kecanduan dan akan sulit  sekali untuk melepaskan diri dari kegiatan  membaca.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;strong style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dunia Online&lt;/strong&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Internet merupakan salah satu media yang begitu akrab dikalangan  masyarakat perkotaan, tetapi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah  pedesaan juga tak ingin ketinggalan, mereka mulai aktif belajar  bagaimana menguasai teknologi informasi (dunia online) yang dapat  memberikan mereka jutaan informasi yang dikemas ke dalam sebuah  perangkat teknologi. Teknologi digital merupakan salah satu bagian dari  kemajuan dunia internet. Teknologi ini sendiri sudah dipakai hampir  semua kalangan individu dan lembaga baik swasta dan pemerintah. Kemajuan  teknologi digital ibarat arus sungai yang mengalir deras, dan sulit  sekali untuk dibendung. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali bermunculan bahan bacaan  seperti halnya surat kabar, majalah dan tabloid yang disajikan dalam  bentuk digital (e-paper). Konsep yang ditawarkan sama seperti kita  membaca surat kabar atau majalah biasa, baik dari cara membaca berita  dan bentuk surat kabar yang sudah diperkecil dari ukuran versi cetaknya,  yang menarik adalah kita dapat membolak balik halaman sama seperti  kalau membaca surat kabar seutuhnya, tinggal klik saja dengan satu  setuhan ujung jari, maka berita halaman berikutnya sudah bisa kita baca.  &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mungkin tidak semua orang bisa memanfaatkan fasilitas ini, karena  membaca sebuah surat kabar dalam bentuk e-paper membutuhkan perangkat  pendukung seperti komputer, laptop, gadget dan bisa juga menggunakan  ponsel (hp) yang dilengkapi dengan akses internet.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Demikian juga dengan beberapa penerbit dan percetakan, yang mulai  mempublikasikan hasil terbitannya melalui media internet dalam bentuk  digital. Isi dan tampilan juga sama seperti buku yang dibuat dalam  bentuk cetakan. Dan untuk membaca buku versi digital juga dibutuhkan  perangkat pembantu seperti halnya komputer. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kemudahan yang diberikan dalam bentuk digital telah banyak memberikan  pengaruh dalam perkembangan dunia cetak dewasa ini. Bentuk digital  dirasa lebih mudah dan fleksibel untuk dibawa kemana-mana seperti buku  yang telah di input kedalam versi digital. Kalau dalam bentuk cetakan  (hard cover) jumlah buku yang sanggup untuk dibawa kedalam tas paling  banyak lima judul, itu juga tergantung tingkat ketebalannya. Tetapi  kalau dalam bentuk digital, kita bisa membawa lebih banyak lagi  tergantung dari kesanggupan memori yang dipakai untuk menyimpan koleksi  digital dalam perangkat pendukung. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tingkat penggunaan media internet di dunia pada tahun 2011 telah  mencapai dua miliar pengguna. Hal itu diungkap badan telekomunikasi PBB,  Hamadoun Toure. Pertumbuhan online tercepat beberapa tahun terakhir  terjadi di dua negara. Di Arab, perkiraan jumlah pengguna internet  mencapai 88 juta, dua kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.  Pertumbuhan di bekas Uni Soviet Commonwealth of Independent States  bahkan lebih cepat, 127 juta orang menggunakan internet disana tahun  lalu, yang pada 2007 hanya 51 juta.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sungguh angka yang sangat besar. Tingkat membaca surat kabar dalam  bentuk digital juga meningkat tajam.  Ini semua  terjadi karena berita  yang disajikan cenderung baru dan lebih menarik karena ditambah dengan  gambar bergerak, mudah didapat, praktis dan dapat disimpan. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Perkembangan teknologi informasi akan terus terjadi, kita tidak akan  pernah tahu besok atau lusa penemuan apalagi yang akan mengguncang  dunia, terutama dalam bidang pemanfaatan teknologi informasi. Kehadiran  berbagai bahan informasi dalam bentuk digital (online) tentu harus  berjalan searah dengan kemajuan industri percetakan dalam bentuk  tercetak.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Bagaimanapun, bahan bacaan dalam bentuk cetakan (kertas) mampu  memberikan warna tersendiri terhadap tingkat membaca masyarakat seperti  halnya buku dan surat kabar. Orang yang sudah terbiasa membaca buku  dalam bentuk cetakan akan sulit beralih ke versi digital. Kenyamanan  merupakan faktor utama yang diprioritaskan oleh semua individu ketika  mulai membaca, tidak semua individu sanggup berlama-lama membaca buku  dalam versi digital. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Semoga saja, kehadiran beragam bahan bacaan dalam bentuk digital, tidak  menggilas kebiasaan membaca dalam bentuk tercetak (kertas) yang sudah  lama hadir dan menyatu dengan hati masyarakat kita. ***&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-2161387267985907923?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/2161387267985907923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=2161387267985907923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/2161387267985907923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/2161387267985907923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/09/ketika-budaya-baca-terlindas-internet.html' title='Ketika Budaya Baca Terlindas Internet'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-8851915621616225859</id><published>2011-08-13T17:43:00.001+07:00</published><updated>2011-08-13T17:52:19.114+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen sekolah'/><title type='text'>Manajemen pendidikan di Sekolah.</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Cambria;	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1650177029517540599&amp;amp;postID=8851915621616225859" name="5564075248990826355"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13.5pt;"&gt;&lt;a href="http://dunia-fikri.blogspot.com/2010/01/resume-buku-manajemen-pendidikan.html"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;OLEH :&amp;nbsp; Drs. B Suryosubroto. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dalam undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, yang diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2001, bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota (Pasal 11 ayat 2). Sebagai dampak pasca dikeluarkan UU tersebut, terjadi pergeseran pendekatan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di Indonesia telah berimbas pada pengelolaan sistem pendidikan, yakni dari semula yang lebih bersifat sentralistik bergeser ke arah pengelolaan yang lebih bersifat desentralistik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagai bentuk alternatif untuk pengelolaan sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi, dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional yakni dengan cara menempuh School Based Management (SBM) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;School Based Management (SBM) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi, dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan lingkungan setempat. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami kompleksitas pendidikan, membantu, serta turut mengontrol pengelolaan pendidikan. Adapun kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula diperhatikan oleh sekolah. Dengan demikian sekolah dituntut memiliki accountability (akuntabilitas) baik kepada masyarakat maupun pemerintah, karena keduanya merupakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan memperhatikan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya MBS merupakan suatu strategi pengelolaan penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang menekankan pada pengerahan dan pendayagunaan sumber internal sekolah dan lingkungannya secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas atau bermutu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;B. MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Konsep pengelolaan ini menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah didalam mengolah potensi sumber daya pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat didalam pengambilan keputusan untuk memenuhi tujuan peningkatan mutu sekolah.&lt;br /&gt;Karakter dari konsep manajemen ini antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lingkungan sekolah yang aman dan tertib&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sekolah memiliki visi dan target mutu yang ingin dicapai&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Adanya pengembangan staf sekolah yang terus-menerus sesuai tuntutan IPTEK&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus-menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu dan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Adanya komunikasi dan dukungan intensif dan orang tua murid/masyarakat&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada 14 hal untuk mencapai mutu pendidikan prima, yang termasuk dalam strategi total quality education (TQE), yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Merancang secara terus-menerus berbagai tujuan pengembangan siswa, pegawai, dan layanan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Mengadopsi filosofi baru, yang mengedepankan kualitas pembelajaran dan kualitas sekolah. Manajemen pendidikan harus mengambil prakarsa dalam gerakan peningkatan mutu ini.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Guru harus menyediakan pengalaman pembelajaran yang menghasilkan kualitas kerja. Peserta didik harus berusaha mengejar kualitas, dan menyadari jika tidak menghasilkan output yang baik, customers mereka (guru, orangtua, lapangan kerja) tidak akan menyukainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Menjalin kerja sama yang baik dengan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holders) untuk menjamin bahwa input yang diterima berkualitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Melakukan evaluasi secara kontinyu dan mencari terobosan-terobosan pengembangan sistem dan proses untuk meningkatkan mutu dan produktivitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Para guru, staf lain dan murid harus dilatih dan dilatih kembali dalam pengembangan mutu. Guru harus melatih siswa agar menjadi warga dan pekerja masa depan dengan mengembangkan kemampuan pengendalian diri, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kepemimpinan lembaga, yang mengarahkan guru, staf dan siswa mengerjakan tugas pekerjaannya dengan lebih baik. Di dalam mengelola kelas, guru hendaknya menerapkan visi kepemimpinan pada kepengawasan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Mengembangkan ketakutan, yakni semua staf harus merasa mereka dapat menemukan masalah dan cara pemecahannya, guru mengembangkan kerja sama dengan siswa untuk meningkatkan mutu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Menghilangkan penghalang kerja sama diantara staf, guru, dan murid, atau antar ketiganya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Hapus slogan, desakan atau target yang bernuansa pemaksaan dari luar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kurangi angka-angka kuota, ganti dengan penerapan kepemimpinan, karena penetapan kuota justru akan mengurangi produktivitas dan kualitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Hilangkan perintang-perintang yang dapat menghilangkan kebanggaan para guru atau siswa terhadap kecakapan kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sejalan dengan kebutuhan penguasaan materi baru, metode-metode atau teknik-teknik baru, maka harus disediakan program pendidikan atau pengembangan diri bagi setiap orang dalam lembaga sekolah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pengelolaan harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengambil bagian atau peranan dalam pencapaian kualitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam rangka ingin membantu mensosialisasikan (menyebarluaskan) konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah pada kalangan masyarakat luas, terutama pada para pendidik dan administrator pendidikan. Maka, dibawah ini akan diuraikan mengenai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia di mana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri. Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, kondisi lingkungan sekolah dan bervariasinya kebutuhan siswa dalam belajar, serta aspirasi masyarakat terhadap pendidikan seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mensosialiasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplementasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural, sosio ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografinya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlihat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam mensukseska pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan khususnya masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus-menerus) pada tataran sekolah.&lt;br /&gt;h. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun, 5 tahun dan seterusnya sehingga tercapai miksi sekolah ke depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;3. Pengertian Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan dari pada perbaikan proses pendidikan. Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang lebih ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;4. Pengertian mutu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam pengertian umum, mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya), baik berupa barang maupun jasa. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada proses pendidikan, dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya sera penciptaan suasana yang kondusif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;5. Kerangka Kerja dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sumber daya; sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pertanggungjawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggungjawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;1) Pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa.&lt;br /&gt;2) Bagaimana mengembangkan ketrampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumber daya yang ada.&lt;br /&gt;3) Pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai fenomena alamiah di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;d. Personel sekolah; sekolah bertanggungjawab dan terlibat dalam proses rekruitmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;6. Strategi Pelaksanaan di Tingkat Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penyusunan basis data dan profil sekolah yang lebih presentatif, akurat, valid, dan secara sistematis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Melakukan evaluasi diri (self assessment) untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekolah bersama-sama dengan masyarakat merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan) termasuk anggarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;7. Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Beragamnya kondisi lingkungan dan bervariasinya kebutuhan siswa di dalam proses pembelajaran ditambah lagi dengan kondisi geografi Indonesia yang sangat kompleks, seringkali tidak dapat diapresiasikan secara lengkap oleh birokrasi pusat.&lt;br /&gt;Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan sekolah.&lt;br /&gt;Untuk pengenalan dan menyamakan persepsi sekaligus untuk memperoleh masukan dalam rangka perbaikan konsep dan pelaksanaan manajemen ini, maka sosialisasi harus terus dilakukan. Kita sebagai pelaksana dari proses pengembangan sumber daya manusia menghadapi persaingan global yang semakin ketat ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-8851915621616225859?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/8851915621616225859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=8851915621616225859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/8851915621616225859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/8851915621616225859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/08/manajemen-pendidikan-di-sekolah.html' title='Manajemen pendidikan di Sekolah.'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4821057491502458676</id><published>2011-07-12T12:50:00.001+07:00</published><updated>2011-07-12T12:50:17.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen sekolah'/><title type='text'>Manajemen pendidikan di Sekolah.</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Cambria;	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oleh :&amp;nbsp; Drs. B Suryosubroto. &lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;i&gt;Dalam undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, yang diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2001, bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota (Pasal 11 ayat 2).&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sebagai dampak pasca dikeluarkan UU tersebut, terjadi pergeseran pendekatan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di Indonesia telah berimbas pada pengelolaan sistem pendidikan, yakni dari semula yang lebih bersifat sentralistik bergeser ke arah pengelolaan yang lebih bersifat desentralistik.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sebagai bentuk alternatif untuk pengelolaan sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi, dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional yakni dengan cara menempuh School Based Management (SBM) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).&lt;br /&gt;School Based Management (SBM) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi, dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan lingkungan setempat. Masyarakat dituntut partisipasinya agar mereka lebih memahami kompleksitas pendidikan, membantu, serta turut mengontrol pengelolaan pendidikan. Adapun kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula diperhatikan oleh sekolah. Dengan demikian sekolah dituntut memiliki accountability (akuntabilitas) baik kepada masyarakat maupun pemerintah, karena keduanya merupakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dengan memperhatikan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya MBS merupakan suatu strategi pengelolaan penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang menekankan pada pengerahan dan pendayagunaan sumber internal sekolah dan lingkungannya secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas atau bermutu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;B. MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Konsep pengelolaan ini menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah didalam mengolah potensi sumber daya pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat didalam pengambilan keputusan untuk memenuhi tujuan peningkatan mutu sekolah.&lt;br /&gt;Karakter dari konsep manajemen ini antara lain:&lt;br /&gt;1. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib&lt;br /&gt;2. Sekolah memiliki visi dan target mutu yang ingin dicapai&lt;br /&gt;3. Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat&lt;br /&gt;4. Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi&lt;br /&gt;5. Adanya pengembangan staf sekolah yang terus-menerus sesuai tuntutan IPTEK&lt;br /&gt;6. Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus-menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu dan&lt;br /&gt;7. Adanya komunikasi dan dukungan intensif dan orang tua murid/masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Ada 14 hal untuk mencapai mutu pendidikan prima, yang termasuk dalam strategi total quality education (TQE), yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Merancang secara terus-menerus berbagai tujuan pengembangan siswa, pegawai, dan layanan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Mengadopsi filosofi baru, yang mengedepankan kualitas pembelajaran dan kualitas sekolah. Manajemen pendidikan harus mengambil prakarsa dalam gerakan peningkatan mutu ini.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Guru harus menyediakan pengalaman pembelajaran yang menghasilkan kualitas kerja. Peserta didik harus berusaha mengejar kualitas, dan menyadari jika tidak menghasilkan output yang baik, customers mereka (guru, orangtua, lapangan kerja) tidak akan menyukainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Menjalin kerja sama yang baik dengan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holders) untuk menjamin bahwa input yang diterima berkualitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Melakukan evaluasi secara kontinyu dan mencari terobosan-terobosan pengembangan sistem dan proses untuk meningkatkan mutu dan produktivitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Para guru, staf lain dan murid harus dilatih dan dilatih kembali dalam pengembangan mutu. Guru harus melatih siswa agar menjadi warga dan pekerja masa depan dengan mengembangkan kemampuan pengendalian diri, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Kepemimpinan lembaga, yang mengarahkan guru, staf dan siswa mengerjakan tugas pekerjaannya dengan lebih baik. Di dalam mengelola kelas, guru hendaknya menerapkan visi kepemimpinan pada kepengawasan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Mengembangkan ketakutan, yakni semua staf harus merasa mereka dapat menemukan masalah dan cara pemecahannya, guru mengembangkan kerja sama dengan siswa untuk meningkatkan mutu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Menghilangkan penghalang kerja sama diantara staf, guru, dan murid, atau antar ketiganya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Hapus slogan, desakan atau target yang bernuansa pemaksaan dari luar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Kurangi angka-angka kuota, ganti dengan penerapan kepemimpinan, karena penetapan kuota justru akan mengurangi produktivitas dan kualitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Hilangkan perintang-perintang yang dapat menghilangkan kebanggaan para guru atau siswa terhadap kecakapan kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Sejalan dengan kebutuhan penguasaan materi baru, metode-metode atau teknik-teknik baru, maka harus disediakan program pendidikan atau pengembangan diri bagi setiap orang dalam lembaga sekolah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Pengelolaan harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengambil bagian atau peranan dalam pencapaian kualitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;C. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka ingin membantu mensosialisasikan (menyebarluaskan) konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah pada kalangan masyarakat luas, terutama pada para pendidik dan administrator pendidikan. Maka, dibawah ini akan diuraikan mengenai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia di mana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri. Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, kondisi lingkungan sekolah dan bervariasinya kebutuhan siswa dalam belajar, serta aspirasi masyarakat terhadap pendidikan seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan:&lt;br /&gt;a. Mensosialiasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.&lt;br /&gt;b. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplementasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural, sosio ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografinya.&lt;br /&gt;c. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;d. Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlihat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing-masing.&lt;br /&gt;e. Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;f. Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam mensukseska pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan khususnya masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan dalam proses pembangunan tersebut.&lt;br /&gt;g. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus-menerus) pada tataran sekolah.&lt;br /&gt;h. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun, 5 tahun dan seterusnya sehingga tercapai miksi sekolah ke depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;3. Pengertian Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan dari pada perbaikan proses pendidikan. Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang lebih ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;4. Pengertian mutu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam pengertian umum, mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya), baik berupa barang maupun jasa. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada proses pendidikan, dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya sera penciptaan suasana yang kondusif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;5. Kerangka Kerja dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;a. Sumber daya; sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat.&lt;br /&gt;b. Pertanggungjawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah.&lt;br /&gt;c. Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggungjawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;1) Pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa.&lt;br /&gt;2) Bagaimana mengembangkan ketrampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumber daya yang ada.&lt;br /&gt;3) Pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai fenomena alamiah di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;d. Personel sekolah; sekolah bertanggungjawab dan terlibat dalam proses rekruitmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;6. Strategi Pelaksanaan di Tingkat Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Penyusunan basis data dan profil sekolah yang lebih presentatif, akurat, valid, dan secara sistematis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Melakukan evaluasi diri (self assessment) untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Sekolah bersama-sama dengan masyarakat merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan) termasuk anggarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;7. Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Beragamnya kondisi lingkungan dan bervariasinya kebutuhan siswa di dalam proses pembelajaran ditambah lagi dengan kondisi geografi Indonesia yang sangat kompleks, seringkali tidak dapat diapresiasikan secara lengkap oleh birokrasi pusat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan sekolah.&lt;br /&gt;Untuk pengenalan dan menyamakan persepsi sekaligus untuk memperoleh masukan dalam rangka perbaikan konsep dan pelaksanaan manajemen ini, maka sosialisasi harus terus dilakukan. Kita sebagai pelaksana dari proses pengembangan sumber daya manusia menghadapi persaingan global yang semakin ketat ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-4821057491502458676?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/4821057491502458676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=4821057491502458676' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4821057491502458676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4821057491502458676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/07/manajemen-pendidikan-di-sekolah.html' title='Manajemen pendidikan di Sekolah.'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-8471911398551588171</id><published>2011-06-17T16:44:00.001+07:00</published><updated>2011-06-17T16:45:18.710+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi Tokoh'/><title type='text'>Kakek berumur 99 tahun baru lulus kuliah</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="200" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/06/16/1554017620X310.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post-header"&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr size="1" style="background-color: #d1d1e1; color: #d1d1e1;" /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mencari ilmu tidak pernah mengenal waktu. Inilah yang dilakukan Leo   Plass, pria asal Redmond, Oregon, Amerika Serikat. Ia yang berhasil   meraih gelar sarjana dari Eastern Oregon University, La Grande, pada 11   Juni lalu dalam usia 99 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Prestasi Leo Plass sekaligus meruntuhkan rekor manusia tertua, yang   berhasil meraih gelar sarjana yang disandang oleh Nola Ochs. Nola   berhasil meraih gelar sarjana dari Gubernur Kathleen Sebelius, Fort Hays   State, 77 tahun kemudian setelah dia masuk tahun pertama kuliah pada   1930. Saat meraih gelar sarjana, Nola Ochs berusia 95 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Saya cuma membutuhkan waktu 79 tahun untuk menyelesaikan kuliah," Leo   Plass berkelakar saat dinobatkan sebagai manusia tertua sejagat seusai   meraih gelar sarjana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Atas desakan kemenakan pria itu, Eastern Oregon University yang dulu   bernama Eastern Oregon Normal School memeriksa karya tulis Plass.   Berdasarkan ketentuan yang diperbarui, Plass dinyatakan memenuhi syarat   untuk meraih gelar setingkat sarjana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Leo Plass meninggalkan bangku kuliah pada tahun 1930-an. Pada 79 tahun   kemudian, Plass kembali ke kampus yang telah berubah banyak, untuk   meraih gelar sarjana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Semua telah berubah. Mereka membawa saya keliling kampus. Ya ampun,   semuanya sudah berubah," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Warga Redmond, Oregon, yang akan berusia 100 tahun pada 3 Agustus 2011   ini mengaku tidak memiliki keinginan atau rencana khusus untuk meniti   karier lain dengan gelar barunya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ia mengatakan tak menyesal karena meninggalkan perguruan tinggi untuk   bekerja. "Saya sempat kehilangan uang untuk kuliah sebesar 400 dolar AS.   Jumlah itu sangat besar. Akhirnya saya terpaksa meninggalkan bangku   kuliah," kata Plass.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Saya kemudian bekerja di sebuah pabrik mantel. Saya mendapat uang dua   kali lebih banyak. Saya terlena karena uang dan benar-benar meninggalkan   bangku kuliah satu semester sebelum lulus," tambah Plass.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jauh sebelum Nola Ochs berhasil menyabet gelar sebagai manusia peraih   gelar sarjana tertua sejagat, gelar tersebut telah diraih oleh Allan   Stewart yang berasal dari Australia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Allan yang lahir pada 7 Maret 1915 ini berhasil meraih gelar sarjana   hukum dari University of New England, New South Wales, Australia, pada   usia 91 tahun 214 hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-8471911398551588171?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/8471911398551588171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=8471911398551588171' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/8471911398551588171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/8471911398551588171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/06/kakek-berumur-99-tahun-baru-lulus.html' title='Kakek berumur 99 tahun baru lulus kuliah'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-3500015544264506022</id><published>2011-06-10T16:57:00.000+07:00</published><updated>2011-06-10T16:57:25.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Usia Dini'/><title type='text'>11 Aturan Dasar Membesarkan Anak ala Nanny Stella</title><content type='html'>&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="img" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/252848_10150213133744826_748489825_6928483_2000870_a.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Penonton setia acara Nanny 911 pasti tak asing  dengan nama Nanny  Stella. Acara ini memiliki banyak penonton karena  para nanny yang  terlibat harus membantu keluarga tersebut mencapai  kerja sama dan  mengubah kekacauan menjadi ketenangan hanya dalam waktu 7  hari.&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, Nanny Stella mengunjungi Jakarta  untuk berbagi  11 aturan dasar (11 Commandments) dalam membesarkan anak.  Aturan-aturan  ini ia buat bersama salah seorang sahabatnya, Nanny Deb,  yang juga ikut  dalam acara tersebut. Pengalamannya selama kurang lebih  15 tahun dalam  mengasuh anak, ditambah pendidikannya selama 2 tahun di  National Nursery  Education Board membuatnya percaya diri untuk  menerbitkan 11 aturan  dasar ini. Menurutnya, aturan dasar ini lintas  usia, lintas negara,  tidak situasional, tidak emosional, absolut, dan  dibuat untuk  menghindari tindakan-tindakan buruk yang bisa saja terjadi  di masa  mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah 11 aturan tersebut,  yang disampaikan Nanny Stella  dalam seminarnya di JITEC, Mangga Dua  Square, Jakarta, Sabtu (7/12/09)  lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.  Bersikap konsisten&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak artinya tidak. Ya, artinya ya.  Jika Anda ingin memberlakukan  “timeout” kepada anak Anda, lakukanlah.  Jangan berhenti atau membatalkan  hal tersebut hanya karena ada  gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Setiap tindakan punya  konsekuensi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku yang baik mendapat imbalan.  Tingkah laku buruk mendapat  hukuman. Berikan penjelasan jika memang ada  imbalan untuk sesuatu yang  baik yang ia lakukan, atau hukuman jika ia  melakukan kesalahan. Misal,  Anda sekeluarga akan berlibur ke tempat  liburan yang menyenangkan jika  anak bisa meraih angka bagus di rapor.  Atau, jika malas belajar, ia akan  tinggal kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.  Katakan seperti apa yang Anda inginkan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berpikirlah  sebelum bicara, atau rasakan akibatnya. Jika si anak pernah  melanggar  perintah Anda, maka hukumannya pun harus jelas, dan Anda harus   melakukan hukuman tersebut. Jika Anda melanggar sistem ganjaran Anda   sendiri, maka si anak akan terbiasa mengabaikan hukuman yang Anda   tetapkan untuk hal-hal lain. Bersiaplah, karena hal ini akan berujung   pada pembangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Orangtua bekerja  sama sebagai satu tim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda dan pasangan tidak  saling setuju dalam satu hal, anak Anda  tidak akan tahu siapa yang  harus ia dengarkan. Hasilnya, ia tak akan  mendengarkan siapa pun. Ini  tak hanya berlaku untuk Anda dan pasangan  saja, tetapi juga untuk semua  orang yang berada di tempat Anda  membesarkan si anak. Entah itu  pengasuh, ibu-ayah, kakek-nenek,  paman-bibi, semua yang terlibat dengan  si anak. Jangan sampai ada yang  memiliki kata-kata yang saling  bertolak belakang, karena anak bisa  bingung dan malah berakibat buruk  baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Jangan berjanji jika tak bisa  ditepati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda menjanjikan sesuatu kepada si anak,  pastikan janji tersebut  terpenuhi. Jika Anda tak pasti bisa memberikan  janji tersebut kepada  anak, lebih baik jangan dikatakan. Karena ingkar  janji bisa jadi hal  yang sangat menyakitkan untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6.  Dengarkan anak-anak Anda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akui perasaan mereka. Katakan,  “Ibu mengerti”, tapi ucapkan dengan  sungguh-sungguh, lalu luangkan  waktu untuk benar-benar mendengarkan  Anda. Karena mereka butuh orang  yang bisa dan mau mendengarkan  keluh-kesah mereka. Jika mereka  bersandar kepada orang yang salah,  hasilnya bisa menjadi hal yang tak  benar untuknya. Cobalah untuk menjadi  sahabat mereka dan dengarkan apa  yang mereka rasakan. Rasakan nikmatnya  menjadi orang terdekat yang  mengerti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Tentukan rutinitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas  membuat anak Anda merasa aman dan memberi struktur terhadap  waktu yang  mereka miliki. Namun tak selalu berarti harus mengikuti  jadwal sesuai  jam. “Rutinitas itu penting, agar anak-anak jadi tahu apa  yang akan  mereka lakukan selanjutnya. Tak perlu berdasarkan jam,  berdasarkan  rutinitas juga bisa. Dengan demikian mereka belajar  keteraturan.  Misalnya, usai bermain di sore hari, mereka mandi, makan  malam, sikat  gigi, cuci kaki, lalu tidur,” ujar Nanny Stella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8.  Rasa hormat berlaku dua arah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda tidak  menghormati anak Anda, mereka tidak akan menghormati  Anda. Hukumnya  “perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan”.  Menghormati  mereka dengan memberikan apa yang menjadi hak mereka tanpa  menunda,  juga mendengarkan apa yang mereka ingin katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9.Penguatan  positif lebih baik dari penguatan negatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sanjungan,  pujian, dan kebanggaan jauh lebih bermanfaat daripada  bersikap nyinyir,  negatif, dan mengacuhkan. Lebih baik mengucapkan  penguatan positif  kepadanya untuk menyampaikan maksud Anda, bukan  menunjuk ke suatu kata  sifat yang melabeli. Misalnya, “Mama senang  sekali melihat usaha kamu  meningkatkan nilai Matematika kamu” lebih baik  ketimbang, “Kamu pintar.  Nilai Matematika kamu sudah naik 1 angka di  rapor”. Ketika Anda  melabeli suatu titik, ia akan berhenti di sana dan  tidak berusaha untuk  berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Tingkah laku adalah hal  yang universal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku yang baik diterima oleh siapa  pun. Contohkan padanya untuk  mengucapkan “terima kasih, tolong, atau  maaf” kepada orang-orang yang  bersinggungan. Di mana pun, sopan-santun  selalu diperlukan. Ajarkan tata  krama kepadanya lewat tindakan Anda.  Anak seperti kaset kosong yang  merekam apa pun yang mereka lihat dari  orang-orang, atau apa yang ia  saksikan. Maka, berikan contoh terbaik  kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11. Definisikan peran Anda  sebagai orangtua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bukan tugas Anda untuk membuat anak  menempel pada Anda. Tugas Anda  adalah mempersiapkan anak untuk  menghadapi dunia luar, dan membiarkannya  menjadi diri sendiri. Jangan  selalu menempel dan membantunya  mengerjakan segala hal. Sesekali ia pun  harus belajar menghadapi rasa  sakit hati, rasa gagal, juga rasa tak  mampu. Ini penting agar ia bisa  mencari jalan untuk mengatasi  keterbatasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber :&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.kompas.com/" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;2706e&amp;quot;, event, bagof({}));" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.kompas.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-3500015544264506022?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/3500015544264506022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=3500015544264506022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/3500015544264506022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/3500015544264506022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/06/11-aturan-dasar-membesarkan-anak-ala.html' title='11 Aturan Dasar Membesarkan Anak ala Nanny Stella'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-352096173931465605</id><published>2011-06-10T16:54:00.000+07:00</published><updated>2011-06-10T16:54:58.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Usia Dini'/><title type='text'>Inspirasi Pendidikan anak</title><content type='html'>&amp;nbsp;oleh Dorothy Law Nolte (1924-2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi  memprihatinkan.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa  menyesal sendiri.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri  hati.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa  bersalah.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk cinta.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar seperti itu  sendiri.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk  memiliki tujuan.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman  dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.&lt;br /&gt;Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah  tempat yang bagus untuk hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-352096173931465605?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/352096173931465605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=352096173931465605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/352096173931465605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/352096173931465605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/06/inspirasi-pendidikan-anak.html' title='Inspirasi Pendidikan anak'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-45322090348329923</id><published>2011-06-07T14:26:00.001+07:00</published><updated>2011-06-07T14:26:13.982+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Pendidikan'/><title type='text'>keyakinan  pada diri sendiri?</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p	{mso-style-priority:99;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0in;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0in;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:.5in;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:.5in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:0in;	margin-left:.5in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:.5in;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:265893666;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-1059007438 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l0:level1	{mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;MUNGKIN itu salah satu yang menjadi hambatan semua orang dalam lingkungan dan pergaulannya adalah, ‘&lt;i&gt;kurang percaya diri’&lt;/i&gt;. Semua orang sebenarnya punya masalah dengan istilah yang satu ini. Ada orang yang merasa telah kehilangan rasa kepercayaan diri di hampir keseluruhan wilayah hidupnya. Mungkin terkait dengan soal krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa tak berdaya menatap sisi cerah masa depan, dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada juga orang yang merasa belum pede dengan apa yang dilakukannya atau dengan apa yang ditekuninya. Ada juga orang yang merasa kurang percaya diri ketika menghadapi situasi atau keadaan tertentu. Berdasarkan praktek hidup, kita bisa mengatakan bahwa yang terakhir itu normal dalam arti dialami oleh semua manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebenarnya apa sih yang kita maksudkan dengan istilah pede/kepercayaan diri itu? Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kalau kita gali rasa percaya diri ini bisa menghinggapi semua orang dengan berbagai hambatan psikologis yang terjadi tidak begitu saja, tapi melalui proses panjang yang salah satunya adalah pengalaman masa lalu yang traumatis, merasa memiliki kekurangan yang tidak bisa diampuninya dan penyesalan terhadap kondisi kehidupan yang sulit serta penyiksaan psikis dari orang lain sehingga menyimpan rasa bersalah dan kemarahan yang luar biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Trauma seseorang mungkin masiih menjadi hantu yang sulit dihindarikan. Perasaan rendah diri berasal dari pengalaman masa kecil. Semuanya bisa dari wujud fisik yang terkadang menghalangi niat untuk melakukan sesuatu. Rasa malu, sulitnya berkomunikasi berada pada puncaknya saat menjelang pra remaja, ada seseorang yang malu dengan keramaian sehingga cenderung menyendiri dan sulit berbicara dalam pergaulannya. Untuk mendekati dan didekati seseorang saja mesti bercucurkan keringat dingin karena merasa malu dan tidak pantas menjadi temannya. lanjut akan melahirkan penyesalan sehingga merasa hidupnya tidak berarti lagi, sehingga bisa menjadi seorang pemurung yang suka berandai yang tidak real dengan kehidupan nyata, namun sisi lain bisa jadi menjadi sesuatu yang mungkin positif untuk mengurangi kadar rasa mindernya sehingga lahirlah para penulis yang mencurahkan perasaannya melalui sebuah tulisan, atau keinginan untuk berprofesi yang &amp;nbsp;tidak berhubungan dengan public langsung atau menjadi seorang dibalik layar seperti penulis, pelukis dan profesi menyendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Tapi negatifnya, Saat berandaikan terhadap sesuatu, saat itupun meragu dan gelisah, termasuk sebuah cita-cita yang sangat sulit diungkapkan, walaupun disekolah sering ditanya, “&lt;i&gt;mau jadi apa nanti, nak?”,&lt;/i&gt; bahkan untuk menjawabnya membutuhkan waktu yang sangat lama. Dis-orientasi telah menghinggapi semua orang yang punya masalah dengan rasa percaya dirinya. Akibat &amp;nbsp;nyata mereka tidak terlalu banyak teman dan sangat hati-hati dengan pertemanan dan introvert terhadap lingkungan sekitarnya dan terus akan membelenggu seumur hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ada yang mengingatkan terhadap sifat rendah diri ini akan sulit untuk mengembangkan potensi dan solusinya harus dipaksakan berani merubah diri. Namun bicara mudah tapi secara praktik sulit untuk melakukannya. kendala rendah diri selain kondisi internal seseorang, bisa jadi dari kondisi keluarga. Kurang bertafakur dan bersyukur terhadap nikmat Allah itulah yang menyebabkan lahirnya kurang percaya diri, termasuk perlakuan kurang baik dimasa kecil termemori dengan baik akan semua keburukan-keburukan yang terbawa sampai usia dewasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Nilai materi selalu menjadi standar hidup seseorang dalam berteman, punya kendaraan akan s elau ditanyakan, rumah dan kehidupan luas seperti jumlah tanah dan rumah selalu menjadi topic utama yang lajim..bagi seorang yang lemah secara mental bisa mengurangi rasa pencaya diri . bisa juga rasa rendah diri juga berasal dari konflik keluarga yang luar biasa berbekas, persaudaraan dinilai dengan pamrih, persahabatan dianalogikan dengan balas jasa menjadi standar sebuah hubungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Selain &amp;nbsp;ketidakpastian hidup dengan masa depan juga menjadi pemicu rasa tidak percaya diri, apa yang tidak diketahui? Kenapa yang lain mendapatkannya dengan mudah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Darimana kita harus memulai?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kuncinya adalah cita-cita dan pengetahuan tentang potensi diri kita, lalu berubahlah!. Bergaulah dengan&amp;nbsp; lingkungan dan keluarlah dari kamar impian dan dunia hayalan yang penuh ilusi hidup yang menipu berubah dengan hayalan produktif yang bermanfaat bagi orang lain. Lalu memulai sesuatu yang memberikan sesuatu rasa harga diri dan bisa meningkatkan keyakinan sendiri. Buatlah kita dipercayai oleh lingkungan (keluarga, sahabat, tempat kerja,dll) kalau kita bisa berubah, kemudian tingkatkan semangat hidupmu dan cari jalan hidup yang diinginkan, untuk sementara waktu pasti akan berubah-rubah dan jangan menunda sesuatu yang telah diyakini bisa anda lakukan. Jangan sampai orang yang sedang merenungi diri sendiri tidak mengetahui dan tak merasa memiliki dirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada kata-kata sederhana, “&lt;i&gt;Tetap berada dipantai dan tidak membawa anda kemana-mana&lt;/i&gt;”, maksudnya hanya diam tak bergerak, &amp;nbsp;tidak akan mendapatkan apa-apa.artinya jadilah seorang yang bergerak minoritas tanpa bantuan dan ketergantungan pada orang lain. Biasanya orang yang belum bergerak belum merasakan kegagalan, kegagalan itu justru hanya dimiliki oleh orang yang mengandaikans esautu yang tidak bisa diprkatikan dalam hidupnya. Mereka memanjakan kelakuannya untuk menghancurkan semangat hidupnya. Tinggalkan pantai dan rasa ketergantungan yang tak membuatnya dewasa dan tidak akan memahami siapa dirinya? tak dapat dipungkiri kita semua pasti pernah mengalami rasa tak percaya diri sesekali waktu. Adakalanya agak sulit untuk &lt;a href="http://blog.isdaryanto.com/menumbuhkan-rasa-percaya-diri"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;menumbuhkan rasa percaya diri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; itu kembali pada saat kita sedang membutuhkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebenarnya ada latihan sederhana yang dapat dipraktekkan untuk mendapatkan rasa percaya diri Anda agar kembali ke jalurnya secepat mungkin saat dibutuhkan. Berikut ini beberapah cara membangun rasa percaya diri anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;1. Perhatikan Postur Tubuh&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mungkin kedengarannya ini tak memiliki hubungan dengan rasa percaya diri yang kita bicarakan ini, tetapi sebenarnya bagaimana sikap duduk atau berdiri Anda, mengirimkan pesan tertentu pada orang-orang yang ada di sekekliling Anda. Jika pesan tersebut memancarkan rasa percaya diri, Anda akan mendapatkan tanggapan positif dari orang lain dan tentu saja ini akan memperbesar rasa percaya diri Anda sendiri. Jadi mulai perhatikan sikap duduk dan berdiri untuk menunjukan Anda memiliki rasa percaya diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;2. Bergaulah Dengan Orang-Orang Yang Memiliki Rasa Percaya Diri Dan Berpikiran Positif&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lingkungan membawa pengaruh besar pada seseorang. Jika Anda terus menerus berbaur dengan orang yang memiliki rasa rendah diri, pengeluh dan pesimis, seberapa besarpun percaya diri yang Anda miliki, perlahan tapi pasti akan pudar dan terseret mengikuti lingkungan Anda. Sebaliknya, jika Anda dikelilingi orang-orang yang penuh kebahagiaan dan percaya diri, makan akan tercipta pula atmosfir positif yang membawa keuntungan bagi diri Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;3. Ingat Kembali Saat Anda Merasa Percaya Diri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Percaya diri adalah sebuah perasaan, dan jika Anda pernah merasakannya sekali, tak mustahil untuk merasakannya lagi. Mengingat kembali pada saat dimana Anda merasa percaya diri dan terkontrol akan membuat Anda mengalami lagi perasaan itu dan membantu meletakan kerangka rasa percaya diri itu dalam pikiran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;4. Sering Latihan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kapanpun Anda ingin merasakan rasa percaya diri, kuncinya adalah latihan sesering mungkin. Bahkan Anda dapat membawanya dalam tidur. Dengan kemampuan yang terlatih, Anda tak akan kesulitan menampilkan rasa percaya diri kapanpun itu dibutuhkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;5. Kenali Diri Anda Sendiri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pikirkan segala hal tentang apa yang Anda sukai berkenaan dengan diri sendiri dan segala yang Anda tahu dapat Anda lakukan dengan baik. Jika Anda kesulitan melakukan ini, ingat tentang pujian yang Anda peroleh dari orang-orang – Apa yang mereka katakan – Anda melakukannya dengan baik? Sebuah gagasan bagus untuk menuliskan semua ini, hingga Anda bisa melihatnya lagi untuk mengibarkan rasa percaya diri kapanpun Anda membutuhkan inspirasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;6. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jangan terlalu mengkritik diri sendiri, jadilah sahabat terbaik bagi diri Anda. Namun, saat seorang teman sedang melalui masa sulit, Anda tak akan mau terlibat dalam masalahnya hingga menguras emosi Anda sendiri kan? Tentu saja Anda tak mau. Pebicaraan yang positif dapat berubah jadi senjata terbaik untuk menaikan rasa percaya diri, jadi pastikan Anda menanam kebiasaan ini, jangan biarkan permasalahan orang lain membuat Anda jadi terpuruk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;7. Jangan Takut Mengambil Resiko&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jika Anda seorang pengambil resiko, Anda pasti akan temukan kalau tindakan ini mampu membuahkan rasa percaya diri. Tak ada yang lebih bermanfaat dalam menumbuhkan rasa percaya diri layaknya mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman. Selain itu, tindakan ini juga berfungsi bagus untuk mengurangi rasa takut Anda akan ha-hal yang tak Anda ketahui, plus bisa dari pembangkit rasa percaya diri yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lebih dari segalanya, selalu ingatlah bahwa Anda memiliki bakat dan kemampuan. Pastikan Anda selalu melakukan yang terbaik untuk semua itu dan inilah yang akan jadi batu loncatan terbaik untuk &lt;a href="http://blog.isdaryanto.com/menumbuhkan-rasa-percaya-diri"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;menumbuhkan rasa percaya diri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; anda.***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kemasan pribadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kemasan yang perlu diperbaiki pertama adalah harus menghilangkan mental menyendiri merubah dengan mental keberanian bertemu manusia dimanapun, kemudian tingkatkan insiatif dengan cara berorganisasi, lalu tinggalkan tempat anda dengan pergi jauh keluar dan membuka lembaran baru dengan sahabat baru. Seiring dengan usia, ada solusi cepat lain, “menikahlah dan anda akan cepat dewasa?” memang terlalu revolusioner, tapi itu bsia meningkatkan mental percaya diri anda. Sekali lagi jangan ragu dan takut akan keputusan yang telah anda buat untuk melakukan sesuatu. Ras ragu menumbuhkan ketidak pastian akan pikiran sendiri, penilaian dan kemmapuan untuk bereaksi dengan wajar. Keraguan juga timbul karena ingin diakui orang lain, sehingga kita menjauhi resiko dan masalah yang mungkin terjadi. Karena takut salah emlangkah, takut gagal dan takut dikecilkan orang lain. Keraguan juga akan timbul karena kita tidak tahu akibat yang terjadi, keuntungan atau kerugian. Dikatakan bila kita terpuruk dalam rasa ragu yang besar harus bsia diatasi sendrii..ya diri sendirisolusi keraguan adlah mengubah seluruh pola, prilaku untuk kemudian bertanggungjawab atas hidups endiri. Pandanglah lurus-lurus mata kita pada pantulan baying-bayang diri sendiri, lau putuskan :”andalah yang bertanggungjawab atas hidups sendiri bukan orang tua, saudara,orang lain atas baik-buruuknya. Dengan segala kesalahan, kegagalan, kelebihan dan ekkuarang dan isilah hidup ini. Kegagalan membuktikan betapa cerdasnya kita untuk mengambil resiko mewujudkan keinginan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Jadi keraguan itu? Dengan keraguan dan hargailah. Rasa ragu dapat membantu menunjukan dimana anda membutuhkan perbaikan diri dan aksi. Lalu analisa, apa ini keraguan dan ebrasal darimanakah? Apa wajar merasa takut?menhgadapi sitausi itu atau anda memang sungguh terancam secara emosi/fisik. Jujurlah apa penyebab ketakutan tersebut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Putuskan apa sebenarnya yang diinginkan? Cari terus keinginan hidup anda. Ambilah resiko seburuk apapun, keinginan maju terus, tahu persis keinginan sangat mempengaruhi energy dan konsentrasi. Tangguhkan penilian langsung atas jawaban, saat belum mampu beraksi.kesadaran&amp;nbsp; akan kemampuan anda telah membuat keputsuan yang dewasa. Pilihlah apa telah mengambil langkah-langkah tertentu atas tidak. Apapun keputsuannya yakin telah mengmbil jalan terbaik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Badalah buku-buku, kunjungi perpustakaan, ikutlah berkumpul dan berorganisasi sekeicil apapun. Beraksilah jika ingin bergerak maju, jangan menudna-nunda smapai anda mendapatkan informasi. Pengertian atau ekmampun sempurnaanda tak akan pernah berani memulai. Jadi kumpulkan ekyakinan dan dan sadari, wlau keputsuan itu salah dan tak sesuai dengan keingnan, paling tidak anda telah menjalni hidup seprti keinginan sendiri. Dan telah menjadi diri sendiri dan eblajar dalam proses hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Atau langkahs endiri : lihatlah diri sendiri dalams ebuah cermin besar,s ebutkan nama sendiri dan keinginan atas haparan hidup. Katakana pada orang yang bayangannya anda lihat dihadapan anda, bahwa anda cukuo saying padanya untuk berani mengambil resiko dan berjanji emncoba segalanya untuk mencapai apadiinginkan. Bulatkan ekyakinan untuk menjalani hidups eperti yang anda inginkan. Ingtkan diri anda bahwa tiap hari anda melihat bayangan anda dikaca dan akan memandang matanya lurus-lurus. Peganglah janji pada diri anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Percaya diri bisa ditingkatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kepercayaan diri berhubungan dengan reaksi dengan orang lain. Keadaan pikiran tanpa benar mengambarkan realitasnya. Perasaan dinomor satukan tanpa rasionalitas, hanya cemoohan atau bukti dari ketidakpahaman lingkungan akan maslah kita. Rasa percaya diri kaitannya dengan kepribadian kita bukan penampilan pisik kita. Sikap dan cara pandang dirilah yang menjadi penyebab utama memadai atau tdiaknya kepercayaan diri kita. Bertidnak fairlah terhdap diri sendiri. Lihatlah eklebihan anda.iklankan diri anda sebagai citra diri yang positif pada lingkungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Jangan pikikan diri anda sendiri, jangan menyatakan, “apa yang akan terjadi kalau…?” percayalah orang lain sibuk dengan ursuan amsing-masing. Mungkin sama memikirkan keadaannya seperti anda. Jangnlah terlalu banyak berfikir/cemas akan konsistensi dai tindakan sendiri dan mengurung diri sendiri bahwa kita tak bsia berbuat apa-apa dan cukup berharga untuk dapat memperoleh apa-apa dari idup. Maka anda kenali, dimana hal ini bisa muncul dan apa saja gejalanya.lalu situasi apa yang terasa paling menyulitkan? Lalu orang seeprti apa yang membuat saya merasa kurang percaya diri? Sitausi apa yang paling ingin dapat saya kuasai dan dalam kenyataannya sitasi seperti apa yang paling saya kuasai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Aplikasi dari teori diatas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Komitmen sebenarnya yang sulit. Dimana tersirat kesungguhan, kediaan untuk mengulang terus dan tujuan satu arah perbaikan rasa percaya diri? Awalnya carilah sesuatu yang benar-benar anda kuasai sekaligus dikuasai. Contoh, anda suka melukis. Tingkatkan hobi melukis anda dengan benar. Melukislah dan ambillah waktu untuk melukiskan semua yang anda inginkan, walauun hasil luksiannya menurt anda jelek. Membaca buku tentang teknik melukis, belilah dan jadi kolektor buku atau berkunjunglah seminggu sekali ke perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Soal pekerjaan tak kunjung dapat. Cobalah memeprbaiki bungkusnya, sampul surat, bentuk resume, bentuk surat lamaran. Kemudian sisi lain untuk mendapatkan sahabat, masuklah organisasi dan aktiflah emnjalin hubungan dengan siapapun tanpa punya maksud apapun sekedar pertemanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Penampilan mungkin perlu anda perbaiki. Lihat rambut anda sudah jelas mdoe dan ssirannya, bagaimana sorot mata anda masih loyo, bentuk frame kaca mata anda? (anda lihat orang sukses berpenampilan. Lalu setinggi apa anda menguasai sesuatu (misalnya ekmampuan bahasa inggersi anda berada level mana?) kemdian cari nilai lebih anda, msilanya rencana bisnis yang ingin anda lakukan. Berapa ekmeja yang ingin anda miliki, licnkalnah sepatu anda..hal lain, kesehatan anda, biasakan olah raga seeprtu futsal, bangun subuhd an hirup udara pagi dlaam-dlaam, minumlah air putih dan tidurlah teratur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Jadi kenali diri anda sendiri, apa eklebihan dan kekurangan sendiri, lalu berdamailah dengan diri sendiri, tak ada manusia yang sempurna, buatlah tidnakan positif, lakukan sesautu dan jangan ditunda..kenali ekmajuan anda berikutnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Hal-hal yang membuat anda menyukai diri sendiri? Mungkin agak bingung apa yang paling kita sukai dari diri anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Apa yang anda sukai dari penampilan anda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Apa yang anda raih sebelumnya dan ingn diraih saat ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Apa yang anda benci terhadap diri anda sendiri?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Apa yang anda paling benci dari penampilan anda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Apa yang anda harapkan dapat atau sudah tercapai?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari pertanyaan diatas anda bisa memulai, sekali lagi tidak ada yang sempurna dan semua bsia diperbaiki dan semua bsia merubahnya. Walalhu alam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-45322090348329923?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/45322090348329923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=45322090348329923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/45322090348329923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/45322090348329923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/06/keyakinan-pada-diri-sendiri.html' title='keyakinan  pada diri sendiri?'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5050745298062427259</id><published>2011-06-07T14:19:00.001+07:00</published><updated>2011-06-07T14:19:29.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analiisa Pendidikan'/><title type='text'>Universitas symbol ilmu atau pencari kebenaran?</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Istilah yang mungkin paling dikenal didunia pendidikan tinggi. Dosen posisi professional bagi seorang pendidik sedangkan universitas sendiri ternyata berasal dari bahasa latin klasik berarti “&lt;i&gt;suatu paguyuban”&lt;/i&gt;. Baru pada abad ke 14 istilah ini diberlakukan untuk “&lt;i&gt;suatu paguyuban pengajar dan pelajar yang secara resmi diakui hukum”&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada awalnya konon universitas terbentuk untuk untuk melindungi pengajar dan pelajar dari gangguan anggota masyarakat yang lain (perampok, mereka yang tidak tahu gunanya menghabiskan waktu dengan belajar, penjaga milik tuan tanah dan lainnya) yang sebelumnya entitas universitas ini disebut &lt;i&gt;stadium generale&lt;/i&gt; sehingga &amp;nbsp;seorang selesai dari universitas, akan mendapat kan‘&lt;i&gt;facultas docendi’&lt;/i&gt; (ijin untuk menjadi pengajar) sehingga tempat mereka belajar disebut &lt;i&gt;fakultas&lt;/i&gt; dan penyampai kelimuan biasa dinamakan &lt;i&gt;dosen.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tapi katanya universitas ini symbol ilmu. Dimana dipadukan seluruh antara ilmuawan dan ilmu pengetahuan yang kalau didata sangat banyak jumlahnya. Sehingga tidak terpecah dengan beragam ilmu sehingga lahirlah spesifikasi ilmu sesuai dengan kapasitas dan minat ilmiah terhadap pengetahuan yang dikandungnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk kehidupan sekarang ini jarang ada seseorang dosen atau tenaga pengajar yang punya talenta menguasai berbagai ragam penegtahuan dengan sempurna sebagaimana para filosof yang memahami berbagai amcam corak ilmu. Alasannya kuat dengan beragam spesfikasi ilmu melahirkan adanya kualifikasi semakin menyempit karena tidak bisa semua orang mengambil jurusan beragam dalam waktu bersama dengan criteria keilmuan yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekali lagi universitas adalah kumpulan pembelajar yang memiliki keinginan untuk mengintegralkan pengetahuan didasari oleh kejujuran ilmiah. Idealnya kuliah adalah mencari ilmu bukan menjadikan kuliah sebagai media loncatan keilmuan. Asal lulus saja sudah cukup ditambah bisa mendapatkan pekerjaan baik selaras dengan kebutuhan ekonomi. Bisa juga iuniversitas bukan lembaga pendidikan utuh tapi hanya media menyiapkan karier seseorang untuk memenuhi keinginan bisnis semata dengan pasokan SDM siap pakai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Sementara nilai kehidupan dan makna hidup hampir tidak menjadi porsi utama saat kita di universitas. Artinya urusan moral adalah personal yang penting kompeten dan professional dalam pekerjaan. Terkadang juga universitas hanya &lt;i&gt;salesman&lt;/i&gt; gelar sesuai dengan nilai eksistensi personal di masyarakat, sehingga gelar menjadi tuhan kedua yang harus didapatkan dengan berbagai cara. Artinya universitas hanya memasok masyarakat yang lapar komoditi bukan untuk mengembangkan ilmu. Bahkan tidak sedikit pendirian universitas hanya untuk memenuhi keinginan industry akan pasokan para pekerja sehingga banyak universitas yang dikendalikan keberadaanya oleh industry yang secara manual hanya untuk keuntungan duniawi semata untuk menciptakan link and match. Sisi lain secara global imlikasi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;dalam proses pendidikan adalah learning without boundaries (konsep belajar tanpa batas dengan system terbuka) yang sudah menyesuaikan diri dengan ekmajuan teknologi pemeblajaran sehingga ada anggapan proses pemeblajaran yang dikemukan oleh Paulo Feire tentang the banking system tidak reelvan lagi dengan ditempatkannya teknologi dalam proses pembelajaran karena era cyber learning bisa mendominasi untuk menjdikan universitas tanpa sekat dan tanpa ruang kelas sehingga para pemeblajar yang telah menguasai cara kemandirian belajar akan menemukan sebuah kebenaran sehingga antara universitas dengan monopoli industry terhadap pendidikan bisa lebih sempit, mereka belajar untuk mengembangkan keilmuannya sehingga bisa melahirkan dunia kerja tersendiri sesuai dengan spesifikasi ilmu yang diperoleh saat di universitas. Penegloaan symbol pendidikan hanya media untuk mendukung para pemebljar untuk lebih menekankan pengembangkan keilmuan sehingga bukans ekedar asal lulus tanpa mengetahui persiapan untuk setelah lulus, bukan sekedar pencari kerja tapi mengembangkan sebuah pekerjaan personal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tapi tidak menapikan kalau membutuhkan pendanaan yang memadai untuk membiayai pengembangan symbol pendidikan dan merubah menjadi pengembangan kelimuan yang melahirakan kesadaran untuk berpikir dan bduaya malu untuk mengambil mentah-mentah hasil karya orang lain tanpa mengembangkan keilmuan dan &amp;nbsp;semuanya kembali pada mental bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sehingga terhadi paradigma yang melihat posisi dosen, ilmuwan dan ilmu bukan faktor yang paling menentukan sehingga universitas hanya sekedar menjadi komoditi kemajuan ekonomi semata. Rasa haus akan kesejahteraan mengalahkan kelaparan akan sebuah makna kebenaran. Sehingga universitas mencari kebenaran yang bisa dikompromikan dengan pasar ekonomi. Sehingga kesibukan ilmiah sebuah universitas terpaku pada program ekonomis sebagai pola marketability. Sehingga mereka selalu emngungakpkan mendirikan universitas yang selaras dengan kebutuhan masyarakat atau menyusun kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dunia industri artinya pendidkan berubah menjadi objek bisnis dengan dalih profesionalime manajemen dan universitas berubah menjadi pasar ilmu, tapi karena ilmunya mengambang sehingga universitas hanya sekedar sales dari symbol keilmuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Maka mahasiswa yang jenius dapat menyeelsaikan kuliahnya demngan cara membereskan symbol-simbol keilmuan itu. Symbol itu seperti : adminsitrasi kuliah, kartu hasil studi, kartu rencana studi, skripsi, ujian siding, ijazah dan gelar akademis. Tidak jarang suatu universitas dikondisikan untuk mempokuskan diri pada peneylesain symbol diatas. Apabila ada akreditas universitas, yang diverifikasi adalah symbol-simbol seperti apakah punya tanah dan bangunan sendiri, apakah ada perpustakaan, apakah mempunyai jumlah dosen dengan kualiats minimal S-2 untuk memenuhi itu semua membutuhkan uang pangkal dari mahasiswa untuk membiayai symbol tersebut. Sehingga tujuan pendidikan hayanya mencari mahaisswa sebanyak mungkin untuk membiayai symbol keilmuan. Sehingga kalau ada plagiat tesis, skripsi mahasiswa, bahkan mungkin terdengar sangat memilukan menteri pertahan As memplagiat tesis doktoralnya dan itu ada dinegara adidaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Tentu saja harus kembali pada tujuan dan makna dari universitas itu sendiri sebagai paguyuban yang melindungai amsyaraka pembelajar dan ilmuawan untuk mencari nilai kebenaran sehingga unsure kejujuran menempati posisi yang sangat tinggi. Menjadi komunitas pembelajar tidak sekedar mengejar ipk dan sekedar lulus dengan gelar tapi linglung mau kemana setela lulus dan sedikitpun lupa dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_plchdr.htm" rel="plchdr" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader	{mso-style-priority:99;	mso-style-link:"Header Char";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	tab-stops:center 3.25in right 6.5in;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter	{mso-style-priority:99;	mso-style-link:"Footer Char";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	tab-stops:center 3.25in right 6.5in;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}span.HeaderChar	{mso-style-name:"Header Char";	mso-style-priority:99;	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:Header;}span.FooterChar	{mso-style-name:"Footer Char";	mso-style-priority:99;	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:Footer;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;ilmu dengan spesifikasi ilmiahnya, lupa dengan skripsi yang dengan susah payah disusunnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Artinya muara universitas adalah tersedianya orang yang bisa berpikir dan mengembankan pikiran. Kalau berpikir dan berilmu adalah tolak ukur tamatan universitas dan buka apakah ia memiliki symbol ilmu saja, akan menyusutlah jumlah orang yang menjiplak skripsi dan tesis. Jadi universitas didirikan untuk mengembakan ilmu bukan untuk mengembanKan symbol ilmu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5050745298062427259?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5050745298062427259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5050745298062427259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5050745298062427259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5050745298062427259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/06/universitas-symbol-ilmu-atau-pencari.html' title='Universitas symbol ilmu atau pencari kebenaran?'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4919940926021079079</id><published>2011-05-20T15:37:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T15:37:15.329+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Usia Dini'/><title type='text'>Jagoan-jagoan yang Berbahaya</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ucNlJG67v88/TdYnrBGoGZI/AAAAAAAAA-g/nDV1-GtlSTc/s1600/66794_anak_menonton_tv.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-ucNlJG67v88/TdYnrBGoGZI/AAAAAAAAA-g/nDV1-GtlSTc/s200/66794_anak_menonton_tv.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-5695052496834099638" style="text-align: justify;"&gt; Sederet bukti bahayanya menyerahkan pengasuhan anak kepada televisi. Pemecahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah  4 tahun bernama Ferhat Altinbas itu bergegas menuju balkon  apartemennya. Televisi yang saban hari menemaninya masih menyala,  ditinggal begitu saja. Dalam benak terbayang, sebentar lagi akan jadi  monster hebat seperti Pikachu yang bisa melayang. Begitu sampai di bibir  balkon, tanpa ba..bi..bu.. bocah lelaki ini melompat. Hiyaaaatt!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya?  Bukan monster yang hebat, tapi Ferhat masuk rumah sakit di Mersin,  Turki Selatan. Kakinya patah, beberapa bagian tubuhnya luka cukup parah.  Ketika ditanya dokter perihal perbuatannya yang nekad itu, si kecil  Ferhat menjawab enteng, "Saya Pokemon, dan saya melayang seperti dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa  yang dilansir harian Radikal Daily Turki edisi 30 Oktober 2000 itu  hanyalah salah satu contoh, betapa besar pengaruh tayangan televisi  terhadap anak-anak. Ferhat ingin seperti Pikachu, tokoh serial Pokemon  (Pocket Monster), idolanya. Pikachu adalah monster kucing imut-imut  berwarna kuning yang sakti dan selalu menang dalam pertarungan.  "Anak-anak memang banyak meniru tokoh yang dianggapnya sebagai panutan,  baik itu orang tua, guru, ustadz, atau tokoh film yang disenanginya,"  ujar psikolog Elzim Kosyiyati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya, kalau tokoh yang  dicontoh adalah figur yang baik, niscaya anak-anak akan berlaku baik  pula. Begitu pula sebaliknya. Nah, kalau idolanya adalah Pikachu atau  Tinky-Winky, perilaku tokoh itulah yang terekam di benak anak-anak. Dan  tokoh-tokoh semacam inilah yang sekarang banyak diidolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Kekerasan dan Syirik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  mata anak-anak, tokoh-tokoh dalam Pokemon sama tenarnya dengan  Teletubbies. Tayangan animasi dari Jepang ini mulai populer di Indonesia  akhir 1990-an, ditandai dengan munculnya barang-barang memakai bentuk  Pikachu. Tas punggung, peralatan tulis, sapu tangan, lampu meja, sampai  ikat rambut menggunakan tokoh Pikachu. Tak lama kemudian Pokemon  menjamur dalam bentuk VCD, dan akhirnya tersaji dalam siaran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  negeri asalnya, film ini sempat memicu protes keras. Sebabnya, sebanyak  1523 anak di berbagai kota di Jepang dilaporkan telah terserang  mual-mual, muntah, pusing, dan matanya perih akibat nonton Pokemon  episode Computer Warrior Porigon (1997). Sebanyak 650 anak di antaranya  harus masuk rumah sakit. Menurut analisis medis, itu terjadi akibat  pancaran sinar merah menyilaukan selama 650 kali selama 5 detik dari  mata tokoh Pikachu. Sinar itu menyebabkan gangguan syaraf dan ritme  otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Inggris juga menimbulkan kontroversi. Dua orang anak  berusia 11 tahun tega menodong anak usia 8 tahun demi mendapatkan kartu  Pokemon. Persatuan Nasional Guru Inggris menilai tontonan ini menjadi  penyulut kekerasan pada anak-anak (Reuters, 4/2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan dalam  film karangan Satoshi Tajiri ini memang didominasi kekerasan, tema yang  tidak sehat bagi perkembangan jiwa anak. "Dalam psikologi pendidikan,  tayangan semacam itu dapat merusak citra diri anak yang pada fitrahnya  tidak menyukai kekerasan, tapi mendambakan kasih sayang," ujar Elzim  Kosyiyati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara  terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi  terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana  sifat jahat dari anak semakin meningkat. Kedua, dampak korban di mana  anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga,  dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap  kesulitan orang lain. Keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya  keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi  setiap persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, hal tersebut memang  terbukti. Sebuah penelitian yang dilakukan Leonard Eron dan Rowell  Huesman menyebutkan, tontonan kekerasan yang dinikmati pada usia 8 tahun  akan mendorong tindak kriminalitas pada usia 30 tahun (Kompas, 5/2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan  penelitian yang dilakukan Yale Family Television menyebutkan anak-anak  yang menyaksikan program fantasi kekerasan cenderung kurang kooperatif,  kurang baik dalam bergaul, kurang gembira, kurang imajinatif, serta  angka IQ-nya rendah. Pecandu televisi juga pada umumnya sering gelisah  dan memperlihatkan masalah di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran kekerasan tak hanya  disosialisasikan Pokemon. Lainnya masih banyak, di antaranya yang  ditayangkan RCTI seperti P-Man, Kobo Chan, dan Panji Millenium, juga  SCTV seperti Samurai X, Kungfu Kids. Di TPI ada Tazmanian Devil dan  Power Rangers in Space, Indosiar menyajikan Power Rangers Turbo,  Ultraman, Dragon Ball, Ninja Hattori, dan sebagainya. Termasuk tontonan  untuk orang dewasa yang akrab dengan anak-anak seperti Smackdown.  Masing-masing mempunyai tokoh utama, dan masing-masing mempunyai  penggemar fanatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, Smack Down!", kata Zulfikri (5 th) pada  adiknya, Amar. Kontan saja sang adik terjungkal dengan kepala menyentuh  lantai. Amar yang masih berumur 2,5 tahun itu dibanting dengan gaya  menirukan acara Smack Down. Tentu saja sang adik berteriak menangis.  Menurut ibunya, Siti Aminah (32), Zulfi sudah ketiga kalinya ini  membanting sang adik menirukan pertarungan bohong-bohongan yang sering  diputar RCTI tersebut. "Ini sudah ketiga kali lho, kalau diulangi lagi  saya hukum kamu," kata sang ibu menasehati Zulfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sang  ibu, Zulfi kerap menonton acara gulat tersebut di TV tetangga pada hari  minggu. "Padahal saya juga nggak punya TV", kata ibunya. Sejak ketiga  kali kasus membanting sang adik, Zulfi memang sudah jarang mengulangi  'smack down' pada Amar. Tapi diam-diam, masih sering mempraktekkannya  dengan teman sebayanya bila datang bermain ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  lebih berbahaya, tontonan kekerasan kebanyakan bersinergi dengan ajaran  syirik dan klenik. Di mata da'i Khairu Ummah Ustadz Ihsan Tandjung,  figur-figur Pokemon layaknya representasi dunia jin yang mempengaruhi  anak kita. "Fenomena semacam itu adalah perbuatan syirik, dosa besar  mempersekutukan Allah Swt yang tak terampuni," ujar mubaligh yang kerap  muncul di layar kaca ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan menunjuk beberapa slogan yang  kuasa membuat anak 'menuhankan'. Misalnya 'Selamat datang di dunia  Pokemon, dunia khusus di mana orang seperti Anda dapat dilatih menjadi  Master Pokemon nomor wahid di dunia.' Atau, 'Bawalah Pokemonmu dalam  saku dan kau siap untuk apa saja. Kau punya kekuatan dalam genggamanmu,  gunakanlah!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran bila Komite Tertinggi Riset Ilmiah dan  Hukum Islam Arab Saudi mengeluarkan fatwa haram, Maret lalu. Alasannya,  Pokemon telah berubah menjadi 'tuhan' yang membuat anak-anak lupa  mengerjakan shalat. Selain itu juga mensosialisasikan Teori Evolusi  Darwin, mengusung gambar bintang Daud segi lima yang menjadi simbol  zionisme, dan mendorong perjudian. Fatwa haram ini akhirnya juga berlaku  di semua negeri Timur Tengah. "Semua produknya, baik VCD maupun  asesorisnya, dimusnahkan dan dibakar ramai-ramai," ujar Burhanudin  Malik, warga Bogor yang kini tinggal di Kuwait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Turki  juga melarang penayangan film animasi yang pernah memakan korban ini.  Begitu pula Amerika Serikat, Inggris, dan Slovakia. Sebuah gereja  Kristen di Meksiko bahkan menyebut permainan Pokemon sebagai iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  negeri yang bernama Indonesia, justru sedang berkibar-kibar. "Saat ini  Pokemon dan Doraemon paling laris," tutur Hadi, karyawan Gramedia  Matraman, Jakarta. Di toko ini, buku dan komik terjemahan dari Jepang  yang didominasi kekerasan dan syirik rata-rata terjual 1.250 buku per  hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dan sinetron berbau klenik juga eksis di televisi.  Misalnya Doraemon, Magic Girls, Mak Lampir, Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan  Jun, Bidadari, dan banyak lagi. "Tayangan yang penuh takhyul dan  khurafat leluasa masuk ke dalam pikiran anak-anak kita," ujar Ihsan  Tanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zina dan Durhaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang tontonan untuk  anak, tentu tak lengkap tanpa menyinggung Crayon Shinchan. Film animasi  yang diputar RCTI ini begitu dikenal anak-anak. Ratingnya cukup tinggi,  yakni 9 hingga 11. Artinya, ditonton sembilan hingga sebelas persen  dari setiap 100 penonton. Namun seperti halnya tayangan lain, efek  negatiflah yang lebih mengemuka. "Film itu jorok, tak bagus ditonton  anak-anak," ujar Slamet, warga Cibubur yang juga ayah 2 anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau  tahu contohnya? Dalam versi komik volume 1, digambarkan orang tua  Shinchan sedang (maaf) menyalurkan hubungan biologis tanpa mengunci  pintu kamar. Shinchan yang terbangun mau buang air kecil, tanpa sengaja  masuk ke kamar orang tuanya dan melihat adegan itu. "Main gulat  diam-diam saja, saya juga mau," kata anak yang konon berusia 5 tahun  ini. "Iya, ini main gulat," sang ibu terpaksa membohongi anaknya demi  menghindari malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shinchan juga sering berkomentar seputar  pantat, dada, dan bahkan kemaluan (diri dan orang lain). Hal-hal semacam  itu tersaji sebab sebenarnya Crayon Shinchan memang untuk konsumsi  orang dewasa. Pertama kali film animasi karangan Yoshita Usui ini  dipublikasikan dalam Shukan Manga Action (Agustus 1992), majalah komik  untuk orang dewasa. Namun karena berupa kartun, anak-anak pun akhirnya  suka. Orang tua terkecoh. Kenapa? Menurut pengamatan psikolog Seto  Mulyadi, orang tua sering keliru menganggap bahwa film kartun hanya  untuk konsumsi anak-anak. "Padahal tidak selalu demikian," ujarnya  seperti dikutip sebuah mingguan ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tontonan televisi untuk  orang dewasa namun ditayangkan pada jam anak-anak, cukup banyak.  Tayangan ini didominasi oleh sinetron dan telenovela. Karena tersaji di  depan mata, anak-anak pun begitu lahap mengkonsumsinya. Tahun lalu  Kompas pernah melakukan survei tentang hal ini. Hasilnya, 77% anak suka  mengobrolkan acara televisi, 40% di antaranya adalah film orang dewasa  yang menyajikan kekerasan, intrik rumah tangga, serta pelecehan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  kesempatan lain, survei membuktikan bahwa anak-anak dalam seminggu  menghabiskan waktunya sekitar 68 jam untuk menonton televisi. Padahal  program anak yang tersedia di televisi hanya 32 jam. Artinya, setiap  anak Indonesia menghabiskan waktu 36 jam untuk menonton tayangan  televisi yang dipersembahkan bagi orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shinchan tak  hanya mengajarkan pornografi, tapi juga kebandelan dan berani kepada  orang tua. Tujuh tahun lalu, ibu-ibu rumah tangga di Jepang ramai-ramai  protes. Alasannya, di samping tolol dan menjengkelkan, Shinchan juga  sering menjadikan ibunya sebagai sasaran kebandelan. Dia tak segan  menyebut ibunya dengan istilah 'nenek kejam' atau melecehkannya dengan  kata-kata yang tak pantas diucapkan anak-anak kepada orang tua.  Misalnya, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendali Orang Tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog  Jane Healey dalam buku Endangered Minds secara tegas mengatakan bahwa  televisi adalah perusak pikiran anak-anak. Sementara Mary Winn  menyamakan televisi dengan obat bius dan alkohol yang bisa menyebabkan  orang ketagihan. Neil Postman, profesor psikologi dari Universitas New  York, dalam Amusing Ourselves to Death membuat pernyataan lebih ekstrim,  yakni kecanduan itu akan berujung pada kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita  merujuk pada berbagai kasus yang ada, pernyataan di atas tak salah.  Namun, begitu burukkah tayangan televisi untuk anak-anak? Tentu saja  tidak. Banyak yang cukup baik. Menurut pengamatan Elzim Kosyiyati, film  seperti Teletubbies, di samping mengusung nilai negatif, sebenarnya  mampu membimbing anak dalam hal pengenalan warna, menghitung, dan  menyayangi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elzim juga menunjuk sinetron Keluarga Cemara  sebagai tayangan yang mendidik. "Anak-anak diajak melihat realitas,  kerja keras, menghormati orang tua, dan kasih sayang di antara anggota  keluarga. Fitrah anak-anak memang kasih sayang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana  dengan berbagai pengaruh negatif di atas? Ibu dua anak ini mengajak  orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam menonton. Televisi  adalah realitas sehari-hari anak masa kini, sehingga tak mungkin  anak-anak dilarang agar tidak menonton sama sekali. Yang perlu dilakukan  adalah memberi penjelasan tentang berbagai adegan yang tersaji di layar  kaca. "Beri pengarahan saat itu juga, jangan tunda-tunda sampai hari  esok. Apa yang dilihat anak-anak akan sangat melekat dalam pikirannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips untuk menghadapi teve&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah  Intisari menurunkan tips untuk menjaga anak dari pengaruh buruk  televisi. Pertama, &lt;i&gt;&lt;b&gt;sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada  dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Biasanya, di kala  lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton  televisi. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin artinya orang  tua bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh anak akan tahu ada  banyak cara beraktivitas selain menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,  &lt;i&gt;&lt;b&gt;usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup  anak&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain  bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat,  berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya,  anak-anak secara umum senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik  sendiri maupun bersama orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, &lt;i&gt;&lt;b&gt;mengikutsertakan  anak dalam membuat batasan.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak  acara yang ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton  televisi hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Ia menonton hanya bila  perlu. Untuk itu video kaset bisa berguna, rekam acara yang disukai lalu  tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah ditentukan. Cara ini  akan membatasi, karena anak hanya menyaksikan apa yang ada di rekaman  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, &lt;b&gt;&lt;i&gt;cermati jenis program yang ditonton&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Ini penting,  sebab menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang  kerap muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena  memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan,  atau adegan seperti pacaran, rayuan yang kurang cocok untuk anak-anak.  Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia  anak dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks,  orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika  sedang menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan 'saru'.  Masalah bahasa memang perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu  kata kurang sopan untuk ditiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, &lt;i&gt;&lt;b&gt;waktu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Kapan dan berapa  lama anak boleh menonton televisi, semua itu tergantung pada cara sebuah  keluarga menghabiskan waktu mereka bersama. Bisa saja di waktu santai  sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari. Anak yang sudah  bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh menonton setelah  mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jane Murphy dan Karen Tucker  produser acara TV anak-anak dan penulis sebaiknya tidak lebih dari dua  jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game. Untuk anak yang  belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di rumah, porsinya  mungkin bisa sedikit lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun anak-anak cuma berjumlah 16% dari populasi dunia, tapi mereka adalah 100% pemimpin masa depan.  &lt;/div&gt;&lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="post-icons"&gt;&lt;span class="item-control blog-admin pid-1261449907"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5919350594471917433&amp;amp;postID=5695052496834099638" title="Edit Entri"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5919350594471917433&amp;amp;postID=5695052496834099638" title="Edit Entri"&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="post-share-buttons goog-inline-block"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-4919940926021079079?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/4919940926021079079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=4919940926021079079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4919940926021079079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/4919940926021079079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/05/jagoan-jagoan-yang-berbahaya.html' title='Jagoan-jagoan yang Berbahaya'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ucNlJG67v88/TdYnrBGoGZI/AAAAAAAAA-g/nDV1-GtlSTc/s72-c/66794_anak_menonton_tv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-5794221582083634401</id><published>2011-04-29T15:13:00.000+07:00</published><updated>2011-04-29T15:13:41.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Usia Dini'/><title type='text'>Kesulitan Anak-anak Autis Terbawa Sampai Remaja</title><content type='html'>&lt;form id="form2" method="post" name="form2"&gt;                             &lt;table align="left" border="0" cellpadding="1" cellspacing="0" hspace="4" vspace="4"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                                 &lt;td&gt;&lt;img align="left" border="2" hspace="4" name="foto" src="http://www.hidayatullah.com/berita/gal675141815.jpg" vspace="4" width="300" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;                                 &lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;                               &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;               &lt;td height="2" valign="top"&gt;&lt;img height="1" src="http://www.hidayatullah.com/read/15330/13/02/2011/images/spacer.gif" width="1" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;               &lt;td height="2" valign="top"&gt;&lt;img height="1" src="http://www.hidayatullah.com/read/15330/13/02/2011/images/spacer.gif" width="1" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;                                                                          &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/form&gt;&lt;span style="color: red; font: 10px tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penelitian &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;American Academy of Neurology &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;melibatkan  24 anak perempuan dan laki-laki berusia antara 12 dan 16 tahun. Separuh  dari kelompok itu mengalami gangguan spektrum autisme dan semua remaja  itu mendapat penilaian dalam kisaran normal untuk penalaran persepsi  pada tes IQ.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pengujian dilakukan dengan meminta para remaja itu  menyalin kata-kata dalam contoh kalimat dengan persis baik ukuran maupun  bentuk hurufnya dengan menggunakan tulisan tangan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penilaian  tulisan tangan itu berdasarkan lima kategori: tingkat keterbacaan,  bentuk, kerapian (lurus), ukuran dan spasi. Kemampuan motorik mereka,  termasuk keseimbangan dan gerakan, juga diuji dan diberi nilai.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penelitian  ini menemukan remaja autis mendapatkan 167 poin dari total kemungkinan  204 poin pada penilaian tulisan tangan, dibandingkan dengan 183 poin  untuk remaja dalam kelompok non-autis. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hasil menunjukkan  signifikansi secara statistik dalam studi tersebut. Para remaja autis  itu juga memiliki gangguan keterampilan motorik.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kinerja tulisan  tangan pada remaja autis diprediksi oleh skor penalaran persepsi, yang  mencerminkan kemampuan seseorang untuk melakukan penalaran melalui  masalah dengan materi nonverbal. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Keterampilan penalaran dapat  memprediksi kinerja tulisan tangan ini menunjukkan adanya sebuah  strategi yang dapat dilakukan remaja autis untuk belajar dan menggunakan  strategi kompensasi untuk mengatasi kekurangan motorik," kata penulis  studi, Amy Bastian, dari &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kennedy Krieger Institute &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Johns Hopkins School of Medicine &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;di Baltimore.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Meski  remaja autis lebih mungkin memiliki masalah tulisan tangan, ada  beberapa teknik untuk meningkatkan kualitas tulisan tangan mereka,  seperti menyesuaikan pegangan pensil, menstabilkan tangan yang menulis  dengan tangan lainnya atau menuliskan huruf lebih lambat. Terapi ini  bisa membantu remaja autis untuk mencapai kemajuan akademis dan  berkembang secara sosial," kata Bastian. *&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;                                                         &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.hidayatullah.com/read/15330/13/02/2011/kesulitan-anak-anak-autis-terbawa-sampai-remaja.html"&gt;http://www.hidayatullah.com/&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-5794221582083634401?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/5794221582083634401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=5794221582083634401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5794221582083634401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/5794221582083634401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/04/kesulitan-anak-anak-autis-terbawa.html' title='Kesulitan Anak-anak Autis Terbawa Sampai Remaja'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-1482656670635114849</id><published>2011-04-29T15:03:00.000+07:00</published><updated>2011-04-29T15:03:02.268+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah'/><title type='text'>Tips Agar Ilmu Terus Terjaga</title><content type='html'>&lt;form id="form2" method="post" name="form2"&gt;                             &lt;table align="left" border="0" cellpadding="1" cellspacing="0" hspace="4" vspace="4"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                                 &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;                                 &lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;                               &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;               &lt;td height="2" valign="top"&gt;&lt;img height="1" src="http://www.hidayatullah.com/read/16260/08/04/2011/images/spacer.gif" width="1" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;               &lt;td height="2" valign="top"&gt;&lt;img height="1" src="http://www.hidayatullah.com/read/16260/08/04/2011/images/spacer.gif" width="1" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;                                                                          &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/form&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: red; font: 10px tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt; Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti  aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung  pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang  terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level  tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/berita/gal938618845.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img align="left" border="0" height="149" hspace="4" name="foto" src="http://www.hidayatullah.com/berita/gal938618845.jpg" vspace="4" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, orang seperti mereka sesungguhnya  bukan orang pintar. Sebab mereka menentang ilmu dan hukum-hukumnya, dan  lebih mengutamakan khayalan, kesukaan dan hawa nafsu. (Ibn Qayyim  al-Jauziyyah dalam al-Fawa’id).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (&lt;em&gt;muta’allim&lt;/em&gt;), apapun profesinya dan berapapun usianya. “&lt;em&gt;Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” &lt;/em&gt;adalah  seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar.  Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus  belajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak  berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar  adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga  sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita  bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Akan tetapi ada petunjuk  yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat  tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu  dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan  tersesat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” &lt;/em&gt;(HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi &lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kedzaliman  seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan  ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak  semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq  dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. &lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. &lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi. &lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta (&lt;em&gt;Bidayatul Hidayah&lt;/em&gt;, hlm.6).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Golongan pertama, &lt;/span&gt;adalah  golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi  menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk  pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk  menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya  diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Golongan kedua &lt;/span&gt;dan  ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu  untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi  landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka  pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi  &lt;em&gt;ulama’ suu’ &lt;/em&gt;(ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemisahan aspek ukhrawi dan aspek duniawi dalam menuntut ilmu akan  mengakibatkan kekacauan ilmu. Ilmu yang kacau melahirkan pelajar yang  jahil. Kejahilan itu bukan sekedar kekurangan ilmu, akan tetapi kacaunya  ilmu (&lt;em&gt;confusion of knowledge&lt;/em&gt;). Kekacauan ilmu terjadi ketika informasi-informasi yang salah dipelajari kemudian diyakini sebagai kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ilmu menjadi kacau ketika kehilangan bimbingan adab dan kemasukan  konsep materialisme. Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu-ilmu yang telah  tercampur dengan konsep ‘asing’ itu hakikatnya bukan ilmu lagi, akan  tetapi sesuatu yang menyamar sebagai ilmu (&lt;em&gt;Risalah Untuk Kaum Muslimin&lt;/em&gt;,  61). Jadi ilmu yang hakiki adalah yang tidak melepaskan dimensi  ukhrawi, sedangkan ‘ilmu’ yang menyamar adalah sebaliknya yang disebut &lt;em&gt;ilmu madzmumah&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berkenaan dengan itu, penting diketahui oleh para para pelajar dan guru bahwa ilmu secara hirarkis dibagi dua. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;,  ilmu Pengenalan. Yaitu ilmu tentang hakikat ruhaniah yang merujuk  kepadan Allah dan diri. Seperti ilmu tauhid, dan ilmu yang berkenaan  dengan ibadah. Ilmu ini termasuk yang wajib dipelajari oleh setiap  muslim. Ilmu jenis ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu &lt;em&gt;fardlu ‘ain&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, ilmu Pengetahuan. Yaitu ilmu pencapaian akal yang  merujuk kepada segala perkara baik bagi diri ruhaniyah maupun diri  jasmaniah. Ilmu ini termasuk ilmu yang wajib dituntut oleh sebagian  muslim saja yang telah memenuhi syarat-syarat menuntutnya. Ilmu ini oleh  Imam al-Ghazali disebut ilmu &lt;em&gt;fardlu kifayah&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Salah satu faktor kenapa lahir ilmuan yang dzalim adalah kesalahan  mengajarkan dua ilmu tadi. Semua jenis ilmu Pengetahuan yang hukumnya &lt;em&gt;fardlu kifayah &lt;/em&gt;diajarkan harus berdasar dan sesuai dengan ilmu Pengenalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selain itu, pengajaran ilmu Pengenalan (&lt;em&gt;fardlu ‘ain&lt;/em&gt;) harus didahulukan sebelum ilmu &lt;em&gt;fardlu kifayah&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Belajar haruslah disertai niat yang benar. Selain itu, ilmu yang dipelajari juga harus bukan ilmu &lt;em&gt;madzmumah&lt;/em&gt; (dicela).  Jika niat dan ilmunya salah, maka sepintar apapun, manusia itu akan menjadi orang yang bermasalah di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang belajar demi kebanggan  agar disebut cendekiawan agung, menyaingi teman, mencari popularitas dan  memperbanyak harta akan menjadi manusia yang celaka. (HR.Ibn Majah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pelajar dengan tipe ini, ia tidak peduli lagi apakah ilmu yang dipelajari benar atau salah, yang penting ‘sukses’ bagi dia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wahyu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ilmu yang benar selalu dikawal oleh wahyu. Sebab, sumber ilmu itu  dari Allah SWT. Dan  hakikat mencari ilmu adalah meraih kebahagiaan,  sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah keselamatan di akhirat. Dalam  perspektif Islam, ilmu bukanlah sebagai perkara &lt;em&gt;akliah &lt;/em&gt;(rasio)  belaka. Islam menjelaskan ilmu, baik ilmu syari’ah atau sains dan  humaniora, dengan perkaitan antara ilmu itu dengan hikmah, akhlak budi  pekerti. Pemahaman yang demikian mencegah lahirnya ilmuan dan pemimpin  yang &lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lantas, bagaimana kiat menjadi pelajar muslim yang sukses? &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, perbaiki niat. Segala aktifitas keilmuan adalah semata demi mendapatkan kebahagiaan (&lt;em&gt;sa’adah&lt;/em&gt;) akhirat. Artinya, niat untuk berjuang li i’laa’i kalimatillah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, ilmu yang dipelajari harus benar. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;,  cara meperolehnya juga benar. Apapun niat dan semulya apapun ilmunya  jika ditempuh dengan korupsi, menipu atau dengan cara ritual-ritual yang  sesat, tetap akan menjauhkan dari Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selain itu, Imam al-Ghazali memberi rambu-rambu, carilah guru yang  baik. Yaitu, ulama’ yang hidupnya berkonsentrasi kepada ilmu, akhirat,  tidak menyibukkan secara membabi-buta kepada dunia, tidak menjual agama  dengan dunia, segala persoalan dikembalikan kepada perspektif akhirat  (Abu Hamid al-Ghazali dalam &lt;em&gt;Iljam al-awam ‘an Ilmi Kalam&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selain itu, para ulama’ salaf memberi contoh paling baik. Sebisa  mungkin menghindar dari maksiat. Imam syafi’i juga pernah mengatakan:  ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk kedalam hati  orang-orang yang selalu bermaksiat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibadah juga betul-betul dijaga. Imam al-Bukhari belajar selalu dalam  keadaan suci, bahkan ketika akan menulispun ia ambil wudlu dan shalat  sunnah terlebih dahulu. Shalat malam (&lt;em&gt;qiyamullail&lt;/em&gt;) bagi para  pelajar salaf shalih dahulu seperti menjadi aktifitas wajib. Demi  menjaga diri agar selalu dibawah petunjuk-Nya. Bahkan, belajar di  sepertiga malam itu menjadi kebiasaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Khatib Al-Baghdadi pernah memberi nasihat, “&lt;em&gt;Waktu yang paling  baik untuk menghafaladalah waktu sahur, di tengah hari, kemudian pagi  hari. Menghafal di waktu malam lebih baik dari pada siang. Itulah  rahasia sukses para ulama terdahulu kita&lt;/em&gt;.” (Al-Faqih wal Mutafakiq).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan rutinitas beginilah yang menjadi aktifitas wajib pelajar muslim idaman. Wallahu a’lam bissahowab.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;                                                         &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-1482656670635114849?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/1482656670635114849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=1482656670635114849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/1482656670635114849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/1482656670635114849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/04/tips-agar-ilmu-terus-terjaga.html' title='Tips Agar Ilmu Terus Terjaga'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-6407975834799316559</id><published>2011-04-29T14:57:00.000+07:00</published><updated>2011-04-29T14:57:05.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Motivasi'/><title type='text'>Kampus Sang Anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;Laki-laki itu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai anak seorang  petani, ia tak asing dengan lumpur sawah, kotoran sapi, jerami dan  lainnya. Apa gerangan yang sedang ia buat?&lt;/span&gt; &lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Anaknya yang sudah naik ke kelas enam diajaknya terjun ke lumpur.  Disuruhnya sang anak untuk bergelut dengan berbagai macam yang ada di  sawah, layaknya ia sendiri dulu saat kecil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Inilah tempat pendidikanmu  yang sebenarnya.”&amp;nbsp;Pekik sang bapak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tapi anaknya tak begitu peduli dengan kata-kata bapaknya. Lagipula  mungkin dia memang tak paham dengan kalimat sang bapak. Ia tetap asyik  dengan air kotor sawah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Aku tak ingin nantinya kamu bingung selepas menunaikan pendidikan di  sekolah umum. Aku ingin kamu tidak membawa map kesana-kemari untuk  mencari lowongan kerja. Aku ingin kamu bisa mencari penghasilan dari  sekarang.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ujar laki-laki itu sambil mencangkul lumpur untuk diratakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Anaknya masih saja tidak memperdulikan apapun yang keluar dari mulut  bapaknya. Ia asyik sebagai mana lazimnya anak seusianya yang masih  senang bermain. Sambil tak berhenti mencangkuli tanah, laki-laki itu  terus memberikan “kuliah” pada anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Kamu jangan sampai seperti aku, terlunta-lunta di negeri orang,  bekerja pada seorang majikan yang tak pernah tahu tentang seorang  pekerja.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kali inipun sang anak tak bergeming. Ia asyik dengan belut-belut di  sawah itu. Omongan bapaknya bak masuk telinga kiri keluar telinga kanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Laki-laki itu adalah mantan TKI di negeri seberang. Secara ekonomi ia  tak sukses. Ia tidak seperti teman-temannya yang bisa langsung bikin  rumah dan punya kendaraan. Empat tahun di negeri orang benar-benar  menemukan nasib yang buruk. Dengan pengalaman seperti itu, ia bertekad  membanting tulang untuk usaha di negri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pengalaman pahit di negeri orang tak ingin terulang pada anaknya.  Sehingga dari sekarang ia sudah bikin “kampus” untuk anaknya, biar  setamat sekolah tingkat atas nanti, tak bingung cari makan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ia terus mengejar target membikin paling tidak sepuluh kolam dulu.  Dengan jumlah sebanyak itu, maka penghasilan bulanannya akan lumayan. Ia  sudah menghitungnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kejadian pahit di negri orang, menyadarkan dirinya, bahwa ia memang  kurang bersyukur. Padahal di kampung, ia punya sawah, ladang dan ia juga  punya modal pendidikan sekolah lanjutan. Ia bertekad ingin memanfaatkan  potensi dirinya yang memang sejak kecil hidup di lingkungan persawahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan modal yang ada, ahirnya ia menciptakan ladang usaha sendiri.   Beternak belut, menjadi pilihannya. Sang anak senantiasa diajaknya untuk  terlibat, biar masih dibawah umur. Tujuannya hanya satu bahwa anaknya  kelak tak menjadi generasi bingung selepas menempuh pendidikan umum di  sekolah.  Padahal ladang usaha di depan mata tak pernah habis untuk  dieksploitasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan yang jelas, ia tak menginginkan anaknya mengikuti jejaknya  bekerja di luar negri, karena di dalam negri masih kaya raya, jika mau  memanfaatkan otaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan Allah SWT, ternyata menyediakan modal yang luar biasa kepada  semua mahluknya. Kita saja yang sering memaknai kata “modal” dengan  pemaknaan yang sangat sempit. Sampai-sampai peluang di depan mata kita,  sering tidak kelihatan. Sering kita tidak menyadari, bahwa otak adalah  modal tak terhingga yang sudah di-invest-kan Allah kepada kita.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.eramuslim.com/oase-iman/suswoyo-kampus-untuk-sang-anak.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-6407975834799316559?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/6407975834799316559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=6407975834799316559' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/6407975834799316559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/6407975834799316559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/04/kampus-sang-anak.html' title='Kampus Sang Anak'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-1497059645437638969</id><published>2011-04-26T14:59:00.000+07:00</published><updated>2011-04-26T14:59:35.430+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Dosen'/><title type='text'>JENJANG JABATAN AKADEMIK DOSEN</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   Angka Kredit adalah :&lt;br /&gt;Satuan  nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi nilai butir-butir  kegiatan yang diberikan / ditetapkan berdasarkan penilaian atas prestasi  yang telah dicapai oleh seorang dosen dan dipergunakan sebagai salah  satu syarat dalam rangka pembinaan karier dalam jabatan fungsional /  kepangkatan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Syarat untuk kepangkatan dosen swasta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang Diperlukan Dalam Pengurusan Jenjang Jabatan Akademik :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Bidang : Pendidikan dan Pengajaran [ min. 30 %, diluar ijasah]&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a). &lt;i&gt;Fotocopy ijasah dan transkrip nilai S1, S2, dan S3 yang telah  dilegalisir&lt;/i&gt; [calon Guru Besar, harus yang sebidang ilmu / linier S1, S2  dan S3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud ijasah dan transkrip nilai  adalah ijasah dan transkrip nilai dari tingkat S1 sampai tingkat  pendidikan tertinggi yang pernah diikuti.&amp;nbsp; Jika ijasah dari Universitas di luar negeri, maka harus disertakan SK Penyetaraan Ijasah Luar Negeri dari DIKTI&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Contoh :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dosen  yang bergelar Dr. [Doctor], maka ijasah dan transkrip nilai yang perlu  dikumpulkan adalah ijasah dan transkrip nilai S1, S2 dan S3.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b). &lt;i&gt;SK Mengajar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;SK  Mengajar yang dapat dinilai adalah SK Mengajar setelah menempuh gelar  pendidikan S1 [lulus sebelum tahun 2007, serta SK Mengajar selama  mengikuti pendidikan lanjutan dapat dinilai jika dosen ybs menempuh  pendidikan di Indonesia]&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c). &lt;i&gt;Membuat Diktat Kuliah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Diktat  yang dibuat untuk mengajar di Univ dosen yang bersangkutan dan memenuhi  kriteria diktat kuliah [minimal 55 halaman ; kata pengantar, daftar  isi, daftar pustaka minimal 3 referensi] spasi 1½, font Times New Roman,  size 11, berisi teori bukan transparan]&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d). Membimbing / Menguji Skripsi&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Minimal memiliki Jenjang Asisten Ahli&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membimbing  : Maksimal 3 Judul Skripsi [dibuktikan dengan Berita Acara Ujian yang  meliputi ; Judul Skripsi ; Nama Dosen Pembimbing ; Nama Mahasiswa ;  Hari/Tanggal/Waktu Ujian ; Nama Tim Penguji ; dan mahasiswa yang di  bimbing lulus, serta surat tugas membimbing dari instansi ybs]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menguji  : Maksimal 3 Mahasiswa per semester [dibuktikan dengan Berita Acara  Ujian yang meliputi ; Judul Skripsi ; Nama Dosen Pembimbing ; Nama  Mahasiswa ; Hari/Tanggal/Waktu Ujian ; Nama Dewan Penguji ; Jabatan  Penguji Utama/Pendamping, serta surat tugas menguji dari instansi ybs]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;2. Bidang B : Penelitian [ Min. 25 % ]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan dalam : 1). Majalah ilmiah internasional yang bereputasi, 2). Majalah  ilmiah nasional terakreditasi mis. Jurnal yang diterbitkan oleh Binus;  Jurnal Inasea [Teknik Industri], dan Piranti Warta [BBS] dll., 3). Majalah ilmiah nasional tidak terakreditasi tetapi mempunyai ISSN&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembicara pada seminar / konferensi internasional / nasional  [dibuktikan dengan sertifikat / surat tugas] sebagai pembicara, serta  diterbitkan dalam prosiding ber ISSN / ISBN].&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghasilkan karya ilmiah [laporan penelitian] yang tidak dipublikasikan :&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Min 20 halaman, spasi 1½, font Times New Roman, size 11 [max 3 tulisan dalam 1 tahun]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berisi Abstrak, Daftar Isi, Penelitian [apa yang diteliti, metode  penelitian dan tujuannya], Kesimpulan, Daftar Pustaka (tersipan di dalam  perpus Univ dosen yang bersangkutan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menterjemahkan / menyadur buku ilmiah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional [ISSN / ISBN].&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengedit / menyunting karya ilmiah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional [ISSN / ISBN].&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat rancangan dan karya teknologi yang dipatenkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;3. Bidang C : Pengabdian Kepada Masyarakat [ Min. 1 point ; Max. 15 % ]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Melaksanakan pengembangan hasil pendidikan dan penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="" name="OLE_LINK1"&gt;Memberikan latihan / penyuluhan / penataran / ceramah [ sebagai  instruktur pelatihan baik kepada masyarakat umum, maupun masyarakat  kampus; dosen, mahasiswa dan non dosen].&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuat / menulis karya pengabdian pada masyarakat yang tidak dipublikasikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dibuktikan dengan sertifikat asli / surat ucapan terima kasih asli, beserta salah satu surat tugas peserta pelatihan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.&lt;i&gt;&lt;b&gt; Bidang D : Unsur Penunjang [ Min. 1 point ; Max. 20 % ]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Menjadi anggota dalam suatu panitia / badan pada perguruan tinggi atau lembaga pemerintah atau organisasi profesi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mewakili perguruan tinggi / lembaga pemerintah duduk dalam panitia antar lembaga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menulis buku pelajaran SLTA ke bawah yang diterbitkan secara nasional&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendapat tanda jasa / penghargaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempunyai sertifikat keikut-sertaan pada seminar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dibuktikan dengan sertifikat asli / surat ucapan terima kasih asli.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CONTOH KASUS 1 [Proses Baru] :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang  Dosen lulus S2 pada tanggal 14 Februar1 2001, dan mulai mengajar di  Binus pada semester Ganjil 2005 / 2006. Dosen ybs belum punya jenjang  jabatan akademik dan telah mengajar di Binus selama 2 sem [ 8 sks / sem  ], mempunyai jenjang pendidikan S2 dalam bidang ilmu yang sama atau  berhubungan / berdekatan S1-nya , mempunyai satu tulisan yang terbit  pada Jurnal ber ISSN sebagai penulis mandiri, pernah menjadi Instruktur  dalam suatu pelatihan di Binus, pernah mengikuti 5 macam seminar sebagai  peserta; maka point yang diperoleh dosen tsb adalah:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;A. Pendidikan dan Pengajaran [ minimal 30 % dari 10 point = 3 point ]:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pendidikan S1 : 100 point&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan S2 : 50 point&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengajar : [ 8 * 0,5 point ] * 2 sem 8 point [+]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;158 point&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;B. Penelitian [ minimal 25 % dari 10 point = 2.5 point ] :&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;1 Publikasi Tdk Akreditasi : 1 * 8 point 8 point&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;C. Pengabdian pada Masyarakat [max. 15% dari 10 point = 1.5 point ; min. 1 point]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Instruktur dalam Pelatihan di Binus : 1 point [+]&lt;br /&gt;Total A+B+C = [minimal 80% dari angka yang di syaratkan] 167 point&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;D. Penunjang Tridharma PT [ max. 20 % dari 10 point = 2 point ; min. 1 point ]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti 5 seminar / pelatihan 5 * 1 point 2 point [+]&lt;br /&gt;Total A+B+C+D = 169 point&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  perhitungan di atas, maka dosen ybs dapat diusulkan ke : Asisten Ahli [  150 ] karena telah mempunyai angka kredit yang cukup, dengan jenjang  pendidikannya S2 dan sebidang ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CONTOH KASUS 2 : [ Proses Naik]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Seorang dosen mempunyai pendidikan S2 bidang arsitektur dan telah  mempunyai JJA Asisten Ahli-100 dengan TMT 01 Januari 1999. Dosen ybs  ingin naik ke Lektor [300].&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada tanggal 10 September 2003, dosen  ybs lulus S3 bidang manajemen [tidak dalam bidang ilmu yang sama atau  berhubungan / berdekatan] di salah satu PT di Jakarta&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengajar di Binus pada semester Genap 1999/2000 sampai semester Ganjil 2004/2005 [12 sks/sem]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penguji Utama pada semester Genap 1999/2000 sampai semester Ganjil  2004/2005 [3 mhs/sem] -&amp;gt; jika nilai penguji utama sudah digunakan,  maka sebagai penguji pendamping nilai tidak dapat dihitung jika  semesternya sama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;3 Jurnal ber ISSN sebagai penulis mandiri dan 1  tulisan dalam jurnal terakreditasi, pernah menjadi Instruktur dalam  suatu pelatihan di Binus sebanyak 30 kali&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengikuti 35 macam seminar / pelatihan sebagai peserta&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka point yang diperoleh dosen tsb adalah :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;A. Pendidikan dan Pengajaran [ minimal 30 % dari 200 point = 60 point ]:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan S3 : 15 point&lt;br /&gt;Mengajar : [ 10 * 0,5 point ] * 10 sem 50 point&lt;br /&gt;[ 2 * 0,25 point ] * 10 sem 5 point&lt;br /&gt;Penguji Utama : [ 3 * 1 point ] * 10 sem 30 point [+]&lt;br /&gt;100 point&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;B. Penelitian [ minimal 25 % dari 200 point = 50 point ]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;3 Publikasi Tdk Akreditasi : 3 * 8 point 24 point&lt;br /&gt;1 Publikasi Akreditasi : 1 * 25 point 25 point [+] 49 point [minimal 50]&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;C. Pengabdian pada Masyarakat [max. 15% dari 200 point = 30 point ; min. 1 point]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Instruktur dalam Pelatihan di Binus : 30 * 1 point 30 point [+]&lt;br /&gt;Total A+B+C = [minimal 80% dari angka kenaikan = 160 point ] 174 point&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;D. Penunjang Tridharma PT [ max. 20 % dari 200 point = 40 point ; min. 1 point ]&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti 35 seminar / pelatihan: 35 * 1 point 35 point [+]&lt;br /&gt;Total A+B+C+D = 209 point&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan  perhitungan diatas, maka dosen ybs belum dapat diusulkan ke : Lektor  [300], karena Bidang B ybs tidak memenuhi syarat minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENTING UNTUK DIPERHATIKAN :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;i&gt;&lt;b&gt;Untuk  pengajuan ke Asisten Ahli dan Lektor, salah satu jurnal / majalah asli  akan diberikan ke DIKTI &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;[tidak dikembalikan], sedangkan untuk pengajuan  ke Lektor Kepala dan Guru Besar, semua jurnal / majalah asli tidak akan  dikembalikan .&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Diktat Kuliah [Bidang A] dan Karya Ilmiah / laporan  penelitian yang tidak dipublikasikan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;[Bidang B] harus diprint sesuai  dengan format&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Spasi 1½, font Times New Roman, size 11.3.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kenaikan  jenjang jabatan akademik dapat diajukan minimal 1 [satu] tahun akademik  sejak TMT SK JJA dengan syarat: karya ilmiah diterbitkan pada jurnal  nasional terakreditasi oleh DIKTI [sebagai penulis utama / mandiri],  point A, B, C, dan D terpenuhi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila dosen tidak mempunyai karya  ilmiah yang diterbitkan pada jurnal yang telah diakreditasi oleh DIKTI,  maka dosen yang bersangkutan baru bisa naik ke jenjang jabatan  berikutnya setelah &amp;gt;= 3 [tiga] tahun akademik sejak TMT SK JJA dengan  syarat : harus menulis karya ilmiah yang diterbitkan dalam majalah /  jurnal ilmiah yang ber ISSN sebagai penulis utama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karya ilmiah yang belum pernah diajukan tetapi tahun penerbitannya &amp;lt; TMT, tidak dapat di hitung untuk kenaikan berikutnya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-1497059645437638969?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/1497059645437638969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=1497059645437638969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/1497059645437638969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/1497059645437638969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/04/jenjang-jabatan-akademik-dosen.html' title='JENJANG JABATAN AKADEMIK DOSEN'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-2035156284988291130</id><published>2011-04-26T13:28:00.000+07:00</published><updated>2011-04-26T13:28:04.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Dosen'/><title type='text'>GAJI DOSEN SWASTA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir setiap hari Blog saya ini menerima enquiry “standar gaji dosen  swasta Indonesia”. Karena enquiry ini bertubi-tubi, maka dengan ini  saya bukakan saja standar gaji dosen swasta Indonesia yang saya kutip  dari “Universitas X”&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;HONORARIUM PER SKS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan S1 : Asisten Ahli Rp 50.000; Lektor/Praktisi/6 tahun pengalaman mengajar Rp 75.000&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan S2 : Asisten Ahli/sederajat Rp 75.000; Lektor/sederajat Rp  100.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 125.000; Buru Besar Rp 175.000&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan S3 : Asisten Ahli/Lektor Rp 125.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 150.000; Guru Besar Rp 175.000&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;HONORARIUM PEMBIMBING DAN PENGUJI SKRIPSI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penguji skripsi baik penguji utama ataupun pembantu penguji Rp 150.000 per mahasiswa peserta ujian skripsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;UANG TRANSPORTASI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diberikan sesuai dengan kebijakan Universitas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;CATATAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Honor dosen tersebut di lingkungan universitas swasta di Jakarta  kurang lebih sama, namun bedanya, ada universitas yang menetapkan rate  tersebut sebelum dipotong pajak (before tax), ada universitas lainnya  yang menetapkan rate tersebut setelah dipotong pajak (after tax) – dalam  hal ini tax telah dibayar oleh universitas yang bersangkutan..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika jumlah kelas cukup banyak di universitas swasta tersebut, dan  dosen mendapat beban sks yang cukup besar, menurut hitungan kasar saya  gaji dosen universitas swasta di Jakarta (setelah dipotong pajak) adalah  berkisar antara Rp 2.000.000 sampai Rp 10.000.000&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berminat jadi dosen ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ingat jadi dosen itu selain mendapat imbalan berupa honorarium juga  mendapat kepuasan pribadi karena telah mengamalkan ilmu kepada sesama,  selain itu juga sesuai dan mendukung&amp;nbsp;Tujuan Negara Indonesia seperti  yang termaktub dalam Mukadimmah UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan  Bangsa”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hidup dosen !!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1650177029517540599-2035156284988291130?l=guruidaman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://guruidaman.blogspot.com/feeds/2035156284988291130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1650177029517540599&amp;postID=2035156284988291130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/2035156284988291130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1650177029517540599/posts/default/2035156284988291130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://guruidaman.blogspot.com/2011/04/gaji-dosen-swasta-indonesia.html' title='GAJI DOSEN SWASTA INDONESIA'/><author><name>Ahmad kurnia, SPd,MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12954631191895665015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_BxrIuHtk_Fs/Svyt6jUBT1I/AAAAAAAAAfU/jyEqPRLtNmg/S220/permak1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1650177029517540599.post-4729271471596144729</id><published>2011-04-12T14:33:00.000+07:00</published><updated>2011-04-12T14:33:41.411+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi Tokoh'/><title type='text'>Punya Sekolah karena Nyumbang Ribuan Buku</title><content type='html'>&lt;div class="d629 l p1 p3 p4"&gt;           &lt;div id="pt" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;            &lt;img alt="Casey Robbins (Foto: News10.net) " src="http://i.okezone.com/content/2011/04/08/373/443884/qj0RujVEYd.jpg" /&gt;            &lt;h6&gt;Casey Robbins (Foto: News10.net)  &lt;/h6&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="news"&gt;          &lt;strong&gt;CALIFORNIA &lt;/strong&gt;- Seorang siswa Seko
