Minggu, 24 Januari 2016

Laboratorium Kehidupan, Ya Kita Sendiri

Apa yang dipikirkan mahasiswa selain lulus tepat waktu dengan IPK yang tinggi..dengan gelar yang disandangnya bisa memberikan kemanfaatan bagi kehidupan dan keluarga atau sebatas gelar semata atau kebanggaan pernah kuliah..? kalau hanya sekedar gelar itulah kebanggaan kita dengan gelar tersebut walaupun kenyataannya tidak terpakai ilmunya ditempat kerja, ilmunya terlupakan dengan sendirinya, akhirnya lupa karena secara tidak langsung memang tak berhubungan dan tak pernah digunakan .

"Laboratorium Hidup"
Kalau ingin mendapatkan keberkahan dari gelar dan ilmu kita harus menciptakan " laboratorium kehidupan" yang akan dikenang tapi ingin mendapatkan itu semua sampai kita tidak bekerja sekalipun, karena laboratorium yang diciptakan lintas ruang dan waktu. Laboratorium kehidupan kita dimana tempat penempaan rasa, karya dan keahlian kita sendiri dimana publik mengakuinya tanpa promosi dan mempercayainya tanpa pencitraan bahkan tidak mau menjadi topik pencitraannya karena semuanya ada dibelakang profesinya.

 Laboratorium kita sendiri adalah keluarga ketika seorang ayah mampu mewariskan ilmu kesuksesan hidupnya pada keluarganya bahkan melebihi kesuksesan dirinya, itulah quality assurance dan trust-ability yang paling abadi dari seorang ayah dan menjadi figur utama dikeluarganya.Apalagi memberikan warna bagi masyarakat sekelilingnya, kalau keluarga beliau termasuk keluarga yang unggul dan patut jadi inspirasi dan contoh bagi kehidupan sosial dimasyarakatnya.

Ketika seorang dosen mampu menciptakan mahasiswa yang mampu memberikan inspirasi bagi profesi dan pekerjaannya dan ketika seorang pendidik menginspirasi seorang anak muda untuk mengikuti jejak pengabdiannya. ketika sorang dosen mampu mempertahankan idealisme keilmuannya dan terus dipertahankan bahkan bisa mempengaruhi pola pemikiran anak didiknya kemudian dituangkan dalam sebuah risalah tulisan. Dan realitanya tidak semua yang berani menuangkan sebagian pemikirannya dan kafa'ah keilmuannya dalam publikasi buku dan website, lebih cukup dalam batas akademik. jangan kaget banyak guru besar akademik yang tidak diktahui karya buku penelitiannya, begitu juga turunan kebawahnya banyak dosen yang belum merasakan aura penulisannya, padahal dikampus dikenal seorang yang cerdas dan sayang kecerdasan pemikirannya hanya dinikmati dikampus tanpa diketahui publik. Pasti ada kendala yang dirasakan penulis juga betapa sulitnya untuk menyelesaikan sebuah buku akademik bisa sampai tiga tahun dan tak berani mempublikasikannya bertahun-tahun menumpuk dalam folder laptop kita, baru pada era internet ini sejak tahun 2007 mulai menuangkannya dalam pubikasi blog, walaupun pada fase dokumentasi blog dan  belum berani menuangkan dalam buku akademik secara permanen, padahal kebutuhan akan buku akademik ini dikampus sangat tinggi tapi kurang komersil dan ketidak jelasan dalam pembagian fee dan royaltinya.

Banyak para pejabat dimasa pensiunnya membangun pesantren dan lembaga pendidikannya agar dikenang dan mengurangi beban kesalahan masa lalunya ketika menjadi seorang pejabat, baginya itulah laboratorium kehidupannya yang akan ditinggalkan dan manjadi ladang amalnya, sehingga bisa menutup jejak kehidupan masa lalunya dengan baik.Semua menginginkan ada amal kehidupan yang mampu membangun kehidupan yang lebih baik dan menjadi amal yang tiada hentinya sampai meninggalkan dunia yang fana ini, itulah mungkin laboratorium kehidupan yang sebenarnya.

Para inspirator akademik, para profesor dengan ilmunya tertulis dalam karyanya yang dikenang dan jadi referensi sampai kapanpun. Dimana ide-ide beliau yang dituangkan oleh para muridnya akan mengenang ilmunya, begitu juga para profesor yang begitu produktif dengan karya dan bukunya atau para sarjana begitu mumpuni dengan tulisannya atau para otodidak non gelar begitu hebat melebihi kapasitas seorang sarjana sekalipun dengan karyanya. Pekerjaan ada batasnya tapi karya tidak terbatas dan akan terkenang sampai kapanpun. (Terkenang dan terinspirasi dari guru dan inspirator kami di IKIP Bandung/UPI Alm.Prof. Dr. Buchari Alma, MPd)

Selasa, 22 Desember 2015

IMPLIKASI NEUROSCIENCE PADA PELAKSANAAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


Oleh: Dr.Rais Hidayat, MPd.

 Abstrak
Hakekat pendidikan adalah optimalisasi potensi. Seluruh potensi manusia bertumpu pada otaknya. Ilmu yang mempelajari otak adalah neurosains. Hasil integrasi antara pendidikan  dan neurosain dalam penelitian ini disebut Neuroscience Education. Temuan ini berimplikasi secara filosofis, teoritis dan praktis, bahwa manajemen pendidikan mempunyai peluang besar bagi dimulainya mega proyek integrasi-interkoneksi keilmuan, karena di manajemen pendidikan , semua bidang ilmu dipelajari, secara holistik-integralistik. Kebijakan dalam pengelolaan pendidikan yaitu: mengadaptasi hasil-hasil riset dalam pendidikan, melakukan reframing menyeluruh (struktur, SDM, politik, budaya dan budget), serta memberlakukan manajemen terbuka melalui penguatan SIM pendidikan.

Keyword: Neuroscience, Manajemen Pendidikan, Kebijakan Pendidikan

PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN dapat dikatakan tertinggal. Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Salah satunya karena manajemen sistem pendidikan yang tidak adaptif dan inovatif dengan perubahan lingkungan. Lingkungan yang berjalan cepat karena perkembangan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi menyebabkan tuntutan dan kebutuhan masyarakat sudah berjalan lebih jauh dari apa yang disumbangkan pendidikan. Oleh sebab itu, manajemen sistem pendidikan memerlukan perubahan sehingga lebih adaftif dengan lingkungan masyarakat.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh manajemen sistem pendidikan yaitu temuan-temuan dari  penelitian Neuroscience (riset terhadap otak manusia). Temuan-temuan dalam bidang tersebut berimplikasi sangat besar pada pendidikan. Jika manajemen sistem pendidikan tidak mengalami perubahan, maka lembaga pendidikan diduga akan menjadi lembaga yang gagal (failed organization).

Berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut, makalah ini akan menguraikan secara singkat temuan-temuan  dari  penelitian Neuroscience yang berimplikasi pada manajemen sistem pendidikan. Diharapkan makalah ini memberi inspirasi dan pandangan baru untuk memajukan pendidikan.

PEMBAHASAN
1.  Temuan-temuan Neuroscience
Temuan-temuan penelitian Neuroscience (riset terhadap otak manusia) yang dikaitkan dengan pendidikan sangat penting untuk peningkatan dan perbaikan kualitas pendidikan. Selama ini ada banyak masalah pendidikan yang tidak mampu terpecahkan, seperti masalah disleksia (anak sukar membaca) dan diskalkulia (anak susah menghitung) tidak terpecahkan. Namun temuan penelitian Neuroscience membuka kemungkinan bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar akan dapat tertanggulangi.

Memperhatikan arti penting dari berbagai temuan Neuroscience dapat disimpulkan bahwa terdapat konsekuensi antara hasil riset Neuroscience dengan penyelenggaraan manajemen sistem pendidikan. Mengapa lembaga pendidikan atau sistem pendidikan harus memperhatikan temuan riset Neuroscience? Sebab jika manajemen sistem pendidikan tidak memperhatikan temuan-temuan tersebut, maka lembaga pendidikan akan ditinggalkan masyarakat, sebab lembaga pendidikan dinilai tidak bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan-perubahan dan tuntutan yang berkembang di masyarakat. Jika ini hal itu sampai terjadi, maka lembaga pendidikan akan menjadi lembaga yang gagal dalam mengemban visi dan misi kemanusianya. 

Memperhatikan hasil OECD International Conference tahun 2008, ada tiga hal penting dari hasil Neuroscience dalam bidang pendidikan yaitu: (1) praktek pendidikan perlu memperhatikan hasil-hasil penelitian, khsususnya hasil penelitian mengenai aktivitas otak ketika manusia sedang belajar, (2) keadaan emosi yang sangat mempengaruhi seseorang dalam belajar, dan (3) adanya perbedaan kemampuan belajar antar individu yang disebabkan oleh factor genetik dan pengaruh lingkungan. Berdasarkan hasil OECD Internasional Conference tersebut, maka praktek pendidikan harus menggunakan hasil-hasil penelitian, memperhatikan faktor-faktor emosional, dan memperhatikan lingkungan pendidikan.

The Royal Society Science Policy Centre, United Kingdom, tahun 2011 mengeluarkan laporan yang mendukung hasil OECD International Conference. Berdasarkan penelitian terhadap otak dan pendidikan, The Royal Society Science Policy Centre merekomendasikan empat hal yaitu; (1) Neuroscience harus digunakan sebagai alat dalam kebijakan pendidikan (as a tool in educational policy), (2) memperkuat training dan pengembangan profesional guru-guru sehingga guru-guru mampu menggunakan metode pendidikan yang tepat bagi peserta didik, (3) penggunaan teknologi pendidikan yang adaptif untuk mengatasi kesulitan belajar, dan (4) perlu adanya tukar pengetahuan antar berbagai pihak yang berkepentingan dengan pendidikan agar temuan hasil penelitian otak manusia bisa maksimal digunakan dalam pendidikan.

Terdapat beberapa temuan Neuroscience dalam pendidikan yang memiliki konsekuensi pada penyelenggaraan pendidikan. Temuan-temuan tersebut tergolong baru dan implementasi dalam pendidikan memerlukan share pengetehuan dari berbagai pihak, khususnya ahli psikologi, sosiologi, ahli otak, dan guru-guru yang menjadi ujung tombak pelaksanaan pendidikan yang berbasiskan otak (brain base education). Beberapa temuan riset Neuroscience dan konsekuensinya dalam penyelenggaraan manajemen sistem pendidikan antara lain sebagai berikut:
  1. Pengembangan manajemen sistem pendidikan perlu memperhatikan berbagai temuan-temuan penelitian. Artinya, manajemen sistem pendidikan tidak boleh terpisahkan dari penelitian agar pendidikan tidak keluar dari jalurnya yaitu mencerdaskan kehidupan manusia. Contohnya, jika hasil penelitian menemukan bahwa kekerasan fisik dan mental berpengaruh negatif pada hasil belajar, maka konsekuensinya adalah sistem pendidikan yang berorientasi pada praktek kekerasan fisik dan mental harus diganti dengan suasana yang menyenangkan.
  2. Otak sangat menentukan kecerdasan seseorang. Konsekuensi dari temuan tersebut adalah pendidikan harus mampu memberi rangsangan pada otak secara tepat. Semakin banyak dan semakin tepat otak dirangsang, maka semakin cerdas pula otak seseorang. Berdasarkan penelitian, orang jenius baru menggunakan otaknya 5-6 persen. Oleh sebab itu, pemberian rangsangan pada otak perlu terus ditingkatkan.
  3. Kualitas otak ditentukan dari faktor genetik dan faktor lingkungan seperti asupan giji. Konsekuensi dari temuan tersebut yaitu proses pendidikan harus sudah dimulai sejak seorang ibu hamil.  Para ibu hamil harus memperhatikan asupan gizi selama hamil, masa pengasuhan balita dan batita. Peserta didik diharuskan memakan makanan sehat dan bergizi dan sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Program pendidikan yang dimulai sejak kehamilan telah banyak dilakukan seperti di Jepang.
  4. Aktivitas otak saat belajar memiliki respon yang berbeda-beda. Konsekuensi dari temuan ini yaitu pendidikan harus lebih menghormati dan mendukung perbedaan yang ada diantara para pembelajar. Hal ini menuntut agar guru mengembangkan berbagai metode mengajar dan memilih satu metode belajar yang cocok bagi pembelajar. Dengan kata lain guru harus memperhatikan karakteristik gaya belajar pembelajar. Menyamaratakan metode mengajar pada peserta didik termasuk perbuatan yang merugikan peserta didik.
  5.  Kualitas stimulasi pada indera (kulit, telinga, mata, hidung, lidah, dan reseptor lain) berpengaruh pada perkembangan otak. Konsekwensi dari temuan ini pada pendidikan yaitu pendidikan harus mampu memberikan hal-hal yang menyenangkan secara fisik agar otak juga merespon secara menyenangkan pula. Ini berarti lingkungan atau sekolah harus menyediakan fasilitas yang mendukung agar siswa nyaman dan senang bersekolah. Musik dalam konteks pendidikan menjadi sangat penting.
  6. Otak manusia siap memproses informasi yang tak terhingga, berarti tidak ada manusia bodoh. Manusia mampu untuk belajar apapun sehingga memiliki kemampuan yang luar  biasa untuk menciptakan hal-hal yang sifatnya baru.
  7. Otak manusia tersusun oleh cortek, medulla dan batang otak yang membentuk satu kesatuan, sehingga manusia memiliki kemampuan seutuhnya yaitu : heart, head, dan hand  yang tinggi. Konsekuensinya yaitu pembelajaran harus melibatkan seluruh aspek yang tidak dapat dipisahkan yaitu, kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu kegiatan pembelajaran harus aktif, kreatif, inovatif,  menyenangkan dan berkualitas.
  8.  Belahan kanan dan kiri otak dengan jembatan corpus colosum membentuk reactor otak, fisi dan fusi yang memungkinkan proses berfikir tingkat tinggi. Konsekwensi dalam pendidikan yaitu  pendidikan harus mensinergikan fungsi otak kanan (kreatifitas, intuisi, dan berfikir acak) dan otak kiri (rasional, logis, sekuensial). Selama ini pendidikan hanya memfokuskan pada otak kiri, sedangkan otak kanan kurang dipedulikan.
  9. Konstelasi otak manusia mampu mencapai puncak spiritualitas. Konsekwensi dalam pendidikan yaitu pendidikan tidak boleh melepaskan dari nilai-nilai spiritualitas.

Memperhatikan temuan-temuan riset Neuroscience dan pendidikan serta konsekuensinya, maka manajemen sistem pendidikan harus merespon dengan tepat dan cepat agar lembaga pendidikan tidak menjadi lembaga yang gagap dalam mengantisipasi dan mengadaptasi berbagai perubahan di masyarakat. Dengan kata lain penyelenggaraan sistem manajemen pendidikan harus memiliki awareness yang terus menerus dengan apa yang terjadi dalam masyarakat. Tidak seperti kodok yang merasa nyaman dengan rasa hangat dalam rebusan air sehingga kodok mati karena terlena dengan rasa nyaman tersebut. 

2.  Implikasi pada Institusi Pendidikan
Kondisi penyelenggaraan sistem manajemen pendidikan yang ada sekarang ini terkesan reaktif terhadap masalah-masalah pendidikan dan amat lamban dalam mengadopsi temuan-temuan baru. Penyebab terjadinya hal tersebut karena organisasi pendidikan tidak menggunakan sistem yang inovatif atau sistem yang pro-perubahan.

Dinn Wahyudin (2011) menyebutkan bahwa inovasi, termasuk inovasi pendidikan merupakan pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru, atau berupa praktik-praktik tertentu, atau berupa produk dari suatu hasil olah pikir dan olah teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu, yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan tertentu, atau proses tertentu yang terjadi di masyarakat atau dunia pendidikan. Stephen Robbins(1994) menyebut fokus inovasi meliputi gagasan baru, produk dan jasa baru, serta adanya upaya perbaikan. Berdasarkan penjelasan diatas bahwa inovasi terkait dengan pembaruan dan perbaikan yang terus menerus.

Inovasi dalam manajemen pendidikan sangat penting, sebab inovasi akan mencegah organisasi menjadi gagal menjalankan fungsinya. Ketika organisasi mengalami kegagalan, manajer harus berupaya untuk menyelidiki penyebab atau akar masalahnya itu apa. Untuk dapat mengambil keputusan dengan tepat, manajer harus mempunyai gambaran tentang apa yang harus dilakukan terlebih dahulu (sense of priority), kemudian mengambil keputusan yang memerlukan proses yang mendalam, dan bertanya: Apakah yang sebenarnya terjadi? Menurut Bolman dan Deal alternatif terbaik agar manajer dapat mengetahui masalah dalam oragnisasi yaitu dengan berfikir dan menyelidiki lebih mendalam apa yang terjadi. Bolman dan Deal juga menganjurkan agar para manajer mengambil teori-teori untuk memecahkan masalah karena teori mempunyai 2 keunggulan, yaitu: (1) dapat menunjukan hal penting dan tidak penting, dan (2) membuat informasi menjadi terpola atau konsep.

Upaya memperbaiki organisasi harus didahului oleh pemahaman yang benar terhadap organisasi. Salah satu yang harus dilakukan para manajer  yaitu memahami tipe-tipe organisasi. Menurut Bolman dan Deal (2003) terdapat empat tipe organisasi yaitu: (1) tipe kompleks, yaitu organisasi yang beranggotakan orang-orang yang perilakukanya sangat sulit untuk dipahami dan diprediksi sehingga organisasi menjadi sulit, (2) tipe mengejutkan, yaitu organisasi yang disangka hebat melakukan lompatan-lompatan untuk kemajuan, namun pada kenyataanya hancur dalam waktu singkat, (3) tipe menipu, yaitu organisasi yang menyembunyikan kelemahan dan melakukan kamuflase sehingga organisasi mengalami kebingungan dalam menemukan arah strategisnya, dan (4) tipe ambigu, yaitu organisasi yang dipenuhi dengan kompleksitas masalah, ketidakpastian dan penipuan. Pemahaman manajer akan tipe-tipe organisasi tersebut akan memudahkan manajer untuk melakukan tindakan atau pengambilan keputusan strategis.

Pengelolaan sistem manajemen yang inovatif pada sebuah organisasi berakibat adanya kemampuan dari organisasi tersebut untuk dapat beradaptasi dan mengantisipasi perubahan di dalam dan luar organisasi. Dalam sebuah organisasi yang inovatif terdapat upaya-upaya atau makanisme dan sistem untuk mendapatkan feed-back dari masyarakat atau menjalankan organisasi secara terbuka terhadap masyarakat. Budaya menutup diri yang selama ini dominan pada lembaga pendidikan menjadi penyebab lembaga pendidikan sulit mengembangkan sistem inovasi. Rogers (1983) menyebutkan faktor yang mempngaruhi inovasi antara lain saluran komunikasi. Oleh sebab itu, inovasi hanya akan tumbuh pada organisasi yang terbuka, bukan tertutup.

Faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi dalam organisasi menurut Rogers (1983) yaitu: (1) esensi inovasi, (2) saluran komunikasi, (3) waktu dan proses penerimaan, dan (4) sistem sosial. Menurut John Kenny (2002) beberapa kunci keberhasilan inovasi dalam organisasi yaitu: (1) Dukungan top manajemen atau manajemen senior, (2) Seluruhnya harus memiliki komitmen, (3) Ide-ide harus dieksplorasi dan proses komunikasi berlangsung secara terbuka, (4) Harus tercipta lingkungan yang mendukung, (5) Tim inovasi melaksanakan kegiatan-kegiatan dengan rinci, dan (6) Lakukan penjadwalan sesuai tahapan.
Penerapan inovasi dalam manajemen organisasi memang tidak mudah. 

Udin Saepudin Saud (2007) menyebutkan beberapa strategi agar inovasi bisa berjalan dalam organisasi yaitu: (1) strategi fasilitatif, yaitu dengan memberikan fasilitas-fasilitas kepada karyawan agar dapat berinovasi, (2) strategi pendidikan, yaitu melakukan training dan pendidikan bagi karyawan agar mereka mampu berinovasi, (3) strategi persuasive, yaitu membujuk karyawan agar dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya bagi organisasi, dan (4) strategi paksaan, yaitu memaksa dengan atauran dan lainya agar karyawan secara terpaksa berinovasi.

Tom Kelley (2001) menyebutkan bahwa inovasi dalam organisasi harus dijadikan sebagai yang paling utama dalam organisasi (innovation at the top). Adapun metode untuk mencapai hal tersebut yaitu pemahaman akan apa yang diinginkan oleh masyarakat (to understand current perception), melakukan evaluasi dan mengimplementasikan apa yang terbaik bagi masyarakat.  Dengan kata lain agar organisasi selalu inovatif yaitu organisasi harus terus menerus tersambung dengan persepsi dan kebutuhan masyarakat.

Huberman (2000) menyebutkan beberapa hambatan utama dalam implementasi inovasi dalam organisasi yaitu: (1) Mental Block, yaitu hambatan yang lebih disebabkan oleh sikap mental yang meliputi: salah persepsi atau asumsi, cenderung berfikir negatif, dihatui oleh kecemasan dan kegagalan, tidak mau menanggung risiko terlalu dalam, malas, saat ini berada pada daerah “nyaman dan aman”, cenderung resisten/menolak setiap perubahan, (2) Culture Block, yaitu hambatan yang lebih disebabkan budaya seperti: adat yang sudah mengakar dan mentradisi, taat terhadap tradisi, ada perasaan “berdosa atau bersalah” jika melanggar adat dan tradisi, dan (3) Social Block, yaitu hambatan sebagai akibat dari faktor sosial dan pranata masyarakat, antara lain: perbedaaan suku, agama, dan ras, perbedaan sosial ekonomi, arogansi primordial, dan fanatisme yang tidak terkontrol. 

Memperhatikan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keinovatifan yang rendah disebabkan oleh sikap pengelola pendidikan yang tidak peduli pada masalah yang terjadi dalam masyarakat, desain organisasi yang tidak responsif, dan kuatnya hambatan mental, sosial, serta budaya.  Solusi yang diperlukan agar penyelenggaraan sistem manajemen responsif dan cepat tanggap pada perubahan dan pembaruan yaitu dengan melakukan reframing secara menyeluruh, baik reframing struktur, SDM, kultur, maupun politik.

3.  Respon yang Diperlukan
Jika saya memiliki wewenang untuk memperbaiki pengelolaan pendidikan, maka kebijakan yang saya akan berlakukan yaitu: (1) adanya gerakan redefinisi pendidikan sesuai kebutuhan sekarang dan masa depan, (2) melakukan reframing secara menyeluruh terhadap struktur organisasi, human resources,  dan politik pendidikan, dan (3) memperkuat sistem informasi manajemen pendidikan (SIMP).

Gerakan redefinisi pendidikan menurut saya perlu dilakukan. Sebuah inovasi pendidikan tidak akan berhasil dengan baik jika pihak yang terlibat dalam pembaruan pendidikan tidak mengerti hakikat pembaruan yang dikehendaki. Ellsworth (2000) menyebutkan bahwa dalam inovasi atau pembaruan memerlukan adanya bimbingan terhadap semua upaya perubahan melalui pemahaman sistem secara kontekstual (need guide all our change effort with a system understanding of the context).

Redefinisi pendidikan harus mengandalkan hasil-hasil riset atas bidang pendidikan. Riset tidak hanya diperlukan untuk memperbaiki manajemen sistem pendidikan, tetapi harus memperhatikan riset-riset mengenai otak dan riset lain yang bermanfaat dalam penyelenggaraan belajar mengajar. Definisi pendidikan harus mencakup hal-hal baru dan tren di masa depan, seperti  anti kekerasan, pluralisme, HAM, perdamaian, keterbukaan,  tanggung jawab, pendidikan sepanjang hayat, dan pendidikan kecakapan hidup. Tanpa definisi yang jelas mengenai pendidikan, maka upaya perbaikan pengelolaan pendidikan akan susah dilakukan.

Upaya untuk meredifinisi pendidikan akan melibatkan banyak pihak, khususnya para peneliti dalam bidang Neuroscience, psikologi, sosiologi, ahli tekonologi komunikasi, dan para guru. Share dengan para peneliti akan sangat membantu dalam menemukan masalah pendidikan sekaligus melakukan redefinisi pendidikan sehingga masalah pendidikan akan lebih mudah didekati dan dipecahkan.

Kebijakan selanjutnya yaitu melakukan reframing yang menyeluruh. Bolman dan Deal menjelaskan teori reframing organisasi, yaitu: (1) Teori Six Sigma Way, yaitu memperbaiki organisasi melalui peningkatan kemampuan struktur organisasi agar secara struktur organisasi bisa menangani berbagai perkembangan di internal maupun eksternal organisasi, (2) Teori Primal Leadersip, yaitu memperbaiki organisasi melalui peningkatan kapabilitas dan kapasitas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi, (3) Teori Machiavelli, yaitu perbaikan organisasi melalui peningkatan kemampuan bersaing dan berkompetisi antar karyawan, dan (4) Teori Worst to First, yaitu perbaikan organisasi melalui perbaikan budaya organisasi. Berdasarkan teori-teori tersebut, maka kebijakan yang saya akan ambil dalam reframing organisasi akan meliputi perbaikan struktur, perbaikan SDM, perbaikan sistem bersaing, dan memperkuat nilai-nilai dan budaya organisasi.

Perbaikan pada struktur organisasi pendidikan difokuskan pada penguatan lembaga kontrol atau penjamin mutu pendidikan. Lembaga tersebut sekarang ini dirasakan paling lemah. Selama ini Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) kewenangan dan areanya terbatas, oleh karena itu LPMP perlu lebih diberdayakan. Implementasi kebijakan apapun harus diiringi dengan pengawasan dan penegakan aturan. Oleh sebab itu, lembaga pengawas harus diberikan porsi kewenangan yang besar untuk memajukan pendidikan.

Perbaikan pada SDM organisasi pendidikan difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kabilitas tenaga pendidikan. Kebijakan saya  yaitu pemberlakukan sosialisasi hasil-hasil penelitian dibidang pendidikan serta menyiapkan guru-guru agar mampu menggunakan berbagai metode sesuai tantangan yang dihadapi oleh guru. Berdasarkan kenyataan tersebut maka saya akan memberlakukan in the job training secara berkelanjutan dan sistematis untuk guru-guru di seluruh Indonesia.

Perbaikan pada politik pendidikan yaitu peningkatan politik anggaran dan alokasi anggaran serta pembiayaan. Anggaran pendidikan masih kecil dan masih terjadi ketidakpastian pembiayaan. Selain anggaran dan pembiayaan juga harus ada sistem pembayaran yang adil. Sekarang ini rajin malas dibayar sama. Keadaan tersebut menyebabkan tidak muncul persaingan antar karyawan dan melemahkan karyawan yang awalnya memiliki motivasi yang tinggi. Kebijakan yang saya akan berlakukan dalam pengelolaan pendidikan adalah memunculkan budaya bersiang yang sehat dan berkelanjutan serta penetapan kepastian pembiayaan dan anggaran.

Perbaikan pada budaya organisasi difokuskan pada peningkatan budaya mutu dan inovasi. Lemahnya budaya mutu dan inovasi menyebabkan hasil pendidikan Indonesia rendah. Laporan peringkat dunia menunjukan posisi Indonesia di ASEAN saja kalah. Oleh sebab itu, kebijakan yang saya berlakukan adalah meningkatkan budaya mutu dan inovasi di lembaga pendidikan. Salah satu caranya yaitu dengan memperbaiki sistem komunikasi dan reward and punishment di lembaga pendidikan. Reward terpinting adalah pemberian gaji sesuai standar. Oleh sebab itu, dana pendidikan harus diberikan kepastian. Selama ini banyak guru tidak melaksanakan tugasnya dengan baik sebab zone of acceptance mereka masih terlalu kecil akibat mereka tidak dibayar sesuai standar, komunikasi dan trust diantara pelaksana pendidikan yang masih lemah.

Kebijakan yang saya akan berlakukan selanjutnya adalah memperkuat sistem informasi manajemen pendidikan. Sistem informasi manajemen (SIM) pendidikan adalah sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam organisasi pendidikan. Melalui kebijakan ini diharapkan semua kompleksitas organisasi bisa menjadi lebih sederhana karena manusia dalam organisasi maupun luar organisasi akan lebih mudah berkomunikasi. Kelemahan lembaga pendidikan selama ini yaitu ketertutupan dan tidak mau mendengarkan keluhan masyarakat, maka ketertutupan tersebut dengan SIMP akan bisa dihilangkan. Proses komunikasi internal dan eksternal akan berjalan lebih cepat dan lebih baik. Oleh sebab itu, fokus kebijakan saya adalah memperkuat SIMP pendidikan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jika dipercaya untuk memperbaiki pengelolaan pendidikan, maka kebijakan saya dalam pengelolaan pendidikan yaitu: mengadaptasi hasil-hasil riset dalam pendidikan, melakukan reframing menyeluruh (struktur, SDM, politik, budaya dan budget), serta memberlakukan manajemen terbuka melalui penguatan SIM pendidikan.

KESIMPULAN

Temuan-temuan penelitian Neuroscience (riset terhadap otak manusia) yang dikaitkan dengan pendidikan sangat penting untuk peningkatan dan perbaikan kualitas pendidikan.
Kondisi penyelenggaraan sistem manajemen pendidikan yang ada sekarang ini terkesan reaktif terhadap masalah-masalah pendidikan dan amat lamban dalam mengadopsi temuan-temuan baru. Penyebab terjadinya hal tersebut karena organisasi pendidikan tidak menggunakan sistem yang inovatif atau sistem yang pro-perubahan.
Memperbaiki pengelolaan pendidikan diperlukan beberapa kebijakan antara lain pengelolaan mengadaptasi hasil-hasil riset dalam pendidikan, melakukan reframing menyeluruh (struktur, SDM, politik, budaya dan budget), serta memberlakukan manajemen terbuka melalui penguatan SIM pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Bolman, Lee G., Terrence E. Deal, Reframing Organization, San Francisco, Jossey-Bass, 2003
Diamond, Ian, Neuroscience and Education: Issues and Opportunities, TLRP and ESRC, 2001
Kates, A. Galbraith, J.R., Designing Your Organization, San Francisco: John Wiley  Sons, 2007
Kelley, Tom, The Art of Innovation, NewYork: Doubleday, 2001
Lussier, Achua, Effective Leadership, USA: University of Virginia’s College at Wise,  2010
Mintzberg, Henry, Structure in Fives, Designing Effective Organizations,     Prentice Hall,  USA, 2003
Slamet Suyanto, Hasil Kajian Neuroscience dan Implikasinya dalam Pendidikan, Makalah, Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Biologi di FPMIPA UNY, 2009
Udin Saefudin Saud, Inovasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2008
Toto Ruhimat, dkk., Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung: Rajawali Press,2011.
The Royal Society, Brain Waves Module 2: Neuroscience: implications for education and lifelong learning, London SW1Y 5AG : 2011

*Doktor Manajemen Pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta, Dosen Unpak Bogor.


LOWER THAN THE ANGELS


Buku the ascent of man “Lower Than the Angels” membahas tentang makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna yaitu manusia.

Sesungguhnya manusia itu lebih rendah dari malaikat dan paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan mahkluk yang lainnya, karena manusia dibekali oleh Tuhan akal yang berguna untuk berpikir tindakan apa yang harus dilakukan, Isi dari cerita ini adalah tentang kehidupan manusia sejak 400 ribu tahun yang lalu dan selama itu dapat dilihat banyaknya perubahan pada bumi dan semua mahluk hidup yang ada di dalam bumi pentingnya menjaga planet bumi yang semakin tua ini sepertinya banyak terlupakan oleh manusia, padahal bumi tempat manusia hidup untuk menjalani aktifitasnnya, ini terbukti dengan adanya evolusi bumi yaitu perubahan lempeng tanah serta bencana alam yang makin mengkhawatirkan.
Manusia adalah makhluk tunggal, memiliki satu set karunia yang membuat terlahir unik diantara para binatang : sehingga tidak seperti (binatang), (manusia) bukanlah figur sebuah pemandangan tetapi adalah pembentuk bentang alam. Tubuhnya dan pemikirannya adalah seorang penjelajah alam seperti binatang, yang tidak bisa ditemukan tetapi manusia selalu membuat rumah disetiap benua.Hal ini dilaporkan saat warga Spanyol datang ke Samudra Pasifik pada tahun 1769, suku India California berkata “pada saat bulan penuh, ikan-ikan akan datang dan menari di pantai ini”. Dan itu benar terjadi bahwa banyak ikan lokal yang bervariasi, para grunion, bergerak keluar dari bawah laut dan bertelur diatas batas normal pasang tinggi air laut. Betinanya yang memulai membenamkan dirinya pertama kali di pasir dan jantannya menutup telur-telur tersebut dan memberi makan dan dimulai sejak diletakkan ke dalam pasir. Pada saat bulan penuh itu menjadi sangat penting, karena itu memberikan telur-telur itu waktu agar tidak terganggu pertumbuhannya selama sembilan sampai sepuluh hari, dan selama sepuluh hari itu saat pasang tinggi air laut saatnya para ikan menetas dan pergi ke laut lepas untuk memulai hidupnya. Setiap pemandangan di dunia ini saling membutuhkan dan adaptasi yang serasi, dimana hewan menjadi cocok dengan lingkungannya dan akan berputar seperti roda gigi yang selalu berputar ke satu tempat ke tempat lain dan akan kembali ke posisi semula. Seperti landak yang sedang tertidur dan menunggu saat musim semi datang dan membangkitkan metabolisme tubuhnya untuk hidup kembali. Kicauan burung yang mengalahkan udara dan bertengger diantara bunga-bunga yang bermekaran. Kupu-kupu pun meniru menjadi daun dan mengelabui binatang buas serta predator lainnya. Lalat pun seperti antar jemput mekanik yang melewati tanah di musim Jadi jutaan tahun yang lalu saat evolusi telah mengubah para grunion untuk menyesuaikan dan duduk tepat sesuai arus. Tetapi alam yang melakukan evolusi secara biologi tidak menyesuaikan manusia untuk lingkungan yang spesifik. Sebaliknya, dibandingkan dengan para grunion yang memiliki peralatan untuk bertahan hidup dan paradoks dari kondisi manusia. Salah satu dari mereka menyesuaikan untuk semua kondisi. Diantara kebanyakan binatang sering mengambil langkah seribu, terbang, bersembunyi dan berenang di sekitar kita, hanya manusia yang tidak pernah mengunci salah satu cara dalam menaklukan bentangan alam. Dalam imajinasinya, kehalusan emosional dan kekuatan, manusia mampu untuk tidak menerima keadaan alam dan berusaha mengubahnya. Dalam seri penemuan ini dimana manusia dari umur ke umur dan dari waktu ke waktu mulai dibuat lagi untuk lingkungannya sendiri. Ini adalah perbedaan dari sebuah evolusi yang tidak secara biologi tetapi dari evolusi kebudayaan, dan orang-rang menyebutnya rangkaian cerdas sebuah kebudayaan puncak dari pendakian seorang manusia.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka teridentifikasi beberapa pokok penting yang dapat meningkatkan ilmu pengetahuan tentang sistim perubahan manusia sebagai tujuan pendidikan guna memberikan yang lebih baik pada manusia, terkait dengan Ascent of Man, yang dapat menjadi menambah khasanah keilmuan kita, seperti yang berikut ini:
Animal adaptation, The human alternative, Beginning in Africa, Fossil evidence, the gift of foresight, Evolution of the haad, The mozaik of man, The cultures of the hunter, Across the ice ages, Transhumance cultures, The lapps imagination in cave art.


PEMBAHASAN

A.   Animal adaptation, The human alternative, Beginning in Africa, Fossil evidence, the gift of foresight, Evolution of the haad, The mozaik of man, The cultures of the hunter, Across the ice ages, Transhumance cultures, The lapps imagination in cave art
Lower than the angels, menceritakan tentang evolusi manusia protokera/ Australopithecus ke Homo sapiens. Australopithecus yang memiliki ukuran kepala yang sangat besar dan ukuran otak yang kecil , hal tersebut mempengaruhi sistem komunikasi,sosialiasasi dan berbudaya antar manusia dan kera, sAustralopithecus sudah bisa berbudaya dan sosialisasi dengan memilih ketua kelompok yang dipilih dari pejantan yang paling kuat untuk memimpin kelompoknya dari serangan musuh dan memimpin perburuan untuk makan,setelah berevolusi dengan beberapa bentuk dan akhirnya berubah menjadi homo sapiens yang berjalan dengan menggunkan dengan 2 kaki. Perkembangan otak manusia pun berlangsung dengan cepat dengan penemuan-penemuan yang telah di temukan misalnya alley Omo di Ethiopia, di mana busa sabun kuno di temukan,sesat, sisa-sisa manusia yang paling awal ditemukan. juga dilihat Spanyol dan beberapa lukisan gua. Episode ini berisi beberapa negara dari seni grafis komputer, 1973-gaya.
Aritikel ini di kutip dari penulis Jacob Brownowski dalam bukunya yang berjudul Ascent of Man menjelaskan bahwa manusia lebih rendah dari malaikat yang tertera pada bab 1. Bab pertama ini menjelaskan tentang evolusi manusia pada tahun 400.000 SM. Setiap spesies telah diadaptasi agar sesuai ke ceruk ekologis tertentu, mereka telah berevolusi untuk lingkungan tertentu. Man,despite his comparatively weak physical attributes has been able to shape the world with his unique set of gifts. Manusia, meskipun relatif lemah atribut fisik telah mampu membentuk dunia dengan hadiah unik. Bronowski believes that it was not so much biological evolution, but cultural evolution that has made man what he is today. Bronowski percaya bahwa hal itu tidak begitu banyak evolusi biologis, tapi evolusi budaya yang telah menciptakan manusia apa yang hari ini. Evolusi manusia berasal dari evolusi Homo sapiens sebagian berbeda spesies dari lainnya hominid , kera besar dan plasenta mamalia
Studi tentang evolusi manusia mencakup banyak ilmiah disiplin, termasuk antropologi fisik , Primatologi , arkeologi , linguistik dan genetika Istilah “manusia” dalam konteks evolusi manusia mengacu pada genus Homo , namun studi evolusi manusia biasanya meliputi lainnya hominid , seperti Australopithecus . Genus Homo telah menyimpang dari australopithecus oleh sekitar 2,3 atau 2.4 juta tahun yang lalu.
 Di Afrika Para ilmuwan telah memperkirakan bahwa manusia bercabang dari nenek moyang mereka dengan simpanse  yang lain hanya hominins hidup – sekitar 5-7 juta tahun yang lalu. Beberapa spesies Homo berkembang dan sekarang punah.
Artikel ini di kutip dari penulis Jacob Brownowski dalam bukunya yang berjudul Ascent of Man menjelaskan bahwa manusia lebih rendah dari malaikat yang tertera pada bab 1 dalam buku the ascent of man  ini menjelaskan tentang evolusi manusia pada tahun 400.000 SM. Setiap spesies telah diadaptasi agar sesuai ke ceruk ekologis tertentu, mereka telah berevolusi untuk lingkungan tertentu. Man, despite his comparatively weak physical attributes has been able to shape the world with his unique set of gifts. Manusia, meskipun relatif lemah atribut fisik telah mampu membentuk dunia dengan hadiah unik. Bronowski believes that it was not so much biological evolution, but cultural evolution that has made man what he is today. Bronowski percaya bahwa hal itu tidak begitu banyak evolusi biologis, tapi evolusi budaya yang telah menciptakan manusia apa yang hari ini. Evolusi manusia berasal dari evolusi Homo sapiens sebagai berbeda spesies dari lainnya hominid , kera besar dan plasenta mamalia .Studi tentang evolusi manusia mencakup banyak ilmiah disiplin, termasuk antropologi fisik , Primatologi , arkeologi , linguistik dan genetika Istilah “manusia” dalam konteks evolusi manusia mengacu pada genus Homo , namun studi evolusi manusia biasanya meliputi lainnya hominid , seperti Australopithecus . Genus Homo telah menyimpang dari australopithecus oleh sekitar 2,3 atau 2.4 juta tahun yang lalu di Afrika Para ilmuwan telah memperkirakan bahwa manusia bercabang dari nenek moyang mereka dengan simpanse – yang lain hanya hominins hidup – sekitar 5-7 juta tahun yang lalu. Beberapa spesies Homo berkembang dan sekarang punah.
Evolusi manusia dimulai saat Afrika mengalami perubahan iklim : danau-danau mulai menyusut (tidak ada air lagi), hutan berubah menjadi padang gurun karena kekeringan. Dan menjadi bukti beruntungnya seorang manusia tidak bisa beradaptasi dengan baik dalam kondisi seperti itu. Dalam cuaca seperti ini, dapat bertahan hidup sangat mahal harganya dan itu akan menangkap mereka. Saat para hewan seperti zebra Grevy mampu beradaptasi di padang gurun, ini menjadi tangkapan yang bagus di waktu seperti ini. Dan yang paling anggun dalam beradaptasi dari semua binatang tersebut adalah pemberian gazelle : ini adalah hewan yang memiliki loncatan indah selama berada di padang gurun Ini adalah Afrika yang terbakar, daratan seperti Omo, manusia menginjakkan kaki pertama kali di tanah ini. Ini seperti jalan pedesaan menuju pendakian seorang manusia hal ini sangatlah penting. Dua juta tahun yang lalu, leluhur pertama berjalan dengan menggunakan kakinya sangat berbeda dengan pria modern sekarang yang menggunakan kakinya untuk berjalan. Faktanya, disaat menaruh kakinya di atas tanah dan berjalan tegak lurus, seorang manusia akan membuat komitmen untuk integrasi yang baru dalam  hidupnya dan anggota tubuhnya sendiri.
Salah satu konsentrasi utama dalam evolusi adalah kepalanya, karena pada kepalanya banyak mengalami perubahan yang paling jauh dan paling formatif. Beruntunglah, tengkorak yang ditemukan pada fosil terakhir bukan merupakan organ yang lembut (tidak mudah hancur) walaupun kurangnya informasi mengenai otak dari tengkorak tersebut yang menjadi hal penting untuk kita tetapi bisa melihat dari ukuran tengkorak tersebut untuk mengetahui kepintaran dari mahkluk fosil tersebut. Kemudian beberapa fosil tengkorak ditemukan di Afrika Selatan pada lima puluh tahun terakhir yang membentuk sebuah struktur karakteristik dari sebuah kepala saat mereka mulai menyerupai manusia.
Hingga saat ini Dart menyadari dua keistimewaan bentuk wajah. Satu diantaranya memiliki lubang di tengkorak, bahwa tulang belakangnya muncul sampai ke tengkorak bagian belakang mendekati otak. Seperti seorang anak kecil yang sedang memegang kepalanya hingga ke atas. Dan salah satu yang mirip dengan pria ini lebih menyerupai seekor monyet atau kera yang memiliki kepala yang menggantung ke depan dari tulang belakang dan tidak tegak pada atasnya. Perbedaan yang terlihat selain bentuk kepalanya adalah giginya. Gigi selalu menceritakan cerita yang sesungguhnya. Gigi mereka kecil-kecil dan bentuknya kotak-kotak, dan mereka hanya memiliki gigi seperti anak kecil yaitu gigi susu yang tidak begitu kuat, bertarung dengan menggunakan gigi taringnya seperti kera. Yang artinya mereka memiliki wajah yang memakan dengan menggunakan tangannya dan tidak langsung menggunakan mulutnya. Pembuktian gigi tersebut memungkin mereka untuk memakan daging mentah dan menggunakan tangan sebagai makhluk yang   hampir mampu menggunakan peralatan dengan baik, alat batu seperti kerikil, pisau batu, untuk memotong dan berburu dart menamakannya dengan Australopithecus dan ini bukanlah nama kegemarannya, arti dari nama ini adalah kera selatan, tetapi Dart merasa bingung menamakannya karena untuk pertama kalinya bentuk ini bukanlah seperti kera. Saya mengira bahwa Dart lahir di Australia dan memasukkan negara kelahirannya sebagai nama dari penemuannya.
Perbedaan genetika diantara komunitas–komunitas ada pada skala sederhana. The lapps (orang-orang adat yang tinggal di sebelah utara Swedia, Norwegia, Finlandia dan semananjung di Rusia) sudah tidak bertahan hidup secara biologis, namun dengan penemuan-penemuan mereka yang dengan imajinatif menggunakan kebiasaan rusa kutub, dengan merubahnya menjadi hewan pekerja dengan artefak dan kereta seluncur. Bertahan hidup di es tidak tergantung dari warna kulit, Lapps telah bertahan hidup, manusia telah bertahan hidup di zaman es, dengan bantuan penemuan terhebat pada masa itu API.
Api adalah simbol dari hati manusia, dari waktu Homo sapiens bermula untuk meninggalkan tanda tangan mereka tiga puluh ribu tahun yang lalu, hati tersebut adalah gua. Sekitar satu juta manusia, dalam beberapa bentuk yang dikenali, hidup sebagai penjelajah dan pemburu. Kita hampir tidak mempunyai patung dari periode prasejarah.
Butuh waktu sepuluh tahun untuk menemukan tengkorak lainnya (tengkorak dewasa) dan tidak sampai tahun 1950 akhirnya rangkaian fosil Australopitechus dapat disatukan. Dimulai dari Afrika Selatan kemudian berpindah ke utara menuju Olduvai Gorge di Tanzania dan yang terbaru ditemuman di Danau Rudolf.
Untuk bayi Australopithecus memiliki sejarah sendiri. Pada tahun 1950, saat arti dari manusia belum dapat diterima, saya bertanya untuk menyusun pecahan-pecahan matematika ini. Dalam empat puluh tahun menyerahkan hidup untuk memecahkan masalah perhitungan ini, tiba-tiba melihat pengetahuan kembali ke masa dua juta tahun yang lalu dan bersinar saat mencari sejarah mengenai manusia yang sangat fenomenal sungguh fenomenal.
Bayi manusia, adalah seperti rangkaian antara hewan dan malaikat. Sebagai contoh, refleksi bagaimana bayi menendang pada saat di dalam rahim ibu (semua ibu pasti mengetahuinya dan merasakannya) sama seperti halnya vertebrata. Bayi memulai bersikap seperti manusia pada saat berumur empat belas bulan karena pada saat itu bayi memulai melangkah.
Semua manusia bertingkah seperti kembali ke bagian dirinya yang seperti hewan. Kita harus berusaha untuk bersikap dingin dan memperlihatkan wajah kesendirian jika kita ingin memutuskan hubungan darah dalam hidup. Pemikiran seorang atlit adalah membangun kemampuannya dan memperbaiki kesalahannya dalam imajinasinya untuk membangun masa depannya.
Kepala bukanlah simbol dari gambaran manusia karena ini hanya sebagai tempat tinjauan masa depan dan evolusi kultural. Karena itu jika saya mengambil perjalanan manusia kembali ke masa lalu yaitu sebagai hewan, evolusi itu akan terbaca dengan mengikuti perjalanan tengkoraknya. Sayangnya, lebih dari lima puluh juta tahun yang lalu yang kita bicarakan ini, hanya enam atau tujuh tengkorak yang dapat teridentifikasi evolusinya.
Dimulai lima puluh tahun yang lalu dengan mengurutkan berdasarkan garis cabangnya yaitu dimulai oleh lemur. Fosil tengkorak dari keluarga lemur adalah Adapis dan ditemukan di Paris. Saat tengkorak ini mulai turun ke bawah kau akan melihat foramen magnum jauh ke belakang, seperti memiliki hubungan kesamaan mereka memakan serangga dan buah-buahan dan mereka memiliki lebih dari tiga puluh dua gigisama seperti primat pada umumnya. Fosil lemur seperti memberikan sedikit tanda bahwa ia adalah primata, lemur adalah anggota keluarga dari monyet, kera dan manusia.
Dua juta tahun yang lalu, saat kita belum menjadi manusia. Lalu setelah satu juta tahun, barulah kita menjadi manusia, karena satu juta tahun yang lalu sebuah makhluk muncul yang nantinya akan dipanggil Homo Erectus. Manusia berkelana jauh keluar Afrika. Fakta klasik mengenai ini dapat ditemukan di Cina. Manusia Peking, berumur sekitar empat ratus ribu tahun, manusia pertama yang dapat menggunakan api.
           Perubahan didalam Homo erectus membawa manusia  ke materi yang paling penting lebih dari satu juta tahun. Penerusnya yang paling kita ketahui dan pertama kali ditemukan di Jerman seabad lalu : sebuah kerangka fosil klasik, adalah manusia Neanderthal. Manusia sudah mempunyai tiga cabang otak, yang besar seperti manusia modern. Mungkin ada garis keturunan dari manusia Neanderthal yang sudah meninggal tersebut, tetapi ini sama saja dengan mengambil garis timur tengah dan menariknya pada manusia disebut dengan Homo sapiens.
Manusia mempunyai sifat yang membuat mereka lebih rendah dari malaikat, dan sifat inilah yang menyebabkan manusia melakukukan banyak kemajuan teknologi. Sifat ini adalah MALAS.
Sifat malas tersebut, membuat setiap orang ingin melakukan hal yang serba instan, serba cepat, tidak mengeluarkan tenaga. Maka dari itu sifat malas tersebut yang menyebabkan kemajuan teknologi. Sebagai contoh pada alat pemasak nasi.
Zaman dulu orang memasak nasi menggunakan kayu bakar, kayu bakar tersebut dicari di dalam hutan. Karena sifat malas timbul di benak manusia. maka ingin menemukan sesuatu yang lebih mudah dan tidak perlu pergi ke hutan, maka manusia menciptakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Lama kelamaan dengan minyak tanah, manusia masih tetap malas karena masih harus mengganti sumbu kompor yang lama-kelamaan akan habis terbakar dan menambah miyak yang lama kelamaan akan habis, sifat malas itu timbul kembali. Kemudian manusia ingin menciptakan sesuatu lagi yang tidak untuk mengganti sumbu dan menambah minyak. Maka manusia menciptakan kompor gas, dengan kompor gas kalau gas habis maka ia harus membeli gas. Lama kelamaan timbul rasa malas. Maka manusia menciptakan hal baru yang tidak usah repot-repot mengganti gas. Maka manusia membuat alat pemasak nasi dengan berdaya listrik.
Rasa malas inilah yang mendorong manusia untuk menciptakan hal-hal baru yang dapat membantu dalam melaksanakan hidup manusia. Rasa malas tersebut pernah digambarkan dalam film keluaran Waltdisney yang berjudul Wall-E. Film ini terdapat bagian yang menggambarkan seorang manusia yang tadinya berbadan tegap atau orang bilang disebut sixpack menjadi seperti bola gendut yang siap meledak kapan pun. Karena kemajuan teknologi inilah maka, manusia tersebut hanya tiduran didalam ranjang sekaligus tempat duduk yang dapat berjalan kemanapun manusia tersebut inginkan. Jadi mereka tidak perlu berjalan repot-repot berjalan kaki. Bila ingin makan dia hanya memanggil sebuah robot yang berjalan mengantarkan makanan tidak perlu membuat makanan tesebut.
Dalam film Lower Than The Angels yang membicarakan tentang manusia yang lebih rendah dari malaikat ,Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya,sebab pada hakikatnya manusia itu tercipta seperti sebuah binatang layaknya seekor kera.Manusia memiliki imajinasi dan membanyangkan masa depan dan menciptakan mulai dari menggunakan alat yang sederhana seperti penggunaan daun jerami untuk atap rumah , Batu sebagai penghasil api dan masih banyak lagi. Hingga pada manusia yang cenderung memanfaatkan teknologi daripada menggunakan alat-alat yang sederhana . karena mereka selalu berfikir zaman era globalisasi ini apabila tidak menggunakan teknologi maka kita akan mencapai kemajuan dan kemerdekaan dengan cepat.
Dan ini merupakan suatu bukti bahwa manusia itu dahulu sangat rajin dalam membangun suatu dunia tanpa terpaku pada penggunaan teknologi dan Robot sebagai alat batu dalam kelangsungan hidupnya.Itu tercipta karena manusia yang pada dasarnya mempunyai imajinasi yang tidak memunginkan menerimanya akan tetapi cenderung untuk mengubahnya, hal ini merupakan kemampuan yang dibutuhkan oleh dunia sebab apabila manusia sering menggunakan teknologi yang ada malah timbul sifat malas dan berakibat pada baik dan buruknya kehidupan suatu manusia itu sendiri.
Dalam kehidupan saat ini banyak cara yang dapat ditempuh oleh manusia dalam membuat hidupnya menjadi lebih baik. Seperti misalnya dalam Film Lowers Than The Angels disini manusia cenderung menfaatkan kekayaan alam yang ada untuk menembus kekurangan fisik yang dimiliki contoh Pemanfaatan Kulit Beruang untuk dibuat Jaket sebagai pelindung bagi tubuh, ini membuktikan perubahan fisik itu tumbuh didorong oleh perubahan otak dalam berfikir.
Manusia itu dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, tetapi seiring kemajuan teknologi manusia cenderung lebih mengandalkan suatu fasilitas yang yang sebenarnya manusia itu sendiri bisa melakukannya,karena apa manusia itu derajatnya lebih tinggi dari makhluk tuhan yang lain misalnya hewan dan tumbuhan. Tumbuhan dan hewan saja dalam mempertahankan hidupnya masih memerlukan bantuan manusia,itu sebabnya kenapa manusia itu selalu mengangkap dirinya itu tidak bisa padahal kan dalam diri manusia itu sendiri tercipta suatu imajinasi.Tapi kenapa sekarang manusia lebih mengharapkan hal-hal yang sesungguhnya yang tidak mungkin terjadi, misalnya saja ketika manusia itu ingin menjadi kaya , manusia mengandalkan dukun atau melakukan korupsi yang sesungguhnya hal itu tidak diijinkan oleh yang maha kuasa.Kalau manusia itu bisa mngeluarkan imajinasi yang ada dalam dirinya pasti hidup seorang manusia itu akan lebih bermakna baik bagi dirinya dan orang disekitarnya
Menggunakan kata-kata “ascent” atau pendakian dengan pengertian yang sangat berharga. Manusia itu sangat mulia daripada binatang lainnya dari sebuah pemberian imajinatif. Mereka dapat menyusun rencana, membuat penemuan, membuat penemuan-penemuan baru menjadi sebuah judul dan penetrasi, selama mereka belajar untuk mengkombinasi talenta menjadi lebih berguna dan menjadi jalan yang sesuai. Jadi penemuan hebat dari waktu yang berbeda dan kebudayaan yang berbeda secara teknik, secara ilmiah, secara kesenian mengekspresikan kemajuan mereka menjadi sesuatu yang lebih kaya dan lebih rumit dari pada kemampuan manusia untuk naik. Dan tentu saja hal ini sangat menggoda para ilmuwan untuk mendapatkan sebuah harapan dari penemuan asli dan pencapaian dari pemikiran kebanggaan terbaru. Dan sebaiknya kita ikut berbangga karena hal ini beberapa modernisasi pun akhirnya dapat berjalan. Berpikir bagaimana caranya sebuah kode hereditas (faktor kelahiran) spiral DNA dapat mengubah suatu kaum : atau pergi bekerja untuk menindak lanjuti keistimewaan dari sebuah pemikiran manusia
Rasa malas itu biasa dikaitkan dengan rasa LAPAR. Mengapa??? Disebabkan karena lapar manusia tidak ingin melakukan sesuatu. Yang dikerjakan hanya bermalas-malasan. Bila rasa lapar tersebut teratasi atau yang disebut kenyang, rasa malas tersebut datang kembali karena kenyang yang ingin dikerjakan hanya besantai atau tidur. Maka masalah Lapar merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rasa malas muncul baik lapar itu teratasi ataupun belum.
Perubahan kebudayaan pada dasarnya tidak lain dari para perubahan manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan itu. Perubahan itu terjadi karena manusia mengadakan hubungan dengan manusia lainnya, atau karena hubungan antara kelompok manusia dalam masyarakat. Tidak ada kebudayaan yang statis, setiap perubahan kebudayaan mempunyai dinamika, mengalami perubahan; itu akibat dari perubahan masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tersebut  MALAS.
Dipandang dari segi ilmu eksakta, manusia adalah kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia ilmu kimia. Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi  ilmu fisika. Manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia  biologi . Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus ilmu ekonomi. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri  sosiologi , mahluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan politik, dan lain sebagainya.

    1.  Manusia itu terdiri dari empat unsur yang saling terkait yaitu :

  • Jasad; yaitu badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba, dan difoto, dan menempati ruang dan waktu
  • Hayat; yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak.
  • Ruh; yaitu bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara   spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
  • Nafs; dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentan diri sendiri

      2.    Manusia sebagai satu kepribadian yang mengandung 3 unsur yaitu :

  • Ide. Yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak. Id merupakan libido murni, atau energi psikis yang menunjukkan cirri alami yang irrasional dan terkait masalah sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran. Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri, tetapi terkait dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia luar
  • Ego. Merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Ide, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubgunkan energi Ide ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
  • Superego, merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia limat tahun. Dibandingkan dengan Id dan ego, yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal, superego menunjukkan pola aturan yang   dalam derajat tertentu menghasilkan control diri melalui sistem I mbalan dan hukuman yang terinternalisasi.
          Dari uraian diatas dapat mengkaji aspek tindakan manusia dengan analisa hubungan antara tindakan dan unsur-unsur manusia. Seringkali misalnya orang senang terhadap penyimpangan terhadap nilai-nilai masyarakat dapat diidentifikasi bahwa orang tersebut lebih dikendalikan oleh Id dibandingkan super-egonya. Atau seringkali ada kelainan yang terjadi pada manusia, misalnya orang yang berparas buruk dan bertubuh pendek berani tampil ke muka umum, dapat diterangkan dengan mengacu pada unsur nafs (kesadaran diri ) yang dimilikinya. Kesemuanya tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku manusia

    3. Hakekat Manusia adalah :

  • Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
  • Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.
  • Makhluk biokultural yaitu makhluk hayati yang budayawi
  • Makhluk Ciptaan Tuhan yang terkait dengan  lingkungan mempunyaikualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan bekarya
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya. Pengertian kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabadikan untuk kepentinganmasyarakat.
           Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segalanorma dan nilai masyarakat yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasarakatan alam denganarti luas., didalamnya termasuk, agama, ideology, kebatinan, kenesenian dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Selanjtunya cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan pikiran dari orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan rohaniah. Semua karya, rasa dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang-orang yang menentukan kegunaannya, agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar, bahkan seluruh masyarakat.
Dari pengetian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu merupakan keseluruhan dari pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang digunakan untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, untuk memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia itu sendiri. Atas dasar itulah para ahli mengemukakan adanya unsur. Kebudayaan yang umumnya terperinci menjadi 7 unsur yaitu:

  1. Unsur religi
  2. Sistem kemasyarakatan
  3. Sistem peralatan
  4. Sistem mata pencaharian hidup
  5. Sistem bahasa
  6. Sistem pengetahuan
  7. Seni
Bertitik tolak dari sistem inilah maka kebudayaan paling sedikit memiliki 3 wujud antara lain:
1.        Wujud sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, norma, peraturan dan sejenisnya, ini merupakan wujud ideal kebudayaan, sifatnya abstrak, lokasi ada dalam pikiran masyarakat, dimana kebudayaan itu hidup.
2.        Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.

3.      Kebudayaan sebagai benda
Apabila dikaji, tanggungjawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri atau pihak lain dengan keseimbangan, keserasian keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik. Tanggungjawab itu ciri manusia beradab berbudaya. Manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggungjawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa terhadap Tuhan.

   Macam-macam tanggung jawab sebagai berikut
  1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri
  2. Tanggung jawab terhadap keluarga
  3. Tanggung jawab terhadap masyarakat
  4. Tanggung jawab terhadap bangsa dan negara
  5.   Tanggung jawab terhadap Tuhan
















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *