Tampilkan postingan dengan label Dunia kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia kampus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

Laboratorium Kehidupan, Ya Kita Sendiri

Apa yang dipikirkan mahasiswa selain lulus tepat waktu dengan IPK yang tinggi..dengan gelar yang disandangnya bisa memberikan kemanfaatan bagi kehidupan dan keluarga atau sebatas gelar semata atau kebanggaan pernah kuliah..? kalau hanya sekedar gelar itulah kebanggaan kita dengan gelar tersebut walaupun kenyataannya tidak terpakai ilmunya ditempat kerja, ilmunya terlupakan dengan sendirinya, akhirnya lupa karena secara tidak langsung memang tak berhubungan dan tak pernah digunakan .

"Laboratorium Hidup"
Kalau ingin mendapatkan keberkahan dari gelar dan ilmu kita harus menciptakan " laboratorium kehidupan" yang akan dikenang tapi ingin mendapatkan itu semua sampai kita tidak bekerja sekalipun, karena laboratorium yang diciptakan lintas ruang dan waktu. Laboratorium kehidupan kita dimana tempat penempaan rasa, karya dan keahlian kita sendiri dimana publik mengakuinya tanpa promosi dan mempercayainya tanpa pencitraan bahkan tidak mau menjadi topik pencitraannya karena semuanya ada dibelakang profesinya.

 Laboratorium kita sendiri adalah keluarga ketika seorang ayah mampu mewariskan ilmu kesuksesan hidupnya pada keluarganya bahkan melebihi kesuksesan dirinya, itulah quality assurance dan trust-ability yang paling abadi dari seorang ayah dan menjadi figur utama dikeluarganya.Apalagi memberikan warna bagi masyarakat sekelilingnya, kalau keluarga beliau termasuk keluarga yang unggul dan patut jadi inspirasi dan contoh bagi kehidupan sosial dimasyarakatnya.

Ketika seorang dosen mampu menciptakan mahasiswa yang mampu memberikan inspirasi bagi profesi dan pekerjaannya dan ketika seorang pendidik menginspirasi seorang anak muda untuk mengikuti jejak pengabdiannya. ketika sorang dosen mampu mempertahankan idealisme keilmuannya dan terus dipertahankan bahkan bisa mempengaruhi pola pemikiran anak didiknya kemudian dituangkan dalam sebuah risalah tulisan. Dan realitanya tidak semua yang berani menuangkan sebagian pemikirannya dan kafa'ah keilmuannya dalam publikasi buku dan website, lebih cukup dalam batas akademik. jangan kaget banyak guru besar akademik yang tidak diktahui karya buku penelitiannya, begitu juga turunan kebawahnya banyak dosen yang belum merasakan aura penulisannya, padahal dikampus dikenal seorang yang cerdas dan sayang kecerdasan pemikirannya hanya dinikmati dikampus tanpa diketahui publik. Pasti ada kendala yang dirasakan penulis juga betapa sulitnya untuk menyelesaikan sebuah buku akademik bisa sampai tiga tahun dan tak berani mempublikasikannya bertahun-tahun menumpuk dalam folder laptop kita, baru pada era internet ini sejak tahun 2007 mulai menuangkannya dalam pubikasi blog, walaupun pada fase dokumentasi blog dan  belum berani menuangkan dalam buku akademik secara permanen, padahal kebutuhan akan buku akademik ini dikampus sangat tinggi tapi kurang komersil dan ketidak jelasan dalam pembagian fee dan royaltinya.

Banyak para pejabat dimasa pensiunnya membangun pesantren dan lembaga pendidikannya agar dikenang dan mengurangi beban kesalahan masa lalunya ketika menjadi seorang pejabat, baginya itulah laboratorium kehidupannya yang akan ditinggalkan dan manjadi ladang amalnya, sehingga bisa menutup jejak kehidupan masa lalunya dengan baik.Semua menginginkan ada amal kehidupan yang mampu membangun kehidupan yang lebih baik dan menjadi amal yang tiada hentinya sampai meninggalkan dunia yang fana ini, itulah mungkin laboratorium kehidupan yang sebenarnya.

Para inspirator akademik, para profesor dengan ilmunya tertulis dalam karyanya yang dikenang dan jadi referensi sampai kapanpun. Dimana ide-ide beliau yang dituangkan oleh para muridnya akan mengenang ilmunya, begitu juga para profesor yang begitu produktif dengan karya dan bukunya atau para sarjana begitu mumpuni dengan tulisannya atau para otodidak non gelar begitu hebat melebihi kapasitas seorang sarjana sekalipun dengan karyanya. Pekerjaan ada batasnya tapi karya tidak terbatas dan akan terkenang sampai kapanpun. (Terkenang dan terinspirasi dari guru dan inspirator kami di IKIP Bandung/UPI Alm.Prof. Dr. Buchari Alma, MPd)

Senin, 15 April 2013

Gelar Akademik Perguruan Tinggi

Seperti yang telah kita ketahui gelar akademik adalah gelar yang di berikan kepada lulusan akademik suatu bidang studi di suatu perguruan tinggi.
Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel. Gelar akademik terdiri dari sarjana (bachelor), magister (master), dan doktor (doctor).
Nah, tahukan sobat tentang beberapa Pemberian gelar akademik kepada lulusan perguruan tinggi diatur dengan Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993 tentang Gelar Dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi, kemudian disempurnakan dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 178/U/2001 tentang Gelar Dan Lulusan Perguruan Tinggi.
Bagi anda yang ingin memiliki Keputusan Menteri Pendidikan RI tentang pemberian gelar akademik ini, silahkan di download melalui link berikut:
Kepmen. P&K No. 036/U/1993
Kepmendiknas No. 178/U/2001
Gelar Akademik Perguruan Tinggi Yang patut sobat ketahui nih .
Sarjana (S1)
Gelar Sarjana ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S, kemudian diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Sarjana ini disebut sebagai Strata-1 atau biasa disingkat S1.
Sebelum tahun 1993, gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain:
  • Doktorandus (Drs.)
  • Doktoranda (Dra.)
  • Insinyur (Ir.)
Setelah tahun 1993, penggunaan baku gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain:
  • Sarjana Agama = S.Ag.
  • Sarjana Ekonomi = S.E.
  • Sarjana Hukum = S.H.
  • Sarjana Humaniora = S.Hum.
  • Sarjana Ilmu Politik = S.I.P.
  • Sarjana Kedokteran = S.Ked.
  • Sarjana Kedokteran Gigi = S.K.G.
  • Sarjana Kedokteran Hewan = S.K.H.
  • Sarjana Kehutanan = S.Hut.
  • Sarjana Kesehatan Masyarakat = S.K.M.
  • Sarjana Komputer = S.Kom.
  • Sarjana Pendidikan = S.Pd.
  • Sarjana Pendidikan Islam = S.Pd.I.
  • Sarjana Perikanan = S.Pi.
  • Sarjana Pertanian = S.P.
  • Sarjana Peternakan = S.Pt.
  • Sarjana Psikologi = S.Psi.
  • Sarjana Sains = S.Si.
  • Sarjana Sastra = S.S.
  • Sarjana Seni = S.Sn.
  • Sarjana Sosial = S.Sos.
  • Sarjana Teknik = S.T.
  • Sarjana Teknologi Pertanian = S.T.P.
  • Sarjana Teologi Kristen = S.Th.
Magister (S2)
Gelar Magister ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M, kemudian diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Magister ini disebut sebagai Strata-2 atau biasa disingkat S2.
Gelar Magister yang ada di Indonesia antara lain:
  • Magister Agama = M.Ag.
  • Magister Akuntansi = M.Ak.
  • Magister Hukum = M.H.
  • Magister Humaniora = M.Hum.
  • Magister Ilmu Komputer = M.Kom.
  • Magister Kenotariatan = M.Kn.
  • Magister Kesehatan = M.Kes.
  • Magister Komputer = M.Kom.
  • Magister Manajemen = M.M.
  • Magister Pendidikan = M.Pd.
  • Magister Pertanian = M.P.
  • Magister Sains = M.Si.
  • Magister Seni = M.Sn.
  • Magister Teknik = M.T.
  • Magister Teknologi Informasi = M.T.I.
  • Magister Manajemen Sistem Informasi = M.MSI.
  • Magister Administrasi Rumah Sakit = M.A.R.S.
Doktor (S3)
Gelar doktor dari bidang studi apapun bergelar Doktor dan ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan Dr. Strata pendidikan Doktor ini disebut sebagai Strata-3 atau biasa disingkat S3.
Berikut ini beberapa Gelar Akademik luar negeri adalah:
Gelar Akademik di Hindia-Belanda dan Belanda
  • Doctorandus = Drs.
  • Ingenieur = Ir.
  • Meester in de Rechten = Mr.
Gelar Akademik di negara-negara yang menganut sistem Anglo-Saxon
Bachelor
  • Bachelor of Arts = B.A.
  • Bachelor of Science = B.Sc.
  • Bachelor in Computer Science = B.C.S.
  • Bachelor of Law = L.LB
Master
  • Master of Arts = M.A.
  • Master of Science = M.Sc.
  • Master of Engineering = M.Eng.
  • Master of Busines Administration = M.B.A.
  • Master of Theology = M.Th.
  • Theologiae Magister = Th.M.
  • Master of Laws = L.LM.
Doctor
  • Master of Philosophy (pra-S3) = M.Phil.
  • Doctor of Philosophy = Ph.D.
  • Doctor of Theology = Th.D.
  • Doctor of Education = Ed.D.
Gelar Akademik di Jerman
  • Diplom. Ing
Semoga Bermanfaat untuk kita semua :)

Sabtu, 24 November 2012

Sarjana dan Intelektualitas

Pendidikan merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan manusia, karena melalui proses ini manusia dibentuk dan dilahirkan sebagai seorang manusia yang utuh dan sebenarnya.

Pendidikan semestinya bertanggungjawab terhadap proses pencerdasan bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian. Sebaliknya, kadang-kadang meningginya tingkat pendidikan malah berimplikasi pada makin meningkatnya ketergantungan kepada pihak-pihak lain.

Mencerdaskan kehidupan bangsa sebenarnya sudah menjadi tujuan utama bangsa kita yang termaktub dalam pembukaan UUD 45. Upaya ini ditempuh melalui pendidikan nasional.

Dalam upaya mencerdaskan bangsa pendidikan seharusnya dipandang sebagai alat perjuangan pencerahan manusia. Sebagai alat perjuangan pencerahan manusia maka minimal ada tiga aspek yang harus ada dalam sebuah proses pendidikan. Pertama, Aspek iman, yang berorientasi pada proses pembentukan keyakinan manusia akan penciptanya (spiritualitas). Kedua, Aspek kognisi, yang berorientasi pada perubahan pola pikir (intelektualitas). Ketiga, Aspek affeksi, yang berorientasi pada perubahan sikap mental dan perilaku (mentalitas).

Dengan dimilikinya minimal tiga aspek dalam wacana pendidikan kita, maka seseorang yang berpendidikan dipandang sebagai seorang yang telah mengalami peningkatan iman, ilmu dan mental. Proses ilmu adalah garis vertikal yang mengarah ke atas, proses moral adalah garis akar ke dalam jiwa, sementara proses mental adalah garis horisontal. Semakin meninggi ilmu akan semakin mendalam garis moral, serta semakin melebar garis mental. Inilah yang disebut dialektika antara ilmu, mental dan moral pada proses kepribadian seseorang.

Meningkatnya ilmu pengetahuan semestinya akan membuat yang bersangkutan semakin lapang jiwanya, semakin luas bathinnya dan semakin arif kepribadiannya. Namun ternyata tidak selalu demikian. Seseorang yang lebih tinggi kapasitas pengetahuannya belum tentu lebih bijak dan arif perilakunya. Pada kenyataannya sering kita temui seorang yang lebih tinggi kedudukannya yang notabene lebih mapan kapasitas intelektualnya, lebih tinggi strata keilmuannya menjadi lebih picik pikirannya, tidak lebih arif kebijaksanaannya dan menjadi otoriter kekuasaannya. Kita selayaknya gelisah, untuk apa kita himpun informasi dan ilmu sebanyak ini kalau ia malah meningkatkan akses kita ke kemungkinan dosa, karena yang kita ketahui itu -karena sesuatu dan lain hal- tidak bisa atau terpaksa tidak kita kerjakan.

Minimal ada dua permasalahan mendasar pendidikan kita, yaitu Pendidikan Spiritual dan Pengangguran Terdidik. Pendidikan spiritual permasalahannya adalah tidak seimbangnya antara porsi pendidikan spiritual dengan pendidikan intelektual dan mental. Akibatnya bisa kita lihat dengan semakin mengakar mendaunnya budaya korupsi, manipulasi, monopoli, oligopoli, kolusi dan segala macam kejahatan birokrasi dinegeri ini. Jika dikorelasikan dengan tingkat pendidikannya, pelaku kejahatan tersebut bukanlah orang-orang yang bodoh. Dari kualitas kejahatannya tentu pelakunya bukan orang sembarangan, pastilah orang-orang pintar, pandai dan minimal pernah mengenyam persekolahan modern.

Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua yang semakin menjadi-jadi serta kejahatan fisik maupun moral bahkan gabungan keduanya semakin merajalela, merupakan bukti lemahnya kekuatan spiritual yang dimiliki sebagian masyarakat kita. Lemahnya kekuatan spiritual ini menjadikan masyarakat kita mudah putus asa dan cenderung menghalalkan segala cara demi kepentingan materi sesaat. Mereka tidak berpandangan jauh ke depan, dimana masa depan bukan berarti hanya masa dewasa dan masa tua tetapi menyangkut pula masa kematian dan masa pasca kematian. Dan yang cukup memprihatinkan adalah pendidikan kita belum mampu merubah sikap perilaku anak didik sesuai dengan target pendidikan yaitu mempertinggi budi pekerti dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pengganguran terdidik merupakan masalah berikutnya yang cukup serius. Pengangguran ibarat hantu yang sangat menakutkan bagi masyarakat kita. Tidak peduli bagi mereka yang tidak mengenyam pendidikan ataupun bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi. Masalah pengangguran selalu dikaitkan dengan masalah pendidikan. Dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin dewasa dan semakin mampu berfikir alternatif. Sehingga sangat menjadi sorotan dan ironis jika sang penganggur itu adalah sarjana (intelektual) dimana seharusnya ia sudah mampu berfikir alternatif. Pendidikan yang semula diharapkan mampu mengangkat status sosial tetapi malah menjadi beban dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tak jarang para sarjana mengalami kegamangan dalam masyarakat.

Jika dicermati lebih lanjut jumlah pengangguran semakin tahun semakin meningkat, apalagi ditengah keterpurukan ekonomi seperti saat ini. Pola ini menjadi menarik untuk dikaji, karena sarjana yang seharusnya mampu berfikir alternatif untuk menjadikan dirinya mandiri ternyata tidak demikian adanya. Ini menunjukkan sistem pendidikan kita belum mampu menjadi rahim yang melahirkan lulusan berjiwa enterpreneurship. Akibatnya mereka cenderung untuk mengandalkan lowongan pekerjaan dibandingkan dengan menciptakan lapangan kerja. Dunia pendidikan kita terjebak pada kata “How to use”, sehingga melahirkan produk sarjana konsumtif tidak kreatif. Lembaga-lembaga pendidikan akhirnya berfungsi sebagai pabrik-pabrik penghasil tenaga kerja yang terampil dan terlatih. Kondisi ini diperparah lagi dengan penerjemahan tujuan pendidikan yang menyesatkan. Penerjemahan tujuan pendidikan secara tidak sadar selalu dibawa pada aspek / orientasi lapangan kerja, memperoleh kursi dimana, gajinya berapa, fasilitasnya apa, dan sebagainya. Dengan demikian ketika produk sarjana ini dihadapkan pada realita kesempatan kerja yang sempit mereka tidak mampu untuk berfikir alternatif memanfaatkan ilmu dan sumber daya yang ada menjadi sesuatu yang produktif.

Simpul dari tulisan ini bahwa memang tidak ada jaminan bahwa berkembangnya kepribadian seseorang menjadi sarjana akan paralel dengan perkembangan kepribadian dan tingkat moralnya. Tidak ada jaminan bahwa membengkaknya jumlah sarjana berarti semakin terawat dan eksis pula nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat. Jadi untuk apa melakukan pengembaraan intelektual dan pergulatan pemikiran menjadi sarjana jika membuat jarak semakin jauh dengan Al-Khalik, Sang Pencipta ?. Ironisme yang memprihatinkan.

Menjawab ironisme tersebut diperlukan langkah sistematik dan konsisten dengan melakukan reorientasi sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang akan dikembangkan harus mampu mewadahi tiga dimensi dasar kehidupan manusia, yaitu dimensi ruhiyah (moralitas/spiritualitas/agama), dimensi fikriyah (intelektualitas) dan dimensi mental untuk dapat dimanage secara proporsional dan seimbang. Semoga dimasa yang akan datang semakin banyak dihasilkan sarjana-sarjana multidimensional, yaitu sarjana dengan kapasitas mental, moral dan intelektual. Wallahua’lam bishawab. ΓΏ

Rabu, 08 Agustus 2012

Agar “NGAMPUS” tak Sekadar “STATUS”!


“Jangan sekolah apalagi kuliah jika Anda hanya ingin menjadi kaya, tenar, dan hidup mapan”!

Tagline di atas adalah bentuk sindiran terhadap anak-anak bangsa yang bersekolah ataupun mengenyam bangku perkuliahan hanya untuk mendapatkan hidup mapan setelah mereka lulus.
Tak terasa, bangsa ini akan memperingati hari pendidikan nasional.

Momentum baik ini sebaiknya sebagai ajang refleksi status kaum intelek yang bernama mahasiswa. Kuliah atau yang biasa disebut “ngampus” bukan lagi masanya untuk mencari jati diri. Mahasiswa bukan lagi orang yang ragu-ragu dalam melangkah. Di masa ini, mahasiswa lebih fokus untuk mengasah life skill mereka sehingga dapat berkontribusi sebaik-baiknya pada masyarakat. Menjadi mahasiswa dalam makna sebenarnya adalah pilihan. Pilihan untuk bermetamorfosa dari dunia SMA menuju dunia kedewasaan dengan pemikirannya yang matang dari segala macam aspek.

Kehidupan kampus sepenuhnya adalah tanggung jawab kita. Bebas menentukan apapun. Tidak ada lagi guru yang mengingatkan ketika belum mengumpulkan tugas. Tidak ada lagi hukuman, berdiri di depan kelas karena tidak memperhatikan pelajaran. Tidak ada lagi pemeriksaan atribut seragam yang kurang lengkap. Namun, menjadi seorang yang bernama “mahasiswa” bukanlah perkara yang mudah. Ada tujuh poin yang harus melekat pada mahasiswa. Ada nilai yang sarat akan karakter mahasiswa yang sesungguhnya, dan yang terpenting agar “ngampus” tak sekadar status!

Mahasiswa idealnya punya visi dan berpandangan visioner. Stephen R Covey (penulis buku motivasi internasional) menyatakan bahwa visi adalah tujuan akhir. Visi membuat hidup semakin bergairah, sebab kita mempunyai target yang jelas untuk kita capai. Mahasiswa yang tak mempunyai visi akan membuat hidupnya berjalan bagaikan air. Hanya mengalir tanpa tujuan dan ambisi yang ingin dicapai. “Let it flow” adalah jurus ampuh ketika mahasiswa tak ingin dibebankan oleh sederet kerja keras dalam meningkatkan kualitas akademik dan segudang amanah dalam berorganisasi. Tidak ingin merasakan sedikit pun ada beban di punggung yang harus di bawa sepanjang perjalanan menuju kesuksesan. Meskipun sukses, namun sukses yang disebabkan oleh kemujuran atau keberuntungan yang bersifat sementara bukanlah petikan buah manis yang dipetik dari pohon perjuangan. Maka dari itu, sebagai seorang mahasiswa yang sesungguhnya, mulailah memiliki visi yang jelas. Buatlah perencanaan hidup agar hidup semakin terarah. Banyak buku yang mengulas mengenai visi. “7 Habits of effective people”, Stephen R Covey dan “I can do it” 9 Cara meraih sukses-nya Stedmen Graham bisa menjadi bahan referensi untuk memaknai kembali pentingnya menancapkan visi bagi mahasiswa ataupun orang lain.

Mahasiswa juga harus memiliki konsep yang jelas. Konsep yang jelas di sini adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri dengan baik. Terkadang kita menganggap diri kita lemah dan memiliki banyak kekurangan. Hal yang paling fatal bagi seorang mahasiswa adalah ketika dia belum mengenal dirinya sendiri. Apa kelebihan dan kekurangannya. Padahal banyak potensi dalam diri yang tanpa disadari dapat melejitkan prestasi-prestasi kita. Bagaimana mungkin kita mengasah kemampuan diri kalau kita saja belum mengenal baik diri kita sendiri. Dengan mengetahui kekurangan kita, kita akan berusaha untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan. Rintangan menjadi peluang sehingga setiap detik selalu ada karya tercetak dan tak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Mahasiswa tak ragu untuk berimajinasi. Imajinasi bukan hanya untuk anak-anak. Mahasiswa pun perlu berimajinasi. Perbedaan antara imajinasi anak-anak dan mahasiswa adalah proses implikasi dan realisasi imajinasi tersebut. Imajinasi itu diperbolehkan asal imajinasi yang produktif. Tak ada larangan untuk terus menyuburkan imajinasi kita. Dengan adanya imajinasi kita mempunyai gambaran atau bayangan bagaimana kita ke depan.  Jangan remehkan dahsyatnya berimajinasi! Berimajinasi tentunya harus didukung oleh kerja keras nyata demi merealisasikan mimpi-mimpi kita.

Mahasiswa harus punya target yang jelas. Banyak orang yang keliru menginterpretasikan antara target dan visi. Visi adalah rencana kita ke depan secara global dan general. Lain halnya dengan target yang sudah kita uraikan menjadi beberapa spesifikasi. Target harus bersifat realistis. Realistis terhadap kemampuan kita. Target pun harus bertahap. Langkah yang besar diawali dari langkah yang kecil.

Mahasiswa pembelajar atau pengumpul nilai? Mahasiswa pembelajar tidak berorientasi pada nilai, nilai hanyalah sebuah bonus yang didapat setelah kerja keras. Mahasiswa pembelajar mengedepankan ilmu dan usaha untuk mendapatkan ilmu dari pengalaman yang berharga. Berbeda dengan pengumpul nilai yang hanya terpaku pada nilai. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai sempurna, namun aplikasi ilmu nihil. Sehingga lulusannya hanya menambah deretan panjang pengangguran intelektual yang menghambat laju perkembangan Indonesia. Mahasiswa pembelajar adalah mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak akan pernah merasa puas, menghargai proses kerja keras dan menganggap setiap tempat adalah sekolah pembelajaran. Itulah mahasiswa pembelajar!

Mahasiswa bukan Penghafal! Sistem pendidikan di hampir seluruh universitas negeri ataupun swasta dimana satu kelas memiliki 40-an lebih mahasiswa membuat suasana tak kondusif untuk belajar. Dosen hanya membaca buku literatur di depan kelas, tanpa menghiraukan keadaan kelas yang hiruk-pikuk. Secara tak langsung, menyuruh mahasiswanya untuk menghafal. Hal ini dibuktikan dengan tidak sependapatnya dosen apabila jawaban ujian esai mahasiswanya berbeda dengan yang tertera di buku-buku referensi. Tak segan-segan dosen memberi nilai kecil ketika kita tidak lagi patuh terhadap bacaan di buku-buku. Semoga dosen seperti ini tak ada di kampus kita.

Mahasiswa aktivis atau “pasivis”? Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Waktu kuliah selama 4-5 tahun adalah waktu yang berharga jika dilewatkan begitu saja. Jika kita hanya disibukkan dengan tugas kuliah, hadir kuliah setiap hari rasanya begitu hambar. Banyak keuntungan yang akan kita dapati sebagai seorang aktivis. Mulai dari banyak teman, kenal dengan beberapa jaringan media, mengasah kemampuan berkomunikasi dengan baik, dan memiliki sejuta pengalaman berharga lainnya yang tak dapat dibeli dengan apapun. Pengalaman terlibat di berbagai macam kegiatan kampus akan mengasah ideologi kita, meningkatkan kematangan berfikir, lebih tanggap untuk menangani persoalan. Karena kita tidak disibukkan dengan permasalahan pribadi namun permasalahan organisasi. Akan tampak jelas perbedaan aktivis kampus dan non aktivis ketika terjun langsung ke masyarakat.

Menjadi mahasiswa memang tidak mudah. Kampus notabene adalah sebuah tempat untuk memperluas penanaman nilai dan idealisme, sebuah kampus diharapkan dapat memproduksi generasi “pelurus” bangsa yang berkualitas. Kampus adalah medan dimana kita bebas memilih ideologi, bebas mengeluarkan pendapat, mengasah critical thinking sebagai mahasiswa.  “Ngampus” adalah pilihan. Pilihan apakah kita ingin mewarnai kehidupan kampus dengan segala macam potensi yang membuahkan prestasi, ataupun menjadi mahasiswa yang biasa saja yang memiliki ideologinya tersendiri “study oriented”. Pilihan untuk mendapatkan IP rusak atau memukau. Pilihan untuk mengembangkan diri atau menjatuhkan diri ke lubang “buaya”.  Pilihan untuk sukses pun ada di tangan kita. Kita yang berhak atas masa depan kita.
Memaknai kembali hari pendidikan nasional, tidak hanya berlaku bagi mahasiswa namun juga segenap masyarakat untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Mencetak generasi pemuda yang dapat mengimplementasikan ilmu dan nilai-nilai semasa kuliah adalah tujuan besar dan harapan berbagai pihak. Pasca kampus, mereka dapat mengabdi kepada masyarakat, sekaligus turut serta dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Memajukan bangsa Indonesia di kancah Internasional. Hidup Mahasiswa!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Sabtu, 30 Juni 2012

PEMBERLAKUAN SPP TUNGGAL DIPERGURUAN TINGGI, ETISKAH?

Siang ini ada sosialisasi sistem SPP tunggal  di UNJ untuk mahasiswa program pasca dan sebenarnya tampaknya pemerintah akan melakukan pemetaan pembiayaan perguruan tinggi. Dengan adanya SPP tunggal maka besaran pembiayaan rill mahasiswa di setiap daerah dapat lebih jelas terlihat. 


Untuk perguran tinggi wacana penerapan SPP tunggal ini berawal dari rencana Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuat biaya pendidikan tinggi di Tanah Air seperti di luar negeri, yakni hanya berupa tuition fee. wacana baru ini kemudian dibahas dalam  Rapat Rektor PTN se-Indonesia tanggal 20 Januari 2012 . Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia kali ini menggulirkan ide penerapan SPP tunggal dan credit earning di PTN se-Indonesia

Lahirnya kebijakan baru ini memungkinkan pemerintah untuk mengatur besaran minimum dan maksimum dari SPP di perguruan tinggi mengingat ketimpangan besaran SPP antarperguruan tinggi sangat besar. Dengan SPP tunggal,  berharap kampus menghitung semua pengeluaran universitas. Kemudian dari hitung-hitungan itu dipisah lagi antara kewajiban pemerintah dengan kewajiban masyarakat atau mahasiswa. Setelah terdata berapa besar tanggungan mahasiswa, baru dilakukan pembagian ke seluruh mahasiswa yang ada di kampus tersebut.

Yang dimaksudkan dengan pembayaran SPP tunggal  adalah SPP yang dibayarkan mahasiswa cukup membayar SPP satu kali dalam satu semester atau satu tahun. Setelah itu tidak ada lagi pungutan atau biaya-biaya lain yang dibebankan kepada mahasiswa. SPP tunggal diterapkan dengan merata-rata pengeluaran mahasiswa untuk komponen biaya pendidikan seperti SPP, biaya praktikum, biaya pengembangan gedung, dan sebagainya. Kemudian dihitung juga berapa kemampuan membayar tiap mahasiswa, termasuk kemampuan per daerah. Di luar rata-rata itu, kelebihannya akan disubsidi oleh Ditjen Dikti,

Selama ini, dalam satu semester mahasiswa banyak membayar biaya pendidikan di luar SPP. Seperti biaya praktikum, biaya laboratorium komputer, dan lainnya sehingga jadi tidak jelas berapa besaran SPP sebenarnya

Paradok 
Fakta yang melatarbelakangi gagasan SPP tunggal adalah kondisi aktual bahwa mahasiswa banyak sekali mengeluarkan uang. Selain uang rutin SPP, ada berbagai pungutan lain seperti uang buku, uang laboratorium, uang perpusatakaan, uang ujian, uang tabungan bimbingan skripsi, biaya wisuda dan KKN dan lain-lain. Dengan SPP tunggal, unit cost mahasiswa sudah dihitung, jadi tidak ada lagi pembayaran lain di luar SPP tunggal. Sekilas, SPP tunggal yang rencananya akan diterapkan tahun 2013 ini solutif, namun realitanya mengandung paradoks bahkan ironi di dalamnya. Bayangkan saja, kebutuhan di setiap unit kampus berbeda, fasilitas yang tersedia pun berbeda. Artinya, sistem SPP tunggal akan mengantarkan setiap PTN, bahkan fakultas, jurusan dan program studi untuk memiliki hitungan unit cost mahasiswa yang tentunya berbeda. Skema pembiayaan pun semakin banyak. Akan ada PTN, fakultas, bahkan jurusan dan program studi dengan SPP tunggal yang tinggi dan menjadi elitis, dan akan ada yang terkesan ‘murahan’. Sebutlah Fakultas Kedokteran dengan berbagai biaya prakteknya, SPP tunggalnya akan sangat tinggi dan sulit diakses mahasiswa miskin. Sementara bisa jadi ada jurusan di ilmu sosial humaniora misalnya yang SPP tunggalnya terjangkau menjadi incaran calon mahasiswa kelas menengah ke bawah. SPP tunggal PTN di pusat kota akan ‘menggila’ sementara PTN di wilayah marginal semakin termarginalkan..

Permasalahan utama pembiayaan di PTN yang dirasakan mahasiswa adalah tingginya biaya kuliah sehingga angka partisipasi pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah, sementara SPP tunggal sama sekali tidak menjamin akan membuat biaya kuliah menjadi terjangkau. Ketika SPP tunggal dianggap menjadi solusi pembiayaan pendidikan di PTN padahal tidak menjamin keterjangkauan biaya kuliah, disinilah paradoks terjadi. Lihat saja implementasi BOP-B di UI, alih-alih bertindak adil dengan memberikan SPP secara proporsional, yang terjadi adalah menzhalimi calon mahasiswa baru dari kalangan tidak mampu dengan sistem pembiayaan yang memberatkan mereka. Skema pembiayaan yang terkesan berpihak pada mahasiswa, ironisnya, justru membebani mahasiswa.

Fakta yang melatarbelakangi gagasan credit earning adalah kualitas unit pendidikan yang tidak merata, sehingga perlu diberi kesempatan mahasiswa dapat mengambil kuliah lintas PTN untuk mempertajam kompetensinya. Atau lebih jauh lagi, untuk menjadikan mahasiswa di PTN memiliki pengetahuan yang sempurna dan berhubungan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sistem ini memungkinkan mahasiswa dari sebuah PTN mengambil kredit mata kuliah tertentu di PTN lainnya tanpa harus membayar di kampus penerima. Selain itu, kredit yang diambil tersebut juga akan diakui kampus asal sebagai mata kuliah pilihan.

Ironisnya, ada beberapa realita yang menjadi tantangan dalam penerapannya. Sinergitas antar PTN misalnya. Lihat saja konflik kepentingan yang mewarnai penyelenggaraan SPMB dan UMPTN beberapa tahun lalu sehingga melahirkan yang disebut SNMPTN sekarang. Bukan tidak mungkin pihak PTN akan menghitung untung rugi, baik secara materi maupun non materi, jika credit earning jadi diterapkan. Dan jangan pula dilupakan bahwa arogansi almamater, terutama di PTN ternama di Indonesia, masih sedemikian kental. Belum lagi bicara tentang kepentingan kampus yang beragam. Perlu diingat bahwa antar PTN tidak selamanya mitra, tetapi juga kompetitor. Paradoks kepentingan. Kurikulum juga belum mendukung dan mungkin mahasiswa juga tidak seantusias yang dibayangkan. Saat ini bukan zamannya mahasiswa memperbanyak SKS yang diambilnya untuk memperdalam keilmuannya. Mungkin sangat sulit dicari mahasiswa sekarang yang mengambil SKS di atas 200 hanya untuk menyempurnakan wawasannya, seperti salah seorang asisten dosen yang pernah mengajar penulis ketika masih di kampus.

 Ironis memang, realitanya mahasiswa cenderung mengejar kelulusan daripada kompetensinya. Apalagi beban akademis dan biaya kuliah semakin berat. Toh jika credit earning jadi diterapkan, hanya segelintir mahasiswa yang dapat merasakan manfaatnya, terutama mahasiswa yang memiliki kelebihan finansial. Ketika sistem Credit Earning dipercaya dapat mempertajam kompetensi mahasiswa PTN yang saat ini lebih banyak berorientasi untuk lulus cepat, disinilah paradoks terjadi
Kebenaran mungkin memang relatif, karenanya berbagai paradoks dan ironi di dunia pendidikan bermunculan seiring dengan lahirnya gagasan-gagasan baru yang memperkaya wacana. Sayangnya, ide-ide tersebut tidak serta merta sejalan dengan optimalisasi upaya pemecahan masalah utama. Tulisan ini tentunya tidak hendak membatasi inovasi dan niat baik untuk berbenah yang merupakan suatu keharusan. Namun pihak pemangku kebijakan sudah seharusnya bijak dalam pemilihan prioritas kebijakan. Jangan sampai terlalu kaya wacana kemudian hilang fokus dan tidak ada perbaikan yang berhasil dilakukan.

Entah kemana ujung pembahasan tentang RUU Perguruan Tinggi, bagaimana pula nasib pengembangan riset dan kewirausahaan mahasiswa yang wacananya sempat mengemuka, atau bagaimana upaya yang telah dilakukan untuk memastikan 20% mahasiswa PTN berasal dari keluarga kurang mampu. Jangan-jangan sepanjang tahun ini masih ramai media menyoroti tentang aksi kekerasan, tawuran, sex bebas, narkoba dan berbagai aksi konyol dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Atau jangan-jangan tahun ajaran baru nanti kita akan kembali disuguhi berita tentang calon mahasiswa miskin dan cerdas yang tidak bisa kuliah di PTN karena tidak mampu membayar SPP. 

Ironis sekali jika sampai ada mahasiswa miskin yang terancam tak bisa membayar biaya kuliah di tengah kemewahan gaya hidup mahasiswa masa kini. Pekerjaan Rumah dunia kampus masih sangat banyak. Kampus memang merupakan tempat bersemainya ide dan wacana, namun jangan sampai hanya sebatas gagasan tanpa realisasi perbaikan. Jangan sampai perbaikan hanya sebatas angan.

Kekhawatiran PT
konsekuensinya adalah pada arus kas universitas. Dia mengilustrasikan, sumbangan pembangunan gedung yang biasanya dibayar dalam dua kali angsuran, melalui sistem SPP tunggal akan dibayarkan hingga delapan kali, sesuai beban semester yang wajib ditempuh mahasiswa. Jika pemerintah telah memberlakukan uang kuliah tunggal, pemerintah akan menanggung biaya-biaya operasional non-investasi antara lain seperti praktikum.

Jumlah biaya operasional setiap program studi dan PTN berbeda sehingga perhitungan uang kuliah tunggalnya pun akan berbeda-beda. Intinya, dengan uang kuliah tunggal mahasiswa hanya perlu bayar satu kali tanpa tambahan bayar ini itu..kemungkinan adanya perguruan tinggi yang akan kekurangan biaya operasional apabila tidak menaikkan uang SPP. Namun, hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena pemerintah sudah berjanji akan membantu dengan sistem Insentifnya adalah menambah dana subsidi, sedangkan disintensifnya mengurangi subsidi, terutama bagi kampus-kampus ternama dan banyak peminatnya. (dari berbagai sumber)

Sabtu, 09 Juni 2012

Salah Jurusan Karena Euphoria Kuliah Di PTN/PTS Ternama

 Oleh : Suryono Brandoi Siringo-ringo

1339176780803218988“Dulu, kampus jadi besar karena kesuksesan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin sukses karena nama besar kampusnya.” 

Fenomena inilah yang saat ini Terjadi pada para siswa Sekolah Menengah yang baru lulus. Euphoria kuliah di Perguruan Tinggi negeri atau pun di perguruan tinggi swasta ternama. Seringkali membuat para siswa-siswi yang baru lulus dari sekolah menegah ini menjadi asal-asalan dalam memilih jurusan yang akan dia jalani.

Biasanya para siswa-siswi ini dalam Mengikuti ujian seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru yang diadakan PTN/PTS tiap tahunnya. Kebanyakan para siswa-siswa ini akan memilih jurusan yang peminatnya sedikit sehingga peluang masuk ke perguruan tinggi yang di idam-idamkannya itu akan semakin besar.
 
Walau pun sebetulnya jurusan yang dipilihnya itu tidak sesuai dengan kemauannya dan tidak sesuai dengan jurusan yang dia jalani selama sekolah dulu,tetapi bisa kuliah di perguruan tinggi negeri/perguruan tinggi swasta ternama menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sebetulnya wajar-wajar saja sih pemikiran bangga bisa diterima di PTN/PTS ternama.
 
Tetapi Pemikiran bahwa bisa kuliah di PTN/PTS ternama, walau Jurusan yang diambilnya asal-asalan,dengan bermodalkan nama besar kampusnya maka setelah tamat nanti akan gampang dapat pekerjaan. Menurut saya ini pemikiran yang keliru. Memang kita mengakui bahwa sering kali perusahaan-perusahaan atau Instansi-instansi lebih mengutamakan lulus dari perguruan tinggi ternama dalam hal penerimaan tenaga kerja. Tetapi itu masih dalam tahap awalnya saja. Tahap selanjutnya, tentu ga mau dong perusahaan-perusahaan langsung menerima begitu saja karyawan barunya. Biasanya Perusahaan akan melakukan penyeleksian selanjutnya dengan menguji kemampuan calon karyawannya itu.

Disinilah seleksi yang sebetulnya, perusahaan akan menguji kemampuan yang dimiliki calon karyawan baru nya itu,mau lulusan PTN/PTS ternama pun tidak akan menjamin diterima di perusahaan itu karena perusahaan tidak menginginkan hanya nama besar kampusnya saja tetapi kemampuan dari calon karyawan baru nya lah yang dicari. Maka tidak salah bila saya berpendapat,memilih suatu jurusan di suatu perguruan tinggi bukanlah persoalan yang mudah.
Mungkin banyak yang tak menyadari bahwa salah satu penyebab tingginya angka ‘pengangguran akademik’ di Indonesia adalah ketidaksiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan dan tuntutan di dunia kerja. Nah penyebab awalnya umumnya mahasiswa salah dalam mengambil keputusan saat mereka memilih program studi yang tidak sesuai bakat dan minatnya,

Makanya kita harus berhati-hati dalam memilih program Studi di Perguruan Tinggi. Banyak mahasiswa yang bingung ketika lulus kuliah, umumnya mereka mengaku telah salah mengambil program studi atau jurusan, merasa tidak bermanfaat menimba ilmu dan sebagainya. Dan pada akhirnya tidak dapat pekerjaan layak sesuai disiplin ilmu yang mereka tekuni di perguruan tinggi.

Dalam hal memilih jurusan, Calon mahasiswa baru perlu memperhitungakan beberapa faktor seperti kemampuan, minat, bakat, kepribadian, dll. Sebab Salah memilih jurusan punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan Anda di masa mendatang. Karena kalau salah pilih jurusan, bukan tidak mungkin nantinya Anda gagal menyelesaikan perkuliahan hingga akhirnya drop out alias DO. Akibatnya, Anda akan rugi biaya, waktu yang terbuang sia-sia tak bisa digantikan dan semuanya sia-sia belaka. Syukur kalau masih bisa pindah jurusan; bagaimana kalau pindah jurusan tidak mungkin dilakukan karena sudah sedemikian besar biaya yang dikeluarkan?

Maka dari itu kita harus benar-benar teliti dalam memilih jurusan yang akan kita pelajari sesuai dengan kemampuan (bakat dan minat) sarta kepribadian yang kita miliki. Jangan hanya demi mewujudkan impian bisa kuliah di perguruan tinggi ternama,maka salah dalam memilih jurusan. Karena memilih jurusan sama dengan memilih kehidupan, bukan hanya sekedar memilih tempat sekolah belaka.

Selasa, 22 Mei 2012

Catatan Seorang Mahasiswa yang Merindukan Tanah Air Indonesia

BEBERAPA minggu lagi insya Allah saya  akan  merampungkan program master bidang studi Islam di tempat yang begitu jauh dari Tanah air. Meski telah lama jauh dari tanah kelahiran, sesekali, saya membuka berita untuk melepas kangen dan rindu akan bumi pertiwi, Indonesia. Maklum saja sudah hampir 8 tahun saya berada di tanah Arab.

Hanya saja, setiap saya membaca berita di media, kegalauan dan kegundahan hati saya sering terus muncul.

Menurut saya, Indonesia hari ini sangat berbeda dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, di mana ketika saya menghabiskan masa kecil di sebuah desa terpencil dengan literatur masyarakatnya yang lemah lembut.

Karena pekerjaan orangtua, saya pernah berpindah-pindah tempat. Bahkan pernah semasa sekolah dasar (SD), saya pindah tiga kali.  Tetap saja, di mana tempat saya temui, warga Indonesia orang yang ramah.

Catatan ringan ini bukan untuk cerita masa kecil, melainkan ingin memotret negeriku   sayang saya banggakan, yaa….dialah Indonesia. Sebuah bangsa yang bukan sekedar suku, ras atau golongan tertentu dan pada satu golongan saja.

Entahlah, setiap saya membaca berita di media, selalu yang disajikan membuat dahi ini mengkerut dan membosankan. Tapi itulah, tiap hari yang say abaca tetang Indonesia bukan berita-berita yang menggembirakan. Mengapa ya, media kita masih memakai  teori kuno berbunyi, “A Bad News is a Good News”. Saya sebenarnya merindukan sisi-sisi menarik negeriku yang patut dibanggakan. Dan saya yakin, itu sangat banyak.

Percaya tidak percaya, memang  fenomena demi fenomena itu hadir menghiasi hari-hari kita, fenomena para elit, kisruh Pilkada, tawuran antar warga, tawuran antar pelajar dan mahasiswa, krisis moral, miskin toleransi dan lain sebagainya. Bahkan pelajar atau mahasiswa yang tawuran bisa-bisanya membawa pedang, seperti geng-geng yang saya temukan di film Hong Kong saja. Tapi itulah  potret bangsa kita hari ini.

Kadang saya berpikir apakah negeri ini harus hancur-lebur terlebih dahulu, sebagaimana saat dijajah oleh hegemoni Barat puluhan tahun silam? Lalu dengan itu, semua lapisan masyarakat kita dari berbagai unsur bersatu mengusir penjajah atas nama Indonesia tercinta?

Terlalu panjang jika harus bercerita negeri kita --negeri yang menurut saya-- sudah mulai banyak kehilangan jati diri dengan keramahtamahannya, lemah lembut dan lain-lain. Paling tidak, saya jadi teringat ucapan nenek  yang berpesan sebelum saya menimba ilmu di luar negeri,  “Nak, usahakan, jagalah hati orang,  jaga jangan sampai kita menyakiti hati orang sedikit pun,”  begitu pesan beliau.

Teringat  juga  pesan Rasulullah  betapa pentingnya kebajikan pada orang lain. Nabi mengajarkan murah senyum, ceria di saat bertemu dengan saudara, rekan, kerabat, handai taulan dan orang lain yang belum kita kenal.

Begitu mulianya Islam memanusiakan manusia dengan segala ajarannya yang lurus, tapi saying, kini kita  justru banting setir kembali ke zaman primitif. Maraknya kekerasan, perpecahan, kemiskinan yang merajalela ditambah kebodohan.

Saya hanya bisa memandang langit untuk saat ini dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’a, akankah Indonesia lebih baik dan lebih bermakna di hari-hari mendatang, ketika saya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran saya. 

Sambil merenung, saya teringat perangai lemah-lembut almarhumah ibunda. Paling tidak, melihat hiruk-pikuk dunia sekarang ini, saya  akhirnya bisa menangkap  pesan-pesan  tersirat yang dulu banyak kami peroleh darinya. Tidak jauh seperti pesan nenek saya tadi. Semoga.

Salam dari Maroko, negeri di penghujung Afrika.*

Ditulis: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc

Sabtu, 17 Maret 2012

MAHASISWA VISIONER


Coba ingat bahwa gambar yang anda pikirkan, rasakan dan lihat tercermin ke dalam Pikiran Universal dan dengan hukum alam aksi timbal balik pasti kembali kepada anda dalam bentuk spiritual ataupun fisik,”
  - Your Invisible Power oleh Genevieve Behrend, 1921 -

B
erbicara tetantang mahasiswa selalu tidak pernah kehabisan dengan berbagai macam permasalahan yang terkadang bisa membelenggu anda untuk bergerak lebih cepat untuk menyeelsaikan kuliah dan memikirkan kehdiupan lainnya yang sebanarnya bukan tahapan-tahapan focus kehidupan, artinya kita belum merencanakan menikah karena kuliah belum kelar atau karier belum mapan, tapi semuanya harus berjalan seperti layaknya roda kehidupan yang terus bergulir dan waktu terasa sedikit manakala pencapaian cita-cita masih jauh selain fase lainnya seperti menikah, berwirausaha, dan semuanya harus punya visi yang jelas, inilah alasannya kenapa kita perlu memiliki perencanaan yang baik, bukan sekedar hayalan anak muda yang merasa lebih bebas berekspresi, wlaaupun terkadang kehidupan yang akan datang harus berbenturan dengan takdir, tapi kita dituntut ikhtiar secara maksimal.
Dalam kehidupan terdapat banyak cara untuk mendapatkan apa yang anda inginkan, ada cara yang mudah dan ada pula cara yang susah. Terserah anda, mana yang hendak anda pilih. Seperti apa yang dikatakan oleh Lester Levenso [1](1993) dalam “Keys to the Ultimate Freedom”, “Jika kita tidak senang terhadap apa yang sedang terjadi kepada kita di dunia ini, yang harus kita lakukan adalah mengubah kesadaran kita – niscaya dunia diluar sana akan berubah untuk kita!”
Artinya Yang harus anda lakukan adalah melangkah maju dan melakukan hal-hal yang harus anda lakukan menurut desakan hati, tetapi anda harus mengetahui strategi-strategi yang diperlukan. Rad Bradbury mengatakan “Janganlah menentang bahaya jika anda tidak memiliki strategi-strategi yang jitu untuk mengatasinya.”[2]
JADI mahasiswapun bukan hal yang mudah membutuhkan adanya keberanian untuk mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Ada cerita lama betapa uletnya mahasiswa temanku yang kebetulan berasal dari sumatera dengan modal hanya untuk ikut UMPTN dia berani meninggalkan kampungnya dan berjuang untuk sehai-hari dengan menjadi kernet dan biaya SPP mengandalkan beasiswa dikampus atau kiriman wesel yang telat pada jaman itu bisa mendorong penulis untuk menjadi seorang sales perlatan masak.ataupun bagi mahasiswa yang berjuang dengan sejumlah pekerjaan dan berjuang untuk ikut kuliah malam. Semuanya hanya satu jawaban ingin berubah dan memperbaiki kehidupan dan diyakini pendiidkan masih menempati posisi penting dalam menata kehidupan  yang lebih baik walau ada yang sukses justru karena tidak melanjutkan kuliahnya. Tapi diyakini kesuksesan bukan semata materi tapi pencapaian juga masih diperlukan dan pendidikan masih terbaik.walaupun pendidikan kehdiupan jauh lebih baik menempa seseorang untuk sukses.
Abraham Perrils[3] (2010) secara praktis mengungkapkan  Lima Langkah yang yang berlandaskan pada tahu bahwa kehidupan dapat berubah dan tahu bahwa kehidupan itu sendiri akan mendukung anda terhadap apa saja yang anda inginkan. Caranya adalah sebagai berikut:
Langkah pertama, ketahuilah apa yang anda tidak inginkan. Kebanyakan orang memperlihatkan apa yang tidak mereka inginkan. Mengeluh adalah hal yang dianggap sangat wajar oleh semua orang, tetapi kita jarang mengambil proses ini dalam pandangan yang berbeda. Jarang sekali ada orang yang mau berhenti mengeluh atau berjuang cukup lama untuk terfokus pada kebalikan dari apa yang mereka alami. Hal ini dapat mendatangkan manifestasi yang mereka inginkan dan menunjukkan realitas yang ada.
Langkah kedua, pilih apa yang ingin anda miliki, lakukan, atau anda ingin jadi apa. Caranya adalah mengubah setiap keluhan anda menjadi sesuatu yang benar-benar anda inginkan. Singkirkan keluhan-keluhan itu sampai anda memiliki keyakinan yang kuat dalam diri anda. Bila anda sudah memiliki keyakinan yang kuat dalam diri anda, untuk mewujudkan apapun yang anda inginkan akan menjadi lebih mudah. Karena keyakinan itu adalah bagaimana kita menciptakan realitas. Hasil yang anda dapatkan adalah akibat-akibat langsung dari keyakinan-keyakinan yang anda pegang. Keyakinan itu juga dapat membentuk kepribadian.
Langkah ketiga, pahami semuanya. Abraham Perrils berpendapat bahwa manusia memiliki batas yang telah mereka tempatkan sendiri terhadap kebebasan yang mereka miliki. Kita sebagai manusia membutuhkan pelatihan untuk membantu kita memahami bahwa sesungguhnya kita tidak dibatasi. Caranya adalah fokus kepada apa yang kita inginkan dan percayalah keinginan tersebut dapat terwujud. Kata-kata ini terinspirasi dari buku “What Can a Man Believe?” Karya Bruce Barton. Di dalam buku itu dia menjelaskan bahwa bukti adanya surga setelah dunia ini sedikit sekali, tetapi percaya terhadap adanya surga jauh lebih arif daripada tidak percaya sama sekali. Jadi maksud buku ini adalah percaya itu lebih bijak daripada tidak percaya. Fokuskan kepada apa yang anda inginkan dan buat salah satu maksud anda untuk menemukan seseorang yang bisa membantu membebaskan anda dari keyakinan-keyakinan lama anda, sehingga anda dapat menciptakan kehidupan yang anda inginkan. Anda harus tahu bagaimana caranya mendapatkan apa yang anda inginkan sebelum anda memperolehnya. Ubahlah keyakinan-keyakinan lama anda dan bentuklah keyakinan-keyakinan yang baru. Karena keyakinan membentuk cara kita merasa, berpikir dan bertindak. Seperti yang dokatakan oleh Raymond Charles Barker dalam bukunya “Treate Yourself to Life” pada tahun 1954, “Kemakmuran adalah kemampuan untuk melakukan apa yang anda lakukan ketika anda ingin melakukannya.” Dan dengan hati yang jernih anda akan dapat memiliki, melakukan atau menjadi apa yang anda inginkan.
Langkah keempat, rasakan betapa menyenangkan dapat memiliki, melakukan, atau menjadi apa yang kita inginkan. Para spesialis pemasaran tahu bahwa orang-orang tidak bertindak karena alasan-alasan yang logis, tetapi kerena alasan-alasan emosional. Emosi memiliki kekuatan untuk menciptakan apa yang anda inginkan. Kekuatan itu juga mendatangkan energi. Salah satu energi yang paling kuat yang pernah anda alami adalah bersyukur. Sebagaimana yang ditulis oleh Joseph Murphy dalam bukunya “Your Infinite Power to be Rich” pada tahun 1996, “seluruh proses kekayaan mental, spiritual, dan material bisa dirangkum dalam satu kata: BERSYUKUR.” Rasakan rasa syukur atas apapun yang anda dapatkan dan kemudian anda akan dapat mulai memaafkan dan selanjutnya hati anda akan menjadi jernih dan anda akan dapat memiliki, melakukan atau menjadi apa yang anda inginkan.
Energi lain yang anda ingin alami adalah energi yang berasal dari membayangkan bagaimana rasanya memiliki, menjadi, atau melakukan apa yang sedang anda inginkan,untuk melakukan apa yang anda mimpikan. Bagaimanpun perasaan-perasaan itu menuntun dan mengarahkan anda untuk melakukan hal-hal yang akan membuat peristiwa-peristiwa yang bermakna.
Inti penting langkah ini adalah bahwa dengan rasa senang anda harus merasakan sesuatu energi yang ingin anda ingin lakukan, miliki, atau energi ingin jadi apa anda. Sebagaimana pernah ditulis oleh Joseph Murphy dalam buku kecilnya “How to Attract Money”, “merasa kaya menghasilkan kekayaan.” Jadi rasakan kesenangan itu niscaya anda akan mulai menariknya pada anda dan ia akan menarik anda padanya.
Langkah kelima, berserah diri. Di dalam diri manusia memiliki dua wujud yang berbeda, bukan kepribadian (personality) persis seperti aspek-aspek pikiran yang kita miliki. Gallwey dalam bukunya “The Inner Game of Tennis” menyebutnya sebagai Self One dan Self Two. Self One dapat dihubungkan dengan ego manusia, bagian diri manusia yang ingin berkuasa. Self Two dapat dikaitkan dengan guru batin dalam diri manusia, bagian diri manusia yang berkaitan dengan segala sesuatu. Tugas Self One adalah menyeleksi apa yang anda iginkan dan pasrah. Sedangkan tugas dari Self Two adalah mendatangkan apa yang anda inginkan kepada anda. Sekali lagi intinya adalah belajar bertawakal secara mutlak.
Sukses anda mahasiswa manakala anda bisa menikmati semua sesuai dengan koridor ikhtiar anda, dalam tulisan sederhana ini akan diulas mengenai
         *         Sejauhmanakah visi anda?
         *         Sukses Kuliah
         *         Dilemma Bekerja Sambil Kuliah
         *         Berburu Beasiswa
         *         Anda Kuliah Terjadwal Dengan Hasil Terukur
         *         Aktivis Kampuskah Anda ?
         *         Menikah Disela Kuliah, Mungkinkah?
         *         Bisnis Mahaisswa
         *         Deadline Skripsi
         *         Spiritual Mahasiswa
         *         Sarjana Visioner


[1]
[2] Lima Formula Mewujudkan Impian Anda(Five Ways to Make Your Dream Come True), Abraham Perrils, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2010

[3] Lima Formula Mewujudkan Impian Anda(Five Ways to Make Your Dream Come True), Abraham Perrils, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2010

Minggu, 13 Februari 2011

10 Nasib Mahasiswa Tingkat Akhir


1. Rajin ke Perpustakaan
Mahasiswa tingkat akhir, pastinya disuruh banyak cari referensi, ntah itu jurnal ato skripsi dari alumni, n mau g mau mereka cari bahan di perpus kampus ato perpus daerah... Kalo yg awalnya mereka cuma sekali dalam 1 semester ke perpus, bisa dipastikan dengan adanya skripsi mereka harus ke perpus berkali-kali, biar dapet revisi banyak

2. Rajin Searching
Selain ke perpus, banyak mahasiswa yg diharuskan cari-cari bahan tambahan di internet, mau ga mau (pasti mau) mereka searching bisa sampe berjama-jam lamanya.. heheheh tp mungkin kebanyakan ngaskus & fesbuk ketimbang cari bahan.

3. Rajin beli kertas & tinta
Kalo yang ini pasti gan, mahasiswa pasti membutuhkan yg namanya kertas n tinta untuk ngeprint skripsi yg dah mereka buat... tp g jarang jg, mahasiswa jadi boros sama kertas, alasannya kalo tiap bab di konsulkan ke dosen, biasanya banyak yg dicoret2 dan harus ngulang lagi

4. Begadang
99% kemungkinan banyak mahasiswa yang begadang, apalagi kalo sudah masuk date line.. wuuiihh bisa ampe jam 2 malem, jam 3, jam 4 shubuh.. bahkan sampe g tidur

5. Makan ga teratur
Kadang terlalu sibuknya mahasiswa, dari kost, kampus, perpus, ketemu dosen dan blaa blaaa blaaaaa nyebabkan mereka makannya g teratur... pagi sarapan, siang ngemil doank, malem g makan, tp tengah malam sambil begadang mereka ngemil lagi

6. Duit cekak
cekak ato malah sama sekali kagak punya duit udah biasa di kalangan mahasiswa.. yaaapp jalan satu2nya adalah ngutang. udah g terhitung berapa banyak mahasiswa di indonesia yg ngutang untuk menutupi krisi di akhir semesternya.. mo minta kiriman ortu, malu karena bulan ini minta 2x... Kalo untuk tingkat akgir, ada juga yang ngadain riset ato analisa, n membutuhkan dana yg lumayan banyak... bisa jadi satu sampel analisa biaya peneliatian ampe 300 rbu, bayankan aja klo banyak sampel yg mesti diteliti... tambah bokek ajaa deh si mahasiswa

7. Nunggu Dosen Ampe Kering
Males banget ga sih, klo mesti nunggu dosen yang g pasti datengnya, ditelpon janjinya 1 ato 2 jam lagi ternyata setelah berjam2 g nongol juga.. ammmpooooonnn dahhhhh

8. Riset gagal
Disini parahnya gan, klo misalkan riset ato analisa gagal ditengah jalan ,apalgi kalo sudah didesak dosen untuk cepet selesai.. apa tambah g gondok kita... bayangkan berapa usaha yg kita lakukan, berapa duit yang kita keluarkan.. klo ngebayangin itu, naudzubillah... menyedihkan

9. D.O.W.N
jangan sampe ini terjadi sama Bro2 sekalian, ngerasa putus asa, n g ada semangatnya lagi, hal ini bisa terjadi karena :riset gagal, jenuh, ngeliat temennya sudah kelar, minder dll... ketika kita ngerasa down, cari variasi baru ato refresh kan pikiran sejenak untuk ninggalkan masalah skripsi.. yang penting cari suasana baru. Tp inget jangan terlalu kebawa enak, ntar skripsinya dilupaian berabe

10. Emosi Gak Stabil
Mungkin karena pengaruh suasana, mahasiswa kadang2 jadi emosional.. kadang marah2 g jelas, kadang nangis, kadang ngurung diri dikamar.. yaaacchh ngebayangin skripsi mereka yang g kelar.. memang g semua, tp pasti ada beberapa...

Perasaaan Lulus jika sukses skripsi:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *