Jumat, 20 Mei 2011

Jagoan-jagoan yang Berbahaya

Sederet bukti bahayanya menyerahkan pengasuhan anak kepada televisi. Pemecahannya?

Bocah 4 tahun bernama Ferhat Altinbas itu bergegas menuju balkon apartemennya. Televisi yang saban hari menemaninya masih menyala, ditinggal begitu saja. Dalam benak terbayang, sebentar lagi akan jadi monster hebat seperti Pikachu yang bisa melayang. Begitu sampai di bibir balkon, tanpa ba..bi..bu.. bocah lelaki ini melompat. Hiyaaaatt!

Hasilnya? Bukan monster yang hebat, tapi Ferhat masuk rumah sakit di Mersin, Turki Selatan. Kakinya patah, beberapa bagian tubuhnya luka cukup parah. Ketika ditanya dokter perihal perbuatannya yang nekad itu, si kecil Ferhat menjawab enteng, "Saya Pokemon, dan saya melayang seperti dia."

Peristiwa yang dilansir harian Radikal Daily Turki edisi 30 Oktober 2000 itu hanyalah salah satu contoh, betapa besar pengaruh tayangan televisi terhadap anak-anak. Ferhat ingin seperti Pikachu, tokoh serial Pokemon (Pocket Monster), idolanya. Pikachu adalah monster kucing imut-imut berwarna kuning yang sakti dan selalu menang dalam pertarungan. "Anak-anak memang banyak meniru tokoh yang dianggapnya sebagai panutan, baik itu orang tua, guru, ustadz, atau tokoh film yang disenanginya," ujar psikolog Elzim Kosyiyati.

Konsekuensinya, kalau tokoh yang dicontoh adalah figur yang baik, niscaya anak-anak akan berlaku baik pula. Begitu pula sebaliknya. Nah, kalau idolanya adalah Pikachu atau Tinky-Winky, perilaku tokoh itulah yang terekam di benak anak-anak. Dan tokoh-tokoh semacam inilah yang sekarang banyak diidolakan.

Ajaran Kekerasan dan Syirik

Di mata anak-anak, tokoh-tokoh dalam Pokemon sama tenarnya dengan Teletubbies. Tayangan animasi dari Jepang ini mulai populer di Indonesia akhir 1990-an, ditandai dengan munculnya barang-barang memakai bentuk Pikachu. Tas punggung, peralatan tulis, sapu tangan, lampu meja, sampai ikat rambut menggunakan tokoh Pikachu. Tak lama kemudian Pokemon menjamur dalam bentuk VCD, dan akhirnya tersaji dalam siaran televisi.

Di negeri asalnya, film ini sempat memicu protes keras. Sebabnya, sebanyak 1523 anak di berbagai kota di Jepang dilaporkan telah terserang mual-mual, muntah, pusing, dan matanya perih akibat nonton Pokemon episode Computer Warrior Porigon (1997). Sebanyak 650 anak di antaranya harus masuk rumah sakit. Menurut analisis medis, itu terjadi akibat pancaran sinar merah menyilaukan selama 650 kali selama 5 detik dari mata tokoh Pikachu. Sinar itu menyebabkan gangguan syaraf dan ritme otak.

Di Inggris juga menimbulkan kontroversi. Dua orang anak berusia 11 tahun tega menodong anak usia 8 tahun demi mendapatkan kartu Pokemon. Persatuan Nasional Guru Inggris menilai tontonan ini menjadi penyulut kekerasan pada anak-anak (Reuters, 4/2000).

Adegan dalam film karangan Satoshi Tajiri ini memang didominasi kekerasan, tema yang tidak sehat bagi perkembangan jiwa anak. "Dalam psikologi pendidikan, tayangan semacam itu dapat merusak citra diri anak yang pada fitrahnya tidak menyukai kekerasan, tapi mendambakan kasih sayang," ujar Elzim Kosyiyati.

Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat. Kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. Keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Di Amerika Serikat, hal tersebut memang terbukti. Sebuah penelitian yang dilakukan Leonard Eron dan Rowell Huesman menyebutkan, tontonan kekerasan yang dinikmati pada usia 8 tahun akan mendorong tindak kriminalitas pada usia 30 tahun (Kompas, 5/2000).

Sedangkan penelitian yang dilakukan Yale Family Television menyebutkan anak-anak yang menyaksikan program fantasi kekerasan cenderung kurang kooperatif, kurang baik dalam bergaul, kurang gembira, kurang imajinatif, serta angka IQ-nya rendah. Pecandu televisi juga pada umumnya sering gelisah dan memperlihatkan masalah di sekolah.

Ajaran kekerasan tak hanya disosialisasikan Pokemon. Lainnya masih banyak, di antaranya yang ditayangkan RCTI seperti P-Man, Kobo Chan, dan Panji Millenium, juga SCTV seperti Samurai X, Kungfu Kids. Di TPI ada Tazmanian Devil dan Power Rangers in Space, Indosiar menyajikan Power Rangers Turbo, Ultraman, Dragon Ball, Ninja Hattori, dan sebagainya. Termasuk tontonan untuk orang dewasa yang akrab dengan anak-anak seperti Smackdown. Masing-masing mempunyai tokoh utama, dan masing-masing mempunyai penggemar fanatik.

"Ayo, Smack Down!", kata Zulfikri (5 th) pada adiknya, Amar. Kontan saja sang adik terjungkal dengan kepala menyentuh lantai. Amar yang masih berumur 2,5 tahun itu dibanting dengan gaya menirukan acara Smack Down. Tentu saja sang adik berteriak menangis. Menurut ibunya, Siti Aminah (32), Zulfi sudah ketiga kalinya ini membanting sang adik menirukan pertarungan bohong-bohongan yang sering diputar RCTI tersebut. "Ini sudah ketiga kali lho, kalau diulangi lagi saya hukum kamu," kata sang ibu menasehati Zulfi.

Menurut sang ibu, Zulfi kerap menonton acara gulat tersebut di TV tetangga pada hari minggu. "Padahal saya juga nggak punya TV", kata ibunya. Sejak ketiga kali kasus membanting sang adik, Zulfi memang sudah jarang mengulangi 'smack down' pada Amar. Tapi diam-diam, masih sering mempraktekkannya dengan teman sebayanya bila datang bermain ke rumahnya.

Yang lebih berbahaya, tontonan kekerasan kebanyakan bersinergi dengan ajaran syirik dan klenik. Di mata da'i Khairu Ummah Ustadz Ihsan Tandjung, figur-figur Pokemon layaknya representasi dunia jin yang mempengaruhi anak kita. "Fenomena semacam itu adalah perbuatan syirik, dosa besar mempersekutukan Allah Swt yang tak terampuni," ujar mubaligh yang kerap muncul di layar kaca ini.

Ihsan menunjuk beberapa slogan yang kuasa membuat anak 'menuhankan'. Misalnya 'Selamat datang di dunia Pokemon, dunia khusus di mana orang seperti Anda dapat dilatih menjadi Master Pokemon nomor wahid di dunia.' Atau, 'Bawalah Pokemonmu dalam saku dan kau siap untuk apa saja. Kau punya kekuatan dalam genggamanmu, gunakanlah!'

Jangan heran bila Komite Tertinggi Riset Ilmiah dan Hukum Islam Arab Saudi mengeluarkan fatwa haram, Maret lalu. Alasannya, Pokemon telah berubah menjadi 'tuhan' yang membuat anak-anak lupa mengerjakan shalat. Selain itu juga mensosialisasikan Teori Evolusi Darwin, mengusung gambar bintang Daud segi lima yang menjadi simbol zionisme, dan mendorong perjudian. Fatwa haram ini akhirnya juga berlaku di semua negeri Timur Tengah. "Semua produknya, baik VCD maupun asesorisnya, dimusnahkan dan dibakar ramai-ramai," ujar Burhanudin Malik, warga Bogor yang kini tinggal di Kuwait.

Pemerintah Turki juga melarang penayangan film animasi yang pernah memakan korban ini. Begitu pula Amerika Serikat, Inggris, dan Slovakia. Sebuah gereja Kristen di Meksiko bahkan menyebut permainan Pokemon sebagai iblis.

Di negeri yang bernama Indonesia, justru sedang berkibar-kibar. "Saat ini Pokemon dan Doraemon paling laris," tutur Hadi, karyawan Gramedia Matraman, Jakarta. Di toko ini, buku dan komik terjemahan dari Jepang yang didominasi kekerasan dan syirik rata-rata terjual 1.250 buku per hari.

Film dan sinetron berbau klenik juga eksis di televisi. Misalnya Doraemon, Magic Girls, Mak Lampir, Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Bidadari, dan banyak lagi. "Tayangan yang penuh takhyul dan khurafat leluasa masuk ke dalam pikiran anak-anak kita," ujar Ihsan Tanjung.

Zina dan Durhaka

Berbicara tentang tontonan untuk anak, tentu tak lengkap tanpa menyinggung Crayon Shinchan. Film animasi yang diputar RCTI ini begitu dikenal anak-anak. Ratingnya cukup tinggi, yakni 9 hingga 11. Artinya, ditonton sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton. Namun seperti halnya tayangan lain, efek negatiflah yang lebih mengemuka. "Film itu jorok, tak bagus ditonton anak-anak," ujar Slamet, warga Cibubur yang juga ayah 2 anak.

Mau tahu contohnya? Dalam versi komik volume 1, digambarkan orang tua Shinchan sedang (maaf) menyalurkan hubungan biologis tanpa mengunci pintu kamar. Shinchan yang terbangun mau buang air kecil, tanpa sengaja masuk ke kamar orang tuanya dan melihat adegan itu. "Main gulat diam-diam saja, saya juga mau," kata anak yang konon berusia 5 tahun ini. "Iya, ini main gulat," sang ibu terpaksa membohongi anaknya demi menghindari malu.

Shinchan juga sering berkomentar seputar pantat, dada, dan bahkan kemaluan (diri dan orang lain). Hal-hal semacam itu tersaji sebab sebenarnya Crayon Shinchan memang untuk konsumsi orang dewasa. Pertama kali film animasi karangan Yoshita Usui ini dipublikasikan dalam Shukan Manga Action (Agustus 1992), majalah komik untuk orang dewasa. Namun karena berupa kartun, anak-anak pun akhirnya suka. Orang tua terkecoh. Kenapa? Menurut pengamatan psikolog Seto Mulyadi, orang tua sering keliru menganggap bahwa film kartun hanya untuk konsumsi anak-anak. "Padahal tidak selalu demikian," ujarnya seperti dikutip sebuah mingguan ibukota.

Tontonan televisi untuk orang dewasa namun ditayangkan pada jam anak-anak, cukup banyak. Tayangan ini didominasi oleh sinetron dan telenovela. Karena tersaji di depan mata, anak-anak pun begitu lahap mengkonsumsinya. Tahun lalu Kompas pernah melakukan survei tentang hal ini. Hasilnya, 77% anak suka mengobrolkan acara televisi, 40% di antaranya adalah film orang dewasa yang menyajikan kekerasan, intrik rumah tangga, serta pelecehan seksual.

Pada kesempatan lain, survei membuktikan bahwa anak-anak dalam seminggu menghabiskan waktunya sekitar 68 jam untuk menonton televisi. Padahal program anak yang tersedia di televisi hanya 32 jam. Artinya, setiap anak Indonesia menghabiskan waktu 36 jam untuk menonton tayangan televisi yang dipersembahkan bagi orang dewasa.

Shinchan tak hanya mengajarkan pornografi, tapi juga kebandelan dan berani kepada orang tua. Tujuh tahun lalu, ibu-ibu rumah tangga di Jepang ramai-ramai protes. Alasannya, di samping tolol dan menjengkelkan, Shinchan juga sering menjadikan ibunya sebagai sasaran kebandelan. Dia tak segan menyebut ibunya dengan istilah 'nenek kejam' atau melecehkannya dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan anak-anak kepada orang tua. Misalnya, "Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu."

Kendali Orang Tua

Psikolog Jane Healey dalam buku Endangered Minds secara tegas mengatakan bahwa televisi adalah perusak pikiran anak-anak. Sementara Mary Winn menyamakan televisi dengan obat bius dan alkohol yang bisa menyebabkan orang ketagihan. Neil Postman, profesor psikologi dari Universitas New York, dalam Amusing Ourselves to Death membuat pernyataan lebih ekstrim, yakni kecanduan itu akan berujung pada kematian.

Bila kita merujuk pada berbagai kasus yang ada, pernyataan di atas tak salah. Namun, begitu burukkah tayangan televisi untuk anak-anak? Tentu saja tidak. Banyak yang cukup baik. Menurut pengamatan Elzim Kosyiyati, film seperti Teletubbies, di samping mengusung nilai negatif, sebenarnya mampu membimbing anak dalam hal pengenalan warna, menghitung, dan menyayangi alam.

Elzim juga menunjuk sinetron Keluarga Cemara sebagai tayangan yang mendidik. "Anak-anak diajak melihat realitas, kerja keras, menghormati orang tua, dan kasih sayang di antara anggota keluarga. Fitrah anak-anak memang kasih sayang," ujarnya.

Bagaimana dengan berbagai pengaruh negatif di atas? Ibu dua anak ini mengajak orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam menonton. Televisi adalah realitas sehari-hari anak masa kini, sehingga tak mungkin anak-anak dilarang agar tidak menonton sama sekali. Yang perlu dilakukan adalah memberi penjelasan tentang berbagai adegan yang tersaji di layar kaca. "Beri pengarahan saat itu juga, jangan tunda-tunda sampai hari esok. Apa yang dilihat anak-anak akan sangat melekat dalam pikirannya."

Tips untuk menghadapi teve

Majalah Intisari menurunkan tips untuk menjaga anak dari pengaruh buruk televisi. Pertama, sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya, di kala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton televisi. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin artinya orang tua bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh anak akan tahu ada banyak cara beraktivitas selain menonton televisi.

Kedua, usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya, anak-anak secara umum senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun bersama orang tuanya.

Ketiga, mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara yang ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Ia menonton hanya bila perlu. Untuk itu video kaset bisa berguna, rekam acara yang disukai lalu tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena anak hanya menyaksikan apa yang ada di rekaman itu.

Keempat, cermati jenis program yang ditonton. Ini penting, sebab menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan seperti pacaran, rayuan yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan 'saru'. Masalah bahasa memang perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru.

Kelima, waktu. Kapan dan berapa lama anak boleh menonton televisi, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari. Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jane Murphy dan Karen Tucker produser acara TV anak-anak dan penulis sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game. Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak.

Sekalipun anak-anak cuma berjumlah 16% dari populasi dunia, tapi mereka adalah 100% pemimpin masa depan.

Jumat, 29 April 2011

Kesulitan Anak-anak Autis Terbawa Sampai Remaja


 


Penelitian American Academy of Neurology melibatkan 24 anak perempuan dan laki-laki berusia antara 12 dan 16 tahun. Separuh dari kelompok itu mengalami gangguan spektrum autisme dan semua remaja itu mendapat penilaian dalam kisaran normal untuk penalaran persepsi pada tes IQ.

Pengujian dilakukan dengan meminta para remaja itu menyalin kata-kata dalam contoh kalimat dengan persis baik ukuran maupun bentuk hurufnya dengan menggunakan tulisan tangan.

Penilaian tulisan tangan itu berdasarkan lima kategori: tingkat keterbacaan, bentuk, kerapian (lurus), ukuran dan spasi. Kemampuan motorik mereka, termasuk keseimbangan dan gerakan, juga diuji dan diberi nilai.

Penelitian ini menemukan remaja autis mendapatkan 167 poin dari total kemungkinan 204 poin pada penilaian tulisan tangan, dibandingkan dengan 183 poin untuk remaja dalam kelompok non-autis.

Hasil menunjukkan signifikansi secara statistik dalam studi tersebut. Para remaja autis itu juga memiliki gangguan keterampilan motorik.

Kinerja tulisan tangan pada remaja autis diprediksi oleh skor penalaran persepsi, yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk melakukan penalaran melalui masalah dengan materi nonverbal.

"Keterampilan penalaran dapat memprediksi kinerja tulisan tangan ini menunjukkan adanya sebuah strategi yang dapat dilakukan remaja autis untuk belajar dan menggunakan strategi kompensasi untuk mengatasi kekurangan motorik," kata penulis studi, Amy Bastian, dari Kennedy Krieger Institute dan Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore.

"Meski remaja autis lebih mungkin memiliki masalah tulisan tangan, ada beberapa teknik untuk meningkatkan kualitas tulisan tangan mereka, seperti menyesuaikan pegangan pensil, menstabilkan tangan yang menulis dengan tangan lainnya atau menuliskan huruf lebih lambat. Terapi ini bisa membantu remaja autis untuk mencapai kemajuan akademis dan berkembang secara sosial," kata Bastian. *
 

Tips Agar Ilmu Terus Terjaga


 
Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level tinggi.

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, orang seperti mereka sesungguhnya bukan orang pintar. Sebab mereka menentang ilmu dan hukum-hukumnya, dan lebih mengutamakan khayalan, kesukaan dan hawa nafsu. (Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawa’id).

Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (muta’allim), apapun profesinya dan berapapun usianya. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” adalah seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar. Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus belajar.

Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar.


Akan tetapi ada petunjuk yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan tersesat.

“Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi dzalim.


Kedzaliman seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu.

Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi. Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta (Bidayatul Hidayah, hlm.6).
Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi.

Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab.

Pemisahan aspek ukhrawi dan aspek duniawi dalam menuntut ilmu akan mengakibatkan kekacauan ilmu. Ilmu yang kacau melahirkan pelajar yang jahil. Kejahilan itu bukan sekedar kekurangan ilmu, akan tetapi kacaunya ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan ilmu terjadi ketika informasi-informasi yang salah dipelajari kemudian diyakini sebagai kebenaran.

Ilmu menjadi kacau ketika kehilangan bimbingan adab dan kemasukan konsep materialisme. Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu-ilmu yang telah tercampur dengan konsep ‘asing’ itu hakikatnya bukan ilmu lagi, akan tetapi sesuatu yang menyamar sebagai ilmu (Risalah Untuk Kaum Muslimin, 61). Jadi ilmu yang hakiki adalah yang tidak melepaskan dimensi ukhrawi, sedangkan ‘ilmu’ yang menyamar adalah sebaliknya yang disebut ilmu madzmumah.

Berkenaan dengan itu, penting diketahui oleh para para pelajar dan guru bahwa ilmu secara hirarkis dibagi dua. Pertama, ilmu Pengenalan. Yaitu ilmu tentang hakikat ruhaniah yang merujuk kepadan Allah dan diri. Seperti ilmu tauhid, dan ilmu yang berkenaan dengan ibadah. Ilmu ini termasuk yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Ilmu jenis ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu ‘ain.


Kedua, ilmu Pengetahuan. Yaitu ilmu pencapaian akal yang merujuk kepada segala perkara baik bagi diri ruhaniyah maupun diri jasmaniah. Ilmu ini termasuk ilmu yang wajib dituntut oleh sebagian muslim saja yang telah memenuhi syarat-syarat menuntutnya. Ilmu ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu kifayah.

Salah satu faktor kenapa lahir ilmuan yang dzalim adalah kesalahan mengajarkan dua ilmu tadi. Semua jenis ilmu Pengetahuan yang hukumnya fardlu kifayah diajarkan harus berdasar dan sesuai dengan ilmu Pengenalan.
Selain itu, pengajaran ilmu Pengenalan (fardlu ‘ain) harus didahulukan sebelum ilmu fardlu kifayah.

Belajar haruslah disertai niat yang benar. Selain itu, ilmu yang dipelajari juga harus bukan ilmu madzmumah (dicela). Jika niat dan ilmunya salah, maka sepintar apapun, manusia itu akan menjadi orang yang bermasalah di masyarakat.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang belajar demi kebanggan agar disebut cendekiawan agung, menyaingi teman, mencari popularitas dan memperbanyak harta akan menjadi manusia yang celaka. (HR.Ibn Majah).
Pelajar dengan tipe ini, ia tidak peduli lagi apakah ilmu yang dipelajari benar atau salah, yang penting ‘sukses’ bagi dia.
Wahyu

Ilmu yang benar selalu dikawal oleh wahyu. Sebab, sumber ilmu itu dari Allah SWT. Dan hakikat mencari ilmu adalah meraih kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah keselamatan di akhirat. Dalam perspektif Islam, ilmu bukanlah sebagai perkara akliah (rasio) belaka. Islam menjelaskan ilmu, baik ilmu syari’ah atau sains dan humaniora, dengan perkaitan antara ilmu itu dengan hikmah, akhlak budi pekerti. Pemahaman yang demikian mencegah lahirnya ilmuan dan pemimpin yang dzalim.

Lantas, bagaimana kiat menjadi pelajar muslim yang sukses? Pertama, perbaiki niat. Segala aktifitas keilmuan adalah semata demi mendapatkan kebahagiaan (sa’adah) akhirat. Artinya, niat untuk berjuang li i’laa’i kalimatillah.
Kedua, ilmu yang dipelajari harus benar. Ketiga, cara meperolehnya juga benar. Apapun niat dan semulya apapun ilmunya jika ditempuh dengan korupsi, menipu atau dengan cara ritual-ritual yang sesat, tetap akan menjauhkan dari Allah.

Selain itu, Imam al-Ghazali memberi rambu-rambu, carilah guru yang baik. Yaitu, ulama’ yang hidupnya berkonsentrasi kepada ilmu, akhirat, tidak menyibukkan secara membabi-buta kepada dunia, tidak menjual agama dengan dunia, segala persoalan dikembalikan kepada perspektif akhirat (Abu Hamid al-Ghazali dalam Iljam al-awam ‘an Ilmi Kalam).
Selain itu, para ulama’ salaf memberi contoh paling baik. Sebisa mungkin menghindar dari maksiat. Imam syafi’i juga pernah mengatakan: ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk kedalam hati orang-orang yang selalu bermaksiat.

Ibadah juga betul-betul dijaga. Imam al-Bukhari belajar selalu dalam keadaan suci, bahkan ketika akan menulispun ia ambil wudlu dan shalat sunnah terlebih dahulu. Shalat malam (qiyamullail) bagi para pelajar salaf shalih dahulu seperti menjadi aktifitas wajib. Demi menjaga diri agar selalu dibawah petunjuk-Nya. Bahkan, belajar di sepertiga malam itu menjadi kebiasaan.

Khatib Al-Baghdadi pernah memberi nasihat, “Waktu yang paling baik untuk menghafaladalah waktu sahur, di tengah hari, kemudian pagi hari. Menghafal di waktu malam lebih baik dari pada siang. Itulah rahasia sukses para ulama terdahulu kita.” (Al-Faqih wal Mutafakiq).

Dan rutinitas beginilah yang menjadi aktifitas wajib pelajar muslim idaman. Wallahu a’lam bissahowab.

Kampus Sang Anak

Laki-laki itu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai anak seorang petani, ia tak asing dengan lumpur sawah, kotoran sapi, jerami dan lainnya. Apa gerangan yang sedang ia buat?

Anaknya yang sudah naik ke kelas enam diajaknya terjun ke lumpur. Disuruhnya sang anak untuk bergelut dengan berbagai macam yang ada di sawah, layaknya ia sendiri dulu saat kecil.

“Inilah tempat pendidikanmu yang sebenarnya.” Pekik sang bapak.

Tapi anaknya tak begitu peduli dengan kata-kata bapaknya. Lagipula mungkin dia memang tak paham dengan kalimat sang bapak. Ia tetap asyik dengan air kotor sawah.

“Aku tak ingin nantinya kamu bingung selepas menunaikan pendidikan di sekolah umum. Aku ingin kamu tidak membawa map kesana-kemari untuk mencari lowongan kerja. Aku ingin kamu bisa mencari penghasilan dari sekarang.”

Ujar laki-laki itu sambil mencangkul lumpur untuk diratakan.

Anaknya masih saja tidak memperdulikan apapun yang keluar dari mulut bapaknya. Ia asyik sebagai mana lazimnya anak seusianya yang masih senang bermain. Sambil tak berhenti mencangkuli tanah, laki-laki itu terus memberikan “kuliah” pada anaknya.

“Kamu jangan sampai seperti aku, terlunta-lunta di negeri orang, bekerja pada seorang majikan yang tak pernah tahu tentang seorang pekerja.”

Kali inipun sang anak tak bergeming. Ia asyik dengan belut-belut di sawah itu. Omongan bapaknya bak masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Laki-laki itu adalah mantan TKI di negeri seberang. Secara ekonomi ia tak sukses. Ia tidak seperti teman-temannya yang bisa langsung bikin rumah dan punya kendaraan. Empat tahun di negeri orang benar-benar menemukan nasib yang buruk. Dengan pengalaman seperti itu, ia bertekad membanting tulang untuk usaha di negri sendiri.

Pengalaman pahit di negeri orang tak ingin terulang pada anaknya. Sehingga dari sekarang ia sudah bikin “kampus” untuk anaknya, biar setamat sekolah tingkat atas nanti, tak bingung cari makan.

Ia terus mengejar target membikin paling tidak sepuluh kolam dulu. Dengan jumlah sebanyak itu, maka penghasilan bulanannya akan lumayan. Ia sudah menghitungnya.

Kejadian pahit di negri orang, menyadarkan dirinya, bahwa ia memang kurang bersyukur. Padahal di kampung, ia punya sawah, ladang dan ia juga punya modal pendidikan sekolah lanjutan. Ia bertekad ingin memanfaatkan potensi dirinya yang memang sejak kecil hidup di lingkungan persawahan.

Dengan modal yang ada, ahirnya ia menciptakan ladang usaha sendiri. Beternak belut, menjadi pilihannya. Sang anak senantiasa diajaknya untuk terlibat, biar masih dibawah umur. Tujuannya hanya satu bahwa anaknya kelak tak menjadi generasi bingung selepas menempuh pendidikan umum di sekolah. Padahal ladang usaha di depan mata tak pernah habis untuk dieksploitasi.

Dan yang jelas, ia tak menginginkan anaknya mengikuti jejaknya bekerja di luar negri, karena di dalam negri masih kaya raya, jika mau memanfaatkan otaknya.

Dan Allah SWT, ternyata menyediakan modal yang luar biasa kepada semua mahluknya. Kita saja yang sering memaknai kata “modal” dengan pemaknaan yang sangat sempit. Sampai-sampai peluang di depan mata kita, sering tidak kelihatan. Sering kita tidak menyadari, bahwa otak adalah modal tak terhingga yang sudah di-invest-kan Allah kepada kita. 

Selasa, 26 April 2011

JENJANG JABATAN AKADEMIK DOSEN

Angka Kredit adalah :
Satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang diberikan / ditetapkan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang dosen dan dipergunakan sebagai salah satu syarat dalam rangka pembinaan karier dalam jabatan fungsional / kepangkatan.
 
Syarat untuk kepangkatan dosen swasta
Yang Diperlukan Dalam Pengurusan Jenjang Jabatan Akademik :

1. Bidang : Pendidikan dan Pengajaran [ min. 30 %, diluar ijasah]
a). Fotocopy ijasah dan transkrip nilai S1, S2, dan S3 yang telah dilegalisir [calon Guru Besar, harus yang sebidang ilmu / linier S1, S2 dan S3]

Yang dimaksud ijasah dan transkrip nilai adalah ijasah dan transkrip nilai dari tingkat S1 sampai tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diikuti.  Jika ijasah dari Universitas di luar negeri, maka harus disertakan SK Penyetaraan Ijasah Luar Negeri dari DIKTI
Contoh :
Dosen yang bergelar Dr. [Doctor], maka ijasah dan transkrip nilai yang perlu dikumpulkan adalah ijasah dan transkrip nilai S1, S2 dan S3.
 
b). SK Mengajar
SK Mengajar yang dapat dinilai adalah SK Mengajar setelah menempuh gelar pendidikan S1 [lulus sebelum tahun 2007, serta SK Mengajar selama mengikuti pendidikan lanjutan dapat dinilai jika dosen ybs menempuh pendidikan di Indonesia]
 
c). Membuat Diktat Kuliah
Diktat yang dibuat untuk mengajar di Univ dosen yang bersangkutan dan memenuhi kriteria diktat kuliah [minimal 55 halaman ; kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka minimal 3 referensi] spasi 1½, font Times New Roman, size 11, berisi teori bukan transparan]
 
d). Membimbing / Menguji Skripsi
  • Minimal memiliki Jenjang Asisten Ahli
  • Membimbing : Maksimal 3 Judul Skripsi [dibuktikan dengan Berita Acara Ujian yang meliputi ; Judul Skripsi ; Nama Dosen Pembimbing ; Nama Mahasiswa ; Hari/Tanggal/Waktu Ujian ; Nama Tim Penguji ; dan mahasiswa yang di bimbing lulus, serta surat tugas membimbing dari instansi ybs]
  • Menguji : Maksimal 3 Mahasiswa per semester [dibuktikan dengan Berita Acara Ujian yang meliputi ; Judul Skripsi ; Nama Dosen Pembimbing ; Nama Mahasiswa ; Hari/Tanggal/Waktu Ujian ; Nama Dewan Penguji ; Jabatan Penguji Utama/Pendamping, serta surat tugas menguji dari instansi ybs]

2. Bidang B : Penelitian [ Min. 25 % ]
  • Menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan dalam : 1). Majalah ilmiah internasional yang bereputasi, 2). Majalah ilmiah nasional terakreditasi mis. Jurnal yang diterbitkan oleh Binus; Jurnal Inasea [Teknik Industri], dan Piranti Warta [BBS] dll., 3). Majalah ilmiah nasional tidak terakreditasi tetapi mempunyai ISSN
  • Pembicara pada seminar / konferensi internasional / nasional [dibuktikan dengan sertifikat / surat tugas] sebagai pembicara, serta diterbitkan dalam prosiding ber ISSN / ISBN].
  • Menghasilkan karya ilmiah [laporan penelitian] yang tidak dipublikasikan :
  • Min 20 halaman, spasi 1½, font Times New Roman, size 11 [max 3 tulisan dalam 1 tahun]
  • Berisi Abstrak, Daftar Isi, Penelitian [apa yang diteliti, metode penelitian dan tujuannya], Kesimpulan, Daftar Pustaka (tersipan di dalam perpus Univ dosen yang bersangkutan)
  • Menterjemahkan / menyadur buku ilmiah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional [ISSN / ISBN].
  • Mengedit / menyunting karya ilmiah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional [ISSN / ISBN].
  • Membuat rancangan dan karya teknologi yang dipatenkan.

3. Bidang C : Pengabdian Kepada Masyarakat [ Min. 1 point ; Max. 15 % ]
4. Bidang D : Unsur Penunjang [ Min. 1 point ; Max. 20 % ]
  • Menjadi anggota dalam suatu panitia / badan pada perguruan tinggi atau lembaga pemerintah atau organisasi profesi
  • Mewakili perguruan tinggi / lembaga pemerintah duduk dalam panitia antar lembaga
  • Menulis buku pelajaran SLTA ke bawah yang diterbitkan secara nasional
  • Mendapat tanda jasa / penghargaan
  • Mempunyai sertifikat keikut-sertaan pada seminar
  • Dibuktikan dengan sertifikat asli / surat ucapan terima kasih asli.

CONTOH KASUS 1 [Proses Baru] :
Seorang Dosen lulus S2 pada tanggal 14 Februar1 2001, dan mulai mengajar di Binus pada semester Ganjil 2005 / 2006. Dosen ybs belum punya jenjang jabatan akademik dan telah mengajar di Binus selama 2 sem [ 8 sks / sem ], mempunyai jenjang pendidikan S2 dalam bidang ilmu yang sama atau berhubungan / berdekatan S1-nya , mempunyai satu tulisan yang terbit pada Jurnal ber ISSN sebagai penulis mandiri, pernah menjadi Instruktur dalam suatu pelatihan di Binus, pernah mengikuti 5 macam seminar sebagai peserta; maka point yang diperoleh dosen tsb adalah:
 
A. Pendidikan dan Pengajaran [ minimal 30 % dari 10 point = 3 point ]:
  • Pendidikan S1 : 100 point
  • Pendidikan S2 : 50 point
  • Mengajar : [ 8 * 0,5 point ] * 2 sem 8 point [+]
  • 158 point
B. Penelitian [ minimal 25 % dari 10 point = 2.5 point ] :
1 Publikasi Tdk Akreditasi : 1 * 8 point 8 point
 
C. Pengabdian pada Masyarakat [max. 15% dari 10 point = 1.5 point ; min. 1 point]
Instruktur dalam Pelatihan di Binus : 1 point [+]
Total A+B+C = [minimal 80% dari angka yang di syaratkan] 167 point
 
D. Penunjang Tridharma PT [ max. 20 % dari 10 point = 2 point ; min. 1 point ]
Mengikuti 5 seminar / pelatihan 5 * 1 point 2 point [+]
Total A+B+C+D = 169 point

Dengan perhitungan di atas, maka dosen ybs dapat diusulkan ke : Asisten Ahli [ 150 ] karena telah mempunyai angka kredit yang cukup, dengan jenjang pendidikannya S2 dan sebidang ilmu

CONTOH KASUS 2 : [ Proses Naik]
  • Seorang dosen mempunyai pendidikan S2 bidang arsitektur dan telah mempunyai JJA Asisten Ahli-100 dengan TMT 01 Januari 1999. Dosen ybs ingin naik ke Lektor [300].
  • Pada tanggal 10 September 2003, dosen ybs lulus S3 bidang manajemen [tidak dalam bidang ilmu yang sama atau berhubungan / berdekatan] di salah satu PT di Jakarta
  • Mengajar di Binus pada semester Genap 1999/2000 sampai semester Ganjil 2004/2005 [12 sks/sem]
  • Penguji Utama pada semester Genap 1999/2000 sampai semester Ganjil 2004/2005 [3 mhs/sem] -> jika nilai penguji utama sudah digunakan, maka sebagai penguji pendamping nilai tidak dapat dihitung jika semesternya sama.
  • 3 Jurnal ber ISSN sebagai penulis mandiri dan 1 tulisan dalam jurnal terakreditasi, pernah menjadi Instruktur dalam suatu pelatihan di Binus sebanyak 30 kali
  • Mengikuti 35 macam seminar / pelatihan sebagai peserta
Maka point yang diperoleh dosen tsb adalah :
 
A. Pendidikan dan Pengajaran [ minimal 30 % dari 200 point = 60 point ]:
Pendidikan S3 : 15 point
Mengajar : [ 10 * 0,5 point ] * 10 sem 50 point
[ 2 * 0,25 point ] * 10 sem 5 point
Penguji Utama : [ 3 * 1 point ] * 10 sem 30 point [+]
100 point
 
B. Penelitian [ minimal 25 % dari 200 point = 50 point ]
3 Publikasi Tdk Akreditasi : 3 * 8 point 24 point
1 Publikasi Akreditasi : 1 * 25 point 25 point [+] 49 point [minimal 50]
 
C. Pengabdian pada Masyarakat [max. 15% dari 200 point = 30 point ; min. 1 point]
Instruktur dalam Pelatihan di Binus : 30 * 1 point 30 point [+]
Total A+B+C = [minimal 80% dari angka kenaikan = 160 point ] 174 point
 
D. Penunjang Tridharma PT [ max. 20 % dari 200 point = 40 point ; min. 1 point ]
Mengikuti 35 seminar / pelatihan: 35 * 1 point 35 point [+]
Total A+B+C+D = 209 point
 
Dengan perhitungan diatas, maka dosen ybs belum dapat diusulkan ke : Lektor [300], karena Bidang B ybs tidak memenuhi syarat minimal.

PENTING UNTUK DIPERHATIKAN :
1.Untuk pengajuan ke Asisten Ahli dan Lektor, salah satu jurnal / majalah asli akan diberikan ke DIKTI [tidak dikembalikan], sedangkan untuk pengajuan ke Lektor Kepala dan Guru Besar, semua jurnal / majalah asli tidak akan dikembalikan .
 
2. Diktat Kuliah [Bidang A] dan Karya Ilmiah / laporan penelitian yang tidak dipublikasikan [Bidang B] harus diprint sesuai dengan format
  • Spasi 1½, font Times New Roman, size 11.3. 
  • Kenaikan jenjang jabatan akademik dapat diajukan minimal 1 [satu] tahun akademik sejak TMT SK JJA dengan syarat: karya ilmiah diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi oleh DIKTI [sebagai penulis utama / mandiri], point A, B, C, dan D terpenuhi.
  • Apabila dosen tidak mempunyai karya ilmiah yang diterbitkan pada jurnal yang telah diakreditasi oleh DIKTI, maka dosen yang bersangkutan baru bisa naik ke jenjang jabatan berikutnya setelah >= 3 [tiga] tahun akademik sejak TMT SK JJA dengan syarat : harus menulis karya ilmiah yang diterbitkan dalam majalah / jurnal ilmiah yang ber ISSN sebagai penulis utama.
  • Karya ilmiah yang belum pernah diajukan tetapi tahun penerbitannya < TMT, tidak dapat di hitung untuk kenaikan berikutnya.

GAJI DOSEN SWASTA INDONESIA

Hampir setiap hari Blog saya ini menerima enquiry “standar gaji dosen swasta Indonesia”. Karena enquiry ini bertubi-tubi, maka dengan ini saya bukakan saja standar gaji dosen swasta Indonesia yang saya kutip dari “Universitas X”

HONORARIUM PER SKS

Pendidikan S1 : Asisten Ahli Rp 50.000; Lektor/Praktisi/6 tahun pengalaman mengajar Rp 75.000

Pendidikan S2 : Asisten Ahli/sederajat Rp 75.000; Lektor/sederajat Rp 100.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 125.000; Buru Besar Rp 175.000

Pendidikan S3 : Asisten Ahli/Lektor Rp 125.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 150.000; Guru Besar Rp 175.000

HONORARIUM PEMBIMBING DAN PENGUJI SKRIPSI
Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi
Penguji skripsi baik penguji utama ataupun pembantu penguji Rp 150.000 per mahasiswa peserta ujian skripsi

UANG TRANSPORTASI
Diberikan sesuai dengan kebijakan Universitas

CATATAN
Honor dosen tersebut di lingkungan universitas swasta di Jakarta kurang lebih sama, namun bedanya, ada universitas yang menetapkan rate tersebut sebelum dipotong pajak (before tax), ada universitas lainnya yang menetapkan rate tersebut setelah dipotong pajak (after tax) – dalam hal ini tax telah dibayar oleh universitas yang bersangkutan..

Jika jumlah kelas cukup banyak di universitas swasta tersebut, dan dosen mendapat beban sks yang cukup besar, menurut hitungan kasar saya gaji dosen universitas swasta di Jakarta (setelah dipotong pajak) adalah berkisar antara Rp 2.000.000 sampai Rp 10.000.000
Berminat jadi dosen ?

Ingat jadi dosen itu selain mendapat imbalan berupa honorarium juga mendapat kepuasan pribadi karena telah mengamalkan ilmu kepada sesama, selain itu juga sesuai dan mendukung Tujuan Negara Indonesia seperti yang termaktub dalam Mukadimmah UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”
Hidup dosen !!!

Selasa, 12 April 2011

Punya Sekolah karena Nyumbang Ribuan Buku

Casey Robbins (Foto: News10.net)
Casey Robbins (Foto: News10.net)
CALIFORNIA - Seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Amerika Serikat (AS), Casey Robbins, punya sekolah atas namanya di Liberia, Afrika Barat. Sekolah tersebut dinamai dengan namanya sebagai penghargaan pemerintah Liberia atas aksi Casey menyumbangkan puluhan ribu buku ke salah satu negara di benua hitam itu.

Siswa di SMA Mira Loma, Sacramento, California, AS, ini mulai melakukan aksi sosialnya sejak kelas delapan (2 SMP). Di usia belia, dia mulai mengumpulkan buku teks untuk dikirimkan ke Liberia. Aksinya bermula saat mendengar program radio yang mewawancarai Menteri Informasi Liberia yang membahas usaha negara ini bangkit dari kelumpuhan akibat perang saudara selama 14 tahun.

Robbins mendengar banyak orang usia dewasa yang buta huruf, dan selama lebih dari satu dekade, anak-anak tidak bisa sekolah. Setelah mendapatkan alamat surat elektronik sang menteri, Robbins mulai berkomunikasi. Atas simpatinya, dia pun memulai proyek yang diberi nama Text Books for Liberia.

"Saya melihat ada beberapa buku teks yang tergeletak di ruang staf sekolah. Kemudian saya bertanya kepada wakil kepala sekolah apakah bisa memilikinya. Dan dia menjawab, boleh saja asalkan saya tahu bagaimana cara mengirimkannya," kata Robbins seperti dikutip dari situs The Huffingtonpost, Jumat (8/4/2011).

Setiap tahun selama lima tahun terakhir, Text Books for Liberia mengirimkan satu kontainer berisikan perlengkapan sekolah untuk Liberia. Proyek ini telah menyumbangkan 14 ribu buku teks pelajaran.

Beberapa waktu lalu, Robbins mengunjungi Liberia. Di sana, dia disambut Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf. Sang presiden menerimanya di rumah eksekutif dan mengucapkan terima kasih atas kontribusinya. Robbins juga mengunjungi sekolah dengan namanya, yang dijadwalkan dibuka pada musim gugur mendatang atau sekira bulan September.

"Casey Robbins International School merupakan hal yang menarik bagi saya. Saya harus punya foto dengan tanda tangan untuk sekolah saya," ujar Robbins.

Robbins akan lulus tahun ini. Rencananya, dia akan kuliah di Universitas Stanford pada musim gugur. Meski kuliah, dia berencana melanjutkan proyeknya dan berharap dapat memperluas proyeknya ke sekolah dan negara lain. (rfa)(rhs)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *