Jumat, 18 Desember 2015

MANAJEMEN KELAS

RAGAM MANAJEMEN KELASI. 

     I. Manajemen Kelas Spatial Learning (Penataan Ruang Kelas)
  • A.   Latar Belakang Diperlukan Manajemen Kelas Spatial Learning
    Berbicara tentang kegiatan mengajar, satu hal yang sangat pasti bahwa tujuan dari pengajaran tidak akan tercapai bilamana kegiatan mengajar dilakukan didalam ruangan kelas yang tidak rapi, berantakan dan tidak dapat membuat siswa merasa nyaman. Ruangan Kelas sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pengajaran. 

    Hal ini tidak dapat dibantah, karena ruangan kelas merupakan sarana utama dalam kegiatan belajar-mengajar. Dirungan kelas, guru menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditentukan, sementara siswa mengambil pemahan secara langsung, bertanya jawab, berdiskusi, dan belajar berkelompok bersama teman-temannya terkait materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru. 

    Karena begitu pentingnya fungsi ruangan, maka ruangan kelas harus tertata rapi, tidak berantakan, dan mampu membuat siswa yang belajar didalamnya merasa nyaman. Dari sinilah, kemudian muncul ide manajemen kelas spatial learning yang bertujuan untuk menata ruang belajar.

  • B.   Pengertian Manajemen Kelas Spatial Learning

    Secara umum, manajemen kelas spatial learning dapat diartikan sebagai serangkaian usaha mengelola kelas yang menjadikan  ruangan kelas sebagai teng tertata tempat belajar yang tertata rapi, tidak berantakan, dan nyaman bagi siswa.


    Adapun secara khusus, manajemen spatial learning dapat diartikan sebagai usaha mengatur atau mengelola kelas menjadi tempat belajar yang nyaman dan mampu menjangkau tujuan belajar bagi siswa.

    C.   Tujuan Manajemen Kelas Spatial Learning
    Ada dua tujuan penting diterapkannya manajemen kelas spatial learning, yaitu tujuan utama dan tujuan pendukung.Adapun tujuan utamanya adalah menjaga dan meningkatkan semangat siswa dalam mempelajari materi-materi yang diajarkan didalam kelas.
    Tujuan pendukungnya adalah mendukung tercapainya tujuan pengajaran didalam kelas, menciptakan suasana belajar yang kondusif didalam kelas, mencetak siswa-siswa yang handal dan siap bersaing dengan siswa-siswa dari sekolah lain, agar siswa dapat memahami dan menguasai seluruh materi pelajaran yang diajarkan oleh guru, agar siswa bersemangat dalam belajar didalam kelas, agar siswa betah didalam kelas dan konsentrasi.

    D.   Fokus Manajemen Kelas Spatial Learning
    Fokus atau sasaran utamanya adalah meningkatkan efektivitas pengajaran didalam kelas, meningkatkan penguasaan materi pelajaran bagi siswa , meningkatkan minat a belajar siswa, mencegah penurunan minat belajar siswa, mencegah ketidaknyamanan bagi guru selama proses mengajar, mengoptimalkan fungsi perlengkapan atau peralatan didalam kelas, mengoptimalkan fungsi sekoalah sebagai tempat belajar paling nyaman, mengatasi gangguan-gangguan yang umum terjadi pada siswa.

    E.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Manajemen Kelas Spatial Learning
    Adapun faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas manajemen kelas spatial learning diantaranya ukuran ruang kelas yang tidak memadai atau tidak ideal untuk jumlah siswa, ukuran kelas yang tidak mendukung terciptanya suasana belajar yang harmonis, tidak tersedianya lemari yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menyimpan perlengkapan atau peralatan, tidak tersedianya lubang ventilasi yang cukup, pencahayaan yang kurang terang, lokasi ruangan kelas yang sangat dekat dengan kebisingan, papan tulis atau layar OHP sebagai media pengajaran yang tidak dapat dilihat tampilannya dari seluruh sudut kelas.
    F.    Petunjuk-Petunjuk Penting dalam Pelaksanaaan Manajemen Kelas Spatial Learning
    1. Menjadikan wilayah sentral kegaduhan menjadi sentral pembelajaran
    2. Memastikan posisi diri dapat memantau siswa dan dijangkau oleh seluruh siswa
    3. Memastikan papan tulis atau layar OHP dapat dilihat siswa dengan mudah dan jelas
    G.   Panduan Pelaksanaan Manajemen Kelas Spatial Learning yang Komprehenshif
    1. Dinding didalam kelas hendaknya ditempel poster serta bulletin yang menarik dan bias membangkitkan minat belajar siswa.
    2. Ruangan lantai hendaknya diatur perlengkapannya, sehingga posisi guru dan papan tulis atau layar OHP yang digunakan untuk presentasi materi pelajaran tetap bisa dilihat dengan mudah oleh seluruh siswa dari setiap sudut ruangan kelas.
    3. Meja tulis siswa hendaknya diatur secara berkelompok dan tidak berbaris-baris, tetapi tetap menyediakan jalan yang cukup bagi guru untuk berjalan-jalan disela sela meja tulis siswa.
    4. Apabila ruangan kelas cukup luas, pada sisi kanan menja tulis siswa sebaiknya diberi meja belajar yang dapat digunakan siswa untuk berdiskusi atau belajar kelompok.
    5. Komputer khusu yang disediakan untuk siswa sebaiknya tidak ditempatkan diruang kelas, malainkan cukup diruang khusus computer saja.
    6. Lemari yang menyimpan perlengkapan kelas dan buku-buku tugas siswa hendaknya diletakan ditempat yang mudah diakses dan dekat dengan wilayah guru mengajar.
    7. Disamping meja guru, hendaknya disediakan computer khusus yang telah tersambung dengan layanan internet yang dapat guru pergunakan untuk mencari bahan-bahan materi pelajaran serta menyimpan data-data siswa yang berkaitan dengan latar belakang, daftar kenakalan dan sebagainya.
    8. Pada dinding ruangan kelas, hendaknya dipasang jam dinding dan kalender yang cukup besar sehingga mudah dilihat oleh seluruh siswa.
    9. Tampilan kelas dan hiasan dinding hendaknya diganti setiap pertengahan semester.

    II. Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    A.   Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    Keberhasilan sebagai seorang guru bergantung pada kemampuan guru dalam mengelola kelas dan menciptakan suasana yang nyaman bagis siswa untuk belajar didalam kelas. Oleh karenanya sangat penting bagi seorang guru untuk menerapkan manajemen kelas determination of regulatin in the room guna mendukung terciptanya keberhasilan tersebut.

    Manajemen kelas ini tidak bertujuan untuk membatasi gerak siswa, melainkan sebagai penjelas perilaku mereka yang mengarah pada visi dan misi kelas. Manajemen kelas ini juga merupakan syarat bagi terciptanya kelas yang baik, karena berfungsi sebagai pengatur kelas agar siswa dapat belajar dengan nyaman dan guru pun bisa mengajar dengan baik.

    Jika guru tidak menerapkan manajemen ini, manajemen kelas spatial learning yang telah dilaksanan sebelumnya kurang dapata mendorong siswa mencapai tujuan belajar secara maksimal. Jadi kedua manajemen kelas ini harus digabungkan. Bahkan, bukan dua manajemen ini saja, melainkan juga semua manajemen kelas yang dibahas dibuku ini harus digabungkan karena merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain.

    Dalam manajemen kelas ini seorang guru tidak bisa menjadi hakim yang berhak menentukan segalanya, karena peraturan kelas harus dibuat berdasarkan kesepakatan semua siswa. Namun, apabila dalam penetapannya ada beberapa siswa yang tidak setuju, maka harus tegas dalam mengambil keputusan dengan tetap mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya.
    B.   Pengertian Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    Secara umum, manajemen kelas ini dapat diartikan sebagai serangkaian usaha pengelolaan kelas yang memfokuskan pada penetapan dan peraturan dalam ruangan. Adapun secara khusus, manajemen kelas ini dapat diartikan sebagai serangkaian usaha untuk mengatur tingkah laku atau perilaku siswa dalam kesehariannya diruang kelas.

    Karena pentingnya manajemen kelas ini, maka prinsip terbesar dalam melaksanakannya adalah dengan memperlakukan siswa sebagaimana seorang guru ingin diperlakuakan oleh kepala sekolah. Untuk itu, dalam proses pembuatan dan penentuan peraturannya, siswa perlu dilibatkan sehingga terbentuk suasana kelas yang demokratis.

    C.   Tujuan Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    Tujan utama manajemen ini diterapkan adalah untuk memenuhi syarat sebagai kelas yang baik, yang mana didalam kelas tersebut sangat dijunjung tinggi peraturan yang berlaku dan proses berfikir yang dikembangkan.

    Adapun tujuan pendukungnya adalah agar menjaga dan menjamin suasana belajar yang kondusif serta jauh dari ketidaktenangan dan ketidaknyamanan, melatih dan membentuk kepribadian siswa yang mengarah pada sikap disiplin dan tanggung jawab, melancarkan proses pengajaran dan pembelajaran didalam kelas serta melatih siswa untuk dapat hidup berdemokrasi dengan baik dan sanggup menaati peraturan-peraturan yang berlaku.

    D.   Fokus Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    Fokus manajemen kelas ini meliputi:
    1. Peningkatan ketaatan dan kedisiplinan siswa didalam kelas.
    2. Peningkatan rasa tanggung jawab siswa
    3. Peningkatan kualitas siswa sebagai siswa yang memberikan contoh atau dapat dijadikan teladan
    4. Peningkatan kualitas siswa sebagai siswa yang dapat diandalkan dan mampu menjaga amanah
    5. Pencegahan timbulnya suasana belajar yang tidak kondusif, tidak tenang, dan tidak nyaman
    6.  Pencegahan penurunan kepribadian siswa yang mengarah pada perilaku atau tingkah laku yang menyimpan dari peraturan yang berlaku
    7. Pengoptimalkan peran guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik
    8. Pengoptimalkan fungsi ruang kelas sebagai tempat yang nyaman untuk belajar
    9. Pengoptimalan fungsi sekolah yang selalu mengedepankan peraturan dalam bertindak atau berperilaku
    10. Penanganan berbagai gangguan yang sering timbul didalam kelas saat kegiatan mengajar digelar, seperti siswa asyik mengobrol atau berbicara dengan siswa lain, membuat kegaduhan, usil atau mengganggu siswa lain, dan sebagainya
    11. Penanganan terhadap siswa-siswa yang enggan atau tidak mau menaati peraturan yang berlaku didalam kelas, dengan cara memberikan hukuman atau sanksi.
    E.   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efetivitas manajemen kelas ini antara lain :
    1. Sekolah yang tidak memberlakuakan peraturan yang ketat bagi guru dan siswa-siswanya
    2. Mutu dan kualitas sekolah yang masih jauh dari standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah
    3. Perilaku guru yang tidak mencerminkan sikap menaati peraturan yang berlaku
    4. Ruang kelas yang tidak dapat memberikan kenyamanan bagi siswa
    5. Peraturan yang dinilai tidak memihak siswa serta jauh atau menyimpang dari visi dan misi sekolah
    6. Adanya siswa yang suka memprovokasi siswa lainnya untuk tidak mematuhi peraturan yang berlaku
    7. Pelayanan sekolah yang masih jauh dari yang diharapkan siswa
    8. Biaya sekolah yang mahal, namun tidak didukung fasilitas yang memadai
    9. Tidak ada hadiah, penghargaan, atau semacam nilai khusus bagi siswa yang mematuhi peraturan
    10. Banyaknya siswa yang kurang memiliki kesadaran untuk mematuhi peraturan yang berlaku. 

    F. Petunjuk-Petunjuk Penting dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room
    1.    Peraturan ditetapkan bersama dan dipatuhi bersama
    2.    Peraturan harus dirumuskan dengan kalimat positif
    3.    Peraturan sebaiknya tidak terlalu banyak dan mudah diingat
    4.    Peraturan tidan boleh memeberatkan siswa
    5.    Peraturan harus disertai sanksi atau hukuman
    G.  Panduan Pelaksanaan Manajemen Kelas Determination of Regulation in the Room yang Komprehenshif
    1.    Semua peraturan yang ditetapkan harus difokuskan untuk membuat kelas menjadi baik.
    2.  Semua Peraturan yang ditetapkan hendaknya meliputi tujuh poin yang menekankan perilaku-perilaku siswa yang budiman diruang kelas antara lain:
    a.    Hormat dan bersiakap sopan dihadapan guru
    b.    Berperilaku baik kepada semua siswa
    c.    Berlomba-lomba dalam meraih prestasi yang gemilang
    d.    Bergegas dalam memulai pelajaran dan mengerjakan ulangan/soal ujian
    e.    Bersiap-siap dalam menyambut tugas-tugang yang diberikan
    f.  Menyimak dengan seksama penjelasan materi pelajaran serta komentara dan pertanyaan dari siswa lain
    g.   Mematuhi seluruh peraturan sekolah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
    3. Setalah peraturan ditetapkan, alangkah baiknya guru mengirimkan sebuah salinanan peraturan tersebut kerumah para siswa untuk ditelaah dan ditandatangani oleh orang tua mereka, dengan maksud agar orang tua juga ikut membantu membimbing anak menaati peraturan kelas.
    4.   Diakhir penetapan peraturan, jangan lupa mencantumkan prosedur-prosedur penggunaan wilayah ruangan, perabotan dan perlengkapan kelas bagi siswa
    5. Menetapkan batasan-batasn spesifik terkait peraturan yang diberlakukan dan mengkomunikasikan kepada semua siswa agar mereka mengetahui batasan-batasannya dan seberapa jauh mereka harus mematuhinya.
    6.    Peraturan harus didukung dengan kelengkapan-kelengkapannya.

    III. Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching (Permulaan Pengajaran yang Efektif)
    A.   Latar Belakang Diperlukannya Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching
    Manajemen kelas ini merupakan bagian terpenting dalam pengelolaan kelas, karena siswa akan mempelajari sikap, perilaku, dan kebiasaan yang harus mereka terapkan disekolah setiap hari. Sangat penting bagi guru untuk melaksanakan manajemen kelas ini guna memperkuat keyakinan para siswa bahawa kesuksesan belajar itu harus dikejar.

    Keberhasilan seorang pengajar dalam melakasanakan menajemen ini tergantung pada kemampuan guru dalam menerapkan strategi pengajaran yang efektif. Perlu dipahami bahwa pengajaran merupakan sarana yang dapat membantu siswa memperoleh ide, ketrampilan, cara berpikir dan cara-car belajar sebagaiman mestinya.

    Manajemen ini menaruh perhatian pada “ bagaimana mengajarkan sesuatu hal kepada siswa” dan bukan pada “apa yang dipelajarai siswa”.

    B.   Pengertian Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching
    Secara umum dapat diartikan sebagai serangkaian usaha pengelolaan kelas yang memfokuskan pada pengajaran yang efektif dipermulaan tahun ajaran baru dengan maksud untuk memperkuat keyakinan siswa bahwa kesuksesan belajar itu sangat penting untuk dikejar. Secara khusus dapat diartikan sebagai usaha untuk mendorong keberhasilan belajar siswa melalui pengajaran efektif.
    Pengajaran efektif ini maksudnya adalah sebuah strategi yang berisi serangkaian peristiwa yang telah dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk membantu proses belajar siswa. Dapat dikatakan pula sebagai strategi pengajaran yang aktif, interaktif, kreatif, edukatif dan menyenangkan.
    Pada dasarnya, tidak ada batasan yang tegas terkait ukuran keberhasilan dari manajemen kelas ini. Namun, kebanyakan guru yang pernah melaksanakan manajemen kelas ini menilainya dengan cara melihat interaksi yang baik yang terbentuk dengan siswa, yang mana hasilnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku, dan kebiasaan siswa dimasa-masa selanjutnya.
    C.   Tujuan Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching
    1.    Menjaga semangat siswa dalam mengejar keberhasilan dalam belajar.
    2.    Memperkuat keyakinan siswa bahwa keberhasilan dalam belajar itu penting untuk dikejar
    3.    Membentuk dan memperkuat citra guru sebagai pendidik favorit dikalangan siswa.
    4.    Sebagai media interaksi dan pengakraban diri antara guru dan siswa
    5.    Memberikan rasa nyaman kepada siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan
    6.    Mendorong terciptanya suasana belajar yang nyaman, menyenangkan dan memahamkan
    7.   Membentuk sikap, perilakau, dan kebiasaan siswa yang mengarah pada peraturan yang  berlaku di dalam kelas
    8.   Menghasilakan perilaku hasil belajar yang diharapkan setelah siswa mengikuti kegiatan belajar-mengajar didalam kelas.
    D.   Fokus Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching
    1. Meningkatkan semangat siswa dalam belajar didalam kelas
    2. Meningkatkan semangat siswa dalam mengejar keberhasilan dalam belajar
    3. Meningkatkan hasil belajar siswa yang diharapkan setelah menempuh proses belajar didalam kelas
    4. Meningkatkan kebiasaan siswa yang positif, yang akan mempengaruhi hasil belajar dimasa-mas selanjutnya
    5. Mencegah hubungan yang tidak baik antara guru dan siswa
    6. Mencegah penurunan semangat belajar siswa diawal tahun ajaran baru dan masa-mas selanjutnya
    7. Mencegah penurunan mobilitas dan kreativitas siswa dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan didalam kelas
    8. Mengoptimalkan peran guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik
    9. Mengoptimalkan waktu mengajar materi pelajaran
    10. Mengoptimalkan strategi-strategi pengajaran yang digunakan untuk mengajar materi pelajaran
    11. Mengoptimalkan fungsi sekolah sebagai tempat yang paling tepat untuk mencetak siswa yang handal dan siap bersaing
    12. Mengoptimalkan permulaan tahun ajaran baru sebagai momen yang paling tepat untuk mengubah sikap, perilaku, dan kebiasaan siswa yang mengarah pada peraturan yang berlaku didalam kelas
    13. Mengatasi gangguan-gangguan yang membuat siswa malas dan tidak suka mempelajari materi pelajaran

    E.   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching
    1. Guru sebagai pendidik yang tidak mempunyai kemampuan yang baik dalam menerapkan strategi pengajaran
    2. Jam terbang mengajar yang masih sangat rendah, yang sekiranya membuat guru belum berpengalaman dalam menangani siswa
    3. Tipe kepribadian siswa yang tertutup dan tidak mempunyai semangat belajar yang tinggi
    4. Adanya paksaan bagi siswa untuk bersekolah atau melanjutkan studi dari orang-orang terdekat
    5. Banyaknya siswa yang tidak mempunyai minat atau ketertarikan pada materi yang diajarkan
    6. Suasana belajar yang tidak mendukung, yang sekiranya dapat mengganggu konsentrasi siswa pada materi pelajaran yang diajarkan
    7. Banyaknya siswa yang tidak suka kepada guru yang mengajar
    8. Sikap individual siswa yang sulit diatasi
    9. Suasana kegaduhan didalam kelas yang menjadikan kegiatan belajar-mengajar tidak tenang dan sebagainya
    F.    Petunjuk-Petunjuk Penting dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas Begining of Effektive Teaching
    1.    Membuat siswa merasa disambut dan dihargai
    Untuk itu, ada banyak hal cara yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
    a.   Bertanya seputar diri dan keluarga siswa, kemudian membuat lelucon yang sekiranya dapat membuat semua siswa yang didalam kelas tertawa
    b.  Sesekali mengajukan pertanyaan yang membuat siswa merasa tahu bahwa seorang guru sedang mendengarkannya
    c.    Menyuruh siswa untuk bercerita seputar diri atau keluarganya
    d. Memuji atau menghargai siswa bila menurut guru siswa tersebut berhak mendapatkannya
    e.    Bersikap ramah dan menyenangkan saat bertanya serta member pertanyaan
    f.     Royal dalam memberikan senyuman
    2.    Menciptakan iklim yang positif didalam kelas
    3.    Menciptakan suatu perasaan komunitas
    4.    Membangun hubungan yang menyenangkan dengan siswa individual
    5.    Mengajarkan peraturan kelas dengan memberikan teladan atau contoh yang baik
    6.    Memberikan umpan balik dan mengamati sikap siswa secara teratur setiap hari
    G.   Panduan Pelaksanaan Manajemen Kelas  Begining of Effektive Teaching
    1.   Dihari pertama tahun ajaran baru, awalilah dengan perkenalan dengan siswa baru, awali dengan melakukan perkenalan dengan siswa baru, dalam perkenalan tidak perlu panjang lebar tatapi cukup dengan hanya sedikit catatan tentang pribadi dan minat anda. Justru yang paling penging disini adalah seorang guru harus meminta siswa memperkenalkan diri secara panjang lebar dan dalam waktu yang cukup. Hal ini dilakukan agar terjalin keakraban.
    2.  Setelah semuanya memperkenalkan diri, diharapkan seorang pengajar memperkenalkan peraturan-peraturan yang berlaku didalam kelas dengan menjelaskan prosedur-prosedur secara lengkap dan memahamkan.
    3.  Selajutnya, diharapkan melakukan kegiatan-kegiatan yang sekiranya dapat membuat siswa merasa akrab dengan guru.
    4.  Dihari kedua masuk sekolah, sebaiknya segeralah tetapkan peraturan kelas. Ini khusus bagi kelas yang belum memiliki peraturan didalamnya.
    5.   Sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar, rencanakanlah sebuah permulaan pengajaran yang baik dengan cara memastikan suasana belajar yang hangat dan bersahabat bagi siswa.
    Ada beberapa langkah yang dapat guru lakukan untuk menciptakan suasan tersebut, diantaranya sebagai berikut :
    a.    Hadir tepat waktu saat jam pelajaran
    b.   Memeriksa jumlah siswa dan memastikan bahwa semua siswa sudah berada didalam kelas
    c.  Memberi “pujian” kepada siswa yang terlambat masuk kelas dengan menyebut namanya. Misalnya, dengan ucapan “wah, Aris yang paling pintar kok terlambat masuk kelas, ya?Hmmm, dari tadi Aris ke mana saja?”
    d.   Bercerita singkat sebelum memulai pelajaran untuk membuat suasana kelas menjadi rileks atau tenang.
    6. Pada hari-hari biasa setiap kali memasuki kelas, buatlah suasana kelas menjadi menyenangkan.
    Berikut ini adalah contoh langkah-langkah kreatif dan inovatif yang guru dapat lakukan :
    a.    Pembukaan (Opening)
    Dalam proses opening, guru dapat melakukan teknik SSD, yaitu showing something different (menampilkan sesuatu yang berbeda). Dengan teknik ini, siswa akan disuguhkan dengan sesuatu yang baru, yang tentunya berbeda dengan apa yang biasanya mereka lihat dan dengar setiap hari. Misalnya, guru mengucapkan, “Selamat memulai hari baru” untuk proses opening pada hari Senin, “Assalamu’alaikum” untuk proses opening pada hari Selasa, “Good Morning” untuk proses opening pada hari Rabu, “Happy Saturday” untuk opening pada hari Sabtu, dan sebagainya.
    b.    Menumbuhkan Semangat (Ice breaking)
    Dalam proses menumbuhkan semangat, guru melakukan preview dan review, yaitu memberikan penjelasan kepada siswa terkait materi pelajaran yang sudah diajarkan dan memberikan umpan-balik untuk meninjau seberapa jauh mereka memahami materi pelajaran.
    c.    Mengajarkan Materi Pelajaran (Presentation)
    d.    Latihan dan Koreksi (Exercises and correction)
    e.    Waktu berbicara siswa (Student talk time)
    f.      Kesimpulan penjelasan dan penutupan (Explanation conclusions)
    7.   Selama beberapa hari pertama diawal tahun ajaran baru, batasilah materi pelajaran hanya pada inti/pokok yang harus guru sampaikan.
    8.  Selama satu bulan pertama diawal tahun ajaran baru, usahakan jangan sampai guru membebani siswa dengan tugas, pekerjaan rumah (PR), atau kegiatan rumit yang tidak terlalu penting.
    9.   Memasuki bulan kedua tahun ajarn baru, guru sudah mulai dianjurkan untuk memberikan tugas, pekerjaan rumah (PR), atau kegiatan yang mudah kepada siswa.

    IV. Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning (Pelaksanaan Pembelajaran yang Efektif)
    A.   Latar Belakang Diperlukannya Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning
    Belajar merupakan tugas terpenting yang harus dilakukan oleh setiap siswa di sekolah. Namun, dalam faktanya, siswa memiliki perbedaan cara belajar dalam hal proses berpikir dan menyerap materi pelajaran. Oleh karena itu, setelah memastikan bahwa manajemen-manajemen kelas yang sudah guru terapkan berjalan lancer, guru perlu menyempurnakannnya dengan menerapkan manajemen kelas ini.

    Pelaksanaan manajemen kelas ini ditunjukan untuk mengelola metode pembelajaran agar menemui titik temu dengan cara belajar siswa. Tidak dipungkiri, ada berbagai jenis kepribadain siswa yang masing-masing membutuhkan penanganan dengan metode pembelajaran yang berbeda. Namun, dengan adanya manajemen kelas ini, diharapkan dapat memenuhi semua kebutuhan belajar belajar siswa mengingat jumlah mereka didalam kelas yang terlalu banyak.
    B.   Pengertian Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning
    Secara umum dapat diartikan sebagai serangkaian usaha pengelolaan kelas yang memfokuskan pada pelaksanaan pembelajaran yang efektif untuk membantu siswa menyerap materi pelajaran yang diajarkan dengan segala metode pembelajaran. Manajemen kelas ini merupakan proses yang secara terus menerus membantu menutupi kekurangan siswa dalam hal proses berpikir dan menyerap materi pelajaran, sehingga dapat memahami materi pelajaran yang disampaikan guru secara sempurna.

    Kekurangan siswa bukanlah suatu penyakit, melainkan proses alamiah yang terbentuk karena jenis kepribadain yang dimiliki siswa. Kepribadian siswa merupakan sifat yang mewakili diri seorang siswa yang hakiki dan sangat unik, karena memiliki kecenderungan untuk merespon sesuatu. Kepribadian siswa sudah mulai terbentuk sejak kecil, yakni ketika memasuki masa pendidikan disekolah dasar. Secara garis besar, kepribadian siswa dapat dikelompokan menjadi 4 jenis yaitu:
    1. Impeccable (Sempurna). Mencerminkan karakter siswa yang cenderung bersikap patuh, rapi dan sopan.
    2. Dependable (Teguh). Kepribadian ini mencerminkan karakter siswa yang suka tantangan dan tidak mudah menyerah
    3. Passively (Pasif). Kepribadian ini mencerminkan karakter siswa yang cenderung diam dan suka mengalah.
    4. Popular (Senang Menjadi Pusat Perhatian). Siswa dengan kepribadian popular senang menjadi pusat perhatian, ingin dikenal dan disenangi banyak teman, humoris, aktif dan terkadang haus akan prestasi serta penghargaan.
     
    C.   Tujuan Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning
    Secara umum, tujuan utamanya adalah membantu siswa agar mampu menyerap materi pelajaran yang diajarkan dengan berbagai metode pembelajaran. Adapun tujuan pendukungnya adalah
    1.    Mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan
    2.    Mempertajam kemampuan siswa dalam proses berpikir dan menyerap materi pelajaran
    3.    Memberikan rasa nyaman kepada siswa terhadap metode mengajar yang diterapkan
    4.    Mendorong terciptanya suasananya belajar yang kondusif
    5.    Membentuk karakter siswa yang tangguh dan mampu belajar dalam segala kondisi
    6.    Membentuk dan memperkuat citra guru sebagai pendidik yang mengayomi siswa serta mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa
    7.    Menumbuhkan kembali semangat belajar siswa yang sebelumnya pernah menurun
    8.  Membantu siswa mengatasi segala kesulitan dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan dikelas
    9.  Menimilkan timbulnya stress pada diri siswa yang kemungkinan dapat terjadi karena factor ketidakmampuan dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan di kelas.
    D.   Fokus Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning
    1.  Meningkatkan kemampuan siswa dalam hal proses berpikir dan menyerap materi pelajaran
    2.  Meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
    3. Meningkatkan konsentrasi siswa agar mampu menyesuaikan diri dengan metode pengajaran yang diterapkan
    4.   Meningkatkan konsentrasi siswa agar dapat belajar dengan nyaman dikelas
    5.   Mencegah penurunan semangat belajar siswa sampai pada titik terendah
    6.  Mencegah timbulnya stress pada diri siswa yang kemungkinan besar dapat mengancam tujuan belajar
    7.  Mencegah kebencian siswa terhadap guru yang dirasa tidak becus mengajar materi pelajaran
    8.    Mencegah penurunan kecerdasan dan hasil belajar siswa dalam jumlah yang besar
    9.  Mengoptimalkan peran guru sebagai pendidik yang mampu mengayomi siswa dan memenuhi kebutuhan belajar siswa
    10. Mengoptimalkan peranan metode mengajar menjadi metode yang paling efektif bagi semua siswa
    11. Mengoptimalkan peran siswa sebagai peserta didik yang mampu merespon secara sempurna segala materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
    12. Mengoptimalkan kemampuan siswa untuk mengubah kekurangan menjadi kelebihan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar
    13. Mengatasi masalah-masalah yang membuat siswa membenci guru dan tidak menyukai materi pelajaran.
    E.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning
    1.  Tipe kepribadian siswa yang tidak mau belajar memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru
    2.    Tipe kepribadian siswa yang tidak mau bertumbuh menjadi siswa yang cerdas dan handal
    3.    Tipe kepribadian siswa yang suka menutup diri dari segala informasi yang baru
    4.    Guru yang tidak bisa menerapkan strategi mengajar dengan baik dan memahamkan
    5.    Guru yang tidak bisa mengakrabkan diri dengan siswa dan mengambil hati siswa
    6.    Citra guru yang buruk
    7.    Material dan fasilitas mengajar yang kurang lengkap
    8.    Factor internal siswa yang meliputi factor fisiologis yang sedang bermasalah
    9.    Faktor internal siswa yang meliputi faktor psikologis yang sedang bermasalah
    10.  Sikap siswa yang kurang mendukung pelaksanaan pembelajaran yang efektif
    11.  Siswa yang tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat
    12.  Tidak adanya sifat yang positif dan kreatif di dalam diri siswa
    F.  Petunjuk-Petunjuk Penting dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas Implementation of Effetive Learning
    1.    Mempertimbangkan kegiatan pembelajaran dengan sungguh-sungguh
    2.    Melakukan penilaian kegiatan pembelajaran secara berkala
    3.    Menetapkan jadwal spesifik kegiatan pembelajaran
    4.    Memberikan jeda disela-sela pergantian mata pelajaran
    5.    Memiliki kemampuan mengajar yang baik di depan kelas
    6.    Memiliki kepribadian sebagai pengajar dan pendidik yang baik bagi siswa
    G.   Panduan Pelaksanaan Manajemen Kelas  Implementation of Effetive Learning
    1.   Untuk setiap materi pelajaran yang diajarkan, guru harus berfokus membantu siswa dalam memperluas pengetahuan dan menerima umpan balik mengenai materi pelajaran yang dipelajari.
    2.  Setiap kali guru mengajar, harus meliputi empat tahapan dasar dalam mengajar yaitu pengembangan konten, diskusi, pengulangan atau penguatan dan umpan balik
    3.    Sebelum beralih topik materi pelajaran, guru harus melakukan resitasi seefektif mungkin.
    4.  Setiap kali kegiatan belajar-mengajar digelar di dalam kelas, guru harus senantiasa memberikan motivasi kepada siswa agar giat dalam mempelajari materi pelajaran yang diajarkan.
    5.    Ciptakan suasana yang demokratif didalam kelas.
    6.    Setiap kali mengajar, guru harus menggunakan metode-metode mengajar yang bervariasi.
    7.  Guru harus menumbuhkan interaksi belajar dengan siswa, dalam artian memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari sendiri jawaban dari segala tugas-tugas yang guru berikan dan bertanya langsung seputar kebenarannya.
    8.  Guru diharuskan mengatur kegiatan pembelajaran setiap kali mengajarkan materi pelajaran dengan urutan yaitu resitasi, pengembangkan pemahaman materi pelajaran, pembagian tugas, pembentukan kelompok belajar.
    9.  Apabila guru mendapatkan jatah waktu mengajar materi pelajaran yang lebih lama dari pada biasanya, guru boleh menggunakan urutan kegiatan pembelajaran sebagai berikut yaitu resitasi, pengembangan pemahaman materi pelajaran, pemberian tugas singkat yang langsung dikoreksi, pembahasan tugas dan pengembangan pemahaman materi pelajaran, pemberian tugas singkat yang langsung dikoreksi, peembentukan kelompok belajar.

    V. Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    A.   Latar Belakang Diperlukannya Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    Manajemen kelas ini merupakan salah satu manajemen kelas yang bisa diandalkan untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait materi pelajaran. Difungsikan untuk menunjang kemampuan siswa dalam belajar.
    B.   Pengertian Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    Secara umum diartikan sebagai serangkaian usaha pengelolaan kelas yang memfokuskan pada pembentukan kolompok belajar.
    C.   Tujuan Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    Tujuan utama diterapkannya manajemen kelas ini adalah untuk memudahkan dan memaksimalkan pencapaian tujuan manajemen-manajemen kelas yang sudah dilaksanakan di dalam kelas.
    D.   Fokus Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    1.    Meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama dengan baik
    2.    Meningkatkan mental siswa dalam proses berpikir dan belajar secara mandiri
    3.    Meningkatkan mental siswa dalam membentuk sikap dan kepribadian sebagai individu yang tangguh dan teguh pendirian
    4.    Meningkatkan prestasi belajar dan kemampuan berkomunikasi yang baik
    5.    Meningkatkan day kreasi, daya kreatifitas, serta daya kritis siswa
    E.   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    1.    Sikap fanatisme dan egoism
    2.    Adanya profokator
    3.    Tipe kepribadian siswa
    4.    Guru yang tidak bisa mengendalikan cara kerja kelompok
    5.    Adanya siswa yang gaduh, asyik ngobrol dengan siswa lain
    6.    Adanya sekumpulan siswa yang mendominasi kelompok
    7.    Lingkungan kelompok yang tidak membuat siswa nyaman berdiskusi
    8.    Citra guru yang buruk menurut pandangan siswa
    9.    Kondisi lingkungan belajar yang tidak mendukung
    10. Faktor instrumental yang menghambat proses belajar
    11. Guru yang tidak dapat memberikan kontribusi positif
    12. Guru yang tidak menguasai materi
    13. Guru yang kurang memberikan bantuan kepada kelompok siswa yang mengalami kesulitan
    14. Tingkat inteligensi siswa yang rendah
    F.    Petunjuk-Petunjuk Penting dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas Study Groups (Kelompok Belajar)
    1.    Mengatur ruangan yang memudahkan guru memperhatikan siswa
    2.    Membentuk kelompok pasangan siswa terlebih dahulu sebelum membentuk kelompok belajar jenis kooperatif
    3.    Menetapkan prosedur bicara dan pergerakan siswa didalam kelompok
    4.    Dilarang mengubah kelompok belajar siswa ditengah-tengah aktivitas pembelajaran
    5.    Menyediakan waktu istirahat bagi siswa sebelum membentuk kelompok belajar
    6.    Mendorong munculnya semangat kebersamaan dan solidaritas didalam kelompok
    7.    Meningkatkan pertanggungjawaban individual
    G.   Panduan Pelaksanaan Manajemen Kelas  Study Groups (Kelompok Belajar)
    1.    Kelompok kooperatif kecil
    2.    Kelompok kooperatif heterogen
    3.    Kelompok pasangan siswa


    Ragam Strategi Pengajaran Efektif
    Strategi Pengajaran Ekspositori
    A.   Pendahuluan
    Strategi pengajaran ini merupakan strategi pengajaran yang menekankan pada proses yang menekankan pada proses penyampaian materi pelajaran melalui media ceramah dengan sedetail-detailnya, agar siswa dapat menyerap dan menguasai materi pelajaran yang disampaikan secara maksimal.
    B.   Ruang Lingkup Strategi Pengajaran Ekspositori
    1.    Keterampilan-keterampilan yang dibangun dari strategi pengajaran ekspositori
    2.    Gaya belajar yang dilibatkan dalam strategi pengajaran ekspositoris
    3.    Efektivitas strategi pengajaran ekspositori terhadap hasil belajar siswa
    4.    Aspek-aspek pemahaman yang dikembangkan melalui strategi pengjaran ekspositoris
    5.    Prinsip pengajaran ekspositoris
    6.    Kelebihan penerapan strategi pengajaran ekspositori
    7.    Kekurangan penerapan strategi pengajran ekspositori
    C.   Jangkauan Keefektifan Strategi Pengajaran Ekspositori
    Sejauh ini strategi ekspositori sangat efektif diterapkan dalam mengajar siswa yang memiliki konsep diri rendah. Secara umum, konsep diri rendah dapat diartikan sebagai pemikiran atau perasaan yang menganggap diri sendiri lebih buruk dari pada orang lain.
    D.   Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pengajaran Ekspositori
    1.    Permulaan pengajaran
    2.    Presentasi materi pelajaran
    3.    Pembahasan Lanjutan
    4.    Penyimpulan inti pelajaran
    5.    Pengaplikasikan atau praktik

    Strategi Pengajaran Kooperatif
    A.   Pendahuluan
    Strategi pengajaran kooperatif merupakan salah satu strategi yang dikembangkan dari teori belajar yang dimaksudkan untuk membangun kemampuan siswa dalam bekerja sama dengan siswa-siswa lainnya dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan. Strategi pengajaran ini sering dikenal dengan instilah pengajaran system kelompok atau tim, yang terdiri dari dua sampai tujuh siswa yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik dan jenis kelamin yang berbeda-beda.
    B.   Ruang Lingkup Strategi Pengajaran Kooperatif
    1.    Ketampilan-ketrampilan yang dibangun dari strategi pengajaran kooperatif
    2.    Gaya belajar yang dilibatkan dalam strategi pengajaran kooperatif
    3.    Efektivitas strategi pengajaran kooperatif terhadap hasil belajar
    4.    Aspek-aspek pemahaman yang dikembangkan melalui strategi kooperatif
    5.    Prinsip pengajararan kooperatif
    6.    Kelebihan penerapan strategi pengajaran kooperatif
    7.    Kekurangan penerapan strategi kooperatif
    C.   Jangkauan Keefektifan Strategi Pengajaran Kooperatif
    Jangkauan keefektifan strategi pengajar kooperatif berbanding terbalik dengan jangkauan keefektifan strategi pengajaran ekspositori. Penerapan strategi pengajaran kooperatif lebih menekankan keberhasilan pembelajaran di pihak siswa, sementara guru hanya ditugaskan untuk mengawasi jalannya proses pembelajaran.
    D.   Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pengajaran Kooperatif
    1.    Perencanaan pengajaran
    2.    Permulaan pengajaran
    3.    Pengorganisasian kelompok belajar
    4.    Pembimbingan kelompok belajar
    5.    Presentasi materi pelajaran
    6.    Evaluasi pemahaman
    7.    Pemberian penghargaan

    Strategi Pengajaran Kontekstual
    A.   Pendahuluan
    Pengajaran merupakan permasalahan yang kompleks karena mencangkup banyak hal, antara lain kurikulum belajar, kemampuan guru dalam mengajar, keaktifan siswa dan kelas yang baik.
    Dalam perjalanannya, strategi pengajaran kontekstual dikembangkan oleh The Washington Satate Consurtium for Contextual Teaching and Learning yang bekerja sama dengan sebelas perguruan tinggi, dua puluh sekolah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Kerja sama ini menghasilkan sebuah kegiatan yang bergerak dalam bidang pelatihan kompetensi guru, yang tugasnya antara lain membantu para guru dari berbagai propinsi di Indonesia untuk mempelajari strategi pengajaran kontekstual di Amerika Serikat.
    B.   Ruang Lingkup Strategi Pengajaran Kontekstual
    1.    Ketrampilan-ketrampilan yang dibangun dari strategi pengajaran kontekstual
    2.    Gaya belajar yang dilibatkan dalam strategi pengajar kontekstual
    3.    Efektifitas strategis pengajaran kontekstual terhadap hasil belajar
    4.    Aspek-aspek pemahaman yang dikembangkan melalui strategi pengajaran kontekstual
    5.    Prinsip pengajaran kontekstual
    6.    Kelebihan penerapan strategi pengajaran kontekstual
    7.    Kekurangan penerapan strategi pengajaran kontekstual
    C.   Jangkauan Keefektifan Strategi Pengajaran Kontekstual
    Menurut teori pemahaman, jangkauan keefektifan strategi kontekstual terletak pada kemampuan guru dalam menerapkan strategi pengajaran dengan mengadopsi lima system yang dirumuskan oleh Center of Occupational Research and Development (CORD) yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, transferring.
    D.   Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pengajaran Kontekstual
    1.    Pengembangan pemikiran
    2.    Pelaksanaan Kegiatan Inquiry
    3.    Pengembangan Pemahaman
    4.    Pembentukan kelompok belajar
    5.    Korelasi Materi Pelajaran
    6.    Penilaian Autentik


    Strategi Pengajaran Bebasis Pemecahan Masalah
    A.   Pendahuluan
    Strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah dapat diartikan sebagai serangkaian aktivitas mengajar yang menekankan pada proses pemecahan masalah yang dihadapi dengan penyelidikan autentik.
    Akhir-akhir ini, strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah sudah mulai banyak diterapkan di berbagai sekolah yang ada di wilayah nusantara, terutama sekolah-sekolah menengah atas.
    B.   Ruang Lingkup Strategi Pengajaran Bebasis  Pemecahan Masalah
    1.    Ketrampilan-ketrampilan yang dibangun dari strategi pengajaran berbasisi pemecahan masalah
    2.    Gaya belajar yang dilibatkan dalam strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah
    3.    Efektivitas strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah terhadap hasil belajar siswa
    4.    Aspek-aspek pemahaman yang dikembangkan melalui strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah
    5.    Prinsip strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah
    6.    Kelebihan penerapan strategi pengajaran berbasis pemecahan masalah
    C.   Jangkauan Keefektifan Strategi Pengajaran  Bebasis Pemecahan Masalah
    Hal ini terletak pada kemampuan guru dalam berperan sebagai pemberi tugas, pembimbing kegiatan siswa, dan penuntun arah belajar siswa. Maka dari itu, jika guru ingin menerapkan strategi pengajaran ini, diharapkan guru dapat memosisikan diri dengan benar sehingga tidak menyimpang dari peranan tersebut. Ketika guru memposisikan diri seperti ini, secara otomatis guru telah membantu menjaga keefektifan strategi pengajaran yang sudah guru terapkan, disamping memaksimalkan pencapaian tujuan pengajaran.
    D.   Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pengajaran Bebasis Pemecahan Masalah
    1.    Persiapan pemecahan masalah
    2.    Pengorganisasian siswa
    3.    Pembimbingan penyelidikan
    4.    Penyajian produk/karya
    5.    Pengevaluasian




     Sumber  :
    Jhon Afifi,  Manajemen Kelas dan Pengajaran Efektif, Diva press, 2014. 










Minggu, 13 September 2015

KONFLIK ORGANISASI



Pengertian konflik

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Perusahaan manapun pasti pernah mengalami konflik internal.  Mulai dari tingkat individu, kelompok, sampai unit. .Mulai dari derajat dan lingkup konflik yang kecil sampai yang besar. Yang relatif kecil seperti masalah adu mulut tentang pribadi antarkaryawan, sampai yang relatif besar seperti beda pandangan tentang strategi bisnis di kalangan manajemen.  Contoh lainnya dari konflik yang relatif besar yakni antara karyawan dan manajemen.  Secara kasat mata kita bisa ikuti berita sehari-hari di berbagai media. Disitu tampak konflik dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan.  Apakah hal itu karena tuntutan besarnya kompensasi, kesejahteraan, keadilan promosi karir, ataukah karena tuntutan hak asasi manusia karyawan.
   
Konflik itu sendiri merupakan proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi secara negatif. Faktor-faktor kondisi konflik (Robbins, Sthepen ,2003, Perilaku Organisasi):

  1. Harus dirasakan oleh pihak terkait
  2. Merupakan masalah persepsi
  3. Ada oposisi atau ketidakcocokan tujuan, perbedaan dalam penafsiran fakta, ketidaksepakatan pada pengharapan perilaku
  4. Interaksi negatif-bersilangan
  5. Ada peringkat konflik dari kekerasan sampai lunak.

          
Menurut Baden Eunson (Conflict Management, 2007,diadaptasi), terdapat beragam jenis konflik:

  1. Konflik vertikal yang terjadi antara tingkat hirarki,seperti antara manajemen puncak dan manajemen menengah, manajemen menengah dan penyelia, dan penyelia dan subordinasi. Bentuk konflik bisa berupa bagaimana mengalokasi sumberdaya secara optimum, mendeskripsikan tujuan, pencapaian kinerja organisasi, manajemen kompensasi dan karir.
  2. Konflik Horisontal, yang terjadi di antara orang-orang yang bekerja pada tingkat hirarki yang sama di dalam perusahaan. Contoh bentuk konflik ini adalah tentang perumusan tujuan yang tidak cocok, tentang alokasi dan efisiensi penggunaan sumberdaya, dan pemasaran.
  3. Konflik di antara staf lini, yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki tugas berbeda. Misalnya antara divisi pembelian bahan baku dan divisi keuangan. Divisi pembelian mengganggap akan efektif apabila bahan baku dibeli dalam jumlah besar dibanding sedikit-sedikit tetapi makan waktu berulang-ulang. Sementara divisi keuangan menghendaki jumlah yang lebih kecil karena terbatasnya anggaran. Misal lainnya antara divisi produksi dan divisi pemasaran. Divisi pemasaran membutuhkan produk yang beragam sesuai permintaan pasar. Sementara divisi produksi hanya mampu memproduksi jumlah produksi secara terbatas karena langkanya sumberdaya manusia yang akhli dan teknologi yang tepat.
  4. Konflik peran  berupa kesalahpahaman tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh seseorang. Konflik bisa terjadi antarkaryawan karena tidak lengkapnya uraian pekerjaan, pihak karyawan memiliki lebih dari seorang manajer, dan sistem koordinasi yang tidak jelas.       

a.    pengertian konflik menurut beberapa ahli.
Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.

Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.

Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.

Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins, 1993).

Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).

Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341).

Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito, 1995:381)
Robbin (1996: 431) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:

Pandangan tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di antara orang – orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.

Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.

Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.

Stoner dan Freeman(1989:392) membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan tradisional (Old view) dan pandangan modern (Current View):

Pandangan tradisional. Pandangan tradisional menganggap bahwa konflik dapat dihindari. Hal ini disebabkan konflik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan yang optimal. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang optimal, konflik harus dihilangkan. Konflik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang dan memimpin organisasi. Dikarenakan kesalahan ini, manajer sebagai pihak manajemen bertugas meminimalisasikan konflik.

Pandangan modern. Konflik tidak dapat dihindari. Hal ini disebabkan banyak faktor, antara lain struktur organisasi, perbedaan tujuan, persepsi, nilai – nilai, dan sebagainya. Konflik dapat mengurangi kinerja organisasi dalam berbagai tingkatan. Jika terjadi konflik, manajer sebagai pihak manajemen bertugas mengelola konflik sehingga tercipta kinerja yang optimal untuk mencapai tujuan bersama.

Selain pandangan menurut Robbin dan Stoner dan Freeman, konflik dipahami berdasarkan dua sudut pandang, yaitu: tradisional dan kontemporer (Myers, 1993:234)

Dalam pandangan tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus dihindari. Pandangan ini sangat menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. Bahkan seringkali konflik dikaitkan dengan kemarahan, agresivitas, dan pertentangan baik secara fisik maupun dengan kata-kata kasar. Apabila telah terjadi konflik, pasti akan menimbulkan sikap emosi dari tiap orang di kelompok atau organisasi itu sehingga akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Oleh karena itu, menurut pandangan tradisional, konflik haruslah dihindari.

Pandangan kontemporer mengenai konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia. Namun, yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konflik, tapi bagaimana menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan merusak tujuan organisasi. Konflik dianggap sebagai suatu hal yang wajar di dalam organisasi. Konflik bukan dijadikan suatu hal yang destruktif, melainkan harus dijadikan suatu hal konstruktif untuk membangun organisasi tersebut, misalnnya bagaimana cara peningkatan kinerja organisa

B. penyebab konflik
Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. 

Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. 

Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

c . Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

d. jenis-jenis konflik

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :

  1. Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
  2. Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
  3. Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
  4. Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
  5. Konflik antar atau tidak antar agama
  6. Konflik antar politik.
  7. konflik individu dengan kelompok

e.Akibat konflik

Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
  • meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.

  • keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
  • perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
  • kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
  • dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.
Cara mengatasi konflik dalam perusahaaan

Didalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan konflik antar individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah kominikasi yang kurang baik. Sehingga cara mengatasi konflik dalam perusahaan harus benar-benar dipahami management inti dari perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul.

Permasalahan atau konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan yang terjadi karena masalah komunikasi harus di antisipasi dengan baik dan dengan system yang terstruktur. Karena jika masalah komunikasi antara atasan dan bawahan terjadi bias-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demo.

Sehingga untuk mensiasati masalah ini bias dilakukan dengan berbagai cara.

1. Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker.

2. Buat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancer dan harmonis, misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan mengurangi masalah di lapangan

3. Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan masalah dalam hal komunikasi

Biasanya masalah timbul karena lingkungan yang kurang kondusif di suatu perusahaan. Misalnya, kondisi cahaya yang kurang, atau sirkulasi yang kurang baik, dan temperature ruangan yang tinggi sangat mungkin untuk meningkatkan emosi seseorang, jadi kondisi dari lingkungan juga harus di perhatikan

Konflik dalam perusahaan juga sering terjadi antar karyawan, hal ini biasanya terjadi karena masalah diluar perusahaan, misalnya tersinggung karena ejekan, masalah ide yang dicuri, dan senioritas. Perusahaan yang baik harus bisa menghilangkan masalah senioritas dalam perusahaan. Hal ini dapat meminimalisir masalah yang akan timbul, kerena dengan suasanya yang harmonis dan akrab maka masalah akan sulit untuk muncul.

 Faktor yang mendasari konflik buruh
Problem perburuhan ini sebenarnya terjadi karena kebebasan kepemilikan dan kebebasan bekerja yang menjadi pilar sistem kapitalisme. Dengan kebebasan ini, seorang pengusaha yang senantiasa berorientasi keuntungan dianggap sah mengeksploitasi tenaga buruh. Dengan kebebasan ini pula, kaum buruh diberi ruang kebebasan mengekspresikan tuntutannya akan peningkatan kesejahteraan dengan memanfaatkan serikat pekerja, melakukan sejumlah intimidasi bahkan tindakan anarkis sekalipun.

Sedangkan dasar yang memicu konflik buruh dan pengusaha sendiri, disebabkan oleh kesalahan tolok ukur yang digunakan untuk menentukan gaji buruh, yaitu living cost (biaya hidup) terendah. Living cost inilah yang digunakan untuk menentukan kelayakan gaji buruh. Maka tidak heran namanya Upah Minimum. Dengan kata lain, para buruh tidak mendapatkan gaji mereka yang sesungguhnya, karena mereka hanya mendapatkan sesuatu yang minimum sekedar untuk mempertahankan hidup mereka. Konsekuensinya kemudian adalah terjadilah eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik perusahaan terhadap kaum buruh. Dampak dari eksploitasi inilah yang kemudian memicu lahirnya gagasan Sosialisme tentang perlunya pembatasan waktu kerja, upah buruh, jaminan sosial, dan sebagainya.

Jadi, masalah perburuhan akan selalu ada selama relasi antara buruh dan pengusaha dibangun berdasarkan sistem ini. Meski mereka telah melakukan sejumlah tambal sulam untuk menyumbat kemarahan kaum buruh dan menghadapi provokasi kaum Sosialis, namun tambal sulam ini secara natural hanya sekedar untuk mempertahankan sistem Kapitalisme. Tetapi, jika diklaim bahwa tambal sulam ini telah berhasil memecahkan masalah perburuhan, jelas hanya klaim bohong dan kosong.

Dalam perspektif politik ekonomi, kaum buruh selalu berada dalam kungkungan nasib yang menyedihkan. Mereka berada dalam kekuasaan dan kendali pemilik modal atau majikan. Di balik tenaga mereka yang mengalami eksploitasi luar biasa, upah yang mereka nikmati kerap tidak cukup untuk (sekadar) memenuhi kebutuhan pokok. Bahkan, tidak jarang upah hasil kerja mereka sebulan penuh hanya cukup untuk bertahan hidup selama 10 hari. Di sisi lain, mereka pun selalu berada dalam ancaman bayang-bayang PHK (pemutusan hubungan kerja) secara sepihak dengan pesangon yang ala kadarnya.

Gambaran di atas merupakan realitas yang tidak bisa dihindarkan kala paradigma ekonomi yang digunakan ialah paradigma industrial-kapitalistik. Dalam paradigma industrial-kapitalistik ini, pemilik modal (majikan) cenderung memposisikan buruh (pekerja) sebagai bagian dari faktor produksi. Buruh kerapkali ditekan untuk bekerja tanpa mengenal lelah (tak ubahnya sebuah mesin produksi), tetapi upah yang dibayarkan sangat rendah. Hal ini tidak lepas dari prinsip ekonomi kapitalis itu sendiri bahwa untuk mendapatkan profit (untung) sebesar-besarnya, maka biaya produksi harus ditekan sekecil-kecilnya.

Dalam lingkungan negara yang menganut sistem sekuler-kapitalisme, realitas semacam itu adalah sebuah keniscayaan. Ada beberapa faktor yang dijadikan sebagai alat pembenar (legitimator) berkaitan dengan eksploitasi buruh. Di antaranya:
  1. Tenaga buruh disamakan dengan faktor-faktor produksi lainnya.
  2. Nilai buruh disamakan dengan dinilai barang.
  3. Keberhargaan (martabat) buruh tidak lebih terhormat daripada alat/faktor produksi lainnya.
Karena itu, tidak aneh bila para majikan yang berwatak kapitalis terus berburu tempat-tempat investasi untuk mengembangkan modal (memupuk kekayaan?) di daerah-daerah yang taraf kehidupan masyarakatnya masih rendah. Hal ini tidak lain karena ideologi para majikan tersebut lebih bersifat sekuler-kapitalistis. Bagi mereka, keuntungan sebanyak-banyaknya merupakan tujuan, meski untuk itu harus melanggar etika kemanusiaan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *