Selasa, 03 Juli 2012

Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran

Keterampilan mengajar sebagai sebuah seni yang lahir dan dikembangkan oleh siapapun berdasarkan improvisasi dan yang akan ditanamkan adalah respeck siswa didik terhadap pendidik ketika pertama kali masuk kelas. salah satunya adalah harus menguasai teknik membuka dan menutup materi dengan benar.

Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
1. Membuka Pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan situasi siap mental dan menimbulkan siswa agar terpusat perhatiannya pada apa yang dipelajari. 
Adapun komponen untuk membuka pelajaran adalah:
 
a. Menarik perhatian siswa
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menarik perhatian siswa,antara lain:
  • Gaya mengajar guru. Perhatian siswa dapat ditimbulakan dengan menvariasikan gaya mengajar guru misalnya memilih posisi di kelas dan memilih kegiatan yang berbeda dari biasanya dia kerjakan dalam membuka pelajaran.
  • Penggunaan alat-alat bantu mengajar. Guru dapat menggunakan alat-alat seperti gambar, model, skema dan sebagainya untuk menarik perhatian siswa dan menimbulkan motivasi belajar siswa.
  • Pola interaksi yang bervariasi. Variasi yang dapat digunakan diantaranya guru memberi perintah pada siswa, guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya pada guru atau siswa lainnya yang menjawab pertanyaan tersebut.
b. Menimbulkan motivasi
Salah satu tujuan dari prosedur membuka pelajaran adalah memilih secara hati-hati hal apa saja yang menjadi perhatian siswa, sehingga dapat digunakan untuk memotivasi mereka. Sedikitnya ada empat cara yang dapat dilakukan yaitu:
  • Dengan kehangatan dan keantusiasan. Guru hendaknya bersikap ramah, antusias, bersahabat, dan hangat.
  • Dengan menimbulkan rasa ingin tahu. Hal ini dapat dilakukan dengan bercerita pada siswa dimana cerita tersebut menimbulkan pertanyaan atau dengan mendemonstrasikan suatu peristiwa. Cara-cara ini sangat baik untuk menimbulkan motivasi pada siswa.
  • Mengemukakan ide yang bertentangan. Guru dapat melontarkan ide-ide yang bertentangan dengan mengajukan masalah atau kondisi sehari-hari.
  • Dengan memperhatikan minat siswa. Minat siswa merupakan gudang kaya bagi aktivitas yang dapat dirancang oleh guru, hal ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan topik dengan minat siswa.
c. Memberi acuan
Memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-haal yang akan dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut :
  • Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas
  • Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan
  • Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan.pertanyaan yang diajukan hendaknya mengarahkan siswa dalam mengantisipasi sisi pelajaran yang dipelajari.
d. Membuat kaitan
Jika guru akan memulai materi pelajaran baru perlu kiranya ia menghubungkannya dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman siswa terdahulu untuk mempermudah pemahaman. 

Usaha guru untuk membuat kaitan ini adalah :
  • Membuat kaitan yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal siswa.
  • Menyajikan bahan secara terperinci.
Guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dikenal.guru menjelaskaa konsepnya atau pengertiannya terlebih dahulu sebelum menjelaskan lebih lanjut.
 
Tujuan dari keterampilan membuka pelajaran :
  • Menyiapkan mental siswa agar siap memasuki persoalan atau kegiatan yang akan dibicarakan atau dilakukan.
  • Menimbulkan minat dan memusatkan perhatian siswa terhadap apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Aplikasi Active learning II

Kartu Sortir (Card Sort)
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
 
Prosedur :
  1. Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.
  2. Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
  3. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
  4. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.
Trading Place
Metode ini memungkinkan peserta didik lebih mengenal, tukar menukar pendapat dan mempertimbangkan gagasan, nilai atau pemecahan baru terhadap berbagai masalah.

Prosedur :
1. Beri peserta didik satu atau lebih catatan-catatan Post-it (tentukan apakah kegiatan tersebut akan berjalan lebih baik dengan membatasi para peserta didik terhadap sebuah atau beberapa kontribusi)
2. Mintalah mereka untuk menulis dalam catatan merea salah satu dari hal berikut :
  • Sebuah nilai yang mereka pegang
  • Sebuah pengalaman yang telah mereka miliki saat ini
  • Sebuah ide atau solusi kreatif terhadap sebuah problema yang telah anda tentukan
  • Sebuah pertanyaan yang mereka miliki mengenai persoalan dari mata pelajaran
  • Sebuah opini yang mereka pegang tentang sebuah topik pilihan anda
  • Sebuah fakta tentang mereka sendiri atau persoalan pelajaran
3. Mintalah peseta didik menaruh (menempelkan) catatan tersebut pada pakaian mereka dan mengelilingi ruangan dengan atau sambil membaca tiap catatan milik peserta yang lain
 
4. Kemudian, suruhlah para peserta didik berkumpul sekali lagi dan mengasosiasikan sebuah pertukaran catatan-catatan yang telah diletakkan pada tempatnya (trade of Post-it notes) satu sama lain. Pertukaran itu hendaknya didasarkan pada sebuah keinginan untuk memiliki sebuah nilai, pengalaman, ide, pertanyaan, opini atau fakta tertentu dalam waktu yang singkat. Buatlah aturan bahwa semua pertukaran harus menjadi dua jalan. Doronglah peserta didik untuk membuat sebanyak mungkin pertukaran yang mereka sukai.
 
5. Kumpulkan kembali kelas tersebut dan mintalah para peserta didik berbagi pertukaran apa yang mereka buat dan mengapa demikian. (misalnya : Mita : “Saya menukar catatan dengan Sonya karena dia telah membuat catatan tentang perjalanan ke Eropa Timur. Saya menyukai perjalanan ke sana karena saya mempunyai nenek moyang yang berasal dari Hongaria dan Ukraina

Who in the Class
Metode ini digunakan untuk memecahkan kebekuan suasana dalam kelas. Teknik ini lebih mirip dengan perburuan terhadap teman-teman di kelas daripada terhadap benda. Strategi ini membantu perkembangan pembangunan team (team building) dan membuat gereakan fisik berjalan tepat pada permulaan gerakan fisik berjalan tepat pada permulaan sebuah perjalanan.

Prosedur:
1. Buatlah 6 sampau 10 pertanyaan deskriptif untuk melengkapi frase : Carilah seseorang yang…………
  • Suka/senang menggambar
  • Mengetahui apa yang dimaksud rebonding
  • Mengira bahwa hari ini akan hujan
  • Berperilaku baik
  • Telah mengerjakan PR
  • Punya semangat kuat dalam belajar
  • dll
2. Bagikan pernyataan-pernyataan itu kepada peserta didik dan berikah beberapaperintah berikut Kegiatan ini seperti sebuah perburuan binatang, kecuali bahwa anda mencari orang sebagai pengganti benda. Ketika saya berkata “mulai” kelilingilah ruangan dengan mencari orang-orang yang cocok dengan pernyataan ini. Anda bisa menggunakan masing-masing orang hanya untuk sebuah pernyataan, meskipun dia memiliki kecocokan lebih dari satu. Tulislah nama orang tersebut

3. Ketika kebanyakan peserta didik telah selesai, beri tanda stop berburu dan kumpulkan kembali ke kelas.
 
4. Guru dapat menawarkan sebuah hadiah penghargaan teradap orang yang selesai pertama kali. Yang lebih penting surveilah kelas tersebut. Kembangkan diskusi singkat tentang beberapa bagian yang mungkin merangsang perhatian dalam topik pelajaran.

Resume kelompok
Teknik resume secara khusus menggambarkan sebuah prestasi , kecakapan dan pencapaian individual, sedangkan resume kelompok merupakan cara yang menyenangkan untuk membantu para peserta didi lebih mengenal atau melakukan kegiatan membangun tem dari sebuah kelompok yang para anggotanya telah mengenal satu sama lain.

Prosedur :
1. Bagilah peserta didik ke dalam kelompok sekitar 3 sampai 6 anggota
2. beritahukan kelas itu bahwa kelas berisi sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat
3. Sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah dengan membuat resume kelompok.
4. Berikan kelompok cetakan berita dan penilai untuk menunjukkan resume mereka. Resume tersebut seharusnya memasukkan beberapa informasi yang bisa menjual kelompok tersebut secara keseluruhan. Data yang disertakan bisa berupa :
  • Latar belakang pendidikan; sekolah-sekolah yang dimasuki
  • Pengetahuan tentang isi pelajaran
  • Pengalaman kerja
  • Posisi yang pernah dipegang\keterampilan-keterampilan
  • Hobby, bakat, perjalanan, keluarga
  • Prestasi-prestasi
5. Ajaklah masing-masing kelompok untuk menyampaikan resumenya

Prediction
Metode ini dapat membantu para siswa menjadi kenal satu sama lain. Prosedur :
1. Bentuklah sub-sub kelompok dari 3 sampai 4 orang siswa (yang relatif masih asing satu sama lain)
2. Beritahukan pada peserta didik bahwa pekerjaan mereka adalah meramalkan bagaimana masing-masing orang dalam kelompoknya akan menjawab pertanyaan tertentu yang telah dipersiapkan untuk mereka, seperti :
  • Kamu menyukai musik apa?
  • Apa di antara kegiatan waktu luang favorit anda?
  • Berapa jam kamu bisa tidur malam?
  • Berapa saudara kandung yang kamu miliki dan kamu berada pada urutan berapa?
  • Di mana kamu dibesarkan?
  • Seperti apa kamu ketika masih kecil?
  • Apakah orang tua kamu bersikap toleran atau ketat?
  • Pekerjaan apa yang telah kamu miliki?
3. Mintalah sub-sub kelompok mulai dengan memilih satu orang sebagaoi subyek pertamanya. Dorong anggota kelompok se spesifik mungkin dalam prediksi mereka mengenai orang itu. Beritahukan mereka agar tidak takut tentang tebakan-tebakan yang berani.
 
4. Mintalah masing-masing anggota kelompok bergiliran sebagai orang fokus/utama.

Teknik Melakukan Konseling

  • Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien
    Dasar melakukan Konseling adalah sebagai berikut :

    A, Tahap awal
    1. Good Raport : pada saat pertama kali anda bertemu dengan klien anda harus membangun hubungan yang baik, anda bisa bertanya mengenai kegiatan apa yang dilakukan sebelum bertemu anda, menanyakan kabar, atau hanya sekedar menanyakan "apakah anda sudah sarapan atau belum ?"
    2. Attending : adanya kesiapan diri secara fisik untuk dapat meyakinkan klien bahwa kita sepenuhnya menaruh perhatian kita padanya, bahwa kita peduli terhadap mereka. Meliputi tatapan mata yang konstan kepada klien, postur tubuh, anggukan kepala dan ekspresi muka saat mendengar masalah mereka.
  • B. Tahap eksplorasi
    1. Probing : menggali lebih dalam lagi informasi dari diri klien, adapun dapat dilakukan denga dua cara. a. Open Question : Pertanyaan yang memancing klien untuk dapat bercerita panjang lebar mengenai masalahnya. Contoh : bagaimana hubungan anda dengan mantan anda b. Closed Question : Pertanyaan yang hanya memancing klien untuk menjawab iya atau tidak, sudah atau belum, dsb. Contoh : Apakah anda terlibat pada saat kejadian itu berlangsung
    2. Clarifying : mengklarifikasi mengenai ucapan ucapan atau kata kata klien kepada kita, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara konselor dan konsele
    3. Perception Checking : menguji apakah antara konsele dan konselor sudah satu frame dalam melihat masalahnya
    4. Focusing : jika waktu yang ada tidak banyak dan berfokus menyelesaikan masalah kita harus tetap menjaga klien agar tetap fokus dalam menceritakan inti masalahnya, sehingga pada saat klien menceritakan masalah yang tidak relevan kita bisa menghentikannya dengan cara yang halus, "mungkin anda bisa menceritakan kembali masalah yang sebelumnya ?" sebaiknya hal ini tidak dikatakan dengan memotong pembicaraan klien, tetapi menunggu klien selesai berbicara
    5. Confronting : Hal ini tidak dianjurkan, teknik ini dipakai untuk membuat klien berpikir dan bersifat sedikit menyerang. contohnya adalah , "lalu mengapa anda masih mau menjadi kekasihnya jika semenjak awal anda bercerita kekasih anda adalah seorang pemabuk, kejam, dan anda tidak suka ?"
    C. Tahap Konsolidasi
    1. Reflecting Experience : Menceritakan pengalaman kita yang serupa dengan kejadian yang dialami oleh klien, sehingga bisa berbagi sudut pandang.
    D. Tahap Planning (Perencanaan)
    1. Advicing : membantu klien untuk dapat merencanakan sendiri hal apa yang akan klien lakukan setelah proses konseling ini berakhir. Contoh : " lalu setelah semua hal yang terjadi ini apa yang akan anda lakukan?"
    2. Informing : memberikan informasi dari sudut pandang kita mengenai hal yang ada dalam permasalahan klien
    E. Tahap Termination
    1. Summarizing : menyimpulkan masalah yang dialami klien, kesimpulan dibuat berdasarkan semua hal hal yang dikemukakan oleh klien.

    Strategi Pembelajaran Kooperatif ( SPK )

    Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system pengelompokan/tim kecil,yaitu antara empat antara enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik,jenis kelamin,rasa tau suku yang berbeda.

    Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok,setiap kelompok akan memperoleh penghargaan atau reward,jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.Dengan demikian setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif.Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggungjawab individu terhadap kelompok dan ketrampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok.

    Strategi Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala :
    1. Guru menekankan pentingnya usaha kolektif,disamping usaha individual dalam belajar.
    2. Jika guru menghendaki selruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar
    3. Jika guru ingin menanamkan,bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya.
    4. Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
    5. Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
    6. Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
    Karakteristik dan prinsip prinsip SPK

    Karakteristik SPK
    1. Pembelajaran secara tim
    2. Berdasarkan pada managemen kooperatif
    3. Kemauan unyuk bekerjasama
    4. Keterampilan bekerjasama
    Prinsip prinsip SPK
    1. Prinsip ketergantungan positif
    2. Tanggungjawab perseorangan
    3.  Interaksi tatap muka
    4. Partisipasi dan komunikasi
    Prosedur Pembelajaran Kooperatif
    Prosedur pembelajaran kooperatif pada dasarnya terdiri atas empat tahap 1,penjelasan materi,2belajar dalam kelompok,3 penilaian,dam 4 pengakuan tim.

    1. Penjelasan materi
    Tahap penjelasan dimaksudkan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok.Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok.Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah,curah pendapat,dan tanya jawab,bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi.Di samping itu guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.

    2. Belajar dalam kelompok
    Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran,selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada keolmpoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya.Pengelompokan dalam SPK bersifat heterogen,artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan=perbedaan setiap anggotanya,baik perbedaan gender,latar belakang agama,social ekonomi dan etnik,serta perbedaan kemampuan akademik.

    3. Penilaian
    Penilaian dalam SPK dapat dilakukan dengan tes atau kuis.Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok.Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa’dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok.Hasil aklhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua.Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya,Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.

    4. Pengakuan tim
    Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol,atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.

    Keunggulan dan kelemahan SPK

    Keunggulan SPK
    1. Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru,akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri,menemukan informasi dari berbagai sumber,dan belajar dari siswa yang lain.
    2. SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
    3. SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
    4. SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
    5. SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan social,termasuk pengembangan rasa harga diri,hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain,mengembangkan ketrampilan mengatur waktu,dan sikap positif terhadap sekolah.
    6. Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,menerima umpan balik.Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan,karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya
    7. SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
    8. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.
    Keterbatasan SPK
    1. Untuk memahami dan mengerti filosofi SPK memang butuh waktu
    2. Cirri utama SPK adalah siswa saling membelajarkan.Oleh karena itu,jika tanpa peer teaching yang efektif,maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru,bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa..
    3. Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok.Namun demikian,guru perlu menyadari,bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
    4. Keberhasilan SPK dalam paya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.Dan,hal ini tidak mungkin tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini.
    5. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting utnuk siswa,akan tetapi banyak aktifitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampaun secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri..

    STATISTIK DAN PENELITIAN

    Tujuan perkuliahan : Mata kuliah Statistika terapan ini dimaksudkan untuk membekali mahasiswa  dengan pemahaman akan kegunaan statistik dalam penelitian serta memampukan mereka uhntuk melakukan kajian-kajian terhadap data-data statistik untuk membuat kesimpulan-kesimpulan.  Kemampuan dan pengalaman ini diharapkan  dapat digunakan oleh mereka dalam melakukan analisis data untuk kepentingan penelitian dalam penulisan skripsi ataupun  dalam menerapkannya untuk kepentingan peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam perkuliahan mahasiswa dihadapkan kepada penggunaan statistika dalam menghadapi beragam permasalahan yang sering muncul dalam dunia pendidikan. Mata kuliah ini didisain untuk meletakan dasar-dasar statistika yang kokoh bagi mahasiswa  tentang statistika serta teknik-teknik dalam statistika  dan penggunaannya dalam penelitian skripsi.

    1. PENDAHULUAN.
    Statistics is difficult to learn. Begitulah salah contoh dalam buku Bahasa Inggris pegangan mahasiswa. Pernyataan bahwa statistik sulit untuk dipelajari tidaklah berlebihan. “Jika orang mendengar kata statistik, maka asosiasi mereka adalah tentang sesuatu yang ruwet, memusingkan, penuh dengan rumus-rumus yang rumit, membosankan, dan sebagainya.” Apalagi bagi mahasiswa jurusan bahasa yang selalu identik dengan penelitian literature, maka penggunaan sttaistik ternyata menemukan banyak kesulitan untuk menentukan analisis statistik yang tepat dan mengaplikasikan analisis yang telah dipilih terutama dijurusan bahasa.

    Namun dengan semakin meluasnya penggunaan komputer akhir-akhir ini, metode pengajaran Statistik di beberapa perguruan tinggi telah mengalami perubahan yang dramatis, bahwa ketersediaan perangkat keras dan lunak komputer telah memberikan banyak kemudahan kepada peneliti dalam menganalisis hasil penelitian yang secara manual diakui masih sulit dan rumit.

    Bila dahulu ada anggapan bahwa penelitian yang meneliti tiga variabel atau lebih hanya dapat dilakukan oleh peneliti setingkat mahasiswa S2 atau bahkan S3, dikarenakan sulitnya analisis multivariat, sekarang itu bisa dilakukan oleh mahasiswa S1 atau oleh peneliti pemula sekalipun. Singgih Santoso [1]menganggap bahwa perkembangan Software Statistik yang pesat membuat penggunaan metode statistik Multivariat yang sangat komplek menjadi mudah dan praktis. Kalau terhadap statistik Multivariat saja menjadi mudah dan praktis, apalagi bagi statistik univariat dan bivariat.

    Hal lain adanya analisa literature di jurusan bahasa yang dianggap lebih familier dibandingkan analisa statistik ternyata juga berpengaruh terhadap keinginan peneliti bahasa untuk menggunakan analisis statistic tersebut diatas

    Berangkat dari latar belakang masalah di atas, maka penulis melalui diktat perkuliahan statitik terapan ini berusaha memberikan kesan mudah terhadap statistik dengan memberikan contoh dan aplikasinya untuk penelitian staistik terutama dijurusan bahasa.

    1. Definisi statistik.
    Statistika berasal dari bahasa Yunani “status”. Pada awalnya, statistika diartikan oleh Godfried Achenwall pada tahun 1749 sebagai “kumpulan data mengenai Negara dan jumlah penduduknya untuk menunjang administrasi pemerintahan” atau “ilmu politik dari beberapa Negara”.
    Statistik berasal dari state artinya Negara, karena jaman dulu statistik hanya digunakan dalam aktifitas kenegaraan[2] atau statistik juga dapat diartikan sebagai data, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah 'statistika' (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic). Statia = catatan administrasi peemrintahan di US, stochos (Yunani)= anak panah= sesuatu yang mengandung ketidak pastian.tetapi juga  secara luas diartikan sebagai alat untuk analisis dan membuat keputusan[3] sedangkan menurut Singgih Santoso[4] statistik bisa dihubungkan dengan angka sehingga diartikan sebagai numerical descripstion; begitu juga dalam bahasa penggunaannya tidak begitu jauh berbeda seperti penelitin pendidikan, teknik, ekonomi manajemen dan lain sebagainya.

               Muhammad Nisfiannoor (2009) dalam bukunya Pendekatan Statistic Modern Untuk Ilmu Social mendefinsiskan sebagai :
     statistic sebagai “catatan-catatan yang telah dibuat menegnai suatu data atau fakta dan telah disusun secara sistematik dengan tujuan agar orang yang membacanya dapat dengan mduah emmahami serta memperoleh gambaran tentang apa yang telah dikemukakan. [5]

    Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas.

    statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah 'statistika' (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic).  Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif.

    Penggunaan istilah statistika berakar dari istilah istilah dalam bahasa latin modern statisticum collegium ("dewan negara") dan bahasa Italia statista ("negarawan" atau "politikus").

    Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai "ilmu tentang negara (state)".

    Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama peluang. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.

    Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.

    Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal.

    C.     Manfaat Statistik dalam Penelitian Kuantitatif

    Setidaknya ada 4 (empat) manfaat Statistik dalam penelitian kwantitatif:
    1.      Untuk menghitung besarnya anggota sampel yang diambil dari populasi, sehingga sampel dapat lebih representatif dan dapat dipertanggungjawabkan.
    2.      Untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen.
    3.      Teknik-teknik untuk mendeskripsikan data sehingga data lebih komunikatif
    4.      Alat untuk analisis data.

    D.    Macam-macam Statistik

                 Statistik dapat dibedakan menjadi dua, deskriptif dan inferensial. Statistik Deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan data atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk generalisasi.
    Sementara statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeneralisasikan.Statistik inferensial dapat dibedakan menjadi dua, parametris dan non-parametris.
    Statistik parametris terutama digunakan untuk menganalisis data interval atau rasio yang diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Sementara non-parametris terutama digunakan untuk menganalisis data nominal atau ordinal. Atau datanya interval atau rasio tetapi tidak berdistribusi normal.
                            


    E.                 Landasan kerja statistic
    Ada tiga jenis landasan kerja statistik, menurut Sutrisno Hadi (2004:222-223) yaitu:
    a.  Variasi. Didasarkan atas kenyataan bahwa seorang peneliti atau penyelidik selalu menghadapi persoalan dan gejala yang bermacam-macam (variasi) baik dalam bentuk tingkatan dan jenisnya.
    b.  Reduksi. Hanya sebagian dan seluruh kejadian yang hendak diteliti (penelitian sampling
    c.  Generalisasi. Sekalipun penelitian dilakukan terhadap sebagian dan seluruh kejadian yang hendak diteliti.


    [1] Santoso, Singgih, SPSS, Gramedia, 2011 : 12
    [2] Usman, Husaini, Prof. Dr., Et.Al., Pengantar Staistik, Bumi Aksara, Jakarta, 2008: 3
    [3] Sugiono, Statistic Untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung, 2004:12
    [4] Ibid, singgih santoso, hal.1
    [5] Nisfiannoor, Muhammad, Pendekatan Staistika Modern Untuk Ilmu Social, Salemba Humanika, Jakarta, 2009 : 2

    Strategi Pembelajaran Konstekstual Teaching and Learning ( CTL)

    CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas–asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Ketujuh asas tersebut antara lain “
     
    1. Konstruktivisme
    Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognisi siswa berdasarkan pengalaman.Menurut konstruktivisme,pengalaman itu memang bersala dari luar,akan tetapi dikontruksi oleh dan dari dalam diri seseorang.Oleh sesbab itu pengalaman terbentuk oleh dua factor penting yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subyek untuk menginterpretasi obyek tersebut.

    2. Inkuiri
    Asas kedua dalam pembelajaran kontekstual adalah inkuiri.Artinya,proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat,akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.Dengan demikian dalam proses perencanaan,guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal,akan tetapi meransang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.

    3. Bertanya
    Belajar pada dasarnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.bertanya dapat dianggap sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu,sedangkan menjawab pertanyaam mencerminkan kemampuan sesorang dalam berpikir.Dalam proses pembelajaran CTL guru tidak menyampaikan informasi begitu saja,akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri.Karena itu peran bertanya sangat penting,sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbng dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.

    4. Masyarakat belajar
    Dalam CTL penerapan masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar.Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen baik dilihat dari kemampuan belajar dan kecepatan belajarnya.Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan,yang cepat didorong untuk membantu yang lambat belajar.

    5. Pemodelan
    Yang dimaksud dengan asas pemodelan, adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing.guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola dan lain sebagainya.
     
     6. Refleksi
    Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.Melalui refleksi pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognisi siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang telah dibentuknya.

    7. penilaian nyata
    Penilaian nyata (authentic assesement ) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak.apakah pengetahuan belajar siswa mempunyai pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.

    Pola dan Tahapan Pembelajaran Kontekstual ( CTL )

    Misalkan pada suatu hari guru akan membelajarkan anak tentang fungsi pasar.kompetensi yang harus dicapai adalah kemampuan anak untuk memahami fungsi dan jenis pasar.Untuk mencapai kompetensi tersebut dirumuskan beberapa indicator hasil belajar:
    1. siswa dapat menjelaskan pengertian pasar
    2. siswa dapat menjelaskan jenis-jenis pasar
    3. siswa dapat menjelaskan perbedaan karakteristik antara pasar tradisional dengan non tradisional (swalayan).
    4. Siswa dapat menyimpulkan tentang fungsi pasar
    5. Siswa bisa membuat karangan yang ada kaitannya dengan pasar.
    Pola Pembelajaran CTL
    Untuk mencapai kompetensi tersebut dengan pendekatan CTL,guru menggunakan langkah-langkah pembelajaran seperti berikut :

    a. Pendahuluan
    1. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
     
    2. Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL
    • Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelomppok sesuai dengan jumlah siswa
    • Tiap kelompokditugaskan untuk melakukan observasi.Misalnya kelompok 1,dan 2 observasi ke pasar tradisional,kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke pasar swalayan.
    • Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan di pasar-pasar tersebut.
    3. Melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.

    b. Inti
    Di lapangan
    1.siswa melakukan observasi ke pasar sesuai dengan pembagian kelompok
    2. siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di pasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.

    Di dalam kelas
    1. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan temuan kelompok masing-masing.
    2. Siswa melaporkan hasil diskusi
    3. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.

    Penutup
    1. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah pasar sesuai dengan indicator hasil belajar yang harus dicapai.
    2. Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema pasar..

    Selamatkan Sekolah Kita!

     oleh Asep Syafaat

    Sekolah itu candu. Demikian ungkap mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher. Tak berlebihan memang, jika melihat profil sekolah yang kini menjadi semakin bias perannya dan cenderung bersifat formalitas.

    Celakanya, kapitalisasi pendidikan menyebabkan sekolah kena dampaknya, yakni terjadinya fenomena disorientasi tujuan pendidikan. Sekolah menjadi mandul untuk menghasilkan peserta didik yang berpengetahuan luas, berkarakter, serta memiliki keterampilan hidup.

    Sedih rasanya, jika mencermati sekolah hanya berfungsi sekadar menjadi tempat lalu-lalang guru dan murid. Interaksi "jual beli pengetahuan" antara guru dan murid hanya berlangsung dalam sebuah kotak ajaib bernama ruang kelas. Kehangatan hubungan antara guru dan murid semakin jarang, karena terlalu fokus untuk menuntaskan pencapaian materi kurikulum dan persiapan menghadapi ujian sekolah.

    Pengajaran jadi agenda utama aktivitas di sekolah. Proses pembinaan dan peneladanan kerap diabaikan. Padahal, Inkeles & Dreeben (1968) percaya bahwa sekolah dapat memberikan efek terhadap sikap hidup para pelakunya, hanya melalui proses interaksi sosial yang berlangsung di sekolah. Bukan karena faktor pemberian materi pengajaran.

    Sekolah benar-benar telah kehilangan kewibawaannya. Contoh, sekolah tidak memiliki standar kriteria dalam pemberian penghargaan dan hukuman bagi para siswanya.

    Aneh rasanya, jika semua siswa "dipaksa" untuk lulus ujian di bidang akademik. Padahal faktanya, ada sebagian dari mereka memang tidak berbakat di bidang itu.

    Di sisi lain, para siswa yang menonjol di bidang non-akademik justru kurang mendapatkan perhatian dan fasilitas untuk berkembang. Ujian nasional mendapat tempat utama untuk menguji kemampuan akademik siswa. Namun, anak yang hebat membuat komik, misalnya, mereka harus gigit jari karena tidak ada ujian nasional membuat komik. Nasib serupa akan dirasakan siswa yang memiliki kehebatan di bidang non-akademik lainnya.

    Sistem persekolahan kita belum mampu menjadikan guru sebagai sumber inspirasi keteladanan, sosok yang layak digugu dan ditiru. Di mana guru melalui perilakunya sehari-hari di dalam kelas, dijadikan model oleh para siswa.

    Bagaimana mungkin guru bisa menjadi teladan kalau bekerjanya tak pernah bisa sepenuh hati. Hidupnya dibiarkan apa adanya.

    Ada apa dengan hidup guru, itu tak pernah dijadikan persoalan serius oleh pemerintah kita. Gurunya saja naik sepeda ontel, sedangkan siswanya turun dari sedan BMW, apa kata dunia?

    Profesi guru kerap dilecehkan, bahkan diinjak-injak. Wajar rasanya jika sekolah tak pernah disesaki oleh guru yang layak diteladani oleh siswanya.

    Mereka yang hadir di depan kelas mungkin tak harus peraih penghargaan "guru teladan". Tetapi, mereka adalah orang pilihan yang paham akan tugas dan tanggung jawabnya yang teramat besar.

    Dalam bingkai cerita yang sama, sekolah harus kita amankan dari ancaman perilaku monopoli. Bowles & Gintis (1975) menyebutnya dengan istilah "penjinakan". Artinya, sekolah jadi tempat utama untuk menghasilkan peserta didik yang manut pada sistem yang dibuat di sekolah.

    Kesadaran kritis siswa menjadi tumpul karena mereka hanya mempelajari semua yang ada di buku. Generasi text book thinking, produk sekolah macam ini. Parahnya, apa yang mereka pelajari di buku pun kadang tak pernah benar-benar mereka pahami dan lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah ini dimiliki oleh mereka yang mengklaim dirinya "penguasa sekolah".


    Kekuasaan dan uang berlimpah mereka investasikan di sekolah, dengan maksud untuk melanggengkan keinginannya. Apa yang ada di isi kepala penguasa sekolah, itulah visi sekolah yang sesungguhnya. School only for profit.

    Andai sekolah menjadi komoditas politik dan ekonomi, bencana terbesar bagi dunia pendidikan kita. Pendidikan semakin kehilangan ruhnya. Sekolah hanya akan menjadi tempat eksklusif, karena hanya dihuni peserta didik dari kalangan kelas sosial tertentu saja. Education for all, basa basi saja. Artinya, sekolah hanya akan menjadi lembaga yang direkayasa untuk melanggengkan kelas sosial tertentu.

    Collins (1971) menyebut sekolah sebagai tempat untuk mendapatkan "modal budaya". Karena itu, wajar jika sekolah dalam konteks ini lebih banyak mengajarkan "budaya kelas atas". Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin banyak modal budaya yang mereka dapatkan untuk dapat diterima budaya kelas sosial yang lebih tinggi.

    Di masyarakat modal budaya, kelas menengah atas selalu dihargai lebih tinggi untuk menduduki jenis profesi bergengsi. Realita ini sekaligus menjawab pertanyaan, mengapa banyak orang berlomba-lomba mengejar pendidikan setinggi mungkin.

    Gengsi dan eksistensi, ini alasan utama bersekolah. Tegasnya, sekolah menjadi barang mahal karena hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit saja. Mereka akan bayar berapa pun harganya demi mendapatkan akses dalam strata kehidupan kelas sosial menengah atas. Celakanya lagi, bila sekolah macam ini menutup diri dari kelas sosial bawah. Sesungguhnya, keberadaan sekolah tidak terlalu menolong untuk merombak struktur sosial yang tak adil di masyarakat. Orang miskin dilarang sekolah, inilah persoalan kita.

    Dalam bahasa UU Sisdiknas (UU RI No. 20 Tahun 2003), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Mari cermati kalimat itu.

    Semua peserta didik harus belajar, tanpa kecuali. Sekolah, salah satu tempat terbaik bagi peserta didik untuk belajar melalui proses pembelajaran. Pembelajaran sendiri punya makna sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Tugas pemerintah adalah menyiapkan pendidik yang profesional dan berkarakter, serta menyediakan segala infrastruktur pendidikan agar peserta didik dapat belajar.

    Ada apa dengan sekolah kita? Mari lebih kritis melihat apa yang terjadi di sekolah agar investasi di bidang pendidikan tidak seperti membeli kucing dalam karung.
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Komentar Anda

    Nama

    Email *

    Pesan *