Rabu, 30 April 2014

Meraih Sukses Dunia Akhirat

Hakikat sukses
Sukses. Kata yang begitu akrab di telinga kita. Sebagai luapan atas kelahiran anak, kita sering mendengar oran mengatakan ”Alhamdulillah, anak saya lahir dengan sukses”, beranjak balita ucapan ini sering terlontar, “Alhamdulillah anak saya sukses diterima di TK itu”, dan seterusnya. Termasuk ketika sukses mendapatkan pekerjaan diperusahaan yang besar, ataupun ketika sukses membangun rumah dan mendapatkan mobil mewah.

Esensi kehidupan dibangun diatas definisi sukses yang sering kali berbasis pada  materi semata. Kesuksesan materi menjadi standar hidup kebanyakan manusia. Padahal, kesuksesan material akan berbahaya bagi seorang jika dibarengi dengan terjangkitnya penyakit jiwa yanbg bernama kesombongan. Biasanya penyakit kesombongan menempel dengan materialisme. Dan hampir semua manusia tak lepas dari penyakit kesombongan ini, kecuali hamba-hamba yang diselamatkan Alla.

Itulah gambaran sukses yang berkembang ditengah-tengah masyarakat saat ini. Persis seperti yang dialami pada zaman jahiliah saat Muhammad Saw. diutus menjadi rosul Saw. lebih dari 14 abad yang lalu. Ketika itu, sukses dikait-kaitkan dengan pencapaian dunia matei, seperti kemampuan bersyair, keturunan, suku, harta, takhta, dan wanita, tanpa ada sistem fitri yang mengaturnya. Semua cenderung berlandaskan hawa nafsu, bukan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual yang memadai. Itulah suskses yang dibungkus dengan kebanggan semu.

Suskses dalam pandangan Al-Qur’an bisa terlihat dari spirit ayat-ayat tesebut:
Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kutunjukkan kalian pada suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian pada azab yang pedih?. Yaitu kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad dijalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya. (QS. Al-Shaff : 10-11)
Ini adalah suatu haru yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran (iman) mereka. Bagi meraka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Alloh ridho terhadapnya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Al-Maidah : 119)

Brdasarkan wahyu dari segala sumber informasi, yakni Allah Swt., makna atau definisi sukses dari seorang anak manusia bukan hanya diukur dari pencapaian berbagai materi, pangkat dan kedudukan di dunia. Akan tetapi, sejauh mana ia berhasil manjalankan misi ibadah, dan visi kekhalifahan yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Materi dengan segala fasilitas hidup yang diciptakan Allah Swt., didunia ini hanyalah sarana untuk merealisasakian misi ibadah dan visi khalifah, bukan sebagai tujuan hidup. Tujuan hidup didunia yang fana ini adalah kejhidupan abadi diakhirat kelak. Disanalah ditentukan manusia sukses atau tidak. Saat Allah Swt., menganugerahkan kepadanya surga dan terhindar dari neraka, itulah kesuksesan sesungguhnya, yaitu kesuksesan tanpa batas.

Pimpin Keyakinan Dengan Prinsip
Sukses atau kesuksesan itu berkaitan juga dengan keyakinan kita. Keyakinan (faith) adalah seperangkat prinsip dan nilai yang sekaligus menjadi misi suci hidup kita. Dan agar lebih optimalmembantu kita meraih sukses masa sekarangdan yang akan datang, tentunya kita harus memipin dan mengarahkan keyakina itu dengan psinsip. Yang dimaksud dengan prinsip dalam konteks ini bukan sebatas teori pemikiran, melainkan narasi nyata dari optimisme kita sebagai manusia. Segala sesuatu memang harus dimulai dari dan dengan keyakinan. Keyakinan akan memberikan kekuatan dalam kehidupan kita. Karena itu, ada 3 prinsip yang harus anda yakini. Yakni, yaitu prinsip manusia, prinsip alam, dan prinsip Tuhan.

Prinsip manusia akan mengajak memahami pilihan-pilihan dan membantu mengarahkan hidup kita untuk meraih sukses jangka panjang.

Prinsip alam akan mengajak kita melihat bagaimana bekerja dan memanfaatkan hukum alam yang ada untuk senantiasa menghadirkan keberuntungan dalam hidup. Alam memiliki seperangkat hukum yang mengikat makhluk di dalamnya. Hukum kekekalam enegi menjamin bahwa tidak ada energi di dunia ini yang sia-sia. Kita akan mendapat hasil yang sama dengan usaha yang kita lakukan.

Adapun dalam prinsip Tuhan, kita akan diajak kaitan erat antara Tuhan dan makhluk-Nya serta bagaimana bisa mengakses energi Tuhan untuk memperoleh kekuatan tanpa batas, sehingga kita menjadi orang yang berprestasi dan memiliki kebermanfaatan yang tinggi bagi lingkungan kita.

Ketiga prinsip keyakinan tadi pada gilirannya akan memberikan motivasi pada dirikita untuk bisa lebih berkembang. Bahkan spirit tiga prinsip keyakinan tadi akan terus menjadi jaminan terhadap kebersehajaan mental dan sosial kita. Dengan keyakinan yang rasional dan berkualitas, seluruh aktifitas hidup kita akan menjadi inspirasi terbaik bagi lingkungan kita. Itulah kerja yang sungguh-sungguh. Dan Al-Qur’an telah menegaskan bahwa siapa saja yang bekerja dengan penuh keyakinan (keusngguhan), maka ia akan bertemu dengan Tuhannya.

Prinsip Becermin untuk Manajemen Diri
Manusia sebagai makhluk Allah Swt., yang ditakdirkan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dibekali keunikan-keunikan dibanding dengan makhluk lainnya. Karea itu, pengetahuan akan diri merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan kapasitas dirinya didalam kehidupan ini.

Dalam konteks etika sosial, misalnya, pengetahuan akan diri sesuatu yang sangat dibutuhkan. Kalau kita sakit ketika dipukul, jangan memukul orang lain. Kalau kita tidak suka dikhianati, jangan mengkhianati orang lain.
Begitulah pelajaran akan diri sendiri menjadi sangat penting dalam hidup dan kehidupan ini. Diri mita adalah cermin bai orang lainm, begitu juga sebaliknya. Tengggang rasa, empati, dan merasakan penderitaan orang lain merupakan bukti bahwa kesadaran diri kita semakin meluas. Sesama muslim, bahkan sesama manusia adalah ibarat satu tubuh. Ketika yang lain sakit, tentunya kitapun merasakannya.

Para CEO perusahaan-perusahaan besar, baik lokal maupun multinasional, merupakan orang yang selalu berusaha mengenal dirinya. Sekali dia lupa dirinya, maka tak lama lagi kariernya akan tenggelam. Mereka mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya, baik potensi yang berasal dari tubuh, akal, maupun jiwanya.
Proses pembacaan diri harus dilakukan dalam kerangka untuk pencapaian masa depan yang sukses. Pembacaan diri harus dilakukan sebelum menentukan visi yang akan diraih, sehingga impian yang ada bukan sekedar angan-angan kosong, melainkan berpijak pada kemampuan diri yang bisa terus dikembangkan.
Minimal ada dua tahapan dalam proses pembacaan diri. Pertama: membaca diri sebelum menentukan target dan impian yang akan dicapai. Kedua: membaca diri ketika sedang menjalani proses pencapaian taget itu sendiri.

Self Leadership Berbasis Quranic Spiritual Commitment
Membangun budaya kepemimpinan berbasis spiritualitas Al-Qur’an, setidaknya bisa ditransformasikan melalui semangat ayat-ayat berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang (1) membaca kitab Allah, (2) mendirikan sholat, (3) menfkahkan dari sebagian yang telah kami rizqikan kepada mereka, baik secara sembunyi atau terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah merugi. (QS. Al-Fathir [35]:29).

Spirit ayat ini akan malendasi kualita kerja-kerja sosial dalam kehidupan. Semangat ayat ini menjadi bukti bahwa manusia memang bukan makhluk yang hanya memperkuat nialai vertikalitasnya, tetapi ia juga harus mampu melejitkan niali horizontalnya. Sebab mengingkari syukur kepada manusia, menurut agama adalah ingkar juga kepada Tuhannya.

Gambar berikut ini sebagai salah satu upaya melukiskan kaitan dasar spiritualitas dalam kehidupan.

Self Leadership
Membaca Kitab Allah                                 Self Development        
Mendirikan Sholat                                      Self Conciousness
       Menafkahkan Sebagian Rizki                  Self Contribution
  • 1.    Membaca Kitab Allah

Membaca kitab Allah Swt., merupakan aktifitas yang bukan sekedar memahami makna lahir dari teks-teks yang ada. Kitab Allah Swt., baik yang tertulis (ayat-ayat qauliyyah)  maupun yang berupa ayat semesta (kauniyyah) harus kita kaji dan dalami untuk proses kehidupan. Pembacaan atas kitab Allah Swt., menjadi sangat wajib karena disanalah lautan ilmu bisa kita dapatkan. Kita bisa merenungkan bahwa didalam kitab-Nya semua peroslan sudah tercakup.
  • 2.    Mendirikan Sholat

Setelah kita membaca kitab Allah Swt., perintah yang selanjutnya adalah mendirikan sholat. Mendirikan sholat mempunyai makna filosofis bahwa ia bukan ritual belaka, melainkan bagaimana sholat bisa terimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan dalam keseharian.
Sholat merupakan latihan diri untuk terus menerus mengasah jiwa dan ruh kita agar bersih terang benderang, sehingga bisa tersingkap bahwa diri kita yang sebenarnya adalah makhluk spiritual. Makna kesadaran terdalam mendirikan sholat inilah yang saya sebut dalam gambar tadi sebagai proses self conciousness (kesadaran diri).
  • 3.    Menafkahkan Sebagian Rizqi Allah Swt.

Perintah ketiga adalah menafkahkan sebagian rizqi Allah Swt., kita harus sadar bahwa pada hakikatnya, kekayaan dan rizqi Allah Swt., yang dikaruniakan kepada kita dalah milik Dia semata. Allah menitipkannya agar kita sebarkan kepada mereka yang berhak. Karenanya, proses yang ketiga ini saya sebut sebagai self contribution (kontribusi diri).

Panduan Manajemen Alhamdulillah

Strategi 1: Self Conciousness

Menjadi Manusia Berkesadaran: Ulul Albab
Salah satu ungkapan Al-Qur’an berkaitan dengan karaker manusia yang paling menggambarkan sinergi antara kompetensi dan akhlak terpuji adalah Karakter Ulul Albab. Karakter ini sama sekali tidak dilekatkan oleh Al-Qur’an kepada makhluk selain manusia, karena ia merupakan karakter khas khlaifah Tuhan dimuka bumi. 
Firman Allah Swt., seungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ulil albab) (yaitu) orang-oranbg yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran [3]: 190-191).

Dari ayat ini jelaslah bahwa Ulul Albab adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Tuhan dalam keadaan apapun, baik ketika senang maupun susah.selain itu, mereka juga senantiasa negoptimalkan akal budinya untuk mengamati, memikirkan, dan menelaah alam semesta ciptaan Tuhan, serta mampu memahami bahwa alam semesta itu tidak acak-acakan, tetapi teratur sesuai Sunnatullah. Gambaran ini menunjukan bahwa Ulul Albab adalah pribadi-pribadi yang mendapatkan dua karunia sekaligus, yaitu kecerdasan  dan keimanan atau karunia pikir dan karunia zikir.

Dalam tataran psikologi modern, Ulul Albab adalah pribadi-pribadi beriman yang mampu memfungsikan secara optimal potensi-potensi rasional (IQ), emosional (SQ). Mereka tidak saja mamou bersikap dan berpikir empiris, tetapi juga transendental serta mampu mewujudkan sebaik-baiknya hubungan dengan Tuhan hablun min Allah), hubungan antar pribadi (hablum min al-nas) termasuk hubungan dengan diri sendiri serta kepada alam sekitar.

Tidak Ada Kebetulan
Dalam sehari-hari kita sering kali menjumpai atau mengalami berbagai peristiwa yang seolah-olah itu merupakan sebuah kebetulan. Misalkan, tiba-tiba dalam perjalanan dinas kita bertemu dengan sahabat lama yan bertahun-tahun tidak ketemu, atau mendadak mendapat promosi jabatan tertentu tanpa disangka-sangka sebelumnya.

Kalau kita menyadari kebesaran dang keagungan-Nya, sebenarnya peristiwa-peristiwa yang seolah-olah kebetulan tersebut sejatinya “bukan kebetulan”. Kita harus mengimani bahwa hal itu memang skenario besar Tuhan dalam kehidupan ini. Sesungguhnya  Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Persoalan yang mengemuka adalah pesoalan-pesoalann yang muncul secara “kebetulan” itu membuat kita merasa tidak nyata. Ketika seperti inilah kita perlu mengedepankan 2 hal secara instan: ikhlas dan berbaik sangka. Melalui komitmen keikhlasan, kita akan lapang dada dan berprasangka baik kepada Allah atas apa yang terjadi dan kita alami. Sebab, Allah pasti Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Kalau sudah sampai pada tahap ikhlas, kita tidak akan menganggap semua peristiwa sebagai sebuah kebetulan. Semua adalah rencana Allah untuk hamba-hamba-Nya yang sadar, dan semua merupakan pesan Allah yang harus kita baca.

Ketika hati telah terbuka, boleh jadi peristiwa-peristiwa yang kita sebut sebagai kebetulan itu justru jawaban dari isyarat Allah. Pada tahap inilah kita akan berkata dengan sepenuh kesadaran, sebagaimana ungkapan Al-Qur’an: “Robbana maa kholaqta haadzaa baathilaa” Wahai Allah, tidak ada ciptaan-Mu yang sia-sia.

Rasa Berlimpah
Kemampuan atau kapasitas mental yang diaktualisasikan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan berpikir “menang, menang, dan menang” dalam menjalin hubungan dengan orang lain. “Menang” disni tidak dapat diartikan sebagai perilaku gampang menyikat dan mengalahkan orang lain dengan seenaknya. Istilah menang ini berorientasi pada aktualisasi sikap positif dan empatik dalam diri ketika bersentuhan langsung dengan apa yang ada diluar diri kita, termasuk kerabat dan mitra kerja. Itulah yang dimaksud dengan mentalitas berlimpah (sense of abudance).

Pibadi yang memiliki rasa berlimpah akan melihat setiap kejadian sebagai peluang untuk memperbaiki diri. Sering kali, dalam pekerjaan,kita mendapat sumber daya yang terbatas. Mentalitas berlipah akan berkatan, “Alhamdulillah, anggaran terbatas, waktu mendesak, berarti kita harus lebih kreatif”. Atau, ketika menghadapi bos yang sulit, pribadi berlimpah akan menyikapi dengan perkataan, “Alhamdulillah ini kesempatan untuk belajar sabar dan mengasah keterampilan menjual”. Pribadi berlimpah hanya memiliki energi positif dan tidak ada tempat untuk energi negatif mengelih dan menyalahkan. Mentalitas berlimpah seperti itu akan menghasilkan karakter kepribadian berprinsip.

Memilih Respons Terbaik
Kita harus memilih sikap kita. Sikap terbaiklah yang harus kita pilih. Yakni, bagaimana kita selalu menjadikan pengalaman dan pengetahuan hidup untuk terus menerus memperbaiki kualitas diri kita. Inlah yabng mengantarkan kita menjadi pribadi yang unggul. Tidak pernah berkelu kesah pada diri sendiri, orang lain, atau bahka kepada Allah Swt. sekalipun kesalahan, kegagalan, penderitaan dan sejenisnya senantias ditempatkan sebagai ujian mengasah ketajaman hati dan kebesaran jiwa dalam memaksimalkan dinamika hidup.

Sikap kita mencerminkan bagaimana pola pikir dan kesadaran yang kita miliki. Dengan mengembil sikap yang terbaik dala hidup kesadaran dan pengetahuan kitapun akan memperoleh umpan balik berupa hkmah yang terus berlimpah dalam kehidupan ini.

Bersandar Hanya Kepada Allah
Ketika manusia dikaruniai akal dan hati, tentu akan sampai pada suat kesimpulan bahwa diri kita ini sebenarnya fana. Sebagai makhluk yang fana tentunya kita akan tetap bergantung kepada Tuhan Yang Mahakekal, bukan bergantung kepada orang lain. Kita harus selalu menyandarkan diri kepada Allah Swt., karena kita bukan apa-apa ditengah-tengah hamparan semesta yang luas ini. Kita tak lebuh percikan kecil dari potensi yang Allah hidangkan di muka bumi.

Ketika kita bersandar secara total kepada-Nya, maka Dia yang akan menggerakan seluruh kehidupan kita. Inilah salah satu kunci sukses manusia baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan di akhirat kelak.

Memungut  Hikah Dari Semua Peristiwa
Ketika kita menyadari bahwa setiap peristiwa yang datang kepada kita asalnya dari Allah Swt., dan akan kembali kepadaNya, hati ini sebenarnya menjadi lapang. Kita tidak mempunyai beban apapun, karena kjita sadar bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah didalamnya. Bukan peristiwa yang mengubah seseorang , melainkan orang tersebut yang mengubah dirinya dengan mengambil suatu pelajaran dari kejadian itu.

Benar hal itu sering kali kita praktikan, tetapi kita harus terus belajar untuk bisa berma’rifat kepada Allah sehingga segala sesuatu bisa kita jalani dengan suka cita. Setiap detik kita dilimpahi hkmah. Ilmupun kita bertambah. Dan ketika kita mengeluh atas setiap paristiwa yang dialami, kita sendirilah yang menghijab datangnya hikmah yang sebenarnya berlimpah ruah dalam kehidupan ini.

Strategi 2: Self-Development (pengembangan Diri)

Be Proactive: Sebagai Agen dan Aktor Perubahan
Pribadi unggul adalah orang yang terus menerus mengambil peran dalam setiap kesempatan dimanapun dan apapun posisinya. Ia bukanlah objek yang terombang – ambing gelombang perubahan yang terjadi di lingkungannya. Ia mampu menjadi subjek perubahan.

Dalam lingkungan kelompoknyam, ia  mampu bergerak sebagai inisiator: agen dan aktor perubahan. Ia juga proaktif didalam meberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang ada. Ia aktif sebagai pemecah masalah (problem solver), bukan malah menjadi sumber masalah (problem makera). Inilah bukti bahwa adanya kualitas pengembangan diri dalam kehidupan seseorang.

4K: Komitmen, Kompeten, Konsisten, dan Konsekuen
Ketika seseorang ingin sukses dalam pengembangan dirinya, baik dalam persoalan bisnis ataupun lainnya, ia harus menjalankan 4K ini.
  1.    Komitmen mengandung pengertian bahwa bisnis (misalnya) bukan haya dipertanggungjawabkan pengelolaannya, namun juga harus mempertanggungjawabkan.
  2.    Kompeten seseorang harus mempunyai kemampuan dan keunggulan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang sedang ia geluti.
  3.       Konsisten seseorang harus fokus terhadap bidang pekerjaan yang sedang digarapnya.
  4.      Konsekuen dalam setiap pekerjaan kita harus siap dengan resiko yang nantinya akan kita temui baik dalam kondisi menguntungkan mauoun kondisi merugikan.


Menjadi Pendaki : Ikhtiar Tanpa Henti
Pendakian sebuah tujuan merupakan ikhtiar yang tiada henti dalam berbagai persoalan kehidupan. Mereka yang bermental pendaki akan selalu menjadikan segala rintangannya sebagai pendorong untuk mencapai kesuksesan dalam segala hal, terutama tujuan dan cita-citanya.

Proses pendakian memang akan dikacaukan oleh berbagai jalan penyelesaian yang beragam. Tapi percayalah, ketika sudah mantap dan teguh dan mantap dalam usaha mencapai visi, kita akan lebih fokus dalam memilih jalan mana yang bisa menghantarkan pencapaian cita-cita itu dengan benar.

Strategi 3 : Self-Contribution

Manusia Bernilai Tambah
Kalau kita renungkan secara mendalam, Tuhan yang Maha Pengasih berkehendak baik bagi kita. Semua bergantung kepada kita untuk meraih dan menikmatinya atau hanya berhenrti ditengah jalan. Seorang yang sukses adalah kalau ia berhasil membawa nilai tambah bagi dirinya sendiri dan juga berhasil membawa niali tambah bagi lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya, dengan makhluk hidup lainnya, bahkan dengan benda mati sekalipun.

Mereka yang sukses dan signifikan, adalah orang-orang yang pandai dan cerdas dalam memnfaatkan lingkungan secara fokus. Prinsip dasar hidup mereka adalah bersosialisasi membangun jejaring.

Team Player & Solution Finder
Kita tidak bisa menganggap bahwa suksesnya sebuah pekerjaan adalah hasilkerja keras kita sendiri. Semua pihak mempunya andil, berapapun kecilnya, sesuai dengan bidang yang ditanganinya masing-masing. Dalam sebuah tim kerja, pribadi yang selalu berpikir sukses tim dan bukan sukses dirinya sendiri, akan semakin meningkat nilai dirinya dimata anggota tim atau anggota lainnya, begitu pula sebaliknya.

Karena itu, dalam bekerja untuk mencapai hasil kita adalah sebuah tim. Dalam sebuah tim tentunya diperluakan solideritas, rasa hormat, dan kerja sama diantara para anggotanya. Solideritas diantara anggota tim akan memberiak jalan yang lebih mulus bagi tercapainya sebuah tujuan.

Dalam sebuah tim pula, kita semestinya menjaditeam player, yaitu aktor, dan kontributor keberhasilan tim sesuai peran dan tangung jawab kita. Pada saat yang sama juga bisa memberikan dan menemukan penyelesai solusi bagi masalaha anggota tim lainnya. Penyelesai solusi adalah orang yang berikhtiar mencari solusi dari sumber manapun, tidak semata-mata dari dirinya, selama bisa menjadi jawaban terbaik bagi persoalan anggota dan timnya.

Logis Tapi Empati
Dalam upaya pencapaian tujuan, hal yang perlu dilakukan juga adalah kita bersikap logis. Maksudnya, dalam membuat rencana kerja atau tahapan-tahapan pencapaian tujuan dilakuakan dengan menggunakan logika sehat, sehingga semua hal tersebut bisa kita kontrol dalam prosesnya. Selain dengan logis, disisi lain kita harus berrempati dengan pihak lain, atau juga bawahan kita. Sebab, yang kita hadap bukan mesin yang tidak mempunyai perasaan, melainkan orang-orang yang mempunyai perasaan.

Logis tetapi juga empati merupakan sebuah langkah yang bijak dalam bersikap. Jadi, kita tetap bersikap logis tanpa harus bersikap cuek terhadap lingkungan kita. Intinya, kita tifdak bisa mengunakan kaca mata kuda. Dalam setiuap tindakan kita yang logis haruslah menjaga kesantunan, menyenangkan, membangun rasa hormat, dan menjadi solusi bagi pelanggan, bawahan, atau rekan kerja kita.

Menjadi Manusia Yang Signifikan
Manusia signifikan adalah manusia yang merasa sukses dan beruntung kalau membuat orang lain sukses. Mereka dalah orang-orang besar (great people) dan mulia. Orang-orang besar adalah mereka yang bersedia berkorban dan menunda kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak. Sukses kita hari ini sesungguhnya adalah sukses perjuangan dan pengorbanan orangtua kita,vserta orang-orang jyabng membantu di sekitar kita.

Pemimpin yang signifikan adalah pemimpin yang dapat melahirkan kader-kader pengganti yang lebih baik dari dirinya. Tidak ada jalan pintas bagi manusia signifikan. Kebesaran dan kemuliaan bukan pemberian, tetapi buah atau hasil dari proses perjalanan yang teguh dan konsisten untuk memberi manfaat dan energi positif dimanapun dia berada.

PENUTUPAN

Menyikapi Setiap Kejadian dengan Bijak
Sikap terbaik yang harus kita lakukan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah Swt., dalam segala sesuatu. Sebab, dari sikap itulah lahr motivasi dalam diri kita untuk bisa mencapai kesuksesan yang seharusnya. Berpikirlah positif bahwa segala sesuatu pasti menyimpan hikmah. Kita tidak perlu kecewa atas apa yang terjadi. Karena semua yang terjadi dalam hidup merupakan pelajaran bagi kita untuk terus mendaki kesuksesan yang menanti didepan kita.Beberapa hal yang dapat dijadikan kunci meraih sukses antara lain....:

Berilmu Sebagai Setir
Berilmu berarti harus memperbanyak pengetahuan, meningkatkan keilmuan, dan mengelaborasi pengalaman. Dengan ilmu dan penglaman, segala persoalan akan lebih mudah dicarikan jalan keluarnya. Dengan ilmu pula, berbagai antisipasi bisa kita lakukan untuk menghadapi situasi yang mungkin saja terjadi. Seseorang yang berilmu akan memiliki kemampuan untuk mengerjakan bukan hanya hal-hal yang kecil, termasuk pekerjaan yang besar.Disinilah ilmu berperan sebagai setir, yang akan mengarahkan setiap gerak langkah kita dalam meraih tujuan.

Bersyukur Sebagai Gas
Bersukur merupakan gas, yaitu media mengakselerasi motivasi dan tindakan untuk mencapai kesuksesan. Bersyukur berarti semakin mendidik diri kita untuk menjadi lebih ikhlas dan optimis dalam menggapai cita-cita. Orang yang jarang atau tidak bersyukur, berarti ia tidak mengerti dan tidak pula menghargai potensi dirinya.

Sabar Sebagai Rem

Bersabar merupakan kemampuan seseorang untuk bisa mengendalikan diri dari hasrat yang belebihan terhadap dunia, atau cobaan yang Allah berikan kepada kita. Sabar harus dijadikan rem bagi kita untuk bisa menahan keinginan berlebihan yang mungkin bisa menghancurkan jalan kesuksesan yang sedang dan akan kita rintis. Orang yang sabar adalah oran yang penuh ketelitian. Dari ketelitian dan kejelian, akan lahir kematangan. Dan dari kematangan, akan tumbuh subur keberhasilan.

Sumber : MANAJEMEN ALHAMDULILLAHIndra Utoyo, Mizan Bandung, Januari 2011142 Halaman

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *