Sabtu, 09 Juni 2012

Salah Jurusan Karena Euphoria Kuliah Di PTN/PTS Ternama

 Oleh : Suryono Brandoi Siringo-ringo

1339176780803218988“Dulu, kampus jadi besar karena kesuksesan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin sukses karena nama besar kampusnya.” 

Fenomena inilah yang saat ini Terjadi pada para siswa Sekolah Menengah yang baru lulus. Euphoria kuliah di Perguruan Tinggi negeri atau pun di perguruan tinggi swasta ternama. Seringkali membuat para siswa-siswi yang baru lulus dari sekolah menegah ini menjadi asal-asalan dalam memilih jurusan yang akan dia jalani.

Biasanya para siswa-siswi ini dalam Mengikuti ujian seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru yang diadakan PTN/PTS tiap tahunnya. Kebanyakan para siswa-siswa ini akan memilih jurusan yang peminatnya sedikit sehingga peluang masuk ke perguruan tinggi yang di idam-idamkannya itu akan semakin besar.
 
Walau pun sebetulnya jurusan yang dipilihnya itu tidak sesuai dengan kemauannya dan tidak sesuai dengan jurusan yang dia jalani selama sekolah dulu,tetapi bisa kuliah di perguruan tinggi negeri/perguruan tinggi swasta ternama menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sebetulnya wajar-wajar saja sih pemikiran bangga bisa diterima di PTN/PTS ternama.
 
Tetapi Pemikiran bahwa bisa kuliah di PTN/PTS ternama, walau Jurusan yang diambilnya asal-asalan,dengan bermodalkan nama besar kampusnya maka setelah tamat nanti akan gampang dapat pekerjaan. Menurut saya ini pemikiran yang keliru. Memang kita mengakui bahwa sering kali perusahaan-perusahaan atau Instansi-instansi lebih mengutamakan lulus dari perguruan tinggi ternama dalam hal penerimaan tenaga kerja. Tetapi itu masih dalam tahap awalnya saja. Tahap selanjutnya, tentu ga mau dong perusahaan-perusahaan langsung menerima begitu saja karyawan barunya. Biasanya Perusahaan akan melakukan penyeleksian selanjutnya dengan menguji kemampuan calon karyawannya itu.

Disinilah seleksi yang sebetulnya, perusahaan akan menguji kemampuan yang dimiliki calon karyawan baru nya itu,mau lulusan PTN/PTS ternama pun tidak akan menjamin diterima di perusahaan itu karena perusahaan tidak menginginkan hanya nama besar kampusnya saja tetapi kemampuan dari calon karyawan baru nya lah yang dicari. Maka tidak salah bila saya berpendapat,memilih suatu jurusan di suatu perguruan tinggi bukanlah persoalan yang mudah.
Mungkin banyak yang tak menyadari bahwa salah satu penyebab tingginya angka ‘pengangguran akademik’ di Indonesia adalah ketidaksiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan dan tuntutan di dunia kerja. Nah penyebab awalnya umumnya mahasiswa salah dalam mengambil keputusan saat mereka memilih program studi yang tidak sesuai bakat dan minatnya,

Makanya kita harus berhati-hati dalam memilih program Studi di Perguruan Tinggi. Banyak mahasiswa yang bingung ketika lulus kuliah, umumnya mereka mengaku telah salah mengambil program studi atau jurusan, merasa tidak bermanfaat menimba ilmu dan sebagainya. Dan pada akhirnya tidak dapat pekerjaan layak sesuai disiplin ilmu yang mereka tekuni di perguruan tinggi.

Dalam hal memilih jurusan, Calon mahasiswa baru perlu memperhitungakan beberapa faktor seperti kemampuan, minat, bakat, kepribadian, dll. Sebab Salah memilih jurusan punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan Anda di masa mendatang. Karena kalau salah pilih jurusan, bukan tidak mungkin nantinya Anda gagal menyelesaikan perkuliahan hingga akhirnya drop out alias DO. Akibatnya, Anda akan rugi biaya, waktu yang terbuang sia-sia tak bisa digantikan dan semuanya sia-sia belaka. Syukur kalau masih bisa pindah jurusan; bagaimana kalau pindah jurusan tidak mungkin dilakukan karena sudah sedemikian besar biaya yang dikeluarkan?

Maka dari itu kita harus benar-benar teliti dalam memilih jurusan yang akan kita pelajari sesuai dengan kemampuan (bakat dan minat) sarta kepribadian yang kita miliki. Jangan hanya demi mewujudkan impian bisa kuliah di perguruan tinggi ternama,maka salah dalam memilih jurusan. Karena memilih jurusan sama dengan memilih kehidupan, bukan hanya sekedar memilih tempat sekolah belaka.

Selasa, 05 Juni 2012

Manajemen Pendidikan Islam


RESENSI :
Penulis             :   Prof. Dr. Mujamil Qomar
Penerbit          :   Erlangga
Cetak              :   2008
Tebal              :   318 Halaman

Sinopsis
Manajemen Pendidikan Islam, adalah salah satu dari beberapa ilmu pengetahuan yang memadukan karakter pendidikan agama Islam dengan ilmu manajemen, yang jelas-jelas lahir dari Barat. Namun demikian, Timur-Barat memang tidaklah tepat untuk diperdebatkan. Islamisasi juga kadang tidak begitu juga tepat. Hanya saja, pertanyaan yang sering kali muncul belakangan, apakah ada dan bisa paduan kedua kutub itu untuk menjadi alat pendidikan efektif?

Apakah mungkin manajemen profesional bisa diterapkan dalam pendidikan Islam? Perkembangan dunia pendidikan, tidak dapat tidak, ternyata terapan pola pendidikan barat tetap sudah menyatu dalam pendidikan Keislaman. Perdebatan itu berlalu dijawab oleh waktu. Pola pendidikan tidak bisa dibedakan. Zaman yang menyatukannya.
 
Buku ini hendak menjawab sistem pendidikan yang menganut paham kekinian. Aktual. Bahwa pendidikan Islam juga aktual dalam sistem. Walau pada material pengajaran tetaplah penggalian terhadap ilmu-ilmu agama.

Manajemen adalah ilmu masa kini. Karena ia membuat bangunan cara berpikir dan bertindak secara rganisatoris antara satu elemen dengan elemen lain untuk mencapai tujuan. Secara jujur, pendidikan Islam meminjam hal ini dari penemuan sistem pendidikan yang efektif dari pendidikan Barat.

Penulis buku ini memadukan pendapat dan dasar-dasar agama sebagai bahan kajian untuk mendudukan sistem manajemen pendidikan Islam. Juga memaparkan kendala-kendala yang dihadapi dalam aplikasi. Di sinilah kelemahan yang selalu muncul, karena ilmu “pinjaman”. Ia tidak sendiri. Atau setidaknya, yang dimiliki oleh lingkungan cendikiawan Islam sudah dipandang tidak relevan. Padahal, sistem pendidikan tersebut telah pula melahirkan banyak hasil. Walau terasa tidak efektif lagi untuk masa saat ini. Misalnya, pola menghafal di pondok pesantren. Sering sekali siswa diperintahkan menghafal, walau tidak tahu manfaat apa yang dihafal. Setelah hafal baru diberi keterangan. Hal ini memperlambat pemahaman. Tidak praktis. Tetapi demikian corak dalam sosiologi pendidikan Islam yang pernah ada.

Buku ini memperkaya wacana yang belum final. Dimana, unsur pendidikan, unsur manajemen, keagamaan, yang dipadu dalam satu sistem memang memiliki benturan internal eksternal yang cukup berat. Oleh karenanya, pemikiran-pemikiran dalam buku ini patut menjadi kajian lebih lanjut. Ia justru lahir dari sebuah ideologi, bukan dari hasil objek akademik. Karena, diakui oleh penulisnya, ia memadukan dasar-dasar agama dengan pendapat para sahabat. Artinya, tidak dimulai dari penelitian “bagaimana adanya” tetapi penulisnya telah membuat sistem “sebaiknya”. Inilah membuat buku ini direkomendasikan untuk dibaca oleh kalangan tenaga pendidik Islam. Agar ke depan, menemukan konsep demi konsep yang benar-benar hasil dari aplikasi dan uji coba yang mumpuni.

Dinamika Kelompok


Tuntutan bahwa dakwah harus dilaksanakan oleh setiap mukmin untuk mewujudkan rahmatan lil alamin tak dapat ditawar-tawar lagi. Proyek dakwah yang besar ini tidak dapat dipikul oleh seorang saja, melainkan dipikirkan dan dilaksanakan secara bersama dalam satu ikatan amal jama’i.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan dakwah ilallah ini banyak menemukan masalah-masalah di lapangan. Permasalahan ini tak pelak menyertai setiap aktivis dakwah dalam setiap langkah-langkahnya.

Melihat hal tersebut, makin dirasakan perlunya bekerja dalam tim untuk mengatasi masalah-masalah dalam berbagai bidang. Agar kerja tim dapat berhasil dengan baik, para anggotanya perlu memiliki kemampuan berinteraksi dan mengadakan hubungan antarpribadi yang baik. Kemampuan ini sangat membantu dalam menghidupkan amal jama’I dalam tataran halaqoh atau yang lebih besar dari itu.

Pengertian

Adanya kerja tim dalam ikatan halaqoh tarbiyah memungkinkan terciptanya dinamika kelompok. Di dalam dinamika kelompok inilah setiap anggota akan mengenali perasaan-perasaan anggota timnya, mengenali permasalahan-permasalahan yang sering timbul dalam halaqoh tarbiyah timnya, mengatasi permasalahan-permasalahan dalam aktivitas halaqohnya, dan pada gilirannya mampu mendinamiskan halaqoh timnya sehingga benar-benar halqoh muntijah itu bukan sekadar utopia belaka atau konsep saja.

Di dalam buku Dinamika kelompok oleh Drs. Slamet Santosa, M.Pd., dikemukakan bahwa dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain. Setiap anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama.
Ciri-ciri nya adalah:
  1. Adanya dorongan/motif yang sama pada setiap individu sehingga terjadi interaksi antaranggota dan tertuju dalam tujuan yang sama,
  2. Adanya reaksi dan kecakapan yang berbeda di antara individu satu dengan yang lain,
  3. Adanya pembentukan dan penegasan struktur kelompok yang jelas, terdiri dari peranan dan kedudukan yang berkembang dengan sendirinya di dalam rangka mencapai tujuan bersama, dan
  4. Adanya penegasan dan peneguhan adab-adab tingkah laku antaranggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.
Dengan demikian, urgensi mengetahui dan melaksanakan dinamika kelompok diantaranya adalah :
  1. Proyek dakwah dari Allah SWT ini tidak dapat dipikul dan dilaksanakan sendiri
  2. Individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat, di mana pun ia berada
  3. Individu tidak dapat bekerja sendiri di dalam kehidupannya
  4. Dalam suatu ikatan halaqoh tarbiayah atau suatu ikatan masyarakat yang besar perlu adanya pembagian kerja agar dapat terlaksana sesuai dengan ketentuannya
  5. Mewujudkan amal jama’I yang sehat

Kendala yang terjadi dalam suatu kelompok

Persoalan-persoalan yang ada dalam dinamika kelompok yang dapat dijumpai dalam ikatan halaqoh adalah sebagai berikut:
 
1)   Kohesi/persatuan
 Dalam persoalan kohesi ini akan terlihat tingkah laku anggota dalam kelompok, seperti proses pengelompokkan, intensitas anggota, arah pilihan, nilai kelompok dan sebagainya. Dalam kasus ini misalnya seorang a’dho/anggota merasa bermasalah dengan tingkat kehadiran anggota yang lain sehingga ikut mempengaruhi dirinya dalam menilai kelompok halaqohnya. Kasus lain misalnya, dDia bukan berada dalam satuan pekerjaan yang sama dengan anggota lain, usia anggota sangat berjauhan, dan sebagainya.
 
2)  Motive/dorongan
       persoalan motive atau dorongan ini berkisar kepada ketertarikan anggota terhadap kehidupan kelompok seperti kesatuan berkelompok, tujuan bersama, orientasi diri terhadap kelompok dan sebagainya. Kasus ini misalnya adanya a’dho yang tidak memiliki quwwatul indhifa’ dalam berhalaqoh sehingga selalu mengalami kendala dalam aktivitas halaqohnya
 
3)   Struktur
 Persoalan ini terlihat pada bentuk pengelompokan, bentuk hubungan, perbedaan kedudukan antaranggota, pembagian tugas, dan sebagainya. Misalnya, kasus seorang murobbi yang tidak memberikan tugas secara proporsional kepada seluruh anggotanya menyebabkan struktur halaqoh pincang.
 
4)   Pimpinan
       persoalan yang satu ini tidak kalah pentingnya pada kehidupan berkelompok. Hal ini terlihat pada bentuk-bentuk kepemimpinan, tugas pemimpin, dan sebagainya. Ada kalanya ketidakcocokan antara murobbi dengan anggotanya lebih disebabkan gaya kepemimpinannya dalam mengelola aktivitas halaqoh yang dianggap tak sesuai dengan harapan anggota
 
5)      Perkembangan kelompok
       persoalan perkembangan kelompok dapat pula menentukan kehidupan kelompok selanjutnya, dan ini terlihat pada perubahan dalam kelompok, senangnya anggota kelompok tetap berada dalam kelompok, perpecahan kelompok, dan sebagainya. Kasus-kasus seperti anggota yang sering dipindah-pindah, atau ditinggal murobbi tanpa pengontrolan, keringnya nuansa ukhuwah antaranggota.

Solusi atas Kendala yang terjadi

Sering dalam interaksi antaranggota terjadi konflik antaranggota, anggota dengan murobbinya, anngota dengan keluarganya dan sebagainya. Konflik ini perlu dicarikan solusinya dengan tepat. Dengan solusi yang tepat diharapkan konflik mereda dan hilang sama sekali, sebaliknya bila solusinya tidak tepat, konflik  masih tetap ada bahkan bias jadi membesar dan menyebabkan kefuturan bagi anggota itu karena akumulasi kekecewaan-kekecewaan. Bagaimana mengatasinya :

1)    Tentukan dahulu persoalan dengan tepat
2)    Munculkan perilaku asertif yakni
a.   keberanian dan kejujuran untuk mengungkapkan pendapat,    perasaan, kehendak, dan putusan pribadi seperti apa adanya tanpa merendahkan diri sendiri dan orang lain
b.  kesadaran akan hak dan kewajiban diri sendiri dan orang lain serta berupaya memenuhinya secara timbal balik    
3)  Mengembangkan  sikap mendengar aktif, pesan diri, dan umpan
     balik antar peserta dengan murabbi
4)  Gunakanlah manajemen konflik untuk menyelesaikan persoalan
     secara win-win solution
5)  Mengembangkan hikmah syura dalam halaqoh tarbiyah

Amal Jama’I

Di bagian atas telah dijelaskan dinamika kelompok mulai dari pengertian, arti pentingnya, kendala, dan solusi. Kini akan dijelaskan pula mengenai amal jama’i.
Dakwah secara berjamaah adalah dakwah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi gerakan Islam. Sebaliknya, seperti yang sudah diungkapkan pada awal modul ini – dakwah sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia. Atas dasar ini Allah SWT mengisyaratkan dalam AL Quran dengan firman-Nya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru  pada kebaikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imaran : 104)
 
Tampak dalam ayat tersebut Allah SWT mewajibkan pelaksanaan dakwa secara bersama. Sebab ikhtiar perseorangan dengan cara sendiri-sendiri tidak akan mampu memikul segala tugas dan tanggungjawab dakwah dan tidak akan berdaya melaksanakan segala tuntutan perjuangan dakwah dalam rangka memberantas segala kejahatan yang ada di muka bumi dan menghancurkan akar-akar jahiliyah.

Amal jama’I mulai diwujudkan dalam tataran halaqoh tarbiyah. Di sanalah sang murabbi akan menjadi fasilitator bagi terwujudnya amal jama,I bersama para anggotanya.

Urgensi Amal Jama,I

Urgensi amal jama’I dalam Islam adalah :
1)    tuntutan sunnatullah fil alam
2)    tuntutan sunnatul basyar
3)    tuntutan kerja amaliyah dakwah untuk menghadaipi musuh-musuh Allah SWT
4)    tuntutan karakteristik gerakan dakwah

Pokok-pokok Amal Jama’I

Pokok-pokok amal jama’I meliputi :
  1. sehatnya orientasi (ittijah) anggota ( 6 : 75-79) yang meliputi sehat mabdanya (lillah), sehat manhajnya (billah), dan sehat ghoyahnya (ilallah)
  2. sehatnya loyalitas (wala’u) anggota (2: 130-132) yang merupakan penerjemahan dari sehatnya ketaatan kepada Allah, Rasul, dan pemimpin-pemimpinnya
  3. sehatnya amal anggota (2:124) dengan karakter anggota yang berkorban (tadhiyah), bersungguh-sungguh (jiddiyah), dan berkelanjutan (istimroriyah)  untuk menopang jihad di jalan Allah

Sasaran Amal Jama’I

Sasaran amal jama’I pada setiap anggota adalah :
  1.  tercapainya perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan, dan evaluasi atas amal-amal dakwah secara baik dalam halaqoh tarbiyah melalui sarana proyek-proyek kecil hingga berskala besar, baik dalam bentuk kepanitiaan majlis ta’lim, rihlah, pernikahan, badan usaha, dan sebagainya 
  2. tercapainya keterlibatan anggota secara aktif dalam menyukseskan amal jama’I di halaqoh tarbiyahnya  pada skala kecil atau jamaah secara lebih luas.
  3. Tercapainya pemahaman peserta yang shahih tentang amal jama’

Mendinamiskan Halaqoh

Berikut ini disampaikan beberapa upaya untuk mendinamiskan halaqoh tarbiyah :
  1. murobbi mengenali anggota-anggotanya secara baik meliputi pengenalan zhohiri dan ma’nawi
  2. menciptakan iklim halaqoh tarbiyah yang kondusif bagi pemunculan ukhuwah bainal a’dho, ketsiqohan dengan murobbi, dan ketaatan anggota pada murobbinya
  3. menggunakan berbagai sarana tarbiyah secara optimal dan tepat untuk berbagai keperluan  dan mengembangkannya
  4. menjaga keistimroriyahan perjalanan halaqoh tarbiyah untuk mencegah dampak insyilah akibat ketidakhadiran anggota dalam halaqoh tarbiyah

Penutup

Demikianlah modul dinamika kelopok ini dibuat. Dengan harapan akan terwujudlah upaya melatih berdinamika kelompok antaranggota untuk mewujudkan amal jama’I dalam halaqoh tarbiyah. Modul ini akan dilengkapi dengan berbagai metode penyampaian materi ke arah pelatihan hingga sesuai dengan apa yang diharapkan.

Maroji’
  1. Drs. Slamet Santosa, M.Pd. Dinamika Kelompok
  2. Pelatihan Dinamika Kelompok
  3. Mustafa Masyhur, Amal Jama’I
  4. Hildegard Wenzler-Cremer dan Maria Fischer, Proses Pengembangan Diri

PRESENTASI EFEKTIF



a. Pendahuluan
            Presentasi merupakan salah satu cara dalam upaya menjelaskan sesuatu topik atau bahasan tertentu dengan menggunakan (multi) media dalam waktu yang relatif singkat. Media yang dimaksud dapat berupa media tulisan, visual, verbal atau gabungan dari berbagai media (multi-media). Dengan kata lain, presentasi mestilah bertujuan untuk menyampaikan atau menjelaskan sesuatu bahasan dengan menggunakan alat peraga yang menyebabkan pembahasan tersebut menjadi sistematis, menarik dan mudah dimengerti.
Dalam dunia pendidikan orang dewasa presentasi merupakan cara yang paling banyak digemari oleh para instruktur (pengajar) karena pendekatan tersebut dapat dengan mudah dan efektif menjelaskan bahasan-bahasan yang kompleks dan rumit sedemikian rupa sehingga kegiatan belajar-mengajar menjadi tidak membosankan dan melelahkan.

b. Persiapan presentasi

a). Hal yang paling awal untuk dipersiapkan untuk melakukan presentasi adalah
meyakinkan diri dengan pertanyaan berikut:
  1. Bahasan atau tema apa yang akan saya sampaikan ?
  2. Seberapa luas cakupan bahasan yang harus saya sampaikan dan berapa waktu yang tersedia ?
  3.  Dapatkan saya membuat daftar poin-poin utama dari seluruh bahasan yang akan saya sampaikan ?
  4. Sudahkan saya mendapatkan cukup bahan (informasi) untuk mensupport bahasan yang akan saya sampaikan, seperti: data, argumentasi, contoh, dalil, kasus dsb ??
b). Mengetahui medan presentasi: siapa dan bagaimana karakteristik audience, berapa jumlah mereka, bagaimana struktur kelas dan tata ruang yang tersedia, fasilitas presentasi yang ada, serta waktu presentasi. Dengan mengetahui medan ini, paling tidak ada kesiapan antisipatif baik psikologis maupun teknis.
c). Menyiapkan alur dan struktur bahasan dengan mempertimbangkan waktu yang tersedia. Sebaiknya dilakukan persiapan rancangan alur pembahasan dalam draft yang ditulis dalam satu lembar kertas. Rancangan ini membantu menjaga sistematika dan efisiensi presentasi, sehingga tidak ‘terjebak’ membahas sesuatu yang jauh melenceng dari topik bahasan.

d). Menentukan cara dan media yang akan digunakan. Pada intinya, gunakanlah cara dan media yang paling komunikatif dan mudah difahami. Bila topik bahasan seputar konsep-konsep dan pengertian, maka pendekatan verbal menjadi pilihan yang memadai. Membuat makalah yang sistematis, jelas urut-urutan dan poin-poin bahasan menjadi tuntutan pokok. Apalagi bila disertai dengan ringkasan makalah yang disajikan di awal atau di akhir bahasan. Bila pokok bahasan menyangkut suatu kajian sebab-akibat, atau suatu proses (kejadian) pendekatan visual dengan gambar-gambar grafis yang relevan akan sangat membantu mempercepat pemahaman peserta didik.

c. Kiat-kiat Presentasi yang menarik

Agar presentasi menarik, hendaknya dilakukan hal-hal berikut:
a).    Structure. Hendaknya bahan yang akan disampaikan tersusun secara sistematis dengan alur yang jelas dan mudah difahami. Bila bahan yang akan disampaikan sangat padat dengan masalah konsepsional dan teoritis, susunlah dengan bentuk sebagai berikut: 
      a. Pengantar:       -     membangkitkan perhatian dan minat peserta
-          memaparkan ikhtisar materi bahasan
b. Bagian utama:   -    sejumlah judul utama (main points)
-          beberapa sub judul
c. Kesimpulan:      -    butir-butir atau catatan penting
                              -    diskusi dan pertanyaan
b).  Simple. Sampaikan penyajian dengan mudah dan tidak berbelit-belit. Hindari istilah-istilah yang sulit difahami, Gunakan kalimat-kalimat yang pendek, jelas dan bervariasi. Penyajian jadi sangat membosankan apabila penyaji sering menggunakan istilah-istilah yag berulang-ulang. 
3.   Surprise. Kesuksesan penyajian seringkali tergantung di titik awal penyampaian. Apabila kesan pertama penyajian menggoda, maka selanjutnya menjadi terserah anda. Oleh karena itu mulailah penyajian bahasan dengan sesuatu yang mengejutkan, memancing perhatian atau mengundang minat dan keseriusan. Gunakan kasus, data, gambar, games ataupun cerita mengenai sesuatu yang relevan dengan topik bahasan.
4.      Support. Penyajian akan sangat menarik dan meyakinkan serta mudah difahami apabila disertai dengan ilustrasi dan hala-hal yang menunjang. Lengkapilah setiap sub bahasan dengan ilustrasi yang memadai dan relevan dalam bentuk kasus, contoh aplikatif, data dan fakta, dalil.
5.      Shape. Penyajian akan menjadi enak dilihat apabila disampaikan dengan model tampilan hand out, skema, matriks atau grafis yang yang jelas, mudah dan menarik. Bentuk ini akan mempermudah pemahaman pada topik-topik bahasan yang padat dan kompleks.
6.  Style.  Gaya menyampaikan sungguh akan mempengaruhi keberhasilan penyampaian. Bila penyaji hanya duduk dan berbicara dengan nada yang datar atau monoton tentu  akan sangat membosankan. Sebaiknya gaya penyampaian dilakukan dengan berbagai variasi gaya: kadang duduk, berdiri, jalan, menyapa dengan nada bicara yang ekspresif serta penuh semangat.
7.      Smart-smile.  Penampilan yang menarik hendaknya juga dipertimbangkan dalam menyampaikan sesuatu kepada sejumlah pendengar. Seringkali kesan pertama penyajian justeru muncul dari penampilan fisik si penyaji: pakaian, kerapihan dan kebersihan serta wewangian. Penampilan yang menarik akan menjadi optimal manakala dalam proses penyampaian, tercipta hubungan dan suasana yang interaktif antara penyaji dan pendengar. Munculkanlah suasana akrab dan hangat melalui teguran, sapaan, senyuman, pertanyaan, meminta tanggapan ataupun  komentar mereka.
8.      Show. Usahakanlah menggunakan media dan atau alat peraga yang memadai. Apakah dalam bentuk makalah, hand-out, flipp chart, papan tulis, transparancy-sheet, slide. Artinya, jangan hanya menggunakan lembar text-book yang merupakan bagian dari referensi yang digunakan. 
9.   Stop.  Berhenti sejenak dengan joke atau selingan-selingan segar untuk memelihara konsentrasi dan perhatian pendengar, terutama apabila bobot topik bahasan berat dan sulit.  
10.  Summarize. Menentukan akhir presentasi yang mengesankan. Kiat menutup presentasi menjadi sangat menentukan keberhasilan menyampaikan bahasan. Presentasi hendaknya diakhiri dengan merangkum kembali secara utuh pokok bahasan yang telah disampaikan, sambil terus memberi kesempatan kepada audience untuk memperjelas hal-hal yang terlewat. 

d. Penutup

 Presentasi atau penyajian suatu topik bahasan pada intinya adalah seni untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada pendengar dengan tujuan agar mereka dapat dengan mudah memahaminya. Oleh karena itu keberhasilan presentasi selain ditentukan oleh keterampilan berbicara di depan publik dengan segala kreativitas dan gaya penyampaian, juga dipengaruhi oleh pengalaman atau jam terbang yang telah dikantongi presenter. Selain itu, kemauan dan kemampuan mempelajari metode-metode yang berkembang ataupun melihat, memperhatikan dan mempelajari orang-orang yang piawai dalam penyajian juga menjadi faktor penentu bagi kesuksesan presentasi.

TARBIYAH FARDIYAH


 Definis dan urgensi

Tarbiyah Fardiyah adalah peran dan tugas individu dalam konteks amal islami, dengan keharusan melakukan interaksi sosial yang bersifat personal untuk memperoleh satu tujuan dan sasaran dengan unsur-unsur pendekatan yang baru , diluar  kelaziman pelaksanaan Tarbiyah Jama’iyyah pada umumnya seperti halnya dalam bentuk halaqoh. Unsur-unsur pendekatan dalam Tarbiyah Fardiyah diusahakan agar seseorang pada awalnya tertarik dengan fikrah Islam  melalui proses Tarbiyah dan Takwin, baru setelah itu mengajaknya terlibat dan berpartisipasi lebih jauh lagi dalam amal da’wah. Dalam hal ini diberikan kebebasan bagi siapa saja yang hendak menjalankan misi Tarbiyah Fardiyah untuk memanfaatkan seoptimal mungkin seluruh akses (Relasi) dan prakondisi untuk melakuakn penetrasi fikroh dan mengupayakan kepuasan objek da’wah (Mutarabbi Fardy) dengan fikroh-fikroh yang ditawarkan kepadanya.

Lantas sejauh mana urgensi Tarbiyah Fardiyah dalam konteks amal islami?. Ikhwah Fillah, sesungguhnya amal Islami tidak dapat berjalan kecuali dengan satu proses dan cara sebagaiman yang telah  dilalui dan dijalankan oleh para Rosul ‘alaihimussholaatu wassalaam melalui media tarbiyah yang digerakkan untuk menyingkap dan mengenali hakekat agama ini (Al-Islam) secara menyeluruh. Berkata Imam Hasan Al-Banna: “Sesungguhnya Manhaj Ikhwanul Muslimin terwujud dalam pembatasan marhalah dengan kejelasan langkah-langkah nya, maka dari itu kita tahu sebenarnya apa yang kita inginkan, dan juga kita tahu sarana yang dapat merealisasikan keinginan – keinginan itu”.

Status hukum dan prinsip-prinsipnya

Tarbiyah fardiyah ditinjau dari kewajibannya secara hukum,  dapat dipahami dari bentuk-bentuk audiensi firman Alloh SWT yang diarahkan secara eksplisit kepada setiap individu muslim, juga arahan nabawi yang mengarah kepada hal yang sama, semua itu adalah Taklif ynag memperkuat keharusan adanya rasa tanggung jawab pada setiap individu muslim untuk mengemban tugas da’wah islamiah, sebagaimana firman Alloh SWT dalam surat Fusshilat: 33, As-syura: 15, dan an-nahl ; 125.

Adapun hadits Rosululloh SAW yang dapat dijadikan landasan syar’i Tarbiyah Fardiyah adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Said Al-Khudry ; “Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa dengan lisannya, jika tidak bisa dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. Juga dalam hadits riwaayat Muslim lainnya: “Barang siapa yang menunjukan kepada kebaikan maka baginya pahala sebesar pahala orang yang mengerjakannya”.

Berkaitan dengan tarbiyah fardiyah Imam Hasan Al-banna mengingatkan kita bahwa kewajiban Tarbiyah fardiah adalah kewajiban untuk bersungguh-sungguh dalam beramal, dengan menempuh proses “Takwin ba’da Tanbih” (Pembentukan setelah pengarahan) dan “Ta’sis ba’da Tadris” (Pemantapan atau pengokohan setelah pengajaran).

Minimal ada enam prinsip untuk melancarkan efisiensi dan efektifitas tarbiyah fardiyah:

Pertama: Al-Manhaj As-salim, yaitu konsep yang benar, yang mampu mencetak pribadi dan generasi islami, konsep yang terpadu dan menyeluruh meliputi aspek-aspek tarbiyah fikriyah, ruhiyah dan akhlakiah.

Kedua: Al-qudwah al-hasanah, yaitu dalam hal ketaqwaan, kewaro’an dan pengamalan ilmunya.

Ketiga: Al-bi’ah As-sholehah, ya’ni dengan menyediakan nuansa dan iklim yang cocok untuk setiap individu, khusunya padaa masa-masa memasuki tahapan pembentukan pertama.

Keempat: At-Tajarrud, yaitu totalitas seorang Murabbi yang mengemban misi da’wah dalam rangka membentuk kepribadian individu muslim dan memfokuskan hal itu.

Kelima: Tadarruj, yaitu seorang Murabbi dalam konteks Tarbiyah fardiyah hendaknya memperhatikan tahapn-tahapan logis, seperti dengan stressing maslah-masalah aqidah sebelum masalah Ibadah , maslah Ibadah sebelum konsep kehidupan yang lebih luas, ringkasnya adaalah “Kulliat Qobla Juziyyat” .

Keenam: Arrifq wallin, sikap lembut dan halus adalah sarana dalam mentarbiyah, oleh karenanya hendaklah bersabar atas segala kegagalan dan kesalahan sampai datangnya satu masa dimana buah dari kesabaran itu akan tampak membuahkaan hasilnya.  

Sarana dan keistimewannya

Adapun sarana tarbiah fardiyah banyak macamnya yang dapat digunakan secara bertahap sesuai dengan tahapan pendekatan Murabbi terhadap Individu mad’unya. Dalam bentuk tatap muka misalnya (Liqo’), seorang Murabbi tarbiyah fardiah bisa memnfaatkan pertemuan dengan membaca al-Qur’an, mengkaji hadits atau siroh, pertemuan tersebut sedapat mungkin dicarikan waktu dan tempatnya yang cocok, bisa juga memanfaatkan pertemuan di Halaqoh (ta’lim) Masjid, seminar Ilmiah, atau dengan mengajaknya ke Rumah makan, dalam bentuk yang lebih sederhana sarana Tarbiyah fardiah bisa dengan menghadiahkan sebuah buku yang bermuatan fikroh islam, sehingga pada pertemuan berikutnya bisa didiskusikan hasil dari bacaan buku tersebut. Semua hal tersebut di atas adalah sebagian dari sarana-sarana tarbiyah fardiyah. Adapun selebihnya seorang murabbi dengan kecerdasaannya dapat mengeksplorasi dan mengembangkan sarana-sarana lainnya lebih banyak lagi.

Tarbiyah fardiyah bila dijalankan sesuai dengan manhajnya maka ia  akan menjadi sarana yang paling efektif , paling kuat pengaruhnya, dan paling terjamin kualitasnya terhadap individu mad’u, keistimewaan Tarbiyah fardiyah terletak pada fokus perhatian yang lebih terhadap mad’u dan kesempatan memberi pengaruh lebih besar, sehingga menjadi besar pula tibgkat keberhasilan mengajak oarang ke jalan da’wah.

Tarbiyah fardiyah adalah salah satu gaya pendekatan (Uslub) dalam berda’wah, akan tetapi gaya pendekatan yang satu ini tidak mungkin efektif dan membuahkan hasil bagi kalangan juru dakwah dengan berbagai level mad’unya, karena para da’i yang memainkan da’waahnya dengan gaya ini dituntut untuk memiliki beberapa karakteristik khusus yang menjamin kapabilitas dirinya melalui jalan da’wah dengan gaya pendekatan yang satu ini. Dengan kata lain tarbiyah fardiyah tidak dapat dilakukan oleh seseorang yang hanya disebut dan dikenal sebaagai Da’i saja, tapai harus oleeh seseorang yang telah mendaapat predikat Da’i plus yaitu Da’i Murabbi.

Karakteristik Da’i Murabbi

Adapun beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang da’i Murabbi antara lain adalah:
                                                                      
  1. Al-Fahmu As-syamil al-kamil, yaitu pemahaman yang sempurna dan menyeluruh terhadap dasar-dasar keislaman dan rambu-rambu petunjuknya, juga terhadap apa yaang akan dida’wahkannya, karena seorang da’i Murabbi akan mentarbiyah seseorang yang memiliki akal, perasaan dan pemahaman, dan orang trsebut akan merefleksikan apa yang didengar dan diperhatikan dari sang Murabbi, maka apabila seorang da’i Murabbi tidak memiliki level pengetahuan yang memadai dan wawasan pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar keislaman, maka hal itu akan memindahkan sebuah kebodohan kepada Mad’u itu sendiri, yang paada gilirannya akan menimbulkan masal;aah dam pembentukan kepribadian muslim sang mad’u itu sendiri.
  1. Waqi’ ‘Amaly, yaitu keteladanan sang Da’i Murabbi dengan amal perbuatannya yang secara real tampak jelas padaa prilakunya, seperti geraknya, diamnya, bicaranya, atributnya, pandangannya dan ibrohnya, seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keimanan dan pemahaman dalam kehidupan sang da’i Murabbi, dalam rangka memberikan pengaruh keteladnan yang baik (Qudwah shalihah) pada saat kemunculannya di tengah-tengah masyarakat.  Imam Hasan Al-Banna mensifati Da’i Murabbi dengan sebutan Da’i Mujahid, lebih jelasnya beliau menyebutkan bahwa da’i Mujahid adalah: “Sosok seorang Da’i yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, yang terus menerus berfikir, besar perhatiannya dan siap siaga selalu”. Begitulah seharusnya seorang Da’i, tercermin iman dan keyakinannya pada prilaku dan amalnya. Berdasarkan penelitian pada perjalanan kehidupan sang Da’i , bahwa pengaruh mereka terhadap banyaak orang lebih banyak berasal dari prilaku dan akhlaknya yang istiqomah di setiap keadaan. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa “Manthiqal Af’al aqwa min manthiqil aqwal” ( Logika amal / perbuatan lebih kuat dari logika kata-kata). Dikaataakn pulaa oleh ulama saalafusalih: “Man lam tuhadzdzibka ru’yatuhu fa’lam annahu ghairu Muhaadzdzab” (Barang siapa yang tidak mendiddikmu ketika engkau melihatnya maka ketahuilah bahwa orang itu juga tidak terdidik). Al-imam Syafi’i rahimahullohu berkata: “Man wa’adzho akhohu bifi’lihi kaana Haadiyan” (Barang siapa yang menasehati seudaranya dengan amal perbuatannya maka berarti ia telah menunjukinya”. Oleh karena itu keteladanaan adalah fokus yang sangat sensitif dan halus, karena apa yang tampak pada dirinya jauh lebih besar pengaruhnya dari apa yang diucapkannya (Al-Mandzhor a’dzhomu ta’tsiran minal qoul).
  1. Al-khibroh binnufus, yaitu berpengalaman dalam memahami aspek kejiwaan, karena sesungguhnya lapangan kerja seoarang da’i Murabbi tidak lain adalah kejiwaaan, bergumul dengannya  dan menjadikaannya sasaran yang pertama dan terakhir dalam Tarbiyah, sedangkan jiwa tidak seperti gigi sisir, akan tetapi jiwa orang berbeda satu dengan yang lainnya, ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang peka dan over sensitif. Ada yang lembut , ada yang keras dan bebal dan sebagainya. Oleh karena itu seorang murabbi hendaknya mensikapui seseorang sesuai dengan kejiwaannya dan berhati-hati dalam berinteraksi dengannya, maka jangan bersikap terlalu tegas dan streng  kepada orang yang jiwanya halus dan peka, melainkan harus dihadapi dengan lemah lembut , sebaliknya orang yang jiwanya keras harus dihadapi dengan ketegasan jika ia lalai dan menyimpang. Adalah Rosululloh SAW sosok Murabbi pertama yang berpengalaman dalam ilmu jiwa, beliau tidak mempergauli paara sahabtnya dengan sikap yang sama antara yang satu dan lainnya, karena beliau sangat tahu akan tabiat manusia dan kejiwaan mereka. Dalam hadits riwayat bukhari dari Abdulloh ibnu mas’ud RA. Beliau bersabda: “Adalah Rosululloh SAW pernah beberapa hari lamanya tidak memberikan nasehat dan wejangan kepada kami, karena beliau takut kami menjadi bosan” (Al-Hadits)
Berkaitan dengan Al-khibroh binnufus, banyak contoh keteladanan dari Murabbi zaman ini, diantara mereka adalah imam Hasan al-Banna, di mana telah terjadi dialog anatara beliau dengan salah seorang ikhwah, Ikhwah tersebut berkata: “sesungguyhnya ana lagi banyak muskilah dan banyak yang ingin ana adukan kepada antum, masaalah yang ana hadapi ada yang bersifat umum dan ada yang khusus”, maka kata Imam Al-banna: “Sudahlah jangan bebani diri antum dengan masalah itu, serahkan urusan antum kepada Alloh”, “Tapi, ana ingin antum tahu”, sergah Akh tersebut, “Sesungguhny ana sudah tahu” kata Imam seraya meyakinkan Akh tersebut, “Jadi ana bahagia kaalau antum mau tahu” balas akh tersebut. Akan tetapi belum sempat ana memulai curhat, beliau sudah mendahauliku dengan rentetan musykilah dan keluhan yang dialaminya sendiri, bahkan yang mengherankan apa yang diutarakannya sama dengan apa yang ana rasakan . setelah beliau selesai berbicara, maka ana pun berkata kepadanya: “Ya ustadz….. demi Alloh sungguh ana sangat bahagia, dan ana tidak akan mengeluh lagi”, ana mengatakan semua itu sambil terisak dan bercuccuran air mata”.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sesungguhnya Tarbiyah fardiyah merupakan seni yang hanya daapat dimainkan oleh para Da’i tertentu, dan seni yang satu ini memiliki garis yang jelas dan batasan syar’i yang telah dirumuskan dalam ajaran islam. Seni yang satu ini juga bukan perkara yang mudah, semudah menulis dan mengarang sebuah buku tentang pentarbiyahan, juga semudah merumuskan manhaj dalam khayalan, akan tetapi apalah artinya bila kemudian buku dan manhaj tersebut hanya menjadi tinta bisu diatas kertas tergantung diatas rak, karena tidak dirubah potensinya dalam gerak nyata yang tampak di permukaan bumi, menjadi manusia yang menterjemahkan buku dan manhaj tersebut kedalam prilakunya, gerak-geriknya, cita rasanya, struktur berfikir dan moralitasnya.

Nah, sekarang bagaimana kita mulai, dari mana dan kapan sasaran akhirnya, adalah bentuk-bentuk pertanyaan yang jawabanyya ada pada sejauh mana kita dapat merealisasikan  manhaj Tarbiah Fardiyah dengan segala uslub kerjanya.

Langkah pertama yang harus dimulai dalam menjhalankan misi Tarbiyah fardiyah ini adalah menjalin hubungan dengan seseorang yang hendak diproses, dan berusah semaksimal mungkin mengenali orang tersebut, mengenali pikirannya, pemahamannya, persepsinya dan mencermati sela-sela kelemahannya. Dengan begitu akan dapat dipastikan dan diketahui bentuk-bentuk pendekatan aplikatif apa yang mungkin bisa dimplementasikan terhadap orang tersebut. Setelah mengenali dan meyakini bahwa orang tersebut memamng maslahat untuk didakwahi, maka mulailah sang da’i bersama orang tersebut melakukan rekreasi spritual (Rihlatul Iman), dalam rihlah inilah sang mad’u digiring untuk melalui tiga tahap periode perkembangan yang terbangun di atasnya nilai-nilai kepribadian islam dan atribut-atribut keimanan, ketiga tahap priode perkembangan tersebut hendaknya secara tertib dan runtut harus dilalui oleh sang mad’u, karena hal itu merupakan faktor yang sangat mendasar bagi terbangunnya kepribadian islami yang menyeluruh dan terhindarnya kesalahn fatal dalm menyampaikan pesan-pesan da’wah.
Tiga periode perkembangan
Adapun ketiga periode perkembangan tersebut adalah:

Pertama: periode pembinaan akidah, periode ini merupakan periode yang sangat fundamental dalam membentuk kepribbadian seorang muslim, karena ia merupakan landasan pijak bagi periode perkembangan lainnya, akidah yang dimaksud bukanlah sekedar pengetahuan kering yang hanya membahas masalah-masalah yang tidak bermuara pada amal, dan tidak bermanfaat bagi pertuimbuhan ghirah islamiyah dan semangat berda’wah,  akan tetapi akidah yang dimaksud adalah sebagaaimana yang dipersepsikan oleh as-syahid Sayyid Qutub Rohimahulloh diman beliau berkata: “Seyogyanya periode pembinaan akidah melewati masa yang panjang, sehingga langkah-langkah pembinaan secara perlahan dapat mendekati kesempurnaan, dengan kedalaman dan kemantapannya, sebaliknya seyogyanya periode ini jangan hanya sekedar menjadi pelajaran teoritis, akan tetapi periode ini secara prioritas  harus dipahami sebgai periode menterjemahkan akidah dalam gambaran kehidupan nyata dengan segala kualitas perasaan dan amal perbautan yang tercermin dalam bangunan kehidupan berjamaah dengan gerakan kolektifnya. Adalah sebuah kesalahan fatal bila akidah hanya menjadi kerangka teori yang hanya sekedar dijadikan sebagai konsumsi pelajaran intelektual”.

Kedua: Periode aplikasi, setelah akidah tertanam kuat pada diri sang mad’u, dan ia meraasakan hubungan dan ketergantungan yang kuat kepada Alloh SWT, maka berikutnya adalah periode aplikasi , yaitu pantulan tabiat dari keyakinannya dalam prilaku, gerak-gerik, akhlak dan ubudiahnya, maka bila periode ini dapat dilewati dengan baik berart telah terjadi keselarasan “ bainal madzhhar wal jauhar” antara esensi dan substansi, antar kulit dan isi , antara teori dan praktek, antara konsep dan realita dan  antara ilmu dan amal. Oleh karena tuntutan dan target periode ini adalah menggiring seseorang untuk membentuk dirinya sehingga terjadi kesesuian anatara apa yang diyakinaninya (akidahnya) dengan amalan syar’i yang lekat secara menyeluruh pada dirinya dan muncul dari refleksi akidahnya.

Ketiga: Periode pemetaan amal islami, setelaah akidah sang mad’u kuat dan amaliah syar’inya bagus, maka berarti ia telah menunjukan kesiapannya untuk dipetakan atau ditempatkan dalam proyek amal islami (amal da’wah) dibawah naungan jamaah dan da’wah, dan dijelaskan kepadanya dalil-dali syar’i yang mengarahkan kewajiban bekerja di bawah naungan jamaah dan tidak menghindar dari padanya walau hanya sejengkal. Kesimpulannya bahwa tarbiah fardiah dimulai dengan tarbiyah islamiyah dan diikat kemudian dengan aml jama’i.
Kaidah Asasiyah
Terakhir, yang menjadi catatan penting dalam mentarbiyah adalah kaidah-kaidah asasiyah yang harus di perhatikan oleh sang Murabbi, dan menerapkan kaidah-kaidah tersebut disela-sela aktifitasnya dalam menjalankan tarbiyah fardiyah. Kaidah-kaidah tersebut di antaranya adalah:

1.    Ar-Rifq, yaitu kelemahlembutan, sebagaimana firman alloh SWT dalam surat al-Imran: 159, kelemah lembutan adalah asas dalam bermuamalah, seoarang da’i tidak dapat mengambil hati mad’unya, kecuali bila ia mempergaulinya dengan penuh lemah lembut sehingga menjadi mudah untuk menguasai hatinya.

2.       Al-Ibti’adu anidzdzammi wattaa’aatubi, yaitu menjauhkan sikap agresif yang cenderung mencela dan mendiskriditkan, karena sesungguhnya da’wah tidak dibangun di atas celaan dan cemoohan, melainkan dengan Tanashuh (menjaga) dan Taghafur (mema’afkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan cara – cara yang baik. Sebagaiman Ibnussamak seorang Ulama yang zuhud – Rahimahulloh- ketika seseorang berkata kepaadanya: “Kita bertemu lagi besok dalam rangka saling mencela”, lalau jawab Ibnu samak: “Bal baini wa bainaka ghodan nataghafar” (Tidak, akan tetapi kita bertemu besok untuk saling memaafkan).

3.   At-tarbiyah Tamhid wattasywiq, Tarbiah itu harus dijalankan dengan perlahan bukan dengan paksaan, dengan memunculkan kesenangan bukan ketakutan, hal ini tentu saja membutuhkan kesabaran, karena untuk dapat menikmati buahnya kadang harus menunggu masa panen yang butuh waktu lama.

4.   At-Tasyji’, yaitu motivasi sang da’i Murabbi terhadap mad’unya, berupa “reward”, apresiasi dan penghargaan, untuk menambah semangat dan mendorongnya untuk beramal, sebagaiman yang telah dilakukan oleh Rosululloh kepada sahabat Suhaib bin sinan ar-rumy, yang hijrah ke Madinah dengan meninggalkan seluruh hartanya setelah diambil seluruhnya oleh orang-orang musyrikin, dan dia hanya bisa menyelamatkan agamanya, Rosululloh menyambut kedatangannya seraya berkata: “Rabiha Suhaib” (beruntunglah Suhaib).

Waallohu A’lamu bisshawab.

Makalah ini disadur dari Kitab “Mamarratul haq”, Juz a dan ba, lissyaikh Ra’id Abdul hady.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Nama

Email *

Pesan *