Selasa, 03 Juli 2012

Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Ada beberapa pendapat tentang model pembelajaran. Pertama, menurut Dahlan (1990) bahwa model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. Kedua, model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman adalam melaksanakan pembelajaran di kelas (Joyce dan Weil, 1986). 

Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan model pembelajaran merupakan kerangka perencanaan pembelajaran yang menggambarkan bagaimana suatu prosedur sistematis yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan.  Jika tujuan pembelajaran yang hendak dicapai berorientasikan kepada aktifitas siswa menemukan konsep, maka guru dapat menggunakan model pembelajaran inkuiri. 

Menurut Haury, D.L (Jarret.D, 1977),  inkuiri adalah sekumpulan perilaku manusia yang dikategorikan sebagai persaingan dalam mengeksplanasi secara masuk akal fenomena-fenomena alam yang terjadi di lingkungan. Fenomena ini menimbulkan kuriositas dan hal-hal yang belum diketahui manusia. Dari pernyataan tersebut, dapat dijelaskan bahwa inkuiri merupakan sejumlah aktivitas dan keterampilan yang terfokus kepada pencarian pengetahuan yang terjadi di sekitar yang belum diketahui.

Sund dan Trowbridge (1973) membedakan pendekatan inkuiri menjadi dua bagian, yaitu pendekatan inkuiri terbimbing dan inkuiri tidak terbimbing. Dalam pendekatan inkuiri terbimbing guru mempunyai peranan lebih aktif dalam menentukan permasalahan dan mencari penyelesaiannya. Sedangkan pada inkuiri tidak terbimbing siswa lebih berperan aktif dalam mencari masalah dan penyelesaiannya. 

Model inkuiri terbimbing merupakan pendekatan instruksional, memberikan kerangka kerja, perencanaan dan implementasi berpikir dengan mengembangkan keahlian siswa dan mengakses sumber informasi secara efektif membangun pengetahuan. Model ini terencana secara seksama, benar-benar terkontrol yang bersifat instruksional dari guru memandu siswa melalui materi yang mendalam (Kuhithau dan Carol, 2006). 

Ditinjau dari variasi pendekatan inkuir, model inkuiri terbimbing memiliki cirri dimana topic pembelajaran ditentukan oleh guru, pertanyaan dan materi pembelajaran juga ditentukan oleh guru, sedangkan desain dan prosedur pembelajaran dirumuskan bersama-sama oleh guru dan siswa, selanjutnya hasil atau analisis serta kesimpulan ditentukan oleh siswa.

Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing atau latihan inkuiri berasal dari suatu keyakinan bahwa siswa memiliki kebebasan dalam belajar. Model pembelajaran ini menuntut partipasi aktif siswa dalam inkuiri (penyelidikan) ilmiah. Siswa memiliki keingintahuan dan ingin berkembang. Inkuiri terbimbing menekankan pada sifat-sifat siswa ini, yaitu memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi dan memberikan arah yang spesifik sehingga area-area baru dapat tereksplorasi dengan lebih baik.

Tujuan umum dari model inkuiri terbimbing adalah membantu siswa mengembangkan keterampilan intelektual dan keterampilan-keterampilan lainnya, seperti mengajukan pertanyaan dan menemukan (mencari) jawaban yang berawal dari keingintahuan mereka (Agung, 2009)

Model pembelajaran latihan inkuiri dikemukan oleh Richard Suchman (Jannah, 2008), ia menginginkan siswa untuk bertanya mengapa suatu peristiwa terjadi, kemudian siswa melakukan kegiatan, mencari jawaban, memproses data secara logis, sampai akhirnya siswa mengembangkan strategi pengembangan intelektual yang dapat digunakan untuk menemukan mengapa suatu fenomena bisa terjadi.

Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang berifikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan dan siswa mempunyai tinggi tidak memonopoli kegiatan oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan mengelola kelas yang bagus. 

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kuhithau dan Carol (2006), yang menjelaskan bahwa inkuiri terbimbing memiliki 6 karakateristik yaitu :
  1. Siswa belajar dengan aktif dan memikirkan sesuatu berdasarkan pengalaman
  2. Siswa belajar dengan aktif membangun apa yang telah diketahuinya
  3. Siswa mengembangkan daya piker yang lebih tinggi melalui petunjuk atau bimbingan pada proses belajar
  4. Perkembangan siswa terjadi pada serangkaian tahap
  5. Siswa memliki cara belajar yang berbeda satu sama lainnya
  6. Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan lainnya
Inkuiri terbimbing biasanya digunakan terutama bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri.. Pada tahap-tahap awal pengajaran diberikan bimbingan lebih banyak yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan pengarah agar siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru. Pertanyaan-pertanyaan pengarah selain dikemukakan langsung oleh guru juga diberikan melalui pertanyaan yang dibuat dalam LKS. 

Oleh sebab itu LKS dibuat khusus untuk membimbing siswa dalam melakukan percobaan dan menarik kesimpulan. Seperti halnya siswa SD kelas IV lebih cocok apabila diberikan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing karena mereka masih dalam tarap baru mengenal pembelajaran dengan model inkuiri ini.

Dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing, penyajian pelajaran diawali dengan penjelasan suatu peristiwa yang penuh teka-teki. Siswa secara individu akan termotivasi menyelesaikan teka-teki yang dihadapkan pada mereka dan membimbing mereka kepada suatu pencarian dan penyelidikan secara disiplin.

Tahapan Konseling Eklektik

Konseling eklektik sebenarnya tidak menganut tahapan yang spesifik. Carkhuff mengemukakan model konseling sistematik pada eklektik ini disusun menjadi enam tahap yaitu tahap eksplorasi masalah, tahap perumusan masaslah, tahap identifikasi alternative, tahap perencanaan, tahap tindakan atau komitmen, tahap penilaian dan upan balik (Gilliland,1984). Keenam tahap diatas akan dijelaskan sebagai berikut.
 
a. Tahap Eksplorasi Masalah
Pada tahap ini konselor menciptakan hubungan sebaik mungkin dengan klien, membina hubungan saling percaya, menggali kepercayaan klien lebih dalam mendengar apa yang menjadi perhatian klien, menggali pengalaman klien dan merespon isi, perasaan dan arti dari apa yang di bicarakan kien.
 
b. Tahap Perumusan Masalah
Setelah konselor mengetahui masalah klien baik yang bersifat afeksi, kognisi, maupun tingkah laku, maka konselor dan klien merumuskan dan membuat kesepakatan masalah apa yang sedang dihadapi. Jika masalahnya tidak disepakati maka perlu kembali ketahap pertama.
 
c. Tahap Identifikasi Alternatif
Konselor dan klien mengidentifikasi alternatif - alternatif pemecahan dari rumusan masalah yang telah disepakati. Alternatif yang diidentifikasi adalah yang sangat mungkin dilakukan yaitu yang tepat dan realistik. Konselor dapat membantu klien menyusun daftar alternatif, klien memiliki kebebasan untuk memlih alternatif yang ada. Dalam hal ini konselor tidak boleh menentukan alternatif yan harus di lakukan klien.
 
d. Tahap Perencanaan
Jika klien telah menetapkan pilihan dari sejumlah alternatif, selanjutya melakukan rencana tindakan. Rencana tindakan ini menyangkut apa saja yang akan dilakukan dan sebagainya. Rencana yang baik jika realistik, bertahap, tujuan setiap tahap juga jelas dan mudah dipahami oleh klien. Dengan kata lain, rencana yang dibuat bersifat tentatif sekaligus pragmatis.e. Tahap Tindakan Atau Komitmen

Tindakan berarti operasionalisasi rencana yang disusun. Konselor perlu mendorong klien untuk berkemauan melaksanakan rencana-rencana itu. Usaha klien untuk melaksanakan rencana sangat penting untuk keberhasilan konseling karena tanpa ada tindakan nyata proses konseling tidak ada artinya.
f. Tahap Penilaian Atau Umpan Balik
Konselor dan klien perlu mendapatkan umpan balik dan penilaian tentang keberhasilannya. Jika ternyata ada kegagalan maka perlu dicari apa penyebabnya dan klien harus bekerja mulai dari awalnya lagi. Mungkin diperlukan rencana-rencana baru yang lebih sesuai dengan keadaan klien dan perubahan-perubahan klien. Jika ini yang diperlukan maka konselor dan klien secara fleksibel menyusun alternatif atau rencana yang lebih tepat.

Dari tahapan-tahapan konseling eklektik diatas, penulis menyimpulkan bahwa konseling eklektik mempunyai cara kerja yang sangat bagus yang bisa disesuaikan dengan kondisi klien.

Prosedur Manajemen Kelas

a. Prosedur Manajemen Kelas yang bersifat Preventif meliputi :
 
1) Peningkatan Kesadaran Pendidik Sebagai Guru
Suatu langkah yang mendasar dalam strategi Manajemen Kelas yang bersifat preventif adalah meningkatkan kesadaran diri pendidik sebagai guru. Dalam kedudukannya sebagai guru, seorang pendidik harus sadar bahwa dirinya memiliki rasa “handharbeni“ (memiliki dengan penuh keyakinan) dan bertanggung-jawab terhadap proses pendidikan. Ia yakin bahwa apapun corak proses pendidikan yang akan terjadi terhadap siswa, semuanya akan menjadi tanggung-jawab guru sepenuhnya.
 
Sebagai seorang guru, pendidik berkewajiban mengubah pergaulannya dengan siswa sehingga pergaulan itu tidak hanya berupa interaksi biasa, tetapi merupakan interaksi pendidikan. Agar interaksi tersebut bersifat sebagai interaksi pendidikan, maka seorang guru harus dapat mewujudkan suasana kondusif yang mengundang siswa untuk ikut berperan serta dalam proses pendidikan.
 
2) Peningkatan Kesadaran Siswa
Apabila kesadaran diri pendidik sebagai seorang guru sudah ditingkatkan, langkah selanjutnya adalah berusaha meningkatkan kesadaran siswa akan kedudukan dirinya dalam proses pendidikan.
Kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam proses pendidikan ini baru akan diperoleh secara menyeluruh dan seimbang jika siswa itu menyadari akan kebutuhannya dalam proses pendidikan. Adakalanya siswa tidak dapat menahan diri untuk melakukan tindakan yang menyimpang, karena ia tidak sadar bahwa ia membutuhkan sesuatu dari proses pendidikan itu.
 
Upaya penyadaran ini menjadi tanggung-jawab setiap guru, karena dengan kesadaran siswa yang tinggi akan peranannya sebagai anggota masyarakat sekolah, akan menimbulkan suasana yang mendukung untuk melakukan Proses Belajar Mengajar.
 
3) Penampilan Sikap Guru
Penampilan sikap guru diwujudkan dalam interaksinya dengan siswa yang disajikan dengan sikap tulus dan hangat. Yang dimaksud dengan sikap tulus adalah sikap seorang guru dalam menghadapi siswa secara berterus-terang tanpa pura-pura, tetapi diikuti dengan rasa ikhlas dalam setiap tindakannya demi kepentingan perkembangan dan pertumbuhan siswa sebagai si terdidik. Sedangkan yang dimaksud dengan hangat adalah keadaan pergaulan guru kepada siswa dalam Proses Belajar Mengajar yang menunjukkan suasana keakraban dan keterbukaan dalam batas peran dan kedudukannya masing-masing sebagai anggota masyarakat sekolah.
 
Dengan sikap yang tulus dan hangat dari guru, diharapkan proses interaksi dan komunikasinya berjalan wajar, sehingga mengarah kepada suatu penciptaan suasana yang mendukung untuk kegiatan pendidikan.
 
4) Pengenalan Terhadap Tingkah Laku Siswa
Tingkah laku siswa yang harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan. Tingkah laku tersebut bisa bersifat perseorangan maupun kelompok. Identifikasi akan variasi tingkah laku siswa itu diperlukan bagi guru untuk menetapkan pola atau pendekatan Manajemen Kelas yang akan diterapkan dalam situasi kelas tertentu.
 
5) Penemuan Alternatif Manajemen Kelas
Agar pemilihan alternatif tindakan Manajemen Kelas dapat sesuai dengan situasi yang dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas. Dengan berpegang pada pendekatan yang sesuai, diharapkan arah Manajemen Kelas yang diharapkan akan tercapai.
 
Selain itu, pengalaman guru yang selama ini dilakukan dalam mengelola kelas waktu mengajar, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar perlu pula dijadikan sebagai referensi yang cukup berharga dalam melakukan Manajemen Kelas.
 
6) Pembuatan Kontrak Sosial
Kontrak sosial pada hakekatnya berupa norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kontrak sosial yang baik adalah yang benar-benar dihayati dan dipatuhi sehingga meminimalkan terjadinya pelanggaran.
Dengan kata lain, kontrak sosial yang digunakan untuk upaya Manajemen Kelas, hendaknya disusun oleh siswa sendiri dengan pengarahan dan bimbingan dari pendidik.
 
b. Prosedur Manajemen Kelas yang bersifat Kuratif meliputi :
1) Identifikasi Masalah
Pertama-tama guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyidik penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses pendidikan didalam kelas, dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang berdampak negatif secara luas atau tidak, ataukah hanya sekedar masalah perseorangan atau kelompok, ataukah bersifat sesaat saja ataukah sering dilakukan maupun hanya sekedar kebiasaan siswa.

2) Analisis Masalah
Dengan hasil penyidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha mengetahui latar belakang serta sebab-musabbab timbulnya tingkah laku siswa yang menyimpang tersebut. Dengan demikian, akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya.
 
3) Penetapan Alternatif Pemecahan
Untuk dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan tersebut, hendaknya mengetahui berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas dan juga memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.
 
Dengan membandingkan berbagai alternatif pendekatan yang mungkin dapat dipergunakan, seorang guru akan dapat memilih alternatif yang terbaik untuk mengatasi masalah pada situasi yang dihadapinya. Dengan terpilihnya salah satu pendekatan, maka cara-cara mengatasi masalah tersebut juga akan dapat ditetapkan. Dengan demikian, pelaksanaan Manajemen Kelas yang berfungsi untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan.
 
4) Monitoring
Hal ini diperlukan, karena akibat perlakuan guru dapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa yang menyimpang, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi.
 
5) Memanfaatkan Umpan Balik (Feed-Back)
Hasil Monitoring tersebut, hendaknya dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk :
a) Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.
b) Dasar dalam melakukan kegiatan Manajemen Kelas berikutnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan Manajemen Kelas yang sudah dilakukan sebelumnya.

Metode Pembelajaran Role Playing

Role Playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untk mengkreasi peristiwa sejarah,  mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.

Topik yang dapat diangkat dalam role playing, misalnya kejadian sekitar pemberontakan G30S/PKI, memainkan peran sebagai juru kampanye suatu partai atau gambaran keadaan yang mungkin muncul pada abad teknologi informasi.

Langkah langkah simulasi
1. Persiapan simulasi
  • Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi
  • Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan
  • Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran , serta waktu yang disediakan
  • Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi
2. Pelaksanaan simulasi
  • Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran
  • Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian
  • Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan
  • Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
3. Penutup
  • Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi, maupun materi cerita yang disimulasikan. Guru harus mendorong agar siswa dapat memberikan kritik dan tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi.
  • Merumuskan kesimpulan.

Keterampilan Menutup Pembelajaran

Menjelang akhir pelajaran guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran, agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi yang telah dipelajari. Adapun cara-cara yang dapat dilakukan guru adalah:
a. Meninjau kembali
• Merangkum inti pelajaran. Pada dasarnya sehabis menerangkan pelajaran guru biasanya membuat kesimpulan secara lisan hasil diskusi yang ia tugaskan pada siswa.
• Membuat ringkasan. Dengan membuat ringkasan siswa yang tidak memiliki buku sumber dapat mempelajarinya kembali.
b. Mengevaluasi
Salah satu upaya yang dapat dilakukan unutk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasaan yang untuk memahami suattu konsep yang telah diajarkan adalah melalui evaluasi. Hal ini dapat dilakukan dengan guru meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas. Bentuk-bentuk evaluasi ini dapat dilakuakn sebagai berikut :
• Mendemonstrasikan keterampilan
• Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
• Mengekspresikan pendapat siswa sendiri
• Soal-soal tertulis.

Tujuan dari menutup pelajaran:
1) Merangkum atau membuat garis besar persoalan yang baru saja dibahas sehingga memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta esensi dari pokok persoalan yang diperbincangkan
2) Mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal – hal yang pokok dalam pembicaraan tersebut agar informasi yang telah diterimanya membangkitkan minat serta kemampuan siswa pada masa mendatang
3) Mengorganisasikan semua kegiatan maupun pembicaraan yang telah dipelajari pada pertemuan tersebut sehingga merupakan suatu kebulatan yang berarti dalam memahami esensi bahan yang baru dipelajari

Variasi dalam Gaya Mengajar

Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dikelompokkan atas tiga bagian yaitu:
1. Variasi dalam gaya mengajar
Variasi ini dapat dilakukan dengan enam cara yaitu:
  • • Variasi suara, seperti perubahan nada suara dari keras menjadi lemah, dari tinggi menjadi rendah, cepat menjadi lambat, dari suara gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
  • • Memusatkan perhatian, seperti perkataan “perhatikan baik-baik”, “Nah ini penting sekali”, “Dengar baik-baik ini agak sukar dimengerti”, dan lain sebagainya. Pemusatan dengaan lisan dapat diikuti dengan syarat seperti menunjuk ke gambar yang tergantung di dinding atau di papan tulis dan sbagainya.
  • • Membuat kesenyapan sejenak, seperti kesenyapan yang tiba-tiba yang disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian. Perubahan stimulus dari adanya suara ke keadaan tenang atau senyap atau dari ke keadaan adanya kesibukan kegiatan lalu dihentikan, akan mendapatkan perhatian karena siswa ingin tahu apa yang terjadi. Pemberian waktu berfikir digunakan terutama untuk menjawab pertanyaan yang memerlukan pemikiran yang mendalam.
  • • Mengadakan kontak, bila guru berbicara, berinteraksi dengan siswanya sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh dan melihat ke mata siswa untuk menunjukkan hubungan yang intim dengan mereka. Kontak pandangan dapat digunakan untuk menyampaikan informasi (seperti membesarkan mata tanda tercengang), atau dapat juga digunakan untuk mengetahui pengertian dan pemahaman siswa.
  • • Variasi gerakan badan dan mimik, hal ini dapat dilakukan dengan cara mengangguk, menggeleng, mengangkat atau merendahkan kepala. Guru dapat mengangkat bahu, berdiri diam kaku, santai, berjalan mendekati atau menjauhi siswa, dan berdiri siap membantu.

  • Variasi mengubah posisi
2. Variasi dalam penggunaan media dan bahan pelajaran,antara lain:
  • Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (Visual aids), misalnya grafik, bagan, poster, diorama, spesimen, gambar, film, dan slide.
  • Variasi bahan atau alat yang dapat didengar (auditif aids), suara guru termasuk ke dalam media komunikasi yang utama dalam kelas.
  • Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik).
  • Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, dan diraba (audio visual)
3. Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan
Pola interaksi dapat berbentuk klasikal, kelompok, dan perorangan. Sedangkan variasi kegiatan berupa mendengarkan informasi, menelaah materi, diskusi, latihan, atau demonstrasi.

Dalam mengadakan variasi, guru perlu mengingat prinsip-prinsip penggunaannya yang meliputi :
  • Kesesuaian
  • Kewajaran
  • Kelancaran dan kesinambungan
  • Serta perencanaan bagi alat/bahan yang memerlukan penataan khsusus.

Mengajar yang efektif

Mengajar adalah membimbing siswa, agar mengalami proses belajar. Dalam belajar, siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi dirinya. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru harus membantu dengan cara mengajar yang efektif.
 
Mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula. Maka, untuk mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
  1. Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Didalam belajar, siswa harus mengalami aktivitas mental, dan juga aktivitas jasmani.
  2. Guru harus menggunakan banyak metode pada waktu mengajar. Dengan variasi metode, mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan suasana kelas menjadi hidup.
  3. Motivasi. Hal ini sangat berperan pada kemajuan, perkembangan anak selanjutnya melalui Proses Belajar Mengajar. Bila motivasi guru tepat mengenai sasaran akan meningkatkan kegiatan anak dalam belajar.
  4. Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah ini juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian anak, disamping kebutuhan anak sebagai anggota masyarakat.
  5. Guru perlu mempertimbangkan pada perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pengajaran klasikal, karena masing-masing anak mempunyai perbedaan dalam beberapa segi, misalnya intellegensi, bakat, tingkah laku, sikap, dll.
  6. Guru akan mengajar dengan efektif, bila selalu membuat perencanaan dahulu sebelum mengajar. Dengan persiapan mengajar, guru akan merasa mantap dan lebih percaya diri berdiri didepan kelas untuk melakukan interaksi dengan siswa-siswinya.
  7. Pengaruh guru yang sugestif perlu diberikan pula kepada anak. Sugesti yang kuat, akan merangsang anak untuk lebih giat lagi dalam belajar.
  8. Seorang guru harus memiliki keberanian menghadapi murid-muridnya, berkenaan dengan permasalahan yang timbul pada saat Proses Belajar Mengajar berlangsung.
  9. Guru harus mampu menciptakan suasana yang demokratis disekolah. Lingkungan yang saling menghormati, dapat memahami kebutuhan anak, bertenggang-rasa, dll.
  10. Pada penyajian bahan pelajaran pada anak, guru perlu memberikan persoalan yang dapat merangsang anak untuk berpikir dan memunculkan reaksinya.
  11. Semua pelajaran yang diberikan anak perlu di integrasikan, sehingga anak memiliki pengetahuan yang terintegrasi, tidak terpisah-pisah pada sistem pengajaran lama, yang memberikan pelajaran terpisah satu sama lainnya.
  12. Pelajaran disekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata di masyarakat.
  13. Dalam interaksi belajar-mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan pada anak untuk dapat menyelidiki sendiri, belajar sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri, dsb.
  14. Pengajaran remedial, yang diadakan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, dsb.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *