Selasa, 11 Desember 2012

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN



A.   Pendahuluan
Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yangdiperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan, di samping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu.
Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut, dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian. Selain itu konstruk variabel yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan konstruk variabel yang hendak di ukur dalam penelitian. Akan tetapi, jika instrumen yang baku belum tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian, maka instrumen untuk mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti.
Dalam rangka memahami pengembangan instrumen penelitian, maka berikut ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang terkait, diantaranya pengertian Konstruk, Variabel, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas.

B.   Pembahasan
1.    Konstruk
Konsep adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan.Suatu konsep adalah elemen dari proposisi seperti kata adalah elemen dari kalimat. Konsep adalah abstrak di mana mereka menghilangkan perbedaan dari segala sesuatu dalam ekstensi,  memperlakukan seolah-olah mereka identik. Konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap ekstensinya.
Konsep-konsep dasar penelitian meliputi: konsep, konstruk, dan variabel. Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khususKerlinger[1],misalny: 10 m, 1 l, 5 gallon digeneralisasikan sebagai "volume". Merah, hijau, kuning, digeneralisasikan sebagai "warna".Membaca buku, mendengarkan kuliah, mengerjakan pekerjaan rumah digeneralisasikan sebagai "belajar".Volume, warna dan belajar adalah konsep. Tetapi setelah pengertiannya dibatasi secara khusus sehingga dapat diamati, ia berubah menjadi "konstruk". Dengan perkataan lain bahwa konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan diukur.
Konstruks tersebut merupakan istilah konseptual yang digunakan untuk menggambarkan fenomena dari minat teoritis (Cronbach & Meehl, 1955; Edwards & Bagozzi, 2000; Messick, 1981).[2]Konstruk adalah adalah sebuah abstraksi yang tidak dapat diamati secara langsung, itu adalah konsep yang diciptakan untuk menjelaskan perilaku. Contoh konstruk dalam bidang pendidikan adalah inteligensi, kepribadian, efektivitas guru, kreativitas, kemampuan, prestasi, dan motivasi.[3]Konstruk merupakan istilah istilah yang ditemukan oleh para peneliti untuk menggambarkan,mengorganisir, dan memberi arti pada fenomena yang relevan dengan domain penelitian (Cronbach & Meehl, 1955; Messick, 1981; Nunnally, 1978; Schwab, 1980).
Konstruk merupakan jenis konsep tertentu yang berada dalam tingkatan abstraksi yang lebih tinggi dari konsep dan diciptakan untuk tujuan teoritis tertentu.Konsep dihasilkan oleh ilmuwan secara sadar untuk kepentingan ilmiah.Konstruk dapat diartikan sebagai konsep yang telah dibatasi pengetiannya (unsur, ciri, dan sifatnya) sehingga dapat diamati dan diukur.untuk mengukur konstruk, maka perlu untuk mengidentifikasi nilai atau nilai bisa berasumsi. Sebagai contoh konstruk kepribadian dapat diukur dengan mendefinisikan dua tipe kepribadian, introvert dan ekstrovert, dapat diukur melalui skor yang terdapat dari 30 pertanyaan, yang semakin tinggi skornya menunjukkan kepribadian introvert seseorang dan semakin rendah skor menunjukkan kepribadian ekstrovert.[4] Jadi konstruk berubah menjadi variabel apabila konstruk tersebut sifat-sifatnya sudah diberi nilai dalam bentuk bilangan.

2.    Variabel
Menurut Sanapiah (1982, hal 83) Variabel adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karaktristik yang oleh pengeksperimen dimanipulasi, dicontrol atau diobservasi”.. Selanjutnya dijelaskan oleh Moh.Nasir Variabel (1983, hal. 149) adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai.Dalam penelitian, variabel dibagi dalam tiga kategori: (1) independent variable dan dependent variable, (2) variabel aktif dan variabel atribut, (3) variabel kontinum dan variabel diskret.Variabel yang diduga sebagai penyebab disebut variabel bebas dan variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi disebut variabel terikat.Nazir (1988: 14[i]9-151) mengemukakan bahwa terdapat beberapa jenis variabel, yakni:

a.    Variabel kontinu
Variabel kontinu merupakan variabel yang memiliki nilai sembarang, baik berupa nilai bulat maupun pecahan, diantara dua nilai tertentu atau variabel yang mengambil seluruh nilai dalam suatu interval.Nazir (1988: 149) mendefinisikan variabel kontinu adalah variabel yang dapat kita tentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dan desimal yang tidak terbatas.
Contoh:
Berat badan, tinggi, luas, pendapatan, dsb.
Berat badan dapat ditulis 45 kg; 15 kg; atau 52,125 kg.Demikian juga dengan contoh variabel kontinu lainnya.

b.    Variabel descrete
Variabel descrete merupakan konsep yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal di belakang koma.Variabel descrete ini sering juga disebut sebagai variabel kategori.Bila dalam satu variabel tersebut mempunyai 2 kategori saja maka variabel tersebut dinamakan variabel dikhotom.Sedangkan bila dalam satu variabel memiliki lebih dari dua kategori maka disebut sebagai variabel politom.

Contoh:
Dikotom
Jenis kelamin
Laki-laki, perempuan
Status perkawinan
Kawin, tidak kawin
Politom

Tingkat pendidikan
SD, SMP, SMA, PT
Jumlah Anak
1, 2, 3, 4

c.            Variabel dependen dan Independen
Dalam hal terdapat hubungan antara dua variabel, misalnya antara variabel Y dan variabel X, jika variabel Y disebabkan oleh variabel X, maka dapat dikatakan:
Y = variabel dependen
X = variabel independen
Contoh:
Jika dipikirkan ada hubungan antara konsumsi dan pendapatan, di mana dengan bertambahnya pendapatan, konsumsi juga akan bertambah, maka:
Konsumsi  = variabel dependen (terikat dengan pendapatan)
Pendapatan = variabel independen (variabel bebas)

d.    Variabel moderator dan random
Jika dilihat suatu hubungan antarvariabel, biasanya terdapat sebuah variabel dependen dan beberapa variabel independen (bebas), dan semua variabel bebas telah diperkirakan dalam membuat hubungan tersebut.
Jika :
Y = variabel dependen
X = variabel independen, yang misal tergantung dari beberapa variabel bebas yakni X1, X2, X3, dan X4.
Y = f (X1, X2, X3, dan X4)
Jika ada variabel lain, yang dianggap berpengaruh terhadap variabel dependen tersebut, tetapi dianggap tidak mempunyai pengaruh utama, maka variabel ini dinamakan variabel moderator.
Contoh:
Variabel yang mempengaruhi demand terhadap ikan (Y) adalah harga ikan (X1), pendapatan (X2), dan harga daging (X3). Ketiga variabel tersebut adalah variabel utama.Jika umur (X4) juga berpengaruh, tetapi bukanlah sebagai penyebab utama, maka umur (X4) ini lah yang disebut dengan variabel moderator.
Disamping variabel tertentu yang nyata mempengaruhi variabel dependen, masih terdapat variabel lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan hubungan di atas. Variabel ini dinamakan variabel random, dan pengaruhnya dapat dilihat berdasarkan error yang timbul dalam mengadakan estimasi.

e.    Variabel Aktif
Variabel aktif merupakan variabel yang dimanipulasikan oleh peneliti. Jika peneliti memanipulasikan metode mengajar, cara menghukum mahasiswa, maka metode mangajar, cara menghukum, adalah variabel aktif, karena variabel ini dapat dimanipulasikan.

f.     Variabel atribut
Variabel atribut merupakan variabel yang tidak dapat atau sukar untuk dimanipulasi.Variabel atribut umumnya merupakan karakteristik manusia seperti intelegensia, jenis kelamin, status sosial, pendidikan, sikap, dan sebagainya. Variabel yang merupakan inanimate objects juga merupakan contoh variabel atribut seperti populasi, rumah tangga, daerah geografis, dan sebagainya.

3.    INSTRUMEN

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, oleh karena itu harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen  penelitian. Jadi, instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk  mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Menurut Suharsimi Arikunto (2000:134), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.Ibnu Hadjar (1996:160) berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata (2008:52) adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan.
Di dalam suatu proses penelitian, jumlah instrumen  tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Misalnya pada penelitian berjudul “Pengaruh kepemimpinan dan iklim kerja lembaga terhadap produktivitas kerja pegawai”. Dalam hal ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat, yaitu :[5]
1.    Instrumen untuk mengukur kepemimpinan
2.    Instrumen untuk mengukur iklim kerja
3.    Instrumen untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.
Instrumen- instrumen penelitian dalam bidang sosial pada umumnya dan khususnya bidang administrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.
            Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan.Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu digunakan “matrikpengembangan instrumen” atau kisi-kisi instrumen”.
            Untuk dapat menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti, dan teori-teori yang pendukungnya.Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid.Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai referensi.
Instrumen penelitian itu merupakan salah satu komponen penting yang diperlukan dalam proses penelitian. Dalam konteks pembelajaran, instrumen penelitian jenis tes dijadikan alat untuk mengukur hasil belajar. Kadangkala dalam proses pembelajaran, aspek evaluasi hasil belajar ini diabaikan. Artinya, dosen, guru atau instruktur terlalu memperhatikan penyajian pelajaran saja.Perkuliahan atau pelajaran berjalan baik, praktikum berjalan rapi, namun saat membuat tes atau soal praktikum, tidak lagi melihat tujuan pembelajaran yang pernah dibuatnya di SAP atau RPP.Akibatnya, tes hasil belajar yang dibuat terkesan seperti jatuh dari langit saja.Artinya, dosen atau guru membuat soal tes menjadi seadanya atau seingatnya saja, tanpa harus memenuhi kriteria pembuatan tes yang baik dan benar.Misalnya apakah soal ujian tersebut sudah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan; apakah memperhatikan aspek kognitif, afektif atau psikomotorik dan sebagainya.Penyusunan tes hasil belajar yang menggunakan instrumen untuk keperluan penelitian, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:[6]
a.    Tes tersebut fungsinya dapat memperoleh informasi tentang kemampuan subjek penelitian.
b.    Mendiskusikan tentang fungsi penilaian untuk memperoleh pemahaman tentang hal-hal apa saja yang dapat dinilai melalui pelaksanaan suatu tes. Apakah sekedar memberi nilai untuk menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa atau siswa tersebut. Ataukah ada fungsi-fungsi lain yang ingin dicapai melalui penilaian tersebut, misalnya data yang diperoleh digunakan untuk penelitian.
c.    Menentukan kriteria penilaian untuk kepentingan penelitian. Ini berarti untuk melakukan penilaian yang baik dibutuhkan mutu soal tes yang baik pula. Dalam praktek pengajaran, tes dilaksanakan dengan memberikan serangkaian soal tes hasil belajar. Semakin bermutu tes yang diberikan maka semakin terandalkan pula penilaian yang diperoleh dan hal ini berdampak pada makin baik data yang diperoleh untuk keperluan penelitian.
d.    Merancang soal-soal yang diberikan kepada sunjek penelitian dalam suatu struktur yang sedemikian rupa, sehingga jumlah dan derajat kesukaran soal yang tetap relevan dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam Rancangan Kegiatan Belajar Mengajar(RKBM).
e.    Mengingat derajat kesukaran soal dapat berbeda satu dengan lainnya, tiap-tiap soal perlu mendapat bobot soal menurut relevansinya dengan tujuan belajar.
f.     Sesudah proses membuat, menstrukturkan dan menentukan bobot soal, maka soal-soal tersebut disajikan melalui ujian. Setelah itu dilakukan pengukuran dan penilaian hasil untuk keperluan penelitian.

a.      KARAKTERISTIK INSTRUMEN
Alat pengukuran dapat dinilai pada berbagai manfaat.Ini termasuk isu-isu praktis.Semua instrumen memiliki kekuatan dan kelemahan-ada instrumen yangsempurna untuk setiap tugas. Beberapa isu-isu praktis yang perlu diperhatikan antara lain:
a)    Biaya
b)    Ketersediaan
c)    Pelatihan diperlukan
d)    Kemudahan administrasi, penilaian, analisis
e)    Waktu dan upaya yang diperlukan untuk responden untuk menyelesaikan mengukur
Selain isu-isu praktis tersebut, syarat utama instrumen yang baik adalah valid, reliabel, sensitif, obyektifitas tinggi dan fisibilitas baik.

b.     Prosedur Penyusunan Instrumen Tes

Prosedur penyusunan instrumen tes adalah sebagai berikut.[7]
1.    Mengembangkan spesifikasi tes, yang meliputi:
-       Menyusun tujuan khusus pembelajaran
-       Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan
-       Menyusun kisi-kisi tes, yang memuat pokok materi, tujuan instruksional khusus, dan aspek berpikir yang diukur. Selanjutnya ditentukan banyak item tes untuk masing-masing tujuan instruksional khusus pada masing-masing domain.
2.    Memilih bentuk tes yang tepat
3.    Menulis item-item tes berdasarkan kisi-kisi yang sudah disusun.
4.    Petunjuk pengisian instrumen

c.    Prosedur Pengujian Instrumen Penelitian

   Pengujian instrumen dimulai dengan responden. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menguji instrumen tersebut. Ukuran umum yang digunakan adalah validitas dan reliabilitas. Khusus untuk tes hasil belajar, selain validitas dan reliabilitas masih ada lagi ukuran lain yang dapat digunakan, antara lain tingkat kesukaran, daya pembeda, dan analisis pengecoh.

d.    Menentukan Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian adalah segala peralatan yang digunakan untuk memperoleh, mengelola, dan menginterpretasikan informasi dari para responden yang dilakukan dengan pola pengukuran yang sama, Instrumen penelitian dirancang untuk satu tujuan dan tidak bisa digunakan pada penelitian yang lain. Kekhasan setiap objek penelitian menyebabkan seorang peneliti harus merancang sendiri instrumen yang digunakan. Susunan instrumen untuk setiap penelitian tidak selalu sama dengan penelitian lain. Hal ini mengingat tujuan dan mekanisme kerja dalam setiap teknik penelitian juga berbeda-beda.
Beberapa jenis instrumen dalam suatu penelitian adalah sebagai berikut[8]
1.    Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengkukuran, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
2.    Angket atau Kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
3.    wawancara (Interview)
wawancara digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variable latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.
4.    Observasi
Di dalam artian penelitian observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati.
5.    Skala bertingkat (Ratings)
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif yang dibuat berskala. Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukkan frekuensi munculnya sifat-sifat. Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden.
6.    Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan sebagainya.

e.    Penyusunan Instrumen Penelitian
     Dalam setiap penelitian yang bersifat empiris selalu dibutuhkan instrumen penelitian yang terdiri dari daftar kuesioner (pernyataan), formulir tabulasi, dan formulir analisis. Ketiga macam instrumen penelitian tersebut harus dirancang dalam satu kesatuan sehingga dalam proses penelitian dapat bekerja dalam satu arah terpadu. Di antara ketiga penelitian tersebut, perancangan daftar kuesioner membutuhkan perhatian yang lebih besar dibanding jenis instrumen lainnya. Mutu daftar kuesioner sangat menentukan keberhasilan penelitian yang sedang dilakukan. Jenis instrumen lain, perancangan menyesuaikan dengan struktur daftar pertanyaan. Keterpaduan semua aspek instrumen penelitian diharapkan dapat menghasilkan suatu instrumen yang baik dan memenuhi tujuan penelitian tersebut.
     Daftar kuesioner adalah serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada responden guna mengumpulkan informasi dari responden mengenai objek yang sedang diteliti, baik berupa pendapat, tanggapan, ataupun dirinya sendiri. Sebagai suatu instrumen penelitian, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh menyimpang dari arah yang akan dicapai oleh usulan proyek penelitian, yang tercermin dalam rumusan hipotesis. Dengan demikian, daftar pertanyaan yang harus diajukan dengan taktis dan strategik sehingga mampu menyaring informasi yang dibutuhkan oleh responden.
     Pertanyaan yang diajukan oleh responden harus jelas rumusannya, sehingga peneliti akan menerima informasi dengan tepat dari responden. Sebab responden dan pewawancara dapat menginterpretasikan makna suatu kalimat yang berbeda dengan maksud peneliti, sehingga isi pertanyaan justru tidak dapat dijawab. Di samping itu harus pula diperhatikan kemana arah yang dicapai, mengingat tanpa arah yang jelas tidak mungkin dapat disusun suatu daftar pertanyaan yang memadai.
            Seorang peneliti dalam menyusun daftar pertanyaan hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut:
1.    Apakah anda menggunakan tipe pertanyaan terbuka atau tertutup atau gabungan keduanya
2.    Dalam mengajukan pertanyaan hendaknya jangan langsung pada masalah inti/pokok dalam penelitian anda. Buatlah pertanyaan yang setahap demi setahap, sehingga mampu mengorek informasi yang dibutuhkan.
3.    Pertanyaan hendaknya disusun dengan menggunakan bahasa Nasional atau setempat agar mudah dipahami oleh responden.
4.    Apabila menggunakan pertanyaan tertutup, hendaknya setiap pertanyaan maupun jawaban diidentifikasi dan diberi kode guna memudahkan dalam pengolahan informasi.
5.    Dalam membuat daftar pertanyaan, hendaknya diingat bahwa anda bukanlah seorang introgator, tetapi pihak yang membutuhkan informasi dari pihak lain.

f.     Proses Perancangan Daftar Pertanyaan
Menyusun suatu rancangan daftar pertanyaan sebetulnya merupakan kerja kolektif seluruh anggota tim peneliti. Keterlibatan semua anggota tim peneliti akan memberikan kontribusi penyempurnaan konstruksi instrumen penelitian.
   Berikut adalah langkah-langkah dalam menyusun daftar pertanyaan:
1.    Penentuan informasi yang dibutuhkan
2.    Penentuan proses pengumpulan data
3.    Penyusunan instrumen penelitian
4.    Pengujian instrumen penelitian.

5.            Validitas  dan Realibilitas
Validitas dan reliabilitas merupakan dua unsur yang tak terpisahkan dari suatu alat ukur.Suatu alat ukur yang telah memenuhi unsur validitas dapat dikatakan bahwa alat ukur tersebut juga memenuhi unsur-unsur reliabilitas.Namun demikian, suatu alat ukur yang telah memenuhi unsur-unsur reliabilitas belum tentu alat ukur tersebut juga memenuhi unsur-unsur validitas.Reliabilitas sendiri belum merupakan kriteria yang cukup untuk menyimpulkan bahwa alat ukur tersebut sudah valid.Jadi, bisa terjadi bahwa ada alat ukur yang reliabel namun tidak valid.Alat ukur yang valid dan reliabel untuk penelitian yang satu belum tentu valid dan reliabel untuk penelitian lainnya.
            Sebuah contoh yang  dikemukakan olen Neuman (2000 : 165) cukup jelas untuk mengerti konsep reliabilitas dari suatu alat ukur. Dia memberikan contoh dengan menimbang berat badan kita. Pada waktu kita menimbang berat badan yang sama walaupun kita berkali-kali naik dan turun dari timbangan tersebut. Dengan asumsi bahwa kita tidak makan, minum, maupun berganti pakaian saat itu.Timbangan tersebut dapat dikatakan sebagai alat ukur yang reliabel. Timbangan tersebut akan dikatakan tidak reliabel bila timbangan tersebut menunjukkan angka yang berubah-ubah walaupun berat badan kita saat itu tidak berubah.
            Kalau reliabilitas mengacu pada konsistensi dari hasil pengukuran, validitas suatu alat ukur mengacu pada sejauh mana hasil pengukurannya dapat menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Bila dalam suatu tes kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris A mendapatkan nilai lebih tinggi dari B, dan C mendapatkan nilai yang sama dengan B, maka perbedaan antara A dan B serta kesamaan antara B dan C merupakan fakta di lapangan. Fakta sehari-hari harus menunjukkan bahwa A memang mempunyai kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris lebih baik dari B dan C, dan B mempunyai kemampuan yang relatif sama dengan C. seandainya hasil tes tersebut dapat menggambarkan fakta yang sesungguhnya, alat ukur yang digunakan untuk menilai kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris tersebut dapat dikatakan sebagai alat ukur yang valid.[9]
            Dari penjelasan tersebut bisa terjadi ada suatu alat ukur yang reliabel namun tidak valid.Bila alat ukur yang digunakan sudah valid, alat ukur tersebut dapat dikatakan sudah memenuhi aspek reliabilitas.Karena suatu alat ukur yang mempunyai reliabilitas rendah berarti alat ukur tersebut tidak valid.


a.    Validitas
Dalam penelitian pengajaran bahasa asing ada lima jenis validitas dari alat ukur, yaitu validitas tampilan, validitas isi, validitas prediktif, validitas konstruk, dan validitas kesetaraan.
 
1.    Validitas Tampilan (Face validity)
Ada kemungkinan validitas tipe ini tidak terlalu ilmiah dan hanya berdasarkan kebiasaan yang ada, misalnya format penyusunan pilihan-pilihan dalam soal pilihan ganda.Seiring dengan perkembangan teori belajar bahasa asing, validitas tampilan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.Contohnya saja untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris dalam bentuk tulisan sudah mulai popular sehingga tes semacam TOEIC (test of English for International Communication) atau JLPT (Japanese Language Proficiency Test) yang dilaksanakan secara tertulis dan valid.
 
2.    Validitas Isi (Content validity)
Validitas isi terkait dengan seluruh butir-butir soal yang ada dalam suatu alat ukur. Untuk memenuhi validitas tipe ini peneliti harus melihat seluruh indikator yang berupa butir-butir soal dan menganalisisnya apakah alat ukurnya secara keseluruhan telah mewakili dari materi yang akan diukur. Contoh validitas isi adalah tes bakat kebahasaan.Bakat kebahasaan sering didefinisikan sebagai kemampuan dasar seseorang untuk belajar bahasa yang mencakup ranah kosa kata, minat, analisa kebahasaan, pembedaan suara dan kemampuan berasosiasi antara simbol dan suara. Bila alat ukur tersebut dikembangkan berdasarkan definisi itu, alat ukur tersebut harus memenuhi ke lima ranah tersebut.
 
3.    Validitas Prediktif  (Predictive validity)
Validitas alat ukur yang terkait dengan kemampuan memprediksi fenomena di masa mendatang disebut validitas prediktif.Validitas ini mengambarkan sejau mana hasil tes dari suatu alat ukur mempunyai korelasi dengan suatu keberhasilan belajar di masa mendatang. Dengan kata lain, suatu alat ukur yang mempunyai validitas prediktif dapat digunakan untuk memprediksi apakah seseorang akan lebih berhasil atau kurang berhasil dalam belajar sesuatu.
 
4.    Validitas Konstruk  (Construct validity)
Validitas konstruk diperlukan untuk alat ukur yang mempunyai beberapa indikator dalam mengukur satu aspek atau konstruk.Bila ada alat ukur yang mempunyai beberapa aspek dan setiap aspek diukur dengan beberapa indikator, indikator yang sejenis harus berasosiasi positif satu dengan lainnya.Sebaliknya, indikator-indikator tersebut harus berasosiasi negatif dengan indikator lainnya bila indikator tersebut mengukur aspek yang berbeda atau berlawanan.
 
5.    Validitas Kesetaraaan (Concurrent validity)
Alat ukur yang baru dikembangkan dalam suatu penelitian membutuhkan validitas kesetaraan.Validitas kesetaraan mengukur sejauh mana alat ukur yang baru tersebut dapat dikorelasikan dengan alat ukur sejenis yang seudah terbukti validitasnya.Bila atal ukur yang baru tersebut mempunyai korelasi yang tinggi dan signifikan berarti alat ukur tersebut mempunyai validitas kesetaraan.Dengan mempunyai validitas tipe ini, alat yang baru tersebut diasumsikan mempunyai validitas yang sejenis seperti alat ukur yang sudah ada.Bila atalt ukur yang sudah ada mempunyai valiiditas isi, alat ukur yang baru diasumsikan mempunyai validitasi isi juga. Korelaasi kedua alat ukur tidak perlu mempunyai asosiasi yang sempurna karena taka da dua alat ukur yang mampu mengukur satu aspek kebahasaan dengan hasil yang sama.

Form of Validity
Method
Purpose
Content Validity
Compare content of the test to the domain being measured
To what extent does this test represent the general domain of interest?
Criterion related validity
Correlate scores from one instrument of scores on a criterion measure, either at the same (concurrent) or different (predictive) time
To what extent does this test correlate highly with another test?
Construct validity
Amass convergent divergent, and content related evidence to determine that the presumed construct is what is being measured
To what extent does this test reflect the construct it is intended to measure?
Consequential validity
Observe and determine whether the test has adverse consequence for test takers of users
To what extent does the test create harmful consequences for the test taker?

b.            Reliabilitas
       Reliabilitas adalah konsistensi dari suatu alat ukur, atau sejauh mana alat ukur tersebut dapat mengukur subjek yang sama dalam waktu yang berbeda namun menunjukkan hasil yang relatif sama. Untuk mengukur reliabilitas sebuah tes kita dapat memberikan tes tersebut kepada subjek yang sama paling sedikit dua kali dalam waktu yang berbeda, dan membandingkan kedua hasilnya. Cara ini sering disebut dengan istilah test retest dan digunakan untuk mencari reliabilitas dari aspek stabilitas suatu alat ukur. Dengan membandingkan kedua hasil tes tersebut (atau lebih) kita dapat melihat sejauh mana kedua tes tersebut memberikan hasil yang sama atau stabil di dalam mengukur suatu fenomena.
            Faktor yang mempengaruhi kedua pengukuran tersebut adalah kelelahan, kondisi lingkungan dan aspek-aspek psikologis maupun fisiologis lainnya. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan bahwa kedua tes tersebut harus diberikan dalam situasi dan kondisi yang relatif sama atau mirip. Selanjutnya akan dijelaskan jenis-jenis reliabilitas.


1.    Reliabilitas antarindikator
            Bila suatu alat ukur terdiri dari beberapa indikator yang berupa butir-butir soal, perlu diukur sejauh mana masing-masing indikator menunjukkan hasil yang sama di dalam mengukur suatu aspek. Sebagai contoh sebuah kuesioner yang digunakan untuk mengukur motivasi belajar bahasa Inggris biasanya terdiri dari beberapa butir-butir soal yang digunakan untuk mengukur aspek motivasi.Butir-butir soal yang ada dalam kuesioner tersebut merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur motivasi dalam belajar bahasa Inggris. Seandainya kuesioner tersebut merupakan alat ukur yang reliabel, masing-masing indikatornya akan memberikan hasil yang relatif sama terhadap satu individu.
            Alternatif lain untuk mengukur reliabilitas tipe ini adalah dengan cara reliabilitas teman sejawat (interrater reliability). Dengan cara ini diperlukan beberapa peneliti, penilai, atau pengamat sebagai tim dan biasanya dilaksanakan sebelum pengumpulan data. Semakin banyak orang yang dilibatkan dalam tim itu, semakin reliabel hasil analisanya. Reliabilitas tipe ini ditentukan berdasarkan kesamaan antar anggota tim. Cara yang paling sederhana untuk mengukur reliabilias adalah dengan menghitung persentasi kesamaan dari masing-masing indikator. Contoh, bila ada sebuah kuesioner yang terdiri dari sepuluh indikator  yang berupa butir-butir soal, masing-masing anggota tim perlu dimintai pendapatnya apakah ia setuju dengan butir-butir soal yang ada sebagai indikator untuk mengukur motivasi belajar bahasa Inggris. Misalnya.bila ada empat orang yang setuju dengan butir soal nomor 1 sebagai salah satu indikator motivasi sedangkan satu orang menolaknya, nilai butir soal nomor 1 sebagai salah satu indikator motivasi adalah 80%. Begitu seterusnya dengan butir-butir soal lainnya.Persentase yang ideal untuk menerima suatu indikator adalah minimal 80% tingkat kecocokan antar penilai. Bila anggota tim mempunyai kesamaan untuk menolak sebuah indikator, indikator tersebut harus dibuang dari kuesioner tersebut.


2.    Reliabilitas antar Kelompok
Dalam sebuah penelitian yang mengaruskan alat ukurnya reliabel untuk semua kelompok, peneliti harus melaporikan analisa reliabilitas antar kelompok.Untuk melihat apakah alat ukur tersebut dapat reliabel untuk semua kelompok yang ada dalam sebuah penelitian, peneliti dapat melakukan analisa perbandingan. Cara ini digunakan untuk membandingkan apakah di dalam menjawab butir-butir soal kelompok-kelompok  yang berbeda tersebut mempunyai  respon yang terpola dan sangat berbeda dengan kelompok lainnya, perlu ditinjau kembali keberadaan indikator tersebut. Misalnya, seorang peneliti ingin melihat bagaimana pola penggunaan strategi belajar antara siswa yang berhasil dan kurang berhasil dalam belajar bahasa Inggris.Subjek dalam penelitian tersebut bervariasi dari siswa SD hingga mahasiswa.Untuk mengukur kemampuan berbahasa digunakan alat ukur yang berpa polihan ganda. Bila ternyata seluruh siswa SD tidak dapat menjawab salah satu soal yang ada, dan secara umum berbeda dengan siswa SLTP atau mahasiswa dalam menjawab soal tersebut, sial tersebut tidak dapat dikatakan reliabel sebagai indikator untuk membandingkan antara siswa yang berhasil dan tidak berhasil dalam penelitian tersebut. Bila setelah dibandingkan ternyata seluruh siswa SD memberikan jawaban salah pada soal itu, sedangkan kelompok siswa lain cukup bervariasi dalam memberikanjawaban, perlu dipertimbangkan keberadaan butir soal tersebut. Dengan mencari reliabilitas tipe ini selurh kelompok dalam sebuah penelitian mendapatkan perlakuan yang sama. Perlu dihindari penggunaan butir soal yang merugikan salah satu kelompok yang berfungsi sebagai variable bebas.

Five Types of reliability


Stability (test retest)
Stability of scores over time
Give one group the same test at two different times, and correlate the two scores
Equivalence (alternative forms)
Relationship between two versions of a test intended to be equivalent
Give alternative test forms to a single group, and correlate the two scores
Equivalence and stability
Relationship between equivalent versions of a test given at two different times
Give two alternative tests to a group at two different times, correlate the scores
Internal consistency
The extent to which the items in a test are similar to one another in content
Give test to one group, and apply split-half, kuder Richardson, or cronbach’s alpha to estimate the internal consistency of the test items
Scorer/rater
The extent to which independent scores or a single scorer over time agree on the scoring of an open ended test
Give copies of a set of tests to independent scorers or a single scorer at different times, and correlate or compute the percentage of scorer agreement
Usaha Untuk Meningkatkan Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kuantitatif
1.    Memperhatikan aspek atau ranah yang dikembangkan dalam alat ukur tersebut. Dalam satu alat ukur sering sekali peneliti mempunyai beberapa aspek yang aka diukur. Misalnya, dalam sebuah penelitan yang mengukur sikap dalam belajar bahasa Inggris alat ukurnya mempunyai butir-butir soal yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok aspek. Aspek pertama mengukur sikap terhadap bahasa Inggris, aspek kedua mengukur sikap terhadap pengajaran bahasa Inggris, dan aspek ketiga mengukur sikap terhadap penutru asli Bahasa Inggris.

2.    Mengembangkan butir-butir soal.
3.    Pengumpulan data.
4.    Penyempurnaan alat ukur.
5.    Mencari reliabilitas  dengan data baru.
6.    Mencari validitas konstruk.[12]
 
C.   Kesimpulan
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data yang terkumpul dengan menggunakan instrumen tertentu akan dideskripsikan dan dilampirkan atau digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam suatu penelitian.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu.
Instrumen penelitian memiliki kualitas yang baik bila memenuhi dua kriteria pokok instrument yaitu adalah: validitas, reliabilitas, dan.
Validitas adalah sejauh mana suatu instrumen melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Artinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen dalam melakukan fungsinya.
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana instrumen dapat dipercaya. Makin cocok dengan sekor sesungguhnya makin tinggi reliabilitasnya. Reliabilitas juga merupakan derajat kepercayaan dimana skor penyimpangan individu relatif konsisten terhadap tes sama yang diulangi.

 DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. 2000

Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data.Jakarta: Rajawali Pers, 2012
­­Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Rajawali Pers, 2012
Gronlund E Norman & Robert L, Linn, Measurement and Evaluation in     Teaching.New York:Macmillan Publishing Company, 1990

Hadjar, Ibnu. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan. Jakarta:RajaGrafindo Persada. 1996.

Kerlinger ,F.M., Foundation of Behavioral Research, Holt, Rinehart and Winston, New York, 1973
Nazir, Mohammad, Metode penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1983

Peter Airasian, Geogffrey E. Mills, L.R. Gay, Educational Research,Competencies for Analysis and Applications, New Jersey, Ohio: Pearson, 2009

Faisal, Sanapiah,Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1982

Setiyadi, Bambang, Metode Penelitian untuk Pengajaran Bahasa Asing Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &.Bandung:Alfabeta,2010
Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2008

Uno B Hamzah, Herminanto Sofyan; I made Candiasa; Pengembangan Instrumen Untuk Penelitian.Jakarta: Delima Press, 2001


[1]Kerlinger ,F.M., Foundation of Behavioral Research, Holt, Rinehart and Winston, 1973, hlm 28

[3]Peter Airasian, Geogffrey E. Mills, L.R. Gay,(Educational Research,Competencies for Analysis and Applications,  2009), hlm.144
[4] Ibid., hlm 144
[5] Sugiyono, Metode Peneltian Kuantitatif kualitatif dan R & D(Bandung: Alfabeta,2010),hlm.102
[6] Hamzah B. Uno, Herminanto Sofyan & I Made Candiasa, Pengembangan Instrumen Untuk Penelitian( Jakarta: Delima Press, 2001).hlm.60
[7] Norman E. Gronlund & Robert L. Linn, Measurement and Evaluation in Teaching.(New York: Macmillan Publishing Company,1990).hlm.109
[8]Blogkatte.blogspot.co. Jenis Instrumen Penelitian;( senin, 28 Desember 2009)

[9]  Bambang Setiyadi, Metode Penelitian untuk Pengajaran Bahasa Asing Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, 2006, h. 14.
[10] L.R. Gay, Geoffrey E. Mills dan Peter Airasian, Educational Research Competencies for Analysis and Applications, 2009, h. 154
[11] L.R. Gay, Geoffrey E. Mills dan Peter Airasian, Educational Research Competencies for Analysis and Applications, 2009, h. 159

[12]             Bambang Setiyadi, Metode Penelitian untuk Pengajaran Bahasa Asing Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, 2006, h. 29


Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...