Jumat, 04 April 2014

MANAJEMEN PENDIDIKAN EFEKTIF


 A.ARTI PENTING MANAJEMEN PENDIDIKAN
a.      Arti Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian usaha-usaha personal pendidikan dalam mendayagunakan semua sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Prof. Dr. H.A.R Tilaar, M.Sc,. Ed,. Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan yang mengimplikasikan adanya perencanaan atau rencana pendidikan sekaligus kegiatan implementasinya. Sementara itu Dr. Made Pidarta, M.Pi., dalam bukunya manajemen pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa dalam pendidikan, manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas yang memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.

Pada dasarnya manajemen pendidikan bertujuan untuk menentukan, merencanakan, mengimplementasikan serta mengevaluasi program kegiatan pendidikan. Demi mewujudkan pendidikan yang efektif, efisien serta berkualitas, diperlukan adanya perencanaan yang harmonis dan terarah. Salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya pengangguran terpelajar serta kurang berhasilnya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia adalah kualitas manajemen pendidikan yang tidak mumpuni. Padahal untuk dapat mempertahankan kualitas manajemen pendidikan, sedikitnya harus memiliki  dua elemen penting, yakni sistem dan kualitas pendidik. Agar pendidikan dapat berjalan efektif, efisien, dan dapat menghasilkan output yang berkualitas, manajemen pendidikan harus tertata dengan baik.

b.      Fungsi-Fungsi Manajemen Pendidikan
Sebagaimana fungsi manajemen pada umumnya, manajemen pendidikan juga memiliki fungsi yang sama, yakni:
1.   Perencanaan
Perencanaan pendidikan adalah proses pemikiran yang sistematis dan analisis rasional (mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksananya, mengapa hal itu harus dilakukan, dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan?) untuk meningkatkan mutu pendidikan agar lebih efektif dan efisien, sehingga proses pendidikan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dalam perencanaan pendidikan terdapat beberapa model , antara lain sebagai berikut:
a.    Model perencanaan komprehensif. Berfungsi sebagai patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik kearah tujuan-tujuan yang lebih luas.
b.   Model target setting. Digunakan dalam upaya untuk melakukan proyeksi atau memperkiraka n tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu, analisi demografis, memproyeksikan jumlah siswa terdaftardan kebutuhan tenaga kerja.
c.    Model costing (pembiayaan) dan keefektifan biaya. Dipakai untuk menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisiensi dan efektivitas ekonomis.
d.   Model planning, programming, dan budgeting system (PPBS).disebut juga sebagai sistem SP4 (perencanaan, penyusunan program, dan penganggaran). Hanya diterapkan pada masalah-masalah yang kompleks.

Keberhasilan proses pelaksanaan rencana, selain tergantung kepada ketepatan penyusunanan ny, juga akan ditentukanoleh fungsi-fungsi manajemen pendidikan berikutnya, yaitu pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.

2.   Pengorganisasian
Dalam pengorganisasian, pembagian tugas disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian orang yang memegan tugas. Misalnya, dalam pendidikan, pembagian tugas guru dalam bidang studi yang diajarkan haruslah sesuai dengan kemapuan dan latar belakang pendidikan nya.

3.   Pengarahan
Pada dasar nya pengarahan berkaitan dengan hal-hal berikut:
a.       Motivasi. Dalam bidang pendidikan, kepala sekoah selaku pimpinan tertinggi selayaknya memahami dan memberi motivasi kepada semua anak buahnya. Sebab, hal ini akan menjadi kunci agar mereka bekerja lebih efektif.
b.      Komunikasi. Kepala sekolah harus menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh staf dan lingkungan sekolah demi tercapainya efisiensi dan efektivitas pendidikan.
c.       Dinamika kelompok.  Dalam sebuah organisasi, terdapat kelompok formal dan informal. Pemimpin harus mengarahkan dan mengefektifkan kelompok-kelompok tersebut agar dapat mendukung peningkatan pencapaian tujuan organisasi.
d.      Kepemimpinan. Dalam dunia pendidikan, kepemimpinan diemban oleh kepala sekolah. Dan, syarat minimalnya adalah harus mempunyai kemampuan dalam menjalankan tugas serta dalam membina hubungan baik dengan semua personal sekolah.

4.      Pengawasan
Agar pengawasan pendidikan dapat berfungsi efektif, beberapa hal berikut harus diperhatikan:
a.       Pengawasan harus dikaitkan dengan relevansi, efektivitas, efisiensi, dan produktifitas.
b.      Standar yang masih dapat dicapai harus ditentukan.
c.       Pengawasan harus disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan lembaga pendidikan.
d.      Kuantitas pengawas harus dibatasi.
e.       Sistem pengawasan harus dikemudikan dan dikontrol.
f.       Pengawasan sebaiknya mengacu pada tindakan perbaikan.
g.      Pengawasan sebaiknya mengacu pada prosedur pemecahan masalah.

c.       Operasional Manajemen Pendidikan
Terdapat beberapa aspek yang perlu mendapat pelayanan manajemen pendidikan dalam suatu lembaga pendidikan yang berkaitan dengan operasional pendidikan dan pengajaran, yaitu:

1.   Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah manajemen yang ditujukan untuk keberhasilan proses pembelajaran secara maksimal dengan menitikberatkan pada kualitas interaksi proses pembelajaran. Manajemen kurikulum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a.    Separate subject curriculum. Bahan pelajaran diberikan terpisah antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain, dengan tema yang satu dengan tema yang lain.
b.   Correlated curriculum. Bahan-bahan pelajaran dihubungkan antara satu dengan yang lain.
c.    Integrated curriculum. Bahan pelajaran disajikan dalam bentuk unit yang merupakan satu kesatuan.

2.   Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen SDM ini dimaksudkan untuk dapat mneingkatkan kualitas guru dan karyawan, sehingga bisa mendorong tercapainya tujuan pendidikan, serta untuk membantu dalam peningkatan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan. Perencanaan diawali dengan analisis ketenagakerjaan lembaga pendidikan. Analisis yang sistematis meliputi dua hal, yaitu:
a)   Job description.
Analisis ini berkaitan dengan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru dan karyawan.
b)   Job analysis
Analisis ini berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan tugas-tugas.

3.   Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan merupakan sistem pengelolaan terhadap siswa, yang dimulai dari perencanaan, penerimaan siswa baru, pengorganisasian siswa, MOS, pembinaan dan pelayanan siswa, organisasi siswa, penilaian siswa, mutasi, hingga perencanaan alumni.

4.   Manajemen Sarana Dan Prasarana
Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran yang bersifat langsung. Sedangkan prasarana adalah semua fasilitas yang digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran namun bersifat tidak langsung.  Manajemen sarana dan prasarana pendidikan ini meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan pemeliharaan, serta penggunaan dan penghapusan.

5.   Manajemen Keuangan
Dalam manajemen keuangan pendidikan, ditentukan dan dicanangkan jumlah modal yang dibutuhkan dalam upaya operasional pendidikan, asal dana diperoleh, cara penggunaannya, pemasukan dan penegluaran, serta saldo yang didapat. Semua hal tersebut ditulis dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah.

6.   Manajemen Sistem Informasi
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang menuntut adanya persaingan antarlembaga pendidikan, suatu lembaga pendidikan membutuhkan sistem informasi.

7.   Manajemen Hubungan Masyarakat
Secara umum, humas pendidikan terdiri dari dua macam, yaitu humas internal yang meliputi kegiatan untuk mengatur hubungan antara kepala sekolah dan para guru, kepala sekolah dengan murid, kepala sekolah dengan karyawan, guru dengan murid, dan murid dengan murid. Dan humas eksternal yang meliputi kegiatan mengatur hubungan sekolah dengan wali murid, dengan BP3, dengan lembaga-lembaga pemerintah dan swasta, serta upaya untuk meningkatkan minat masyarakat.

8.   Manajemen Pengembangan Lembaga
Manajemen pengembangan lembaga adalah upaya untuk mengelola dan mengatur metode perkembangan lenbaga agar bisa terus exis dan survive ditengah persaingan global.

B.KONSEP-KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN

A.       Total Quality Management (TQM) in Education
TQM in education atau yang lebih dikenal dengan manajemen mutu terpadu adalah konsep manajemen pendidikan yang diadopsi dari manajemen industri, yang kemudian dipandang penting untuk dunia pendidikan. Dalam TQM, kualitas mutlak diutamakan dan harus ada perbaikan yang berkesinambungan serta terus menerus demi mengoptimalkan kualitas. Pada prinsipnya TQM mengutamakan kepuasan pelanggan, yang dalam pelaksanaannya selalu ada penyempurnaan dan perbaikan secara terus menerus. Implementasi TQM dimaksudkan agar tercapai keunggulan proses pembelajaran yang mengutamakan hasil sekaligus memberi peluang tinggi bagi guru dan siswa untukn aktif dan inovatif, dengan pemanfaaatan sarana dan prasarana yang memadai. Jika bisa diimplementasikan dengan baik, terdapat banyak kelebihan yang dimiliki TQM, antara lain kualitas tetap selalu diutamakan, perbaikan akan selalu dilakukan, tidak ada status quo, seluruh staf dapat bekerja sama, dan masih banyak lagi. Namun juga dalam TQM terdapat beberapa keurangan, antara lain adalah ketidakpastian dan ketidakjelasan tentang identifikasi dan spesifikasi pelanggan, ketidakjelasan tentang metode mendefinisikan kebutuhan pelanggan, ketidakpedulian terhadap perbedaan-perbedaan pelanggan, dan lain-lain.

B.     Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
MBS adalah suatu konsep manajemen pendidikan yang memberikan otoritas kepada sekolah agar sekolah bisa memberdayakan diri dengan disertai partisipasi masyarakat dalam prosesnya. Sekolah mempunyai otoritas penuh untuk mendayagunakan segala yang dimiliki demi mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan, relevansi pendidikan, serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan. Dalam proses pembelajaran, konsep MBS ini menekankan pada pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran efektif (effective learning), serta pembelajaran yang menyenangkan (joyfull leraning). Tujuan utama MBS adalah meningkatkan mutu, efisiensi, relevansi, dan pemerataan pendidikan. Dalam pengimplementasian nya MBS memliki beberapa kelebihan yaitu, otoritas penuh yang dipegang oleh sekolah, melibatkan orang tua peserta didik, transparansi manajemen, terjalin hubungan kemitraan antara dunia pendidikan dan dunia bisnis, dan masih banyak lagi. Namun MBS juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain mutu yang menjadi sasaran peningkatan belum jelas, otonomi yang diberikan kepada sekolah kadang membebani para orang tua peserta didik, rawan korupsi, dan sebagainya.

C.    Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Konsep MPMBS adalah sebuah konsep manajemen pendidikan yang otoritas pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada sekolah dengan penekanan utama nya pada perbaikan mutu pendidikan, serta pengupayaan segala perbaikan didalam prosesnya. Dalam implementasinya, MPMBS benar-benar fokus pada kualitas, mengoptimalkan segala sumber daya sekolah, menekankan manajemen terbuka, strategi yang digunakan dalam konsep MPMBS ini adalah metode PAKEM, kepemimpinan dalam konteks MPMBS haruslah bersifat transformasional, dan melibatkan orang tua dan masyarakat lebih aktif lagi. Masyarakat dan orang tua peserta didik tidak hanya berperan dalam pembiayaan pendidikan, tapi juga dituntut untuk berpartisipasi dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memantau proses pembelajaran anak mereka.

D.    Manajemen Pendidikan Berbasis Kemitraan (MPBK)
MPBK merupakan pendekatan pengembangan manajemen pendidikan yang muncul berdasarkan suatu keinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, serta relevansi pendidikan, yakni keselarasan antara output pendidikan dengan segala hal yang dibutuhkan. Konsep MPBK ini memiliki perpaduan antara ilmu dengan profesi, teori dengan praktik, harapan dengan kenyataan, serta retorika dengan realitas. Ada beberapa kelebihan yang dapat diandalkan oleh konsep MPBK, antara lain adalah paradigma yang digunakan berdasarkan TQM, mengembangkan networking dan partnership dengan berbagai instansi, senantiasa menciptakan komunikasi internal yang baik, menggunakan prinsip good governance sebagai landasannya, dan lain-lain. Namun konsep ini pun memiliki kekurangan, diantaranya adalah dalam menentukan instansi yang akan dipilih menjadi mitra seringkali tidak didasarkan pada keunggulan kompetitif, dalam proses penentuan program studi customer diabaikan, MBPK hany diperuntukan bagi lembaga profesional kedinasan.

E.     Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008
Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008, berlandaskan pada 8 prinsip manajemen, yaitu customer focus, leadership, keterlibatan semua orang, pendekatan proses, pendekatan sistem ke manajemen, perbaikan berkelanjutan, fakta sebagai dasar pengambilan keputusan, kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemasok. sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 sangat menuntut kepemimpinan yang baik, kepemimpinan yang transformasional, transpanransi manajemen, dan keterlibatan semua anggota dan personil organisasi pendidikan dalam pengimplementasiannya.

C.MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

a.      Urgensi Manajemen Pendidikan Islam
Manajemen pendidikan Islam pada dasarnya adalah metode pengelolaan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien sesuai dengan yang telah ditetapkan. Manajemen pendidikan Islam memiliki manfaat terhadap perkembangan pendidikan, diantara nya:
1.      Memudahkan pekerjaan adminstratif dalam pendidikan.
2.      Menciptakan iklim rohaniah, psikologis, dan sosial dengan dilaksanakannya akidah dan akhlak islam.
3.      Meningkatkan moral dan semangat angota-anggota lembaga pendidikan.
4.      Menumbuhkan produktivitas pekerjaan.
5.      Menghubungkan antara proses pendidikan dengan tujuan pembangunan dalam masyarakat sekaligus mempererat hubungan lembaga pendidikan dengan lingkungannya.

Manajemen pendidikan Islam juga memiliki beberapa prinsip, yaitu:
a)      Ikhlas
b)      Tanggung jawab
c)      Kejujuran
d)     Dinamis
e)      Amanah
f)       Praktis
g)      Adil, dan
h)      Fleksibel
Pentingnya manajemen pendidikan Islam bisa dilihat juga dari keberadaan pendidikan Islam sendiri. Agar tetap eksis, survive, dan terus berkembangan, pendidikan Islam membutuhkan suatu pengelolaan yang baik, terencana, dan teratur, sehingga mampu menumbuh-kembangan eksistensi pendidikan islam ditengah-tengah persaingan global.

b.   Implementasi Manajemen Pendidikan Islam
Di Indonesia, pendidikan Islam merupakan subsistem dari pendidikan nasional, sehingga pada dasarnya keberhasilan pendidikan Islam akan membantu keberhasilan pendidikan nasional begitu juga sebaliknya. Terkait dengan implementasi manajemen pendidikan Islam di Indonesia, terdapat tiga pola yang telah berlangsung yang didasarkan dengan perkembangan terkini.
1)         Pola tunggal. Dalam pola ini hanya berlaku satu jenis sistem, yaitu sentralistis.
2)         Pola ganda. Dalam pola ini berlaku dua jenis sistem, yaitu sentralistis dan desentralistis.
3)         Pola simbolik. Pola ini merupakan perluasan dari pola ganda yang memberi pengakuan hak hidup berbagai sistem. Pola simbolik inilah yang seharusnya diterapkan dalam manajemen pendidikan Islam.

c.    Manajemen Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Nasional
Sebagai subsistem dari pendidikan nasional, keberhasilan pendidikan Islam bisa membantu keberhasilan pendidikan nasional, demikian juga sebaliknya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya, Indonesia dengan pendidikan yang sentralistik melahirkan suatu dualisme sistem pendidikan yang tergambar dari Depag dan Diknas yang menangani pendidikan. Manajemen pendidikan islam dan manajemen pendidikan nasional sejatinya saling menopang dan saling melengkapi, meskipun terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Manajemen pendidikan Islam bisa mengadaptasi konsep-konsep bermutu yang dimiliki oleh manajemen pendidikan nasional untuk diaplikasikan. Begitu juga sebaliknya. Pada tatanan koridor manajemennya, antara manajemen pendidikan Islam dan manajemen pendidikan nasional tidaklah jauh berbeda. Hal ini terbukti dari aplikasi keduanya yang cenderung sama. Manajemen pendidikan Islam berlandaskan kepada Al-Qur’an dan hadist, sedangkan manajemen pendidikan nasional berlandaskan pada teori-teori dari manajemen yang ada dan terus memantau perkembangannya.

d.   Meningkatkan Mutu Lembaga dengan Manajemen Pendidikan Islam
Salah satu hal penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan adalah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan merupakan pelaksana pendidikan terdepan sekaligus menjadi salah satu tolak ukur terhadap keberhasilan pendidikan sebuah bangsa, selain output pendidikan, dan hal-hal lainnya. Meningkatkan mutu lembaga pendidikan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan pendidikan nasional memang bukanlah hal yang mudah. Berbagai partisipasi dari seluruh elemen terkaitpun sangat diperlukan, dalam hal ini ialah pemerintah, warga sekolah, orang tua siswa, tokoh agama, dan seluruh tokoh masyarakat harus berperan aktif dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan melalui kerjasama yang solid.

e.    Konsep Ideal Manajemen Pendidikan Islam
Meskipun manajemen pendidikan Islam dan konsepnya masih mengikuti konsep manajemen pendidikan nasional, namun bukan berarti manajemen pendidikan Islam tidak memiliki acuan yang menjadi bahan baku untuk diolah, dikelola, dan dikembangkan sendiri oleh seluruh umat manusia. Meskipun dalam konsep manajemen pendidikan antara nasional dan Islam sama, bersinergi, dan terintegralisasi, namun dalam hal-hal penentuan visi misi, budaya organisasi, atau kebijakan-kebijakan strategis, lembaga pendidikan Islam memakai nilai-nilai normatif dari Islam.
f.       Metamorfosis Manajemen Pendidikan Islam
Meskipun saat ini konsep manajemen pendidikan Islam masih mengikuti konsep manajemen pendidikan nasional, setidaknya masih cukup ideal untuk saat sekarang, namun bukan berarti ideal untuk kelak dan selamanya. Konsep tersebut harus terus berkembang dan berubah agar lebih baik lagi. Adanya metamorfosis manajemen pendidikan Islam bisa dibaca dari hierarki manajemen pendidikan Islam, yang secara umum berlaku sebagai berikut:
a)      Manajemen sentralisasi.
b)      Manajemen desentralisasi.
c)      Manajemen fungsional.


ANALISA BUKU
Entri Point
Didalam buku ini terdapat beberapa point-point penting yang dapat disimpulkan, yakni terdapat beberapa konsep manajemen yang sesuai utuk diterapkan pada manajemen pendidikan naisonal di Indonesia. Setiap manajemen itu pun memiliki target nya masing-masing dan beberapa kelebihan dan kekurangan.

Konsep Manajemen
Target
Kelebihan
Kekurangan
Total Quality Manajemen (TQM) in education
Peningkatan kualitas, mengutamakan pelanggan.
Perbaikan senatiasa dilakukan, seluruh staf dapat bekerja sama, dll.
Ketidakpastian dan ketidakjelasan tentang identitas dan sepesifikasi pelanggan.
Manajemen Berbasis Sekolah
Peningkatan kualitas dengan memberikan otoritas penuh terhadap sekolah
Sekolah diberikan otoritas penuh, melibatkan orang tua peserta didik, transparansi manajemen, dll.
Rawan korupsi, pelayanan terhadap kelompok kelas menengah, mutu yang jadi sasaran belum jelas, dll.
Manajemen peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Peningkatan kualitas
Proses pembelajaran menggunakan sistem PAKEM,transparansi manajemen,masyarakat berperan aktif, dll. 
Mutu yang menjadi sasaran belum jelas, rawan korupsi, evaluasi outcome masih rancu, dll.
Manajemen Pendidikan berbasis Kemitraan (MPBK)
Peningkatan efektivitas penyelenggaraan pendidikan
Mengembangkan networking dan partnership dengan berbagai mitra, menciptakan komunikasi internal, dll
Hanya melibatkan dua instansi yang bermitra dalam penentuan prodi, tidak berdasarkan pada keunggulan kompetitif dalam pemilihan mitra, dll.
Sistem Manajemen ISO 9001:2008
Peningkatan mutu
Mengutamakan pelanggan, kepemimpinan yang baik dan transformasional, perbaikan yang berkelanjutan, dll.
Definisi dan spesifikasi pelanggan tidak jelas, membuka jurang perbedaan antarlembaga pendidikan yang ada, dll.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Jika dibandingkan dengan buku lain dengan tema yang sama, buku ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain:
·         Kelebihan:
ü  Isi yang lengkap
ü  Penjelasan baik
ü  Kalimat teratur
·         Kekurangan :
ü  Isi lengkap namun terlalu padat

Tujuan Penulisan
·         Tujuan penulis buku
Menjelaskan kepada para pembaca mengenai beberapa teori konsep manajemen pendidikan yang dapat diterapkan pada pendidikan nasional.
·         Tujuan peresume buku
·      Memenuhi tugas matakuliah Manajemen.
·      Merangkumkan isi buku agar pembaca makalah ini dapat sedikit mengetahui keseluruhan isi buku, sehingga pembaca dapat menilai sendiri buku ini.
·      Sebagai referensi bagi pembaca.

KESIMPULAN
Setelah saya membaca kesuluruhan isi buku “Buku Pintar Teori-Teori Manajemen Pendidikan Efektif” karya S. Shoimatul Ula, maka dapat saya simpulkan bahwa buku ini berisika  teori-teori konsep manajemen pendidikan yang telah diterapkan pada dunia pendidikan nasional maupun luar negeri. Konsep-konsep manajemen tersebut antara lain adalah, konsep manajemen TQM, manajemen berbasis sekolah, manajemen pendidikan berbasis kemitraan, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, dan sistem manajemen ISO 9001:20008.

Sumber : S. Shoimatul Ula, Buku Pintar Teori-Teori Manajemen Pendidikan Efektif, Berlian, Jakarta, Januari 2013.

Selasa, 01 April 2014

"Studi Banding dalam Tinjauan"

STUDI  banding sebagai hal yang sering dilakukan sejak SMP dulu biasanya keluar kota bahkan setelah masuk jenjangS1/ S2/S3  hal ini masih berlaku dengan lokasi yang lebih jauh lagi. Seiring kesibukan dalam rangka mempersiapkan tesis ataupun disertasi, dan trend tiap angkatan sebagai salah satu gengsi tersendiri karena kesana biasanya bersama dosen atau calon pembimbing/calon promotor kita, "Setidaknya kalau satu perjalanan jauh bisa merekatkan sebuah hubungan yang lebih dekat dengan calon dosen pembimbing atau calon promotor kita", kata teman kita yang merasakan manfaat studi banding tersebut  selain menambah wawasan tentunya."Sambil berdayung, dua tiga pulau terlampaui", begitu pepatah.

Masalah bagi sebagian mahasiswa, mungkin tak masalah bagi yang lainnya, buktinya program tersebut berjalan lancar. Soal Biayanya jangan tanya, kalau kunjungan dalam kota mungkin tak seberapa, tapi ke luar negeri,seperti  ke Hongkong, China, Jepang ataupun negara Asia, Australia, Eropa, kalau bisa Afrika, siapa yang tak ingin menambah wawasan dan bertamasya dengan kebanggaan yang luar biasa, apalagi kalau bukan masalah dana bagi mahasiswa yang secara finansial minus. Bahkan untuk kuliah saja hanya mengandalkan beasiswa dan pembiayaan lainnya yang minus, sehingga yang berangkat hanya beberapa gelintir mahasiswa yang mapan secara ekonomi dan biasanya kalau dijurusan kami minimal pejabat di tempat kerjanya, atau sisa beasiswa yang sebenarnya walaupun tak mendapat beasiswa mampu kuliah kejenjang lebih tinggi.
Ada laporan?, kayaknya sekedar oleh-oleh saja, karena sebagian punya cerita masing-masing, kami tahu lewat jejaring sosial bagaimana perjalanan mereka seperti facebook dengan potret narsis dibeberapa tempat yang dikunjungi ataupun pertemuan dengan kampus yang dikunjungi dan kami bahagia mendengar suatu yang baru di negara lain yang membuat terkagum-kagum yang sebenarnya mugkin bisa diterapkan bahkan hanya sekedar impian saja.karena secara kultural begitu berbeda dengan karakter bangsa kita. 

Sekali lagi ini hanya sekedar studi banding?

Sebuah budaya yang mungkin baik, mungkin juga hanya sekedar pembiasan makna setelah melihat kehebatan bangsa lain dalam mengelola pendidikan, yang ditakutkan hanya sekedar sebuah anomie yang menjangkiti para petinggi kita yang juga diikuti oleh calon petinggi dalam jenjang pendidikan tinggi.Sebagaimana studi banding anggota dewan kita yang berkesan in-efisiensi ke beberapa negara lain sehingga ditolak keberadaannya, karena lebih mengumbar budaya belanja daripada mencari pembelajaran sehingga kita pulang tak satupun yang bisa dipetik dan diterapkan di negara tercinta ini. Rupanya hal ini sudah dirintis sejak masih S2/S3, tapi argumen teman kita yang ikut berkunjung tergantung penilaian masing-masing, segala sesuatu ada value-nya."Tak ada yang salah sehabis perkuliahan selesai dan menjelang proses disertasi untuk sekedar refresing menghilangkan kepenatan", kata teman kita. "Lu, aja tanda tak mampu", lanjutnya.

Studi banding yang dilakukan terukur, terjangkau dan terencanakan dengan tolak ukur yang bisa dipahami semua orang sehingga sehabis studi tour kita benar-benar mendapatkan pengalaman yang bisa mendukung kualitas kita sebagai calon pemimpin dimasa yang akan datang atau seorang intelektual yang berkarakter, kritis dan itu hanya sekedar pendapat, pro dan kontra. pengalihan hasil misalnya bsia saja menuangkan dalam sebuah karya buku atau membenchmark organsasi pendidikan yang suatu waktu akan kita tuangkan sendiri dalam dunia pendidikan. Walaupun tujuannya studi, jangan ada kesan hanya pelepas lelah. Tujuan dasarnya hilang dengan jalan-jalannya, atau bisa juga berbagi dengan mahasiswa lainnya yang dirasakan mungkin tidak tahu akan kesulitan terutama yang berhubungan dengan finansial.

Studi banding jangan ada kesan perbedaan jarak perhatian. Objektifitas tetap terjaga, karena studi banding hanya sekedar peningkatan pengalaman mahasiswa akan perbedaan dan luasnya dunia pendidikan yang bisa dijadikan sebagai contoh dan master plan dari negara lain dalam pengelolaan pendidikan.
sekali lagi yang tidak ikut kunjungan ke negara lain bukan tidak solider tapi masih saja terbentur dengan masalah prioritas keuangan mahasiswa yang tidak semua memiliki anugrah dalam finansial dengan bisa kuliah kejenajnag lebih tinggi berkat bantuan beasiswa yang tertunda. wallahu alam.

Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah sebagai Tugas


  •      Manajemen Peserta Didik

Adapun tujuan pembinaan peserta didik di antaranya :
  1. Mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas.
  2. Memantapkan kepribadian peserta didik untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan
  3. Mengaktualisasikan potensi peserta didik dalam perencanaan prestasi unggulan sesuai bakat dan minat, dan
  4.  Menyiapkan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani (civil society )

  •       Manajemen Kurikulum

Adapun kegiatan dari manajemen pendidikan karakter dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran, adalah sebagai berikut :
  1. Perencanaan pembelajaran
a.       Silabus
b.      RPP
c.       Bahan/Buku ajar

2.      Pelaksanaan pembelajarana.
       
a. Pendahuluan
b.      Inti pembelajaran
c.       Kegiatan penutup

3.      Kegiatan penilaian

  •      Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, jantung manjemen kurikulum adalah manajemen pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Adapun kegiatan dari manajemen pendidikan karakter dalam manjemen kurikulum pendidikan karakter dalam manajemen kurikulum dan pembelajaran adalah sebagai berikut :
  •      Perencanaan Pembelajaran.

Iuraikan bahwa dalam perencanaan pembelajaran silabus, RPP, dan bahan ajar dirancang agar muatan maupun kegiatan pembelajarannya memfasilitasi/berwawasan pendidikan karakter. Adapun cara yang paling mudah untuk membuat silabus, RPP, dan bahan bahan ajar yang berwawasan pendidikan karakter.
  •        Silabus

Penulis menegaskan kembali bahwa dalam materi pembelajaran, indikator pencapaian, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar yang dirumuskan di dalam silabus, pada dasarnya bertujuan memfasilitasi peserta didik menguasai SK/KD. Selain itu juga agar memfasilitasi terjadinya pembelajaran yang membantu peserta didik mengembangkan karakter.
  •        RPP

RPP pada dasarnya dipilih untuk menciptakan proses pembelajaran untuk mencapai SK dan KD. Oleh karena itu RPP tersebut perlu diadaptasi. Adapaun adaptasi yang dimaksud antara lain meliputi:
  1.    Penambahan dan/ atau modifikasi kegiatan pembelajaran sehingga ada kegiatan pembelajaran yang mengembangkan karakter.
  2.     Penambahan dan/ atau modifikasi indikator pencapaian sehingga ada  indikator yang terkait dengan pencapaian peserta didik dalam hal karakter,
  3.   Penambahan dan/atau modifikasi teknik penilaian sehingga ada teknik penilaian yang dapat mengembangkan dan/atau mengukur perkembangan karakter.

  •       Bahan/buku ajar

Bahan/ buku ajar ini merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh dalam proses pembelajaran. Bahan/buku ajar mestinya menjadi pelengkap, agar pembelajar menjadi menarik, kaya informasi dan tentu saja memberdayakan peserta didik.
  •       Pelaksanaan Pembelajaran

Agar pelaksanaan pembelajaran bisa memfasilitasi peserta didik mempraktikkan nilai-nilai karakter yang ditargetkan para guru juga harus melaksanakan langkah-langkah berikut :

1. Pendahuluan.
Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, selain melaksanakan langkah-langkah sebagaimana telah diuraikan pda bab sebelumnya, para guru juga harus melaksanakan :
  1.       Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
  2.     Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
  3.       Melaksanakan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai ;dan
  4.       Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
    2.  Inti pembelajaran.
Ada tiga tahapan kegiatan penting dalam inti pembelajaran, yaitu eksplorisasi, elaborasi, dan konfisrmasi. Pada tahap eksplorisasi peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

       3. Kegiatan penutup

4. Kegiatan Penilaian
Teknik dan instrumen penilaian yang dipilih dan dilaksankan tidak hanya mengukur pencapaian akademik/kognitif peserta didik, tetapi juga mengukur perkembangan kepribadian peserta didik. Penilaian dilakukan secara terus menerus oleh para gruru.
  •      Manajemen Pembiayaan Pendidikan

Manajemen penddidikan karakter pada bidang garap pembiayaan pendidikan, selain melaksanakan hal-hal sebagaimana telah diuraikan pda bab sebelumnya, tetapi juga melakukan hal-hal yang akan diuraikan berikut. Pengelolaan biaya pendidikan di sekolah dapat memebrikan kontribusi yang sangat signifikan dalam pendidikan karakter. Pengalokasian biaya untuk program dan kegiatan pendidikan karakter ini dituangkan di dalam RKS dan RKAS. Beberapa program dan kegiatan yang dianggarkan atau dibiayai misalnya :
  1.     Kegiatan penggalian dan analisis potensi sekolah, masyarakat, dan daerah tentang nilai-nilai perilaku manusia (karakter)baik yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri,sesama maupun lingkungan;
  2.   Kegiatan pengembangan kurikulum pendidikan nilai-nilai karakter bagi tenaga pendidik dan kependidikan;
  3.     Kegiatan penyusunan rencana dan pelaksanaan penyelenggaraan program pendidikan nilai-nilai karakter baik yang dilakukan secara reguler, insidental, di dalam ssekolah, maupun di luar sekolah.
  4.    Kegiatan supervisi, monitoring dan evaluasi/penilaian pendidikan nilai-nilai karakter, termasuk di dalamnya adalah biaya untuk pengembangan instrumen penilaian, pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan penilaian karakter atau sertifikasinya.
  5.     Program atau kegiatan lain yang relevan, misalnya pengadaan dan atau pemberdayaan sarana dan prasarana pendukung, pengembangan SDM, dan sebagainya.

Manajemen Pendidikan Karakter

PEMERINTAH dan rakyat Indonesia, dewasa ini sedang gencar-gencarnya mengimplementasikan pendidikan karakter di institusi pendidikan ; mulai dari tingkat dini (PAUD), sekolah dasar (SD/MI), sekolah menengah (SMA/MA), hingga perguruan tinggi. Melalui pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam institusi pendidikan, diharapkan krsisis degradasi karakter atau moralitas anak bangsa ini dapat segera teratasi. Lebih dari itu diharapkan di masa yang akan datang terlahir generasi bangsa dengan ketinggian budi pekerti atau karakter. Itulah ancangan mulia pemerintah dan rakyat Indonesia, yang patut didukung oleh segenap elemen.
            Munculnya kesadaran mengaplikasikan pendidikan karakter tersebut, karena melihat fenomena degradasi moralitas generasi muda saat ini, yang penulis istilahkan “sudah di ambang sekarat”, carut marut moralitas anak bangsa saat ini dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Contoh paling sederhana adalah ketika berlalu-lintas, di mana bukan hanya hilangnya ketaatan pada rambu-rambu atau aturan yang ada, tetapi juga sudah sirnanya toleransi dan sopan-santun antar sesama pengguna jalan. Data teranyar yang lagi hangat-hangatnya, mewartakan terjadinya kembali tawuran antar pelajar dan antar mahasiswa, sungguh sangat memalukan. 

Contoh lain yang tarafnya lebih akut, seperti hilangnya penghormatan pada orang yang lebih tua, budaya mencontek/menjiplak ketika ulangan atau ujian, pergaulan bebas tanpa batas, seks bebas, mengkonsumsi bahkan menjadi pecandu narkoba, menjadi kelompok geng motor yang anarkhis, dan masih banyak lagi. Jika banyak generasi muda kita yang keluar dari rambu-rambu susilan, sebagian generasi tua juga tidak mau kalah. Banyak politikus di negeri ini yang tidak menunjukkan ketinggian karakter, tetapi malah sebaliknya. Mereka tanpa berdosa mengkorupsi habis uang rakyatnya. Jika tidak, mereka membuat kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya. Para politikus ini menjelam menjadi manusia “pembohong”.Bangsa kita, sepertinya saat ini
telah kehilangan kearifan lokal yang emnjadi karakter budaya bangsa sejak berabad-abad lalu.
            Di sisi lain, ada anggapan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter memang belum optimal. Pada kondisi demikian sukar diharapkan perbaikan karakter, bisa jadi disebabkan ketidaksiapan dan kekurangpahaman para guru mengajarkannya. Karena sifatnya yang instan, berbagai training, pelatihan dan workshop pendidikan karakter yang sudah diikuti, belum mampu dilaksanakan oleh para guru.Selain ketidakpahaman bagaimana mengajarkan pendidikan karakter, bisa jadi para gurunya sendiri belum berkarakter. Para guru belum bisa menjadi figur tauladan, yang perilakunya bisa dijadikan model bagi peserta didik. Para guru, alih-alih memberi tauladan bagaimana berperilaku yang santun dan berkarakter, mereka justru sering unjuk kekerasan dan kebringasan. Seperti ketika ada peserta didik datang terlambat atau tidak mampu mengerjakan soal ulangan.
            Menangani fenomena tersebut, semestinya menjadi action para guru mengaplikasikan pendidikan karakter; bagaimana anak didik tidak dibentak, tidak dipermalukan di depan teman-temannya, tidak direndahkan harga dirinya, serta bagaimana mestinya guru memberi punishment yang mendidik. Memang, ada sebagaian guru yang dengan tulus dan ikhlas membangun karakter peserta didiknya. Sayangnya jumlah guru sebagaimana disebutkan sedikit sekali. Para guru itu, laksana Ibu Muslimah, Ki Hadjar Dewantara, KH Hasyim As’ary, KH Ahmad Dahlan atau para guru bangsa lainnya, mengajar sembari menginternalisasikan karakter kepada peserta didiknya. Sosok seperti mereka itulah, yang akan membawa keberhasilan implementasi pendidikan karakter.
            Di sisi lain, belum ada kerjasama yang sinergis antara sekolah, masyarakat dan keluarga.Misalnya saja, sekolah sudah berupaya menanamkan pendidikan karakter tetapi  di masyarakat dan keluarga justru mnegebiri dan mngikis nilai-nilai yang sudah diajarkan itu. Lingkungan keluarga yang mestinya merupakan lahan subur menyemai nilai-nilai karakter, justru menjadi penjara yang penuh kekerasan dan keberingasan. Banyak orang tua yang berdalih mengenai pemenuhan tuntutan ekonomi, justru abai dengan anak-anaknya. Belum lagi yang lingkungan keluarganya tidak harmonis, orang tua seperti lupa, bahwa nak adalah titipan Tuhan yang harus dididik, dirawat dan diiringi tumbuh kembangnya dengan baik.
, baru memebentuk karakter peserta didik. Akan menjadi kerja yang sia-sia, ketika menganjurkan peserta didik untuk berperilaku mulia, sementara gurunya sendiri tidak berkarakter.
Pendek kata, dari sosok guru yang memancarkan karakter luhur itulah besar kemungkinan internalisasi pendidikan karakter efektif.

B.     Mengingat (Kembali) Pendidikan Karakter
1.      Apa Itu Karakter dan Pendidikan Karakter?
Jika dilihat dari asal-usul kata, banyak sekali pendapat mengenai dari mana kata “karakter” itu berasal. Ada yang berpendapat jika akar kata “karakter” ini, berasal dari kata dalam bahasa Latin, yaitu “kharakter”, “kharassein”, dan “kharax”, yang bermakna “tools for making”, “to engrave”, dan “pointed stake”. Kata ini konon banyak digunakan dalam bahasa Perancis sebagai “caractere” pada abad ke-14. Ketika masuk ke dalam bahasa Inggris, kata “caractere” ini berubah menjadi “character”.
 Adapun di dalam bahasa Indonesia kata “character” ini mengalami perubahan menjadi “karakter” ( Dani Setiawan, 2010).
Seperti halnya mengenai asal-usul, definisi para ahli mengenai karakter sendiri bermacam-macam, tergantung dari sisi atau pendekatan apa yang dipakai.
~        Menurut American Dictionary of the English Language (2001:2192), karakter merupak istilah yang menunjuk kepada aplikasi nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.
~        Sementara dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan sebagai tabiat , sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak.
~        Menurut (Doni Koesoema, 2007: 80) adapun kepribadian
Adapun kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang  yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan bawaan sejak lahir.
~        Menurut Thomas Lickona (1991:52), karakter mulia mengenai pengetahuan kebaikan (mpral knowing), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (moral feeling), dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (mora behavior). Dengan kata lain, karakter mengacu pada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudess), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).
~        Menurut Ki Hadjar Dewantara (2011:25), memandang karakter itu sebagai budi pekerti atau watak. Budi pekerti adalah bersatunya antara gerak fikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan, yang kemudian menimbulkan tenaga.
~        Menurut Kemendiknas (2010), karakter adalah watak, tabiat, watak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues), yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

2.      Nilai-nilai Dalam Pendidikan Karakter
            Nilai-nilai karakter mulia itu dapat kita temukan dalam adat dan budaya hampir di setiap suku bangsa di negeri ini. Seperti dalam adat dan budaya suku Jawa, Sunda, Sasak, Bugis, Minang, Asmat, Dayak, dan sebagainya. Nilai-nilai luhur ini merupakan aspek utama yang diinternalisaasikan kepada peserta didik melalui pendidikan karakter. Lokalitas menjadi penting dikedepankan dalam pendidikan karakter, sehingga peserta didik tidak tercerabut dari akar dan budayanya.
             Hendaknya nilai-nilai luhur yang berasal dari adat dan budaya lokal lebih diutamakan untuk diinternalisasikan kepada peserta didik melalui pendidikan karakter. Sebagai contoh, dalam masyarakat Jawa nilai-nilai “adiluhung” yang terdapat dalam adat dan budaya Jawa seperti tepo seliro, menghormati yang lebih tua, menghormati alam, dan lingkungan hidup, mencium tangan orang tua atau guru, dan sebagainya hendaknya lebih diutamakan untuk diinternalisasikan kepada peserta didik.
           
3.      Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah
Penulis menguraikan bahwa implementasi pendidikan karakter bisa dilakukan melalui :
a)      Terintegrasi dalam pembelajaran;
b)      Terintegrasi dalam pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler, dan
c)      Terintegrasi dalam manajemen sekolah.

Pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kegiatan pengembangan diri, artinya berbagai hal terkait dengan karakter diimplementasikan dalam kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan ekstra kurikuler. Beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang memuat pembentukan karakter antara lain :
a.       Olah raga (sepak bola, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, dan lain-lain),
b.      Keagamaan (baca tulis Al-Quran, kajian hadis, ibadah, dan lain-lain),
c.       Seni Budaya (menari, menyanyi, melukis,teater),
d.      KIR,
e.       Kepramukaan,
f.       Latihan Dasar Kepemimpinan Peserta Didik (LDKS),
g.      Palang Merah Remaja (PMR),
h.      Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA),
i.        Pameran, Lokakarya,
j.        Kesehatan, dan lain-lainnya.

Adapun pendidikan karakter yang terintegrasi dalam manajemen sekolah artinya berbagai hal terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, dan ketaqwaan, dan lain-lain), dirancang dan diimplementasikan dalam aktivitas manajemen sekolah, seperti pengelolaan : peserta didik, regulasi/peraturan sekolah, sumber daya mansia, sarana dan prasarana, keuangan, perpustakaan, pembelajaran, penilaian, dan informasi, serta pengelolaan lainnya. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam struktur kurikulum di sekolah pada umunya ada dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan PKn. Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja.

Menurut Lickona (2007), pendidikan karakter di sekolah dapat berjalan secara efektif jika para pendidikan prinsip-prinsip berikut :
a. Nilai-nilai etika inti hendaknya dikembangkan, sementara nilai-nilai kinerja pendukungnya dijadikan sebagai dasar atau fondasi;
b.Karakter hendaknya didefinisikan secara komprehensif, disengaja, dan proaktif;
c. Pendekatan yang digunakan hendaknya komprehensif, disengaja, dan proaktif;
d.   Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian;
e. Berikan peserta didik kesempatan untuk melakukan tindakan moral;
f. Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu mereka untuk berhasil;
g.Usahakan mendorong motivasi diri peserta didik.
h.Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajarn dan moral;
i.  Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral;
j.  Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra;
k.Evaluasi karakater sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana peserta didik memanifestasikan karakter yang baik.
  •       Pengembangan Pendidikan Karakter.


Selanjutnya , pendidikan karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Pendidikan karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Pendidikan karakter hendaknya juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri, Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral acting. Hal ini diperlukan agar peserta didik dan warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan) nilai-nilai kebajikan (moral). Dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, komunitas sekolah tidak bekerja dan berjuang sendiri. Akan tetapi, sekolah hendaknya bekerjasama dengan masyarakat di luar lembaga pendidikan; seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara. Dengan desain demikian , diharapkan pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. 

Sumber : Agus Wibowo, M.Pd., Manajemen Pendidikan Karakter Di Sekolah , Pustaka Pelajar Yogyakarta, Februari 2013

Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah

PERKEMBANGAN  Iptek telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini telah membawa manusia ke dalam era persaingan global,maka sebagai bangsa kita harus meningkatkan sumber daya manusianya.Oleh karena itu peningkattan kualitas SDM haru terencana,terarah,intensif,efektif dan efisien,agar bangsa ini dapat bersaing dalam proses globalisasi.
     
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas SDM itu sendiri.Peningkatan kualitas pendidikan dengan cara pengembangan dan perbaikan kurikulumdan sistem evaluasi,perbaikan sarana pendidikan,pengembangan dan  pengadaa amteri ajar,serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.
    
Dua faktor usaha perbaikan  sistem pendidikan di Indonesia kurang berhasil. 
Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat Input Oriented.Strategi ini lebih bersifata asumsi bahwa apabila semua input (pelatihan guru,penyediaan alat-alat belajar,dll)pendidikan telah dipenuhi,maka outputnya akan bermutu.
Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented,diatur oleh jajaran birokrasi ditingkat pusat.

Agar mutu tetap terjaga dan proses peningkatan mutu tetap terkontrol,maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut(benchmarking). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan abru,yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan dimasa mendatang harus berbasis sekolahs ebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan.Pendekatan ini disebut manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah(School Based Quality Management)atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan(developmental) disebut School Based Quality Improvement.
   
 Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan:
  1.   Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat.
  2.     Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplementasikan,mengingat lingkungan Indonesia yang memiliki keanekaragaman dalam berbagai bidang
  3.       Menambah wawasan pengetahuan masyarakat tentang peningkatan mutu pendidikan.
  4.       Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dalam peningkatan mutu
  5.    Mengalang  kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta aktif dan dinamis dalam meningkatkan mutu pendidikan.
  6.   Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran barudalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah
  7.    Mengalang kesadaran bahwa semua ini adalah tanggung jawab semua komponen masyarakat,dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan(terus menerus)pada tataran sekolah.
  8.       Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun.5 tahun,dst.Sehingga tercapai misi sekolah kedepan.
 
Peningkatan Mutu pendidikan Berbasis Sekolah
                        
Di dalam proses pengambilan keputusan unutk peningkatan mutu pendidikan mungkin dapat digunakan berbagai teori,perspektif,dan kerangka acuan(framework)dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.Dalam sistem lama Birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan keputusan pendidikan,yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapi lebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro;sementara sekolah hanya cenderung melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.
                        
Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah.Konsep ini diperkenalkan oleh teori EFFECTIVE SCHOOL yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan  proses pendidikan(Edmond,1979).

Beberapa indikator yang menujukkan karakter dari konsep manajemen ini adalah;(a) lingkungan sekolah yang aman dan tertib,(b) sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai,(c)  sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, (d) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah untuk berprestasi,(e)adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK,(f) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek  akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu,dan (g) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua,murid/masyarakat.

4 prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total,yaitu (a)perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus-menerus mengumandangkan peningkatan mutu,(b)kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah,(c)prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaana turan,(d)sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan,keterampilan,sikap arif dan bijaksana,karakter,dan memiliki kematangan emosional.

Pengertian mutu
Dalam rangka mutu mengandung makderajat (tingkat)keunggulan suatu produk(hasil kerja/upaya)baik berupa barang maupun jasa;baik yang tangible/intangible.Dalam konteks pendidikan pengertian mutu dalam pendidikan artinya”proses pendidikan”dan”hasil pendidikan”.

Dalam ”proses pendidikan” yang bermutu  terlihat berbagai input,seerti:bahan ajar(kognitif,afektif/psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru),sarana sekolah,dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.Mutu dalam konteks”hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu,akhir tahun 2/5 tahun,bahkan 10 tahun).

Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya ulangan umum,UN).Dapat pula prestasi di bidang lain seperti suatu prestasi disuatu cabang olahraga,seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknis,jasa.Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang(intangible)seperti suasana disiplin,keakraban,saling menghormati,kebersihan,dsb.
      
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen(pengelolaan)pendidikan dimana birokrasi pusat dimana birokrasi pusat bukan lagi sebagai penentu semua kebijakan makro maupun mikro,tetapi hanya berperan sebagai penentu semua kebijakan  makro maupun mikro,tetapi hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro,prioritas pembangunan,dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu.

Strategi pelaksana ditingkat sekolah
      Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah ini,maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua,siswa,guru,dan staf lainnya harus memiiliki  tahapan kegiatan sebagai berikut:
  1.   Penyusunan basis data dan profil sekolah lebihpresentatif,akurat,valid,dan secara sistematis menyangkut berbagai a spek akademis,administratif dan keuangan.
  2.    Melakukan evaluasi diri(self assesment)untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah,personil sekolah,kinerja dalm mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa.
  3.      Sekolah harus mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi dan tujuan dalam rangka  menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai.Perumusan visi,misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar,penyediaan sumber daya dan pengelolaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
  4.    Fokus dalam mengimplementasikan konsep manajemen ini adalah mutu siswa,maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan.

  1.       
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *