Jumat, 04 April 2014

MANAJEMEN PENDIDIKAN EFEKTIF


 A.ARTI PENTING MANAJEMEN PENDIDIKAN
a.      Arti Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian usaha-usaha personal pendidikan dalam mendayagunakan semua sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Prof. Dr. H.A.R Tilaar, M.Sc,. Ed,. Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan yang mengimplikasikan adanya perencanaan atau rencana pendidikan sekaligus kegiatan implementasinya. Sementara itu Dr. Made Pidarta, M.Pi., dalam bukunya manajemen pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa dalam pendidikan, manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas yang memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.

Pada dasarnya manajemen pendidikan bertujuan untuk menentukan, merencanakan, mengimplementasikan serta mengevaluasi program kegiatan pendidikan. Demi mewujudkan pendidikan yang efektif, efisien serta berkualitas, diperlukan adanya perencanaan yang harmonis dan terarah. Salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya pengangguran terpelajar serta kurang berhasilnya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia adalah kualitas manajemen pendidikan yang tidak mumpuni. Padahal untuk dapat mempertahankan kualitas manajemen pendidikan, sedikitnya harus memiliki  dua elemen penting, yakni sistem dan kualitas pendidik. Agar pendidikan dapat berjalan efektif, efisien, dan dapat menghasilkan output yang berkualitas, manajemen pendidikan harus tertata dengan baik.

b.      Fungsi-Fungsi Manajemen Pendidikan
Sebagaimana fungsi manajemen pada umumnya, manajemen pendidikan juga memiliki fungsi yang sama, yakni:
1.   Perencanaan
Perencanaan pendidikan adalah proses pemikiran yang sistematis dan analisis rasional (mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksananya, mengapa hal itu harus dilakukan, dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan?) untuk meningkatkan mutu pendidikan agar lebih efektif dan efisien, sehingga proses pendidikan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dalam perencanaan pendidikan terdapat beberapa model , antara lain sebagai berikut:
a.    Model perencanaan komprehensif. Berfungsi sebagai patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik kearah tujuan-tujuan yang lebih luas.
b.   Model target setting. Digunakan dalam upaya untuk melakukan proyeksi atau memperkiraka n tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu, analisi demografis, memproyeksikan jumlah siswa terdaftardan kebutuhan tenaga kerja.
c.    Model costing (pembiayaan) dan keefektifan biaya. Dipakai untuk menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisiensi dan efektivitas ekonomis.
d.   Model planning, programming, dan budgeting system (PPBS).disebut juga sebagai sistem SP4 (perencanaan, penyusunan program, dan penganggaran). Hanya diterapkan pada masalah-masalah yang kompleks.

Keberhasilan proses pelaksanaan rencana, selain tergantung kepada ketepatan penyusunanan ny, juga akan ditentukanoleh fungsi-fungsi manajemen pendidikan berikutnya, yaitu pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.

2.   Pengorganisasian
Dalam pengorganisasian, pembagian tugas disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian orang yang memegan tugas. Misalnya, dalam pendidikan, pembagian tugas guru dalam bidang studi yang diajarkan haruslah sesuai dengan kemapuan dan latar belakang pendidikan nya.

3.   Pengarahan
Pada dasar nya pengarahan berkaitan dengan hal-hal berikut:
a.       Motivasi. Dalam bidang pendidikan, kepala sekoah selaku pimpinan tertinggi selayaknya memahami dan memberi motivasi kepada semua anak buahnya. Sebab, hal ini akan menjadi kunci agar mereka bekerja lebih efektif.
b.      Komunikasi. Kepala sekolah harus menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh staf dan lingkungan sekolah demi tercapainya efisiensi dan efektivitas pendidikan.
c.       Dinamika kelompok.  Dalam sebuah organisasi, terdapat kelompok formal dan informal. Pemimpin harus mengarahkan dan mengefektifkan kelompok-kelompok tersebut agar dapat mendukung peningkatan pencapaian tujuan organisasi.
d.      Kepemimpinan. Dalam dunia pendidikan, kepemimpinan diemban oleh kepala sekolah. Dan, syarat minimalnya adalah harus mempunyai kemampuan dalam menjalankan tugas serta dalam membina hubungan baik dengan semua personal sekolah.

4.      Pengawasan
Agar pengawasan pendidikan dapat berfungsi efektif, beberapa hal berikut harus diperhatikan:
a.       Pengawasan harus dikaitkan dengan relevansi, efektivitas, efisiensi, dan produktifitas.
b.      Standar yang masih dapat dicapai harus ditentukan.
c.       Pengawasan harus disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan lembaga pendidikan.
d.      Kuantitas pengawas harus dibatasi.
e.       Sistem pengawasan harus dikemudikan dan dikontrol.
f.       Pengawasan sebaiknya mengacu pada tindakan perbaikan.
g.      Pengawasan sebaiknya mengacu pada prosedur pemecahan masalah.

c.       Operasional Manajemen Pendidikan
Terdapat beberapa aspek yang perlu mendapat pelayanan manajemen pendidikan dalam suatu lembaga pendidikan yang berkaitan dengan operasional pendidikan dan pengajaran, yaitu:

1.   Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah manajemen yang ditujukan untuk keberhasilan proses pembelajaran secara maksimal dengan menitikberatkan pada kualitas interaksi proses pembelajaran. Manajemen kurikulum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a.    Separate subject curriculum. Bahan pelajaran diberikan terpisah antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain, dengan tema yang satu dengan tema yang lain.
b.   Correlated curriculum. Bahan-bahan pelajaran dihubungkan antara satu dengan yang lain.
c.    Integrated curriculum. Bahan pelajaran disajikan dalam bentuk unit yang merupakan satu kesatuan.

2.   Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen SDM ini dimaksudkan untuk dapat mneingkatkan kualitas guru dan karyawan, sehingga bisa mendorong tercapainya tujuan pendidikan, serta untuk membantu dalam peningkatan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan. Perencanaan diawali dengan analisis ketenagakerjaan lembaga pendidikan. Analisis yang sistematis meliputi dua hal, yaitu:
a)   Job description.
Analisis ini berkaitan dengan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru dan karyawan.
b)   Job analysis
Analisis ini berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan tugas-tugas.

3.   Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan merupakan sistem pengelolaan terhadap siswa, yang dimulai dari perencanaan, penerimaan siswa baru, pengorganisasian siswa, MOS, pembinaan dan pelayanan siswa, organisasi siswa, penilaian siswa, mutasi, hingga perencanaan alumni.

4.   Manajemen Sarana Dan Prasarana
Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran yang bersifat langsung. Sedangkan prasarana adalah semua fasilitas yang digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran namun bersifat tidak langsung.  Manajemen sarana dan prasarana pendidikan ini meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan pemeliharaan, serta penggunaan dan penghapusan.

5.   Manajemen Keuangan
Dalam manajemen keuangan pendidikan, ditentukan dan dicanangkan jumlah modal yang dibutuhkan dalam upaya operasional pendidikan, asal dana diperoleh, cara penggunaannya, pemasukan dan penegluaran, serta saldo yang didapat. Semua hal tersebut ditulis dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah.

6.   Manajemen Sistem Informasi
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang menuntut adanya persaingan antarlembaga pendidikan, suatu lembaga pendidikan membutuhkan sistem informasi.

7.   Manajemen Hubungan Masyarakat
Secara umum, humas pendidikan terdiri dari dua macam, yaitu humas internal yang meliputi kegiatan untuk mengatur hubungan antara kepala sekolah dan para guru, kepala sekolah dengan murid, kepala sekolah dengan karyawan, guru dengan murid, dan murid dengan murid. Dan humas eksternal yang meliputi kegiatan mengatur hubungan sekolah dengan wali murid, dengan BP3, dengan lembaga-lembaga pemerintah dan swasta, serta upaya untuk meningkatkan minat masyarakat.

8.   Manajemen Pengembangan Lembaga
Manajemen pengembangan lembaga adalah upaya untuk mengelola dan mengatur metode perkembangan lenbaga agar bisa terus exis dan survive ditengah persaingan global.

B.KONSEP-KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN

A.       Total Quality Management (TQM) in Education
TQM in education atau yang lebih dikenal dengan manajemen mutu terpadu adalah konsep manajemen pendidikan yang diadopsi dari manajemen industri, yang kemudian dipandang penting untuk dunia pendidikan. Dalam TQM, kualitas mutlak diutamakan dan harus ada perbaikan yang berkesinambungan serta terus menerus demi mengoptimalkan kualitas. Pada prinsipnya TQM mengutamakan kepuasan pelanggan, yang dalam pelaksanaannya selalu ada penyempurnaan dan perbaikan secara terus menerus. Implementasi TQM dimaksudkan agar tercapai keunggulan proses pembelajaran yang mengutamakan hasil sekaligus memberi peluang tinggi bagi guru dan siswa untukn aktif dan inovatif, dengan pemanfaaatan sarana dan prasarana yang memadai. Jika bisa diimplementasikan dengan baik, terdapat banyak kelebihan yang dimiliki TQM, antara lain kualitas tetap selalu diutamakan, perbaikan akan selalu dilakukan, tidak ada status quo, seluruh staf dapat bekerja sama, dan masih banyak lagi. Namun juga dalam TQM terdapat beberapa keurangan, antara lain adalah ketidakpastian dan ketidakjelasan tentang identifikasi dan spesifikasi pelanggan, ketidakjelasan tentang metode mendefinisikan kebutuhan pelanggan, ketidakpedulian terhadap perbedaan-perbedaan pelanggan, dan lain-lain.

B.     Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
MBS adalah suatu konsep manajemen pendidikan yang memberikan otoritas kepada sekolah agar sekolah bisa memberdayakan diri dengan disertai partisipasi masyarakat dalam prosesnya. Sekolah mempunyai otoritas penuh untuk mendayagunakan segala yang dimiliki demi mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan, relevansi pendidikan, serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan. Dalam proses pembelajaran, konsep MBS ini menekankan pada pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran efektif (effective learning), serta pembelajaran yang menyenangkan (joyfull leraning). Tujuan utama MBS adalah meningkatkan mutu, efisiensi, relevansi, dan pemerataan pendidikan. Dalam pengimplementasian nya MBS memliki beberapa kelebihan yaitu, otoritas penuh yang dipegang oleh sekolah, melibatkan orang tua peserta didik, transparansi manajemen, terjalin hubungan kemitraan antara dunia pendidikan dan dunia bisnis, dan masih banyak lagi. Namun MBS juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain mutu yang menjadi sasaran peningkatan belum jelas, otonomi yang diberikan kepada sekolah kadang membebani para orang tua peserta didik, rawan korupsi, dan sebagainya.

C.    Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Konsep MPMBS adalah sebuah konsep manajemen pendidikan yang otoritas pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada sekolah dengan penekanan utama nya pada perbaikan mutu pendidikan, serta pengupayaan segala perbaikan didalam prosesnya. Dalam implementasinya, MPMBS benar-benar fokus pada kualitas, mengoptimalkan segala sumber daya sekolah, menekankan manajemen terbuka, strategi yang digunakan dalam konsep MPMBS ini adalah metode PAKEM, kepemimpinan dalam konteks MPMBS haruslah bersifat transformasional, dan melibatkan orang tua dan masyarakat lebih aktif lagi. Masyarakat dan orang tua peserta didik tidak hanya berperan dalam pembiayaan pendidikan, tapi juga dituntut untuk berpartisipasi dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memantau proses pembelajaran anak mereka.

D.    Manajemen Pendidikan Berbasis Kemitraan (MPBK)
MPBK merupakan pendekatan pengembangan manajemen pendidikan yang muncul berdasarkan suatu keinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, serta relevansi pendidikan, yakni keselarasan antara output pendidikan dengan segala hal yang dibutuhkan. Konsep MPBK ini memiliki perpaduan antara ilmu dengan profesi, teori dengan praktik, harapan dengan kenyataan, serta retorika dengan realitas. Ada beberapa kelebihan yang dapat diandalkan oleh konsep MPBK, antara lain adalah paradigma yang digunakan berdasarkan TQM, mengembangkan networking dan partnership dengan berbagai instansi, senantiasa menciptakan komunikasi internal yang baik, menggunakan prinsip good governance sebagai landasannya, dan lain-lain. Namun konsep ini pun memiliki kekurangan, diantaranya adalah dalam menentukan instansi yang akan dipilih menjadi mitra seringkali tidak didasarkan pada keunggulan kompetitif, dalam proses penentuan program studi customer diabaikan, MBPK hany diperuntukan bagi lembaga profesional kedinasan.

E.     Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008
Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008, berlandaskan pada 8 prinsip manajemen, yaitu customer focus, leadership, keterlibatan semua orang, pendekatan proses, pendekatan sistem ke manajemen, perbaikan berkelanjutan, fakta sebagai dasar pengambilan keputusan, kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemasok. sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 sangat menuntut kepemimpinan yang baik, kepemimpinan yang transformasional, transpanransi manajemen, dan keterlibatan semua anggota dan personil organisasi pendidikan dalam pengimplementasiannya.

C.MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

a.      Urgensi Manajemen Pendidikan Islam
Manajemen pendidikan Islam pada dasarnya adalah metode pengelolaan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien sesuai dengan yang telah ditetapkan. Manajemen pendidikan Islam memiliki manfaat terhadap perkembangan pendidikan, diantara nya:
1.      Memudahkan pekerjaan adminstratif dalam pendidikan.
2.      Menciptakan iklim rohaniah, psikologis, dan sosial dengan dilaksanakannya akidah dan akhlak islam.
3.      Meningkatkan moral dan semangat angota-anggota lembaga pendidikan.
4.      Menumbuhkan produktivitas pekerjaan.
5.      Menghubungkan antara proses pendidikan dengan tujuan pembangunan dalam masyarakat sekaligus mempererat hubungan lembaga pendidikan dengan lingkungannya.

Manajemen pendidikan Islam juga memiliki beberapa prinsip, yaitu:
a)      Ikhlas
b)      Tanggung jawab
c)      Kejujuran
d)     Dinamis
e)      Amanah
f)       Praktis
g)      Adil, dan
h)      Fleksibel
Pentingnya manajemen pendidikan Islam bisa dilihat juga dari keberadaan pendidikan Islam sendiri. Agar tetap eksis, survive, dan terus berkembangan, pendidikan Islam membutuhkan suatu pengelolaan yang baik, terencana, dan teratur, sehingga mampu menumbuh-kembangan eksistensi pendidikan islam ditengah-tengah persaingan global.

b.   Implementasi Manajemen Pendidikan Islam
Di Indonesia, pendidikan Islam merupakan subsistem dari pendidikan nasional, sehingga pada dasarnya keberhasilan pendidikan Islam akan membantu keberhasilan pendidikan nasional begitu juga sebaliknya. Terkait dengan implementasi manajemen pendidikan Islam di Indonesia, terdapat tiga pola yang telah berlangsung yang didasarkan dengan perkembangan terkini.
1)         Pola tunggal. Dalam pola ini hanya berlaku satu jenis sistem, yaitu sentralistis.
2)         Pola ganda. Dalam pola ini berlaku dua jenis sistem, yaitu sentralistis dan desentralistis.
3)         Pola simbolik. Pola ini merupakan perluasan dari pola ganda yang memberi pengakuan hak hidup berbagai sistem. Pola simbolik inilah yang seharusnya diterapkan dalam manajemen pendidikan Islam.

c.    Manajemen Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Nasional
Sebagai subsistem dari pendidikan nasional, keberhasilan pendidikan Islam bisa membantu keberhasilan pendidikan nasional, demikian juga sebaliknya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya, Indonesia dengan pendidikan yang sentralistik melahirkan suatu dualisme sistem pendidikan yang tergambar dari Depag dan Diknas yang menangani pendidikan. Manajemen pendidikan islam dan manajemen pendidikan nasional sejatinya saling menopang dan saling melengkapi, meskipun terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Manajemen pendidikan Islam bisa mengadaptasi konsep-konsep bermutu yang dimiliki oleh manajemen pendidikan nasional untuk diaplikasikan. Begitu juga sebaliknya. Pada tatanan koridor manajemennya, antara manajemen pendidikan Islam dan manajemen pendidikan nasional tidaklah jauh berbeda. Hal ini terbukti dari aplikasi keduanya yang cenderung sama. Manajemen pendidikan Islam berlandaskan kepada Al-Qur’an dan hadist, sedangkan manajemen pendidikan nasional berlandaskan pada teori-teori dari manajemen yang ada dan terus memantau perkembangannya.

d.   Meningkatkan Mutu Lembaga dengan Manajemen Pendidikan Islam
Salah satu hal penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan adalah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan merupakan pelaksana pendidikan terdepan sekaligus menjadi salah satu tolak ukur terhadap keberhasilan pendidikan sebuah bangsa, selain output pendidikan, dan hal-hal lainnya. Meningkatkan mutu lembaga pendidikan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan pendidikan nasional memang bukanlah hal yang mudah. Berbagai partisipasi dari seluruh elemen terkaitpun sangat diperlukan, dalam hal ini ialah pemerintah, warga sekolah, orang tua siswa, tokoh agama, dan seluruh tokoh masyarakat harus berperan aktif dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan melalui kerjasama yang solid.

e.    Konsep Ideal Manajemen Pendidikan Islam
Meskipun manajemen pendidikan Islam dan konsepnya masih mengikuti konsep manajemen pendidikan nasional, namun bukan berarti manajemen pendidikan Islam tidak memiliki acuan yang menjadi bahan baku untuk diolah, dikelola, dan dikembangkan sendiri oleh seluruh umat manusia. Meskipun dalam konsep manajemen pendidikan antara nasional dan Islam sama, bersinergi, dan terintegralisasi, namun dalam hal-hal penentuan visi misi, budaya organisasi, atau kebijakan-kebijakan strategis, lembaga pendidikan Islam memakai nilai-nilai normatif dari Islam.
f.       Metamorfosis Manajemen Pendidikan Islam
Meskipun saat ini konsep manajemen pendidikan Islam masih mengikuti konsep manajemen pendidikan nasional, setidaknya masih cukup ideal untuk saat sekarang, namun bukan berarti ideal untuk kelak dan selamanya. Konsep tersebut harus terus berkembang dan berubah agar lebih baik lagi. Adanya metamorfosis manajemen pendidikan Islam bisa dibaca dari hierarki manajemen pendidikan Islam, yang secara umum berlaku sebagai berikut:
a)      Manajemen sentralisasi.
b)      Manajemen desentralisasi.
c)      Manajemen fungsional.


ANALISA BUKU
Entri Point
Didalam buku ini terdapat beberapa point-point penting yang dapat disimpulkan, yakni terdapat beberapa konsep manajemen yang sesuai utuk diterapkan pada manajemen pendidikan naisonal di Indonesia. Setiap manajemen itu pun memiliki target nya masing-masing dan beberapa kelebihan dan kekurangan.

Konsep Manajemen
Target
Kelebihan
Kekurangan
Total Quality Manajemen (TQM) in education
Peningkatan kualitas, mengutamakan pelanggan.
Perbaikan senatiasa dilakukan, seluruh staf dapat bekerja sama, dll.
Ketidakpastian dan ketidakjelasan tentang identitas dan sepesifikasi pelanggan.
Manajemen Berbasis Sekolah
Peningkatan kualitas dengan memberikan otoritas penuh terhadap sekolah
Sekolah diberikan otoritas penuh, melibatkan orang tua peserta didik, transparansi manajemen, dll.
Rawan korupsi, pelayanan terhadap kelompok kelas menengah, mutu yang jadi sasaran belum jelas, dll.
Manajemen peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Peningkatan kualitas
Proses pembelajaran menggunakan sistem PAKEM,transparansi manajemen,masyarakat berperan aktif, dll. 
Mutu yang menjadi sasaran belum jelas, rawan korupsi, evaluasi outcome masih rancu, dll.
Manajemen Pendidikan berbasis Kemitraan (MPBK)
Peningkatan efektivitas penyelenggaraan pendidikan
Mengembangkan networking dan partnership dengan berbagai mitra, menciptakan komunikasi internal, dll
Hanya melibatkan dua instansi yang bermitra dalam penentuan prodi, tidak berdasarkan pada keunggulan kompetitif dalam pemilihan mitra, dll.
Sistem Manajemen ISO 9001:2008
Peningkatan mutu
Mengutamakan pelanggan, kepemimpinan yang baik dan transformasional, perbaikan yang berkelanjutan, dll.
Definisi dan spesifikasi pelanggan tidak jelas, membuka jurang perbedaan antarlembaga pendidikan yang ada, dll.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Jika dibandingkan dengan buku lain dengan tema yang sama, buku ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain:
·         Kelebihan:
ü  Isi yang lengkap
ü  Penjelasan baik
ü  Kalimat teratur
·         Kekurangan :
ü  Isi lengkap namun terlalu padat

Tujuan Penulisan
·         Tujuan penulis buku
Menjelaskan kepada para pembaca mengenai beberapa teori konsep manajemen pendidikan yang dapat diterapkan pada pendidikan nasional.
·         Tujuan peresume buku
·      Memenuhi tugas matakuliah Manajemen.
·      Merangkumkan isi buku agar pembaca makalah ini dapat sedikit mengetahui keseluruhan isi buku, sehingga pembaca dapat menilai sendiri buku ini.
·      Sebagai referensi bagi pembaca.

KESIMPULAN
Setelah saya membaca kesuluruhan isi buku “Buku Pintar Teori-Teori Manajemen Pendidikan Efektif” karya S. Shoimatul Ula, maka dapat saya simpulkan bahwa buku ini berisika  teori-teori konsep manajemen pendidikan yang telah diterapkan pada dunia pendidikan nasional maupun luar negeri. Konsep-konsep manajemen tersebut antara lain adalah, konsep manajemen TQM, manajemen berbasis sekolah, manajemen pendidikan berbasis kemitraan, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, dan sistem manajemen ISO 9001:20008.

Sumber : S. Shoimatul Ula, Buku Pintar Teori-Teori Manajemen Pendidikan Efektif, Berlian, Jakarta, Januari 2013.

Selasa, 01 April 2014

"Studi Banding dalam Tinjauan"

STUDI  banding sebagai hal yang sering dilakukan sejak SMP dulu biasanya keluar kota bahkan setelah masuk jenjangS1/ S2/S3  hal ini masih berlaku dengan lokasi yang lebih jauh lagi. Seiring kesibukan dalam rangka mempersiapkan tesis ataupun disertasi, dan trend tiap angkatan sebagai salah satu gengsi tersendiri karena kesana biasanya bersama dosen atau calon pembimbing/calon promotor kita, "Setidaknya kalau satu perjalanan jauh bisa merekatkan sebuah hubungan yang lebih dekat dengan calon dosen pembimbing atau calon promotor kita", kata teman kita yang merasakan manfaat studi banding tersebut  selain menambah wawasan tentunya."Sambil berdayung, dua tiga pulau terlampaui", begitu pepatah.

Masalah bagi sebagian mahasiswa, mungkin tak masalah bagi yang lainnya, buktinya program tersebut berjalan lancar. Soal Biayanya jangan tanya, kalau kunjungan dalam kota mungkin tak seberapa, tapi ke luar negeri,seperti  ke Hongkong, China, Jepang ataupun negara Asia, Australia, Eropa, kalau bisa Afrika, siapa yang tak ingin menambah wawasan dan bertamasya dengan kebanggaan yang luar biasa, apalagi kalau bukan masalah dana bagi mahasiswa yang secara finansial minus. Bahkan untuk kuliah saja hanya mengandalkan beasiswa dan pembiayaan lainnya yang minus, sehingga yang berangkat hanya beberapa gelintir mahasiswa yang mapan secara ekonomi dan biasanya kalau dijurusan kami minimal pejabat di tempat kerjanya, atau sisa beasiswa yang sebenarnya walaupun tak mendapat beasiswa mampu kuliah kejenjang lebih tinggi.
Ada laporan?, kayaknya sekedar oleh-oleh saja, karena sebagian punya cerita masing-masing, kami tahu lewat jejaring sosial bagaimana perjalanan mereka seperti facebook dengan potret narsis dibeberapa tempat yang dikunjungi ataupun pertemuan dengan kampus yang dikunjungi dan kami bahagia mendengar suatu yang baru di negara lain yang membuat terkagum-kagum yang sebenarnya mugkin bisa diterapkan bahkan hanya sekedar impian saja.karena secara kultural begitu berbeda dengan karakter bangsa kita. 

Sekali lagi ini hanya sekedar studi banding?

Sebuah budaya yang mungkin baik, mungkin juga hanya sekedar pembiasan makna setelah melihat kehebatan bangsa lain dalam mengelola pendidikan, yang ditakutkan hanya sekedar sebuah anomie yang menjangkiti para petinggi kita yang juga diikuti oleh calon petinggi dalam jenjang pendidikan tinggi.Sebagaimana studi banding anggota dewan kita yang berkesan in-efisiensi ke beberapa negara lain sehingga ditolak keberadaannya, karena lebih mengumbar budaya belanja daripada mencari pembelajaran sehingga kita pulang tak satupun yang bisa dipetik dan diterapkan di negara tercinta ini. Rupanya hal ini sudah dirintis sejak masih S2/S3, tapi argumen teman kita yang ikut berkunjung tergantung penilaian masing-masing, segala sesuatu ada value-nya."Tak ada yang salah sehabis perkuliahan selesai dan menjelang proses disertasi untuk sekedar refresing menghilangkan kepenatan", kata teman kita. "Lu, aja tanda tak mampu", lanjutnya.

Studi banding yang dilakukan terukur, terjangkau dan terencanakan dengan tolak ukur yang bisa dipahami semua orang sehingga sehabis studi tour kita benar-benar mendapatkan pengalaman yang bisa mendukung kualitas kita sebagai calon pemimpin dimasa yang akan datang atau seorang intelektual yang berkarakter, kritis dan itu hanya sekedar pendapat, pro dan kontra. pengalihan hasil misalnya bsia saja menuangkan dalam sebuah karya buku atau membenchmark organsasi pendidikan yang suatu waktu akan kita tuangkan sendiri dalam dunia pendidikan. Walaupun tujuannya studi, jangan ada kesan hanya pelepas lelah. Tujuan dasarnya hilang dengan jalan-jalannya, atau bisa juga berbagi dengan mahasiswa lainnya yang dirasakan mungkin tidak tahu akan kesulitan terutama yang berhubungan dengan finansial.

Studi banding jangan ada kesan perbedaan jarak perhatian. Objektifitas tetap terjaga, karena studi banding hanya sekedar peningkatan pengalaman mahasiswa akan perbedaan dan luasnya dunia pendidikan yang bisa dijadikan sebagai contoh dan master plan dari negara lain dalam pengelolaan pendidikan.
sekali lagi yang tidak ikut kunjungan ke negara lain bukan tidak solider tapi masih saja terbentur dengan masalah prioritas keuangan mahasiswa yang tidak semua memiliki anugrah dalam finansial dengan bisa kuliah kejenajnag lebih tinggi berkat bantuan beasiswa yang tertunda. wallahu alam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...